3. Kerajaan Jhani

2068 Kata
 Yaya teriak panik berlarian mengitari pepohonan sesekali memukulkan mawar di tangannya ke pohon agar terlepas. Wajahnya pucat ketakutan. Dia berada di dunia yang jauh dengan asalnya.   "Aaaaa, aku takut! Mana sinar itu?! Mana suara jelek itu?! Kenapa bunga ini juga tidak berfungsi?! Aku mau kembaliiiii!!!" teriak Yaya berlari semakin jauh, tetapi kembali lagi ke tempat semula.   Napasnya terengah walau suhu semakin dingin. Suara hewan malam terdengar. Lampu rumah-rumah itu terbuat dari api. Yaya semakin berteriak tak karuan dan lari menuju rumah itu. Niatnya ingin mencari bantuan, justru seseorang membekapnya dari belakang. Yaya meronta ketakutan. Dia ingin menangis, tangannya tidak bisa berbuat apa-apa.   "Sstt, diamlah! Kau mau tertangkap?!" desis orang itu membuat Yaya terdiam.   Suara laki-laki, tangan besar menutup mulutnya, dan Yaya senang.   'Ada manusia! Aku masih dikelilingi manusia!' pekik Yaya dalam hati.   Yaya meronta lagi membuat orang itu melepaskan Yaya. Seketika Yaya berbalik dan terkejut sama seperti orang itu.  "Aaaaaaa, kau siapa?!" teriak mereka bersamaan saling menunjuk.  Yaya tidak bisa menunjuk, dia menodongkan kedua tangannya yang memegang mawar. Orang itu mengernyit kebingungan.   'Dia aneh sekali! Kenapa pakaiannya sangat kuno?! Ini seperti... Cosplay?!' jerit batin Yaya.   Orang itu menatap Yaya dari atas sampai bawah. Ekspresinya bodoh sambil sedikit memundur. Menunjuk Yaya tidak santai. "Ka-Kau siapa?! Kenapa pakaianmu aneh sekali?! Apa kau penjahat?! Huaaaaa, apa yang ada di tanganmu itu?!"   Yaya kelagapan bingung. "Seharusnya aku yang tanya siapa kau?! Pakaianmu buruk sekali! Aku hanya memakai kaos dan celana longgar," balas yaya tidak terima.   Orang itu meringis ngeri. "Apa? Apa itu kaos?" herannya.   Yaya ikut mengernyit memandang kaosnya sendiri. "Ya, Ampun! Yang kupakai ini namanya kaos," ingin sekali menepuk dahinya.   Orang itu mendekati Yaya membuat Yaya sedikit menjauh takut. "Hei, sepertinya kau bukan berasal dari sini. Ikut aku!" bisiknya.   Tanpa persetujuan Yaya, orang itu menarik tangan Yaya dan diajak ke rumahnya.   "Eh, eh, eh, aku mau diajak kemana?! Jangan makan aku manusia berpakaian aneh!" Yaya meronta.  "Astaga, dia yang aneh malah menyebutku aneh?" gumam orang itu terus berjalan.   Yaya menurut saja. Soal bahaya atau tidak bisa dipikirkan nanti setelah semuanya jelas. Dia menatap punggung orang itu yang nampak tegar. Pakaian lebar dan menutup seluruh tubuh. Rambutnya sedikit berantakan dan berponi. Yaya kembali memandang persekitaran. Dia semakin yakin jika berada jauh di kotanya. Bukan desa, tetapi sebuah tempat seperti di film yang pernah dia lihat.   'Kalau orang ini jahat, akan kupukul kepalanya! Aduh, Yaya, kenapa bisa sampai di sini? Bagaimana ceritanya?' heran Yaya dalam hati.  Sampai di rumah orang itu, Yaya takjub karena pintunya sangat lebar. Dia tidak menghiraukan orang itu yang memanggilnya. Yaya asik menikmati interior rumah yang semuanya terbuat dari kayu.   "Wahh, ini hebat! Sangat persis seperti di zaman kuno! Eh, apa itu? Wow, ukiran teratai! Bagaimana bisa mereka melakukannya? Ini sangat mahal! Kayunya juga kualitas nomor satu!" seru Yaya tanpa malu berjalan kesana-kemari.   "Aku mencurinya!" ujar orang itu sambil berkacak pinggang.   Yaya melotot langsung berbalik. "Apa? Kau pencuri?! Harusnya kau ditangkap polisi!" Yaya menunjuk ukiran teratai dan orang itu bergantian.   Orang itu mengernyit lagi. "Tadi kau, sekarang polisi. Apa itu polisi? Sepertinya kau tidak pandai bicara!" menggeleng menghampiri ukiran itu.   Yaya menepuk dahinya justru terkena duri mawar sehingga dia mengaduh. "Merepotkan sekali! Orang aneh, bisakah bantu aku lepaskan bunga ini?" menodongkan tangannya tanpa menjawab.  Orang itu menoleh dan memukul tangan Yaya dengan ukiran teratai.   "Aw, sakit!" pekik Yaya marah.  "Siapa kau sebenarnya? Kenapa berani membawa bunga terkutuk itu?" desisnya saat membicarakan bunga mawar.   Yaya menaikkan kedua alisnya. "Ter-Terkutuk? Mawar secantik ini kau bilang terkutuk?" ujarnya terbata-bata.  Orang itu mendesah bingung. Mengelilingi Yaya sampai tiga kali dan meraup wajahnya frustasi. Yaya menjadi kesal. "Hei, kenapa kau cemas? Aku cantik, ya? Terima kasih. Tidak perlu menatapku seperti itu," candanya.   Namun, orang itu justru mengambil bunga Yaya. "Berikan padaku!" ujar orang itu sambil terus berusaha menarik bunga mawar sampai tangan Yaya ikut tertarik.   Yaya mendelik. "Ini menempel ditanganku, payah!"   "Kenapa kau tempelkan? Darimana dapat bunga ini?" tanya orang itu membuat Yaya geram. "Kau benar-benar tidak mengerti segalanya! Untuk apa aku sengaja menempelkan bunga ini?" balas yaya sedikit menaikkan nada suaranya.   Orang itu berdecak pasrah dan melepaskan tangan Yaya. Yaya kembali mengatur napasnya yang terengah. "Kenapa?... Bunga ini sulit sekali terlepas?" gumam Yaya.  Orang itu terus mengamati Yaya serius. Mengetuk-ngetuk dagunya membuat Yaya juga penasaran. Sekarang gilirannya yang mengitari orang itu sampai orang itu lari ketakutan bersembunyi di balik tiang. Yaya bingung lagi. "Heh, kenapa kau lari?!"   Mengejar orang itu, tetapi orang itu lari lagi sambil menyuruh Yaya menjauh. Yaya terus mengejarnya sampai berkeliling dalam rumah.   "Diam di sana! Kenapa Sang Penguasa memberiku cobaan seperti ini? Nasib sial akan terjadi padaku! Bunga itu kutukan, kau jangan mendekatiku! Lihat saja, dia tidak bisa terlepas! Bodohnya aku yang membawamu kesini!" gerutu orang itu di balik tirai sambil menutup dahinya keras.   Yaya berhenti agak jauh di depan orang itu. Menodongkan bunga mawar di tangannya. "Maksudmu ini kutukan? Asal kau tau, bunga ini yang membawaku datang kemari. Apa berarti aku dikutuk?!" Yaya ikut bersembunyi di tirai membuat orang itu lari.   "Jangan mendekatiku, gadis sial! Katakan dulu apa maksudmu?! Aku tidak mengerti sama sekali! Kau aneh, tapi... Lumayan cantik!" mengangguk-angguk mengusap dagunya.  Yaya keluar dari tirai marah. "Aku yang lebih tidak mengerti sama sekali! Kau siapa? Ini dimana? Penampilanmu sangat aneh! Lingkungannya juga aneh! Kau katakan dulu siapa kau!" tuntut Yaya.  "Ha?!" orang itu mendelik. Ujung bibirnya sampai berkedut.   Demi menyelesaikan kesalahpahaman, Yaya dan orang itu duduk berhadapan di lantai dengan meja sederhana menjadi penengah. Yaya sudah tidak takut lagi karena orang itu sangat konyol. Yaya gemas ingin menyisir rambut orang itu yang acak-acakan. Sedangkan orang itu juga heran dengan Yaya yang berbeda dengan orang lain. Karena tidak ada pembicaraan, Yaya mengalah dan berbicara lebih dulu.  "Orang aneh, kau jangan takut. Aku bukan orang jahat yang mengancammu. Sebenarnya aku juga tidak tau apa yang terjadi. Namamu Zuzalwa Yaya, panggil saja Yaya. Aku seorang penjual bunga mawar di kota. Bunga ini datang bersama kardus yang sempat hilang, lalu saat aku menyentuhnya, bunga ini tidak bisa lepas. Berbagai cara aku coba tetap saja gagal. Kemudian, sinar merah cerah bunga ini datang dan memenuhi ruang tokoku. Mataku sampai sakit dan aku rasa pingsan. Bangun-bangun sudah ada di sini. Sepertinya aku terjebak karena bunga mawar ini," jelas Yaya menunjukkan mawar itu terus.   Orang itu mencerna ucapan Yaya dengan baik. Dia melebarkan matanya, "Jadi mawar ini yang membawamu? Benar-benar mempunyai sihir!"   "Sihir? Mawar ini dipenuhi sihir?!" Yaya kembali takut.  "Payah! Kau jangan teriak terus! Kalau orang-orang dengar dan dia menangkapmu karena pakaian anehmu itu, bisa-bisa kau membusuk dalam penjara. Kau orang asing dari... Tunggu dulu, kau berasal dari mana?" tanya orang itu memicing.  Yaya menjawabnya ragu. "Dari kota. Memangnya ini kota? Bukannya desa, ya?"   Orang itu menggebrak meja membuat Yaya terjingkat dan melotot. "Ini kerajaan Jhani! Bagaimana bisa kau bilang kota?" herannya.   Yaya ternganga. "Ke-Kerajaan?! Jhani?!" pekiknya heboh.  "Bisa kecilkan suaramu? Sekarang obat mahal untuk gangguan pendengaran." dengan sangat santai orang itu menutup telinganya.   Yaya celingukan mencari jendela. Dia segera membuka jendela lebar dan nampaklah sebuah jalan dan rumah yang berjajar rapi. Banyak bendera dan pelita. Yaya takjub sekaligus gelisah. Jantungnya berdetak kencang.   'Aku mengerti. Mawar ini membawaku ke zaman dimana kotaku masih menjadi kerajaan. Jhani? Jadi aku ke masa lampau?' batin Yaya.   "Bagaimana? Indah, 'kan?" seru orang itu membuat Yaya menoleh dan mendekatinya.   "Katakan segalanya tentang kerajaan ini!" pinta Yaya sungguh-sungguh.   "Kau dulu yang katakan segalanya tentangmu dan sihir mawar di tanganmu!" balas orang itu.  "Ck, sudah kukatakan tadi. Kau percaya sihir, 'kan?" tanya Yaya, matanya yang melebar. Orang itu mengangguk kuat. "Aku berasal dari masa depan dan kembali ke masa lalu dimana tempat tinggalku masih menjadi kerajaan. Ini zaman kuno!" lanjut Yaya.  Orang itu menggeleng tidak percaya, "Zaman kuno bagaimana? Apanya yang masa depan? Kalau ucapanmu benar, lalu aku siapa di masa depan? Kau tidak mengenalku, 'kan? Pembohong! Sihir bunga mawar tidak sekuat itu!" menyilangkan tangannya.   Yaya berdecak dan memperbaiki duduknya lebih santai. "Ini kenyataannya! Aku juga tidak tau kenapa mawar cantik ini membawaku kemari. Pasti ada alasannya. Ceritakan sesuatu, mungkin aku bisa menemukan jawabannya!" pinta Yaya lagi.  "Kau yakin? Ini sangat tidak masuk akal!" orang itu menggeleng ragu.  Yaya gemas ingin memukul orang itu dengan bunganya sampai orang itu sedikit menepi. "Aku serius! Aku ingin pulang! Tempat ini aneh! Sebelumnya aku juga bermimpi tentang bunga ini, sinar, dan bayangan seorang laki-laki tapi bukan kau! Awalnya aku juga tidak percaya, tapi ini sepertinya nyata! Katakanlah sesuatu!"   Orang itu menjadi terpengaruh dan mulai percaya dengan Yaya. "Kurasa kau benar. Melihatmu sangat berbeda dengan kami, aku maklumi. Kalau mawar itu kembali dengan sihirnya, pasti ada sesuatu yang akan terjadi. Ini adalah kerajaan Jhani. Seluruh kerajaan menyebutnya dengan kerajaan Mawar. Anehnya satu bunga mawar pun tidak ada yang tumbuh di sini. Itu masih menjadi misteri," jelasnya.   "Kerajaan Jhani adalah kerajaan Mawar. Mungkin itu sebabnya aku di sini dengan mawar melekat di tangan. Lalu, apa lagi?" Yaya semakin penasaran.   "Emm, menurut rumor, bunga mawar itu memiliki sihir peninggalan dari penyihir yang sudah lama tiada. Karena raja terdahulu mengambil salah satu bunga mawar untuk mendapatkan sihirnya, justru itu menjadi penyebab kematian sang raja. Itu sebabnya semua bunga mawar dihabisi dan dianggap kutukan. Sihirnya bisa mematikan! Sampai sekarang misterinya belum terpecahkan." lanjut orang itu.  Yaya kembali berpikir. "Jadi mawar di sini sebuah peranan penting. Aku tidak mengira kalau mawar punya sihir. Selama ini aku menjualnya begitu saja. Kerajaan ini punya hal yang unik di luar teknologi canggih!" menggeleng dalam gumamnya.   "Teknologi? Itu apa lagi?" orang itu menggaruk pelipisnya.   Yaya mengerjap. "Hehe, kau tidak mengerti, ya? Intinya di zamanku semuanya sangat berbeda dengan di sini. Di sana sudah jauh berkembang pesat. Karena itu pakaian kita pun berbeda. Bahasa kita juga sedikit berbeda. Lingkungannya juga berbeda, tetapi tetap ada persamaan. Nyatanya aku bisa bicara sangat mudah denganmu. Kau mengerti?" Yaya menjelaskan dengan tenang.   "Oh, jadi begitu. Lalu, seperti apa tempatmu? Punya sihir dan barang-barang bagus?" tanya orang itu polos.  Yaya tergelak. "Aku seperti bicara dengan anak kecil, haha!" membuat orang itu berdecak kesal. "Baiklah, kotaku itu banyak rumah yang menjulang tinggi, mereka menyebutnya gedung. Rumah kecil juga banyak seperti rumahku, tetapi tidak semuanya terbuat dari kayu. Kami tidak punya sihir, tetapi kemampuan berpikir kreatif sampai bisa menghasilkan benda-benda menakjubkan. Contohnya handphone. Loh, handphone-ku mana? Pasti di meja kasir! Ck, aku tidak membawa apa-apa selain mawar ini sekarang," Yaya menjadi lesu mengingat handphone-nya.   Orang itu mengangguk. "Tenang saja! Sepertinya masa depan itu sulit. Tinggal di sini sangat menyenangkan! Kau pasti akan lupa pulang!" ujarnya sambil tersenyum.   "Memangnya kenapa?" tanya Yaya masih lemas.  "Meskipun tidak ada benda seperti handphone yang kau maksud, di sini banyak benda lucu untukmu! Kau pasti sangat menyukainya!" orang itu sangat gembira.   "Hahaha, tapi aku mau pulang!" tertawa sebentar dan kembali memasang ekspresi sedih.   Orang itu berdecak kesal. "Baru datang sudah mau pulang. Bagaimana caramu pulang? Apa sinar itu datang lagi? Apa mawarnya keluar sihir lagi? Percuma saja... Eee, siapa namamu tadi?" mengernyit lupa.   "Yaya! Namaku Zuzalwa Yaya!" jawab Yaya agak kesal.   "Ah, iya, Yaya. Namamu cukup bagus! Aku sarankan tetap di sini sampai menemukan cara untuk kembali. Lagipula mawar itu tidak boleh diketahui siapapun. Semua orang akan berebut untuk mendapatkan sihirnya, atau memusnahkannya. Iya kalau mawar itu bisa terlepas, sayangnya mawar itu sangat menyukaimu," ejek orang itu.  Yaya menjunjung tangannya. "Benar juga. Bagaimana caraku kembali? Ini akan jadi masalah karena mawar. Kenapa semesta sangat suka melihatku kesulitan? Kemarin pasangan, sekarang terjebak ke masa lalu. Apa salahku?" keluh Yaya sedih.   Orang itu panik tidak bisa menghibur Yaya. "Eee, kau jangan sedih! Aduh, bagaimana ini?"   Yaya meliriknya. "Apa kau mau membantuku? Sepertinya kau orang baik," kembali berhadapan.  Orang itu mengangguk. "Tentu saja! Meskipun aku tidak punya pekerjaan, tapi aku orang yang sangat baik. Nyatanya aku membantumu dalam hal seserius ini!" bisiknya di akhir ucapannya.   Yaya terkekeh. "Kau lucu! Siapa namamu? Kenapa tidak punya pekerjaan? Kurasa kita seumuran. Dimana keluargamu?"   "Ternyata kau cerewet! Namaku Ian Kafurai, panggil aku Ian. Aku sengaja menganggur karena aku bekerja di setiap ada pekerjaan. Hah, rasanya malas mendapat perintah seseorang. Jadi aku bekerja jika ada peluang saja. Kaluargaku... Aku hidup sendirian." tersenyum manis.   Yaya ikut tersenyum. "Ian Kafurai, nama yang bagus! Sekarang kita berteman?" ingin berjabat tangan, tetapi sulit.   "Hahaha, teman!" Ian menepuk lengan Yaya dua kali sebagai gantinya menjabat tangan.   Keduanya tergelak sampai Ian sadar sesuatu. "Pakaianmu jelek! Aku ada pakaian ibuku yang tersisa, sementara kau pakai itu saja!" pergi menuju kamarnya.   Yaya ingin menghentikannya, tetapi Ian sudah masuk ke kamarnya. Yaya kembali mengulas senyum karena bertemu dengan orang baik. Andai dia bertemu para prajurit yang berjaga, tidak tahu apa yang akan terjadi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN