2. Mawar Merah Penghubung Waktu

2016 Kata
 Dingin di malam hari nyatanya belum hilang di pagi hari. Yaya meringkuk di ranjang kecilnya malas bangun. Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi. Rasanya sulit membuka mata. Hatinya terus berkata untuk melupakan kejadian aneh kemarin. Namun, Yaya tetap berusaha bangun untuk bekerja. Air dingin mengguyur tubuhnya.  "Aaaa, dingin!" teriak Yaya di kamar mandi.   Lupakan halusinasi dan kembali bekerja. Semangat membawa menuju toko dan banyak bunga mawar telah menanti sentuhannya terus terbayang. Apa yang yang terjadi kemarin sangat tidak masuk akal. Yaya menolak keras, tetap saja dia ingat. Rasanya Yaya ingin membenturkan kepala ke tembok.   "Selamat pagi para mawarku yang cantik! Hmm, harumnya melebihi parfum mahal Nyonya Fali, hahaha. Baiklah, Yaya, saatnya bekerja!" semangat membawa setelah membuka pintu toko.   Dimulai dari teras hingga dalam toko, Yaya serius merawat bunga-bunganya. Lewat sosial media, Yaya mendapatkan banyak pesanan dalam jumlah kecil meskipun berasal dari berbagai tempat. Yaya tidak menduga akan kehujanan pesanan hari ini. Seharian Yaya mengantar pesanan dengan senyuman. Sampai kualahan saat banyak pembeli datang dan membutuhkan pelayanannya.   "Terima kasih dan semoga harimu menyenangkan! Silahkan datang kembali!" senyum ramah Yaya sambil mengatakan hal itu pada semua pelanggan.   Satu per-satu silih berganti, bagai tiada jarak satu jam orang bergantian membeli mawar miliknya. Yaya tidak bisa menyembunyikan bahagianya sekarang.   "Silahkan masuk! Bunga mawar berbagai jenis siap dipinang. Semuanya cantik dan segar seperti Tuan dan Nona!" Yaya mempersilahkan beberapa remaja yang datang.   Mereka tertawa renyah. "Kalau penjualnya yang dipinang boleh, tidak?" canda salah satu dari mereka.   Yaya tertawa semakin ceria. Sampai akhirnya mereka membeli banyak mawar merah. Hari ini mawar merah menjadi primadona. Laris manis, Yaya dibanjiri keuntungan yang melimpah.   Sesuai janji dengan para pemesan, Yaya kembali mengantar pesanan dan meninggalkan tokonya sebentar. Orang-orang yang datang kebingungan karena Yaya tidak ada. Pukul sebelas siang yang begitu panas membuat Yaya berusaha melindungi bunganya agar tidak layu di perjalanan. Dia sampai bolak-balik dua kali dalam satu jam di tempat yang berbeda-beda. Masih tinggal satu tempat lagi yang membutuhkan jasanya. Yaya sudah mengatur janji nanti sore untuk pengiriman.   "Huft, cukup melelahkan dan menyenangkan. Aku mau tidur sebentar," gumam Yaya setelah tiba di toko.  Kursi kasir menjadi tempat ternyaman. Baru akan memejamkan mata, pelanggan datang memanggilnya. Terpaksa Yaya kembali bekerja dan menampilkan senyum semanis mawar kuning.   "Nona, kau cantik dan masih muda. Pelayananmu juga bagus. Jarang ada orang seramah dan sesantai dirimu. Siapa namamu?" tanya pelanggan itu yang terlihat kaya Raya membawa mobil mewah dan berpakaian rapi.   "Hahaha, Tuan berlebihan. Setiap hari aku memang seperti ini. Namaku Zuzalwa Yaya," ujar Yaya tersenyum simpul.   "Nama yang bagus! Aku ada tawaran pekerjaan untukmu. Keahlianmu dalam memikat pelanggan pasti berpengaruh besar. Aku punya usaha emas. Kau mau bergabung denganku? Soal hasil bisa diatur. Pastinya kau akan untung besar," orang itu sangat berharap Yaya setuju.   Yaya tetap tersenyum walau tangannya terkantup, "Maaf, Tuan. Tawaranmu sangat baik, terima kasih. Hanya saja aku sudah cukup puas dengan tokoku. Aku senang dengan kehidupanku. Bukan hanya menjual mawar, tetapi merawat dan membuatnya berkembang sudah jadi keahlianku. Aku tidak memerlukan pekerjaan lain. Sekali lagi, aku mohon maaf. Tawaranmu tidak bisa kuterima."   Orang itu justru tertawa. "Kau orang yang berprinsip. Cintamu pada bunga mawar tidak membuatmu berambisi untuk kekayaan. Sayang sekali kau menolaknya. Hidupmu mungkin bisa lebih baik jika menerimanya. Aku suka caramu menikmati hidup. Kecantikanmu pantas berada diantara bunga mawar. Terima kasih untuk mawarnya. Kuharap kita bisa berjumpa lagi lain waktu!" Orang itu pergi membawa beberapa mawar.   "Terima kasih kembali! Semoga harimu menyenangkan!" seru Yaya.   Kini dia bisa bisa menghela napas lega. Ini sudah tawaran kerja yang kesekian kalinya. Yaya terus menolak pekerjaan luar biasa. Rasanya dia terikat dengan bunga mawar sampai tidak bisa menjauh dari mereka.   "Ini adalah kehidupanku. Pilihan adalah toko dan semua mawar ini. Hah, waktunya istirahat!" pekik Yaya menuju meja kasir.   Lima belas menit sudah dia tidur, terbangun kaget karena Aloa datang tiba-tiba meminta Yaya membungkus semua mawar putih. Yaya terbelalak karena Aloa sudah membawa truk yang kemarin dia sewa.   "Semua mawar putihku? Untuk apa sebanyak itu? Siapa yang pesan?" tanya Yaya heran.  "Aduh, Yaya, tidak ada waktu lagi untuk bertanya sekarang! Cepat bawa mawarmu ke truk!" Aloa panik menaruh mawar putih ke dalam truk tanpa persetujuan Yaya.  "Eh, eh, eh, tidak bisa! Katakan dulu siapa yang pesan? Kalau pesanannya tidak jelas, aku tidak mau!" Yaya mencegah Aloa dan mengambil bunga mawar ya dari tangan Aloa.  Aloa bingung menjelaskan. Yaya menyuruhnya menarik napas dan membuangnya perlahan agar lebih tenang. Memberi Aloa sebotol air mineral dan langsung habis diminum Aloa.   "Yaya, ini keadaan darurat! Aku butuh mawar putihmu sekarang! Ada pernikahan di dekat bengkelku. Mereka memakai teman bunga mawar putih. Saat ini pengantin perempuannya marah-marah karena pesanan bunga aslinya tidak datang. Entah ada kendaraan apa. Dia ngamuk, semua yang ada disekitarnya dirusak. Tolonglah aku, Yaya. Sebelum bengkelku juga diacak-acak olehnya. Bukan hanya aku, tapi banyak orang yang juga sibuk mencari bunga mawar asli berwarna putih. Soal untung kita bahas nanti setelah semuanya selesai. Cepat-cepat angkat semua mawar putihnya!" ujar Aloa dengan sekali tarikan napas.  Yaya melongo, lalu mengerjap mengerti. Dia membantu Aloa memasukkan mawar putihnya ke truk.   "Gadis macam apa yang ngamuk di pernikahannya sendiri, apalagi hanya soal bunga? Apa dia gila? Aneh sekali! Kasihan mempelai pria dan keluarganya, pasti frustasi dan malu!" gerutu Yaya di samping kursi kemudi bersama Aloa.   "Diamlah! Dia itu orang kaya. Semua orang kaya bebas melakukan apapun sesuka mereka. Ck, semoga bengkelku tidak dirusak. Dua anak buahku bahkan kabur. Dasar tidak bertanggungjawab! Kalau mereka kembali akan kupotong gajinya!"   Aloa mengendarai truk kesal dengan kecepatan di atas normal.  "Jika bengkelmu dirusak, kita rusak saja pernikahannya. Orang kaya yang tidak waras!" Yaya gemas memukul telapak tangannya sendiri.   Sampai di tempat pernikahan, beberapa truk, motor, mobil sudah berjajar membawa bunga mawar putih. Yaya menganga tidak percaya. Bahkan semua mawar putih ini lebih banyak dari mawar merah di pernikahan bos besar sebelumnya. Hanya demi memenuhi pernikahan impian sang wanita sampai menjadi masalah besar. Yaya tidak bisa membayangkan betapa keras kepalanya wanita itu.  'Astaga, Yaya! Tidak boleh berburuk sangka!' batin Yaya sembari menurunkan semua mawar putihnya.   Yaya sampai lupa waktu. Hari sudah pukul dua siang. Karena kelelahan sekaligus penasaran, dia istirahat bersama Aloa melihat prosesi pernikahan megah nan dadakan itu. Seketika terlonjak saat melihat jam digital di handphone-nya.   "Aloa, ini hampir jam tiga, gawat! Aku harus kembali ke toko. Ada pesanan yang harus kuantar jam tiga!" pekik Yaya panik.  "Apa? Lalu, truk dan uagmu bagaimana?" bingung Aloa.   "Tolong kau urus sebentar, ya. Nanti kita bicara lagi. Aku tidak punya banyak waktu!" Yaya segera pergi, tetapi kembali lagi. "Aku naik apa ke toko?" tanyanya berekspresi bodoh membuat Aloa menepuk dahinya.   Aloa meminjamkan motornya untuk Yaya kembali. Sedangkan dua asik menikmati makanan pernikahan sambil menunggu pembayaran yang fantastis jumlahnya. Nasib baik bengkelnya baik-baik saja. Sayangnya di sepanjang jalan rusak, tempat sampah berserakan dan barang-barang berantakan. Dalam hati Aloa membenarkan Yaya jika mempelai wanita itu kurang akal sehat.   Yaya tiba di toko setelah setengah jam. Dia segera mengemas bunga mawar yang dipesan. Untunglah sampai di sana tepat waktu. Yaya tidak mendapatkan masalah justru kekuatan pelanggan. Saat pulang ke toko, Aloa sudah di teras dengan truk terparkir.   "Yaya, kau lama sekali! Ikut aku kembalikan truk ini! Aku tidak bisa pulang tanpa motorku!" seru Aloa melirik motornya.  "Ck, dasar tidak sabar! Ya, sudah, ayo!" pasrah Yaya.  Setelah mengembalikan truk, Yaya menghitung pendapatan dari bunga mawar putih dan membaginya bersama Aloa.   "Waw! Ini luar biasa! Aku harus tabung sebagian," gumam Yaya.  Melihat keadaan tokonya yang berserakan karena banyak mawar terjual membuat beberapa tempat kosong tidak beraturan. Bibit mawar yang disimpan kembali Yaya pindah da dicangkok agar mendapat banyak bunga nanti. Matahari sudah hampir terbenam. Yaya masih sibuk bekerja. Tubuhnya penuh peluh dan kotor. Tinggal sentuhan terakhir yaitu bersih-bersih. Semua barang yang rusak dibuang dan yang masih bagus diletakkan di gudang. Tanah dan pupuk yang tersisa Yaya simpan dalam satu kardus. Seketika Yaya teringat kardus yang tiba-tiba menghilang. Namun, kardus itu sekarang berada di dekat pintu.   Yaya tersentak, "Bagaimana mungkin? Kardusnya ada lagi? Itu kardus yang sama!"   Segera menutup pintu gudang, tetapi sesuatu yang bersinar dari dalam kardus itu menyita perhatiannya. Yaya menjadi diam kaku. Seingatnya tidak ada bibit ataupun bunga mawar yang tersimpan di gudang. Namun, saat Yaya memberanikan diri berbalik, bunga mawar paling aneh yang berada dalam kardus kemarin tiba-tiba ada di kardus itu. Yaya terperangah, kakinya tidak bisa bergerak. Sama seperti kardus itu yang entah datang dari mana, bunga nawar merah itu juga misterius. Desisan memanggil nama Yaya terdengar kembali. Yaya ketakutan, dalam sekejap suara itu menghilang.  "Ha?! Apa yang terjadi barusan?! Ya Tuhan, apa seseorang mengutuk tokoku? Apa aku berhalusinasi lagi dan lagi?!"   Yaya mengatakan itu dengan bibir bergetar. Berdecak sambil menutup matanya rapat-rapat. "Bukannya bunga itu sudah kupindah bersama yang lain? Kenapa ada di gudang? Hiks, aku jadi takut. Kumohon segala jenis kutukan dan sial pergi dari tokoku! Itu hanya halusinasi! Yaya, kau tidak boleh terpengaruh! Besok harus periksa kesehatanmu ke dokter! Harus!" gumam Yaya menangkupkan tangannya berdoa.  Kembali membuka matanya setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Tangannya gemetar mencoba mengambil bunga itu. Cantik, merah, cerah, daunnya lebar, bunganya selebar daun, dan sedikit duri. Yaya berhasil memegangnya dengan kedua tangan.  "Aku memegangnya!" pekiknya.   Perlahan mengangkat mawar itu sambil mulutnya terbuka. Kedua alisnya terangkat. Dia terpesona. "Wah, ini memang cantik," gumam Yaya tanpa melepas pandangan dari mawar itu.  Yaya keluar dari gudang dan membawa bunga itu untuk disimpan bersama yang lain.   "Loh, kenapa tidak bisa dilepas? Hah?!"   Yaya panik karena bunga itu tidak bisa terlepas dari tangannya. Bahkan plastik kecil yang membungkus akar tanahnya pun melekat kuat. Yaya berputar-putar bingung di dalam toko mencari sesuatu. Dia meletakkan di rak dan menarik tangannya sekuat mungkin, tetap tidak bisa.   "Aduh, bagaimana ini?! Tolongg! Aku minta tolong pada siapa? Ck, bunga ini kenapa? Tidak ada lem perekat kenapa bisa menempel?"   Semakin takut, Yaya keluar ke teras toko. Celingukan mencari seseorang untuk menolongnya. Hanya lalu lalang kendaraan tanpa orang yang berjalan kaki. Dia mondar-mandir sampai ingin menabrak bunganya yang berjajar di rak tinggi.   "Ih, susah sekali!"   Mencoba, mendorong bunga itu dengan ujung rak kayu. Bahkan lem sekalipun tidak bisa serekat itu. Napas Yaya sampai memburu.   'Ini bukan karena lem. Pasti bunga ini bukan bunga mawar biasa. Nyatanya dia bisa pindah sendiri ke dalam kardus yang pernah hilang. Ini nyata bukan ilusi atau halusinasi. Iya... Bunga ini ada maksud tersendiri,' batin Yaya sadar.  Menatap bunga itu lagi dengan penuh kecurigaan. Rasa takutnya semakin bertambah, tetapi Yaya membawanya masuk dan duduk di kursi kasir. Menatap gudang dan bunga di tangannya bergantian.   "Pertanda apa ini?" lirih Yaya sembari menggeleng.   Menatap pintu gudang terbuka, nampak kardus itu sedikit. Merasa jika ada yang aneh antara kardus dan bunga mawar ditangannya.   'Jika kardus itu hilang dan kembali ada bunga ini di dalamnya. Apa mawar ini membawa kardus itu kembali? Sinar dan mimpi itu juga benar adanya. Lalu, apa yang akan terjadi denganku? Bunga aneh ini tidak mau lepas. Apa aku akan hilang seperti kardus itu?' batin Yaya.  Jantungnya berdetak lebih cepat. Beralih ke mawar di tangannya. Mendesah pasrah dan akan mencari pertolongan besok. Tepat matahari terbenam, sinar itu muncul lagi di tangannya. Yaya terbelalak.   "Bunga mawar ini... Bersinar!" pekiknya sembari berdiri kaget.   Cahayanya merah menyala, semakin terang, semakin Yaya tidak bisa melihat mawar itu dengan jelas.   "Aaaa, terang sekali! Mataku rasanya sakit!" teriak Yaya sambil memalingkan wajahnya.   Dia menggoyangkan mawar itu agar jatuh, tetapi semakin lengket. Desisan itu kembali lagi mengerti sinar yang tidak mau berhenti memancar sampai Yaya pusing. Cahayanya menyinari ruangan toko. Yaya masih bisa melihat sedikit dan terkejut, kemudian pingsan. Seketika sinar dan desisan itu menghilang dari toko.   ~~~  Angin dingin menerpa memberikan udara yang menyegarkan. Gadis itu bangun dari pingsannya dengan kepala berat dan pusing. Tanah yang dipijaknya bahkan terasa dingin. Yaya menyesuaikan keadaan. Mengernyit bingung karena tokonya berubah menjadi jalan penuh pohon.   "Sejak kapan tokoku berhadapan langsung dengan langit?" gumam Yaya setelah duduk sambil menatap langit.  Saat ingin menggaruk kepalanya, dia bingung karena mawar aneh itu masih melekat di dua tangan. Yaya terbelalak dan segera berdiri. Memperhatikan lingkungan lekat-lekat dan menyadari jika itu bukanlah tokonya.   "Ha! Aku ada dimana?!" seru Yaya sampai mundur selangkah.   Pohon besar, jalan bertanah, udara segar tanpa polusi dan banyak rumah aneh saat Yaya berbalik.   Deg!  Ini bukan kotanya. Yaya diam dengan mata lebarnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN