Bab 10

1029 Kata
"Habis ini kita makan lagi aja, Mbak, saya lapar lagi,"kata Rion. "Masak aja, ntar kalau beli boros,"balas Risty tanpa menatap Rion. "Maksudnya...Mbak mau masak? Sekalian buat saya gitu?" Risty mengangguk."Iya. Karena...aku kan mau pinjam duit kamu. Kalau makan di luar terus, nanti uang kamu cepat habis. Sementara aku gajian masih Minggu depan. Tapi, itu pun kalau kamu mengizinkan." Rion tersenyum, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Risty."Boleh dong, Mbak." Risty spontan menjauhkan diri dari Rion. Jantungnya hampir saja copot. "Jangan kejauhan, Mbak, nanti kena hujan." Rion menarik tubuh Risty ke tempat semula. "Iya...iya, tapi...jangan dipegang." Tubuh Risty merinding. "Oh, maaf!" Rion melepaskan pegangannya. Mereka berdua terdiam, berdiri kaku menatap air hujan yang membasahi tanah. Begitu indah. "Sudah agak reda,"kata Risty."Kita sudah bisa pulang." "Masih lumayan deras,Mbak, ntar kita berdua basah." "Kita mampir ke super market buat belanja. Biar ntar malam aku masak buat kita. Biar lebih hemat sampai dompet aku ketemu." "Kita tunggu sebentar lagi,ya, Mbak." Rion sedikit khawatir jika terkena hujan. Terkadang ia bisa sakit berhari-hari. Tapi, semoga saja tidak untuk kali ini karena ia banyak pekerjaan. "Tapi, udah mulai gelap nih." "Enggak apa-apa,Mbak. Aku enggak ada kesibukan juga kok. Dari pada nanti Mbak sakit,"balas Rion. Rion menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya cepat."Ya sudah deh. Iya." Wanita itu mengalah. Tidak ada kalimat-kalimat panjang yang biasanya membuat telinga Rion sakit. Mereka berdua saling diam, lalu suara hujan mulai digantikan oleh suara-suara kendaraan yang berlalu lalang. Risty tersenyum lega. "Sudah reda. Yuk, Mbak." Rion memakai helmnya. Risty segera memakai helm dan naik ke atas sepeda motor. Mereka singgah ke super market untuk membeli beberapa bahan makanan. Setelah itu, mereka kembali ke rumah. Hari sudah gelap. "Mbak masuk aja ke dalam, saya mau mandi,"kata Rion. Risty mengangguk, ia masuk ke dalam rumahnya sendiri. Ia masuk ke kamar. Belanjaan tadi ia letakkan di lantai begitu saja, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Hari ini cukup melelahkan. Ia memejamkan mata sejenak dan berniat mandi setelahnya. Tapi, kelamaan ia justru tertidur. Ini sudah malam. Sudah dua jam Rion duduk di depan komputer untuk bekerja. Sesekali ia melirik ke arah kamar Risty yang gelap. Ia tidak mencium aroma masakan sama sekali, sementara perutnya sudah keroncongan butuh makan. Tidak ada tanda-tanda Risty memanggilnya untuk makan malam. Rion meninggalkan pekerjaannya lalu pergi ke rumah Risty. "Mbak!!" Tidak ada jawaban dari Risty, lalu Rion pergi ke kamar Risty melalui akses jalan kecil di sebelah rumah. Ia mengetuk jendela kamar wanita itu. "Mbak Risty!!" Risty tersentak, jantungnya berdegup kencang karena kaget."Iya?" Ia menoleh ke sana ke mari, kamarnya gelap. Ia bangkit dan menyalakan lampu. "Mbak Risty!"panggil Rion lagi. "Iya...iya, di depan aja, Yon,"teriak Risty. Ia segera keluar kamar menyalakan semua lampu. Setelah itu membuka pintu depan. "Mbak? Tidur?" Rion terkekeh melihat wajah kusam Risty. Rambutnya acak-acakan dan pakaiannya masih yang tadi. "Iya. Maaf...udah jam berapa ini?" "Jam delapan,Mbak." "Sorry, belum masak...kamu udah lapar?"tanya Risty. "Mbak mandi aja sana. Saya tunggu, kita makan di luar aja lagi. Kelamaan kalau nungguin Mbak Masak." "Eh, jangan...masih sempat masak kok. Enggak lama kok, paling dua jam sama mandi,"balas Risty dengan santainya. "Udah...kita makan di luar aja.Mbak, cepetan mandi ya. Atau mau saya mandikan biar cepat? Eh bakalan makin lama kayaknya,"goda Rion. "Eh, ya udah kamu tunggu aja. Aku mandi dulu." Risty masuk ke rumah dengan panik. Rasa tidak enaknya pada Rion semakin menjadi-jadi. Rion dan Risty sudah tiba di sebuah tempat makan. Lagi-lagi sebuah tempat makan yang Risty tahu memiliki harga yang lumayan mahal. "Rion, kita kan bisa masak aja tadi,"ucap Risty sambil menelan ludahnya saat menatap makanan yang baru saja disajikan oleh pramu saji. "Makan ajaya,Mbak, nggak usah dipikirin,"balas Rion santai."Sesekali." Risty mengangguk."Maaf merepotkan." "Dengan senang hati, Mbak." Rion terkekeh. Risty tersenyum, lalu ia makan dengan lahap. "Habis ini nonton yuk, Mbak?" "Nonton apa?" "Bioskop." "Kayak Abege aja, Yon." Risty tertawa geli. "Ya anggap aja kita abege, Mbak, kan kita nonton juga enggak dilarang,"balas Rion. "Mau nonton apa memangnya?" Rion mengangkat kedua bahunya."Entahlah, sebenarnya aku juga enggak suka nonton bioskop." "Terus kenapa ngajak-ngajak?" "Biar bisa berduaan sama Mbak." Rion mengerlingkan matanya. Wajah Risty merona, ia menunduk malu sambil menghabiskan makanannya. "Mbak single,kan?"tanya Rion. "Iya. Kenapa?"tanya Risty deg-degan. "Saya juga,Mbak,"balas Rion. Risty bengong, ia berusaha mencerna apa yang dikatakan Rion barusan. Entah apa maksud lelaki itu."Terus?" "Ya sesama single harus saling menguatkan, harus selalu bersama...." Risty tertawa garing."Bisa aja...." "Usaha, Mbak, saya kan duda cukup lama. Butuh pasangan hidup." "Oh ya...kamu masih muda kok sudah jadi duda, Yon? Maaf ya...nanya-nanya." "Enggak apa-apa,Mbak, kan calon isteri saya...jadi harus tahu masa lalu saya." "What? Calon isteri?" Risty buru-buru meneguk air putih karena tiba&tiba saja makanannya sulit ditelan usai mendengarkan ucapan Rion. "Iya, Mbak, Saya suka loh sama Mbak, biar cerewet, suka ngomel-ngomel, pelupa, jarang mandi." "Apaan sih, minus semua." Risty menatap Rion dengan sebal. Rion tertawa."Saya serius,Mbak." "Memangnya enggak ada wanita lain?" "Enggak, sukanya sama Mbak." "Saya enggak mau." "Harus mau, Mbak, soalnya saya maksa." "Bodo amat." "Pulang sendiri, ya,Mbak." Rion tertawa setelah mengucapkan itu. Risty melotot."Pemaksaan dong? Memanfaatkan situasi dan kondisiku yang sedang kesulitan." "Iya dong,"jawab Rion tanpa merasa bersalah. "Kamu niat enggak sih nolongin aku?" Wajah Risty mulai terlihat stres, lalu mendadak selera makannya hilang. "Saya becanda kok,Mbak....ayo dimakan lagi." Rion tertawa. Risty tidak percaya dengan ucapan Rion. Sepertinya, lelaki itu serius dengan ucapannya. Buktinya saja sore tadi, ia berani menciumnya."Setelah ini langsung pulang ,kan?" "Jangan dong, kan masih mau ngobrol." "Di rumah ajalah,"kata Risty spontan. Rion tersenyum penuh arti."Oh, oke deh kalau begitu. Beneran ya?" "Iya...." Rion menyelesaikan makan malamnya. Mereka berdua kembali terdiam. Setelah dirasa sudah cukup, Rion segera membayar makanan mereka kemudian pulang. Mobil Rion masuk ke pekarangan rumah, setelah itu Risty turun dan langsung kembali ke rumahnya. Rion mengikuti wanita itu dengan cepat. "Kamu ngapain?" Risty kaget saat tersadar Rion sudah di belakangnya. "Mau nagih janjinya Mbak, mau ngobrol di rumah." Risty membuka pintu."Yaudah, tunggu!" Rion hendak melangkah masuk ke dalam rumah Risty. Tetapi wanita itu menahannya. "Kok ikut masuk?" "Ya mau ngobrol kan?" "Ya tapi, jangan di dalam...nanti..." Ucapan Risty terhenti karena Rion mendorongnya masuk ke dalam. Kemudian mengunci pintu. "Ka...kamu mau apa?" Risty terlihat panik. Rion berjalan menuju ruang tengah, menyalakan tv lalu duduk dengan santainya di sofa."Mau ngobrol aja sama Mbak. Kayaknya susah banget pengen itu aja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN