Bab 8

1076 Kata
Wanita itu sudah tampak cantik, rapi, dan wangi. Dengan menyandang tas bewarna hitam, ia keluar dari rumah. Ia melihat ke sebelah, mobil Rion memasuki halaman rumahnya. Risty menatap lelaki itu dengan kesal. Ia pun menghampiri Rion. "Rion!" Rion kaget mendengar suara itu."Eh, Mbak!" "Baru pulang?"tanya Risty. "Iya.Ada apa,Mbak?" Rion berjalan mendekati Risty. "Kemana kamu semalam enggak pulang?" "Saya...ke rumah temen saya, Mbak,"balas Rion santai. "Lain kali... Kalau pergi bilang-bilang." "Kenapa saya harus bilang,Mbak? Kan saya perginya enggak sampai berhari-hari. Lagi pula kenapa sampe marah begitu, sih,Mbak? Kangen ya?"goda Rion. Risty menepuk lengan Rion."Rumah kamu gelap gulita kayak rumah hantu! Serem!" Rion tertawa."Takut toh! Tenang, Mbak. Saya sudah ada di sini, siap menemani Mbak Risty." "Enggak usah sok manis di depan saya!" Risty menyipitkan matanya."Kalau pergi, lampunya dinyalakan. Bikin orang enggak bisa tidur aja." "Maaf, Mbak. Lain kali saya nyalakan,ya,"balas Rion selembut mungkin. "Oke..." Risty membalikkan badannya dan melangkah hendak kembali ke rumah. Lalu terdengar suara keras seperti durian jatuh. Rion yang saat itu juga sudah membalikkan badan terkejut. "Mbak!" Risty memegangi pinggangnya."Aduh!" "Mbak, maaf,Mbak...ada genangan  air di sini karena hujan semalam kayaknya." "Rion!" Risty memukul badan Rion dengan kesal. "Kenapa sih malah soal ketemu kamu." "Mbak...ya udah saya bantu ya. maaf." Rion membantu Risty berdiri. Celana Risty terlihat basah dan kotor. "Ya ampun...harusnya enggak usah ke sini, harus ganti lagi deh." Risty menggerutu. "Hadapi pagi dengan senyuman, Mbak. Biar berkah. Kalau marah-marah terus, kan enggak enak,malah dapat musibah. Cantiknya juga hilang."Rion mencolek pipi Risty pelan. Wajah Risty merona."Sa...saya balik dulu." Ia segera kembali ke rumah sebelum wajahnya benar-benar merah karena malu. Rion terkekeh."Mbak Risty...mbak Risty, untung imanku kuat. Kalau enggak...udah aku cium." Rion masuk ke rumahnya untuk tidur sejenak,karena semalam Reno dan Randy mengajaknya bergadang. Risty masuk ke dalam rumah, ia harus terpaksa mandi lagi karena tidak suka air kotor itu lengket di tubuhnya. Setelah itu ia bergegas pergi mengajar karena ia sudah sangat terlambat. Pagi ini rasanya begitu menyebalkan karena harus mengalami hal yang tidak menyenangkan. Ditambah lagi karena Rion. Besok-besoknya ia memutuskan untuk tidak berurusan dengan Rion di pagi hari. Lagi pula, sudah dua hari ini ketika ia pergi ke kampus, Rion masih tidur pulas. Hal itu ia buktikan dari lampunya yang terus menyala sampai ia pulang mengajar.   ** Reno melajukan kendaraannya memasuki sebuah komplek perumahan. Ia menuju sebuah rumah berkonsep minimalis. Ia memarkirkan kendaraannya tepat di tepi jalan depan rumah Rion. Ia pun keluar dari mobil. Hari ini, ia akan menemui sahabatnya itu untuk membicarakan sesuatu hal yang penting. "Mas!" Reno menoleh ke sumber suara. Risty yang tengah mengenakan kaos hitam dan hot pants berdiri di depan rumahnya. "Iya, Mbak?" "Mobilnya jangan diparkir di situ, soalnya nanti saya mau keluar susah,"katanya dengan wajah tak senang. Reno mengangguk,"Maaf, Mbak...nanti saya masukkan ke dalam. Tapi, saya bangunin Rion dulu biar dibuka pintu pagarnya." Risty mendecak sebal."Susah banguninnya,Mas. Tidurnya kayak kuda mati! Agak dimajukan aja mobilnya ya, Mas." Reno tersenyum."Iya, soalnya kan dia selalu bergadang. Saya telpon dulu...mudah-mudahan bangun." Ia pun segera menghubungi Rion. Nada terhubung terdengar beberapa kali dan kemudian Rion menjawab dengan suara malas khas bangun tidur. "Aku di depan nih. Buka cepetan." "Hmmm." Hanya itu jawaban Rion. Dengan mata yang berat ia segera bangkit dari tempat tidur dan pergi ke depan. "Susah banget, dibangunin. Paling juga dia tidur lagi, Mas,"katanya dengan yakin. "Dia udah jawab kok, Mbak...Nah, itu Rion," kata Reno. Rion keluar dengan wajah khas bangun tidur, rambutnya juga acak-acakan. Namun, lelaki itu tetap terlihat tampan. Risty melirik Rion dengan  tajam."Pengangguran satu ini!!" Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hah? Pengangguran?" Reno terkejut mendengar ucapan Risty. Ia hanya bisa tertawa di dalam hati karena sahabatnya yang sebenarnya punya banyak duit disebut pengangguran. Rion melihat ke arah tetangga seksinya itu."Hai, Mbak...pagi-pagi udah di depan rumahku aja. Kangen ya?" Rion pun mengerlingkan matanya. Risty tertawa dengan nada mengejek."Kangen? Ogah. Udah cepetan buka pintu pagar kamu...terus masukin ini mobil temen kamu. Sebentar lagi aku keluar, mobilku susah lewat." "Sabar dong,Mbak, baru aja saya bangun udah diomelin. Udah kayak Ibu saya aja." Rion tersenyum dengan sabar. Sementara Reno hanya bisa memandang keduanya dengan bingung. "Enggak usah ngarang!"balas Risty jutek. "Iya loh, Mbak Risty udah kayak Ibu dari anak-anak saya nanti!" Reno tersenyum geli, ternyata Rion sudah mulai suka menggoda wanita sekarang. "Udah cepetan suruh temen kamu masuk!" omel Risty. Rion hanya bisa nyengir."Iya, Mbak Risty yang cantik." Risty membuang wajahnya, lalu ia pergi ke dalam rumah. Sementara Rion menguap lebar menunggu Reno memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah. "Pagi-pagi udah kena semprot sama tetanggamu nih, Yon,"protes Reno. Rion tertawa."Memang begitu orangnya...maklum udah tua. Tiap hari aku diomelin." "Tua apanya?" Reno menggeleng-gelengkan kepala. "Maksudnya lebih tua dari aku. Yuk masuk." Rion membuka pagar lebar-lebar. Reno segera memindahkan mobilnya ke halaman rumah Rion sebelum Risty mengomel lagi. Ia segera keluar dari mobil setelah terparkir dengan baik."Tadi dia bilang kau pengangguran, Yon." "Ya habisnya aku kan di rumah terus...ya dianggap pengangguran lah." Rion dan Reno masuk ke dalam rumah. Lalu, Rion pergi ke wastafel untuk mencuci muka dan sikat gigi. Setelah itu ia menemui Reno kembali. "Jadi, gimana?" Reno terdiam sebentar."Kayaknya udah fix deh... Aku mau lamar Maya." "Syukurlah kalau gitu. Udah yakin juga kan?"tanya Rion memastikan. Reno mengangguk."Udah bisa cari cincin." Rion mengangguk."Gampanglah kalau cincin...nanti kita cari. Sekarang...kita cari sarapan dulu yuk. Lapar." "Oke deh." Reno pun merasa lapar saat ini. Ia pun tidak sempat sarapan tadi. "Kita naik motor aja ya," kata Rion sambil meraih kunci sepeda motornya. "Sip!" Reno berjalan keluar. Mereka berdua pun berboncengan mencari sarapan pagi. Sementara itu, diam-diam Risty mengintip gerak-gerik Rion sejak tadi. **   Ponsel Rion berbunyi berkali-kali. Lelaki itu hanya meliriknya, lalu memejamkan mata kembali. Ia masih mengantuk karena subuh tadi baru tidur. Baru beberapa detik, ponselnya kembali berbunyi. Rion melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Ia bangkit dengan malas, mengambil ponsel di atas nakas. Sebuah nomor tidak dikenal menghubunginya. "Halo?" "Rion, ini Risty...." "Risty? Maksudnya Mbak Risty?" Nyawa Rion belum terkumpul seutuhnya. "Iya, Mbak Risty tetangga kamu." "Wah, punya nomor saya." Rion tersenyum geli. "Aku dapat dari Bu RT. Rion, aku minta tolong dong sama kamu,"ucap Wanita itu dengan suara tercekat. "Minta tolong apa, Mbak? Datang aja ke rumah." "Aku lagi di kantor polisi." "Hah?" Mata Rion membulat. Rasa kantuknya langsung sirna."Kenapa, Mbak?" "Kena tilang, nih." "Lah kok bisa?" "Iya ntar aja ceritanya, jadi mobil aku ditahan soalnya enggak ada surat-suratnya." "Suratnya dimana, Mbak? Di rumah? Mau saya ambilkan?" "Aku lupa dimana." "Oalah, Mbak...mbak,jadi...apa yang bisa saya bantu?" "Jemput di kantor polisi, soalnya dompet aku juga lupa letakin dimana."   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN