Bab 9

1025 Kata
Rion hanya bisa meringis di tempatnya."Kebanyakan marah-marah sih, jadi cepat pikun. Ya udah...saya baru bangun, Mbak. Saya mandi dulu baru jemput ya. Kirim aja kantor polisinya dimana. Saya mandinya enggak lama kok. Paling lama setengah jam udah nyampe sana." "Oke." Rion memutuskan sambungan, lalu pergi mandi. Setelah itu berpakaian, merapikan penampilan sedikit, mengambil jaket lalu pergi ke garasi. Ia memeriksa ponselnya  d sebentar untuk membaca pesan dari Risty yang sudah mengirimkan lokasi. Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Ia menutup pintu mobil kembali, ia memutuskan untuk naik sepeda motor. Kantor polisi itu tidak begitu jauh dari komplek perumahan mereka. Lalu, ia melihat Risty tengah duduk di ruang tunggu dengan wajah murung. "Mbak." Rion menghampiri. "Rion..." Risty bernapas lega karena pria itu mau menolongnya. "Kenapa, Mbak? Ditilang? Ya wajarlah surat kelengkapannya enggak ada. Melanggar peraturan, sih." Rion tertawa. "Iya, di dompet. Tapi, aku tuh lupa dompetnya dimana. Apa hilang ya? Di kampus juga enggak ada." "Mungkin di rumah, Mbak. Jadi, ini gimana?" "Ya mobil saya ditahan, dikira mobil curian. Bisa diambil kalau bisa nunjukin surat-surat kelengkapannya." "Ya udah, enggak apa-apa. Nanti di rumah dicari lagi. Habis itu kalau ketemu kita balik lagi ke sini, ambil mobilnya. Kita pulang aja sekarang,"kata Rion. Risty mengangguk saja, ia mengikuti Rion. Lalu ia cukup terkejut karena Rion membawa sepeda motor."Kamu naik motor, Yon?" "Iya,Mbak, kalau naik mobil saya belum sampai sini." Rion naik ke sepeda motor dan menyerahkan helm pada Risty. Risty menerimanya dengan ragu. Bukan ia tidak mau naik motor, tapi, sepeda motor milik Rion adalah sepeda motor sport. Boncengannya juga sangat tinggi. Sedikit saja Rion mengerem, maka tubuh mereka akan saling menempel. Risty bergidik ngeri. Tapi, apa boleh buat, lelaki itu sudah berbaik hati menolongnya. Ini juga akibat dari kelalaiannya, melanggar lalu lintas, lalu distop polisi. Dan ternyata dompetnya entah dimana. Akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib. Risty naik ke boncengan, berpegangan pundak Rion. Pria itu melajukan sepeda motornya. Tak ada pembicaraan apa pun di sepanjang jalan,sampai mereka tiba di rumah Risty. "Dicari dulu, Mbak dompetnya. Kalau ada...kita langsung ke kantor polisi,"kata Rion. "Beneran kamu mau anterin saya?" "Iya, Mbak, saya anterin, tenang aja." Risty tersenyum."Yaudah, kamu duduk  aja dulu...saya cari dulu di kamar ya." Risty membuka pintu rumah. Rion turun dari sepeda motor, lalu duduk di kursi teras. Ia dengan sabar menunggu Risty. "Rion, enggak ada." "Udah dicari bener-bener, Mbak?" "Iya ...udah. sampe keringetan." Risty mengusap peluhnya. "Mungkin di ruangan Mbak di kampus,"kata Rion lagi. "Mungkin...tapi, masa iya ke sana sih." Risty terlihat ragu. Ia sudah malas pergi ke kampus lagi. Tetapi, ia sangat butuh dompet itu. Uang dan ATMnya ada di sana. "Ayo saya antar,"tawar Rion. Risty meremas jemarinya, ia mulai merasa tak enak hati."Enggak apa-apa? Kamu enggak sibuk." "Enggak dong, kan saya pengangguran." Rion memainkan kedua alisnya. Risty jadi malu sendiri sering mengatakan kalau Rion pengangguran. Nyatanya orang yang ia sebut pengangguran itu kini malah menolongnya."Bo...boleh deh. Soalnya kalau enggak ketemu, saya enggak bisa makan. Tolong ya, Yon..." "Iya, Mbak Risty cantik. Yuk." Rion kembali naik ke sepeda motor. Risty mengunci pintu lalu naik ke boncengan. Mereka berdua menuju kampus dimana tempat ia mengajar. Sesampai di sana, Risty mencari dompetnya dengan panik. Tidak peduli mejanya jadi berantakan. Ia harus segera menemukan dompetnya. Menit demi menit berlalu, tidak ada tanda-tanda dompetnya akan ditemukan. Risty mulai kelelahan dan pasrah. Ia melangkah ke parkiran menemu Rion dengan lemas. "Enggak ada." "Ya udah besok dicari lagi, Mbak. Mbak istirahat aja dulu di rumah." "Tapi, aku butuh dompet itu, Yon uang sama ATM di sana." Risty seperti ingin menangis. "Nanti pakai uang saya aja dulu, Mbak. Enggak apa-apa kok." Risty terdiam. "Mbak, ayo kita pulang...eh tapi kita mampir makan dulu ya soalnya saya belum makan." "Aku enggak punya uang!" "Saya traktir,Mbak Cantik." Rion menyalakan motornya. Lalu mereka menuju sebuah tempat makan. "Kamu ada uang buat traktiran aku, Yon?"tanya Risty khawatir. Saat ini mereka masih di jalan. "Kalau buat makan ada kok, Mbak. Tenang aja. Saya punya tabungan." Rion terkekeh. "Oke deh." Risty mengalah. Rion mengarahkan sepeda motornya ke sebuah kafe. Risty menyipitkan matanya ke kafe tersebut. "Di sini mahal-mahal loh!" "Saya tahu, Mbak cantik. Yuk turun, saya udah lapar banget." Rion melepaskan helm, lalu membantu Risty membuka helmnya. Mereka berdua masuk ke dalam. Risty hanya bisa terheran-heran melihat Rion yang mampu mengeluarkan uang untuk makan di tempat ini. Tanpa banyak bicara, ia makan dengan lahap karena ia juga sangat lapar. Rion menatap ke arah langit dari dinding kaca. Ia tersenyum penuh arti. Saat ini mereka sudah selesai makan. "Sudah kenyang, Mbak? Atau mau nambah lagi?" Risty menggeleng."enggak ...kenyang banget udah. Terima kasih ya." "Sama-sama,Mbak. Kita pulang yuk. Udah sore juga." "Ayo." Rion mengendarai sepeda motornya dengan pelan sambil menikmati udara sore. Lalu, perlahan rintik hujan mulai turun membasahi bumi. "Rion! Hujan," ucap Risty. "Iya, Mbak, mau lanjut apa berteduh?" "Kamu enggak punya jas hujan?" "Ada di rumah, Mbak, nggak nyangka kalau bakalan kejebak hujan." Sementara pembicaraan mereka berlangsung, hujan turun semakin deras. "Deras, berteduh!" Risty menepuk pundak Rion. Rion menoleh ke sana kemari, lalu ia melihat sebuah ruko yang tutup. Rion berbelok ke sana. Setelah sampai, hujan pun turun dengan derasnya. Risty turun dari motor, lalu mengusap badannya yang sempat terkena air hujan. Rion membuka jaket, lalu memakaikannya di pundak Risty. "Terima kasih." Rion mengangguk saja. "Hah, sialnya hari ini!!! Dompet hilang, ditangkap polisi, mondar-mandir kepanasan, dompet enggak ketemu! Sekarang kehujanan!!! Malang banget nasibku!" Risty ngomel-ngomel sendiri. "Mbak...,"panggil Rion dengan lembut. Risty menoleh dengan sebal."Kenapa?" Rion menatap Risty dengan lembut. Kemudian tangannya bergerak memegang dagu wanita itu dan memberikan kecupan di bibirnya. Tubuh Risty bergetar seketika. Wanita itu menahan napas, matanya terbelalak menatap Rion. Apa yang barusan terjadi sulit dipercaya. Sementara itu, Rion bersikap santai usai mengecup bibirnya. Hujan semakin deras, udara semakin dingin. Jantung Risty berdegup kencang ketika mengingat peristiwa beberapa menit lalu. Rion menciumnya. Sontak wajahnya menjadi panas menahan malu. Tapi, entah kenapa ia tidak bisa marah. Padahal, lelaki itu sudah berbuat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan. "Mbak, duduk di atas motor aja kalau capek." Rion menyadarkan lamunan Risty. Risty mengangguk saja. Namun, ia tidak melakukan perintah Rion. Ia masih berusaha bersikap normal, namun tidak bisa. Ciuman Rion tadi sudah memporak-porandakan hatinya   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN