4. Pasar Utama

2064 Kata
 Merah muda yang sangat lembut dan memikat perhatian. Ian sampai tidak berkedip dan mulutnya ternganga. Yaya merapikan pakaian yang sedikit longgar di depan cermin. Rambutnya yang panjang tertata rapi dengan hiasan mawar kecil menusuk rambut. Yaya kebingungan memakainya karena tangannya menyatu. Sehingga Ian memotong pakaian di bagian tangan dan menjahitnya kembali. Mawar aneh itu benar-benar menyusahkan Yaya.  "Wahh, kau lebih cantik dari sebelumnya! Mirip ibuku!" celetuk Ian di samping Yaya.   Yaya mengernyit masih merapikan pakaiannya dengan menarik ujungnya memakai kaki, pundaknya bergoyang-goyang mencari kenyamanan.   "Aku bukan ibumu! Pakaian ini agak aneh, 'kan?" tanya Yaya memandang cermin.  "Tidak aneh! Ini bagus! Ck, nikmati saja apa yang ada, atau kau mau memakai pakaianku?" tawar Ian.   "Tidak-tidak! Maksudku ini memang bagus, tapi aku terlihat aneh. Bukan gaya keseharianku. Merasa berada di dalam film. Kalau Aloa tau pasti mengejekku." Yaya menghembuskan napas panjang. Pantulan dirinya dalam cermin sangat indah. Senyumnya terukir.   "Aloa? Dia temanmu?" tanya Ian semakin tertarik dengan dunia Yaya.  Yaya menoleh dan tertawa lepas. "Kau ini selalu bertanya. Saat aku kembali nanti apa mau ikut bersamaku? Duniaku sangat luar biasa! Ada hewan buas dimana-mana!" maju selangkah dengan cepat membuat Ian sedikit mundur.   "Hewan buas? Aloa temanmu itu mengerikan!" pekik Ian.   "Hahaha, astaga, polosnya! Bukan itu maksudku. Orang-orang di zamanku sangat liar. Mereka melakukan apa saja demi kepentingan diri sendiri. Istilahnya adalah egois. Tapi mereka bukan hewan buas, mereka manusia yang baik. Sedangkan Aloa itu temanku yang bekerja di bengkel. Penampilannya seperti laki-laki. Dia juga baik walau terkadang sangat tegas seperti laki-laki," ujar Yaya.  Ian tersenyum semangat. "Apa dia juga cantik sepertimu?"   Yaya mendelik. "Kalau penasaran ikut aku pulang saja, haha. Dia sangat cantik meskipun jarang berdandan. Terlalu sering mengotak-atik motor jadi lupa kalau dia perempuan," candanya.   "Ha? Lupa identitas? Itu tidak baik!" Ian menggeleng walaupun juga tidak mengerti apa itu motor.  "Lupakan Aloa. Dia tidak tau aku terjebak disini." Yaya menatap sekeliling rumah Ian. "Entah bagaimana caraku melepas bunga mawar ini. Memandangnya terus membuat mataku sedikit silau," lanjut Yaya membiarkan mawar itu menggantung bebas bersama tangannya.  Ian mendesah, "Kerajaan melarang adanya bunga mawar. Tapi kita harus keluar untuk mencari tau." gumamnya lalu pergi mencari sesuatu di lemari.  Membawa kembali sebuah kain dan menutupi tangan Yaya, "Setidaknya tidak akan terlihat walau mencurigakan. Mungkin orang-orang akan bertanya, kita bisa mengelaknya." Ian mengikat kain itu sampai bunganya tak terlihat.   "Ian, kau pintar!" puji Yaya sambil mengayunkan tangannya. "Haha, seperti kepompong!" lanjutnya.   "Aku memang cerdik dan pintar! Karena itu aku ahli dalam mencuri!" Ian berbangga diri.  Yaya terbelalak. "Kau benar-benar pencuri?!"   "Hehe, hanya dalam keadaan terpaksa. Jangan beritahu semua orang, aku sudah menolongmu, 'kan?" bujuk Ian.   Yaya nyengir. "Mau laporkan pada siapa? Aku takut para prajurit! Mereka membawa pedang. Ih, menakutkan!" bergidik ngeri.   Ian tergelak, "Aku juga tidak bisa memakai senjata." mengendikkan bahunya.   "Ngomong-ngomong, aku boleh menginap di sini?" tanya Yaya meneleng.   Ian ikut meneleng. "Kenapa memiringkan kepala?"   Yaya berdecak kembali menegakkan kepalanya. "Hanya bermain," jawabnya cuek.  Ian mengangguk pasrah. "Yaya, aku tidak punya teman. Aku ini suka mengganggu dan berkeliaran. Semua orang mengenalku karena kasihan. Walaupun zaman kita berbeda, aku anggap ini sungguhan dan kau temanku. Kau tidak keberatan berteman dengan orang tidak berguna sepertiku?" tanya Ian panjang.  Yaya tersenyum hangat, "Ian, aku berteman dengan semua orang. Aku senang bertemu denganmu."  "Sungguh? Kalau begitu bagus! Kita akan cari cara melepaskan mawar di tanganmu besok. Sekarang sudah mala. Hoaamm, aku mengantuk!" Ian melenggang pergi ke ranjang kayunya.   "Ngantuk? Ini mungkin baru pukul tujuh. Aku tidak mengantuk!" ujar Yaya melengos.   "Terserah! Kalau mau tidur, di kursi panjang saja, ya! Atau tidur denganku juga tidak masalah." goda Ian mengedipkan sebelah matanya.   Yaya menganga. "Dasar laki-laki sama saja! Lebih baik aku tidur di luar!" Yaya melengos pergi.   "Eh, jangan berkeliaran! Nanti aku yang repot. Selamat malam, Yaya!" ujar Ian. Menguap lagi dan tidur dengan cepat.   Yaya berbalik. "Dia cepat sekali tertidur," gumamnya.   Kembali melangkah ke teras rumah. Bahkan rumah Ian lebih besar dari rumahnya. Sangat murni serasa Yaya berada di dalam hutan yang sengaja dibentuk pemukiman. Duduk di samping tiang, memangku tangannya tanpa takut mawar itu melukai kakinya. Yaya menatap langit yang berbintang. Senyumnya seindah langit malam.  'Kenapa aku dibawa kesini? Apa alasannya? Entah sampai kapan aku di kerajaan Jhani, yang pasti aku ingin pulang. Ini bukan rumahku,' batin Yaya.  Bintang-bintang itu berkedip seakan bicara pada Yaya. Senyumnya semakin manis seiring waktu berjalan. Cerita cinta yang pernah dia baca, penghasilan yang berubah-ubah, dan semua kejadian aneh kemarin berputar di ingatan Yaya. Dia mencoba menggabungkan semuanya.   "Dua kisah cinta itu berakhir menggantung. Mereka tentang mawar. Apa aku juga akan berakhir tidak jelas karena mawar ini?" gumam Yaya mengangkat mengarahkan ke langit.   "Aku tidak khawatir dengan uangku, tapi toko dan semua mawarku. Siapa yang akan merawat mereka jika aku terus di sini?" gumam Yaya lagi.   Langit itu tidak bisa menjawab, Yaya mendesah panjang, "Sinar dan mawar sudah aku dapati. Lalu, bayangan laki-laki itu siapa? Sama sekali tidak mirip dengan Ian. Apa artinya aku akan mengalami perjalanan panjang dan bertemu laki-laki itu? Apa dia orang jahat? Bagaimana kalau aku tiada di sini? Sang Pencipta sudah mempermainkanku. Aku terlalu berpikir negatif." menggeleng dan menunduk.   Semalaman Yaya tidak bisa tidur. Udara dingin sedikit menembus pakaian tebalnya. Hal menyebalkan yang Yaya alami adalah gatal digigit nyamuk dan Yaya tidak bisa menggaruknya. Akhirnya pukul dua malam Yaya masuk rumah. Bingung caranya menutup pintu, dia biarkan terbuka begitu saja.   "Hah, repotnya punya tangan tidak bisa digunakan. Jadi seperti ini rasanya orang-orang yang cacat tangan. Aku jadi kasihan. Mereka tangguh sekali menjalani hidup. Yaya, kau juga harus hebat seperti mereka. Mawar aneh ini bukanlah halangan! Secepatnya kau harus bebas dari zaman ini!" ucap Yaya.   Membaringkan diri di kursi panjang dekat ruang tamu, Yaya tidur terlelap. Matahari mulai terbit. Sinarnya masuk lewat celah rumah. Hawa dingin perlahan pergi berganti hangat. Ian terusik, tetapi Yaya masih tidur pulas.   Ian menghampiri Yaya dengan wajah kusutnya. Dia mengamati Yaya lekat. "Kalau dilihat-lihat tidak ada kekuatan menarik dari Yaya. Dia hanya cantik dan cantik. Kenapa sihir mawar membawanya kemari? Dasar konyol! Dari masa depan? Kalau begitu sudah pasti aku tiada!" Ian bicara sendiri dan pergi ke kamar mandi.   Saat Yaya bangun, dia bingung ingin mandi, tetapi tidak bisa. Mungkin bisa menyiram tubuhnya menggunakan kaki meskipun sulit, tapi untuk memberi sabun? Yaya tidak yakin. Akhirnya dia memasukkan sabun ke dalam air hingga airnya keruh dan wangi. Yaya menjadi harum dan bersih dengan sendirinya. Ian sampai heran karena Yaya marah saat dia ingin membantu Yaya mandi. Niatnya baik karena tangan Yaya tertempel bunga mawar.   Mereka keluar rumah dan Yaya sedikit takut. Ian dengan riangnya menatap semua orang membuat Yaya sedikit terlambat mengikutinya karena berjalan lambat. Dia hanya meringis menatap orang-orang yang berpakaian sama seperti dirinya dan Ian.   'Ini memang bukan ilusi apalagi mimpi. Benar-benar sebuah kerajaan,' batin Yaya.  Yaya mengejar Ian sampai menabrak Ian pelan. Ian berdecak dan memelankan jalannya. "Kau ini kenapa? Biasa saja, mereka juga manusia," menatap Yaya bingung.  "Eh, dimana istananya?" tanya Yaya semangat sambil memandang sekeliling.   "Oh, ada setelah melewati pasar utama. Tapi butuh waktu sampai tengah siang untuk sampai karena kita jalan kaki! Jangan berpikir naik kereta kuda, ya. Aku tidak punya uang!" kata Ian santai.  "Ajak aku ke istana!" seru Yaya.  "Kau tidak takut lelah?" heran Ian.  "Ck, setiap hati aku kerja mengantar pesanan mawar ke berbagai tempat. Aku tidak keberatan berjalan sejauh apapun. Ayo!" Yaya justru mendahului.  "Memangnya kau tau jalannya? Hei, tunggu aku!" Ian mengejar Yaya yang tidak mau berhenti.   Yaya tiba lebih dulu di pasar utama. Ian sampai kelelahan mengejarnya. Yaya asik terpesona memandangi riuhnya pasar tradisional banyak barang-barang unik dan antik dijual. Toko besar mirip rumah juga banyak. Ada jembatan untuk menyeberangi sungai dan masih ada pasar lagi di seberangnya. Yaya kehilangan kendali dan meninggalkan Ian terus mengejarnya.   "Yaya, aku capek! Bagaimana kau bisa tau jalannya? Berhenti!" seru Ian kelelahan tidak kuat berjalan lagi.  Dia duduk di salah satu teras toko kain. Sampai menjulurkan lidahnya karena kehausan, "Aku bahkan tidak makan pagi. Kenapa dia kuat menahan lapar? Justru terlihat bahagia." menggeleng tidak habis pikir dengan Yaya.   Napasnya lelah membuat Ian menutup mata. Sebentar lagi dia akan tidur, tetapi terjingkat merasakan sesuatu menendang kakinya.   "Astaga, Yaya! Kenapa menendangku?" kesal Ian.  Yaya ikut duduk tanpa melunturkan senyumnya, "Aku bawakan air dan makanan. Kalau tidak menendangmu mau bagaimana lagi? Kupanggil dari tadi juga tidak dengar." menodongkan tangannya yang mengapit sekantung air dan makanan.   Ian menatap Yaya bingung lagi. "Kau mencuri semua ini?"   "Sembarangan! Aku tidak punya uang, tapi tidak bodoh sepertimu! Ada pedagang kaya yang kesusahan menghitung koin yang jatuh. Aku membantunya dengan cepat, lalu dia memberikan imbalan ini. Aku pintar, 'kan?" Yaya bangga menaik-turunkan alisnya.   Sudut bibir Ian berkedut lagi. Dia menunjuk jalanan pasar di depannya. "Kau membantu menghitung koin hanya dengan melihat? Tidak menyentuhnya sama sekali?" suaranya agak meninggi.   Yaya menggeleng. "Sudah kubilang aku jauh lebih pintar darimu. Ini ambillah! Tanganku pegal!" Yaya agak kesal.  Ian segera mengambil makanan dan minumannya. "Apa orang itu tidak curiga dengan tanganmu?"   "Dia hanya bertanya, aku bilang kalau tanganku sakit. Itu saja," jawab Yaya.   "Aku benar-benar masih berpikir keras tentangmu. Hebat sekali menghitung koin dengan cepat. Aku saja sering lupa walau memegangnya," Ian terus bicara membuat Yaya berdecak. "Kau mau makan, tidak?" kata Yaya.  Ian mengangguk segera. "Kau sendiri? Bagaimana caramu makan?" tanya Ian sambil mengambil makanan itu.  Yaya menggeleng dengan senyum tipis menghiasi, "Aku tidak lapar. Kau makan saja."  "Mana bisa begitu? Kau lapar tapi menahannya. Aku juga tidak mengerti kenapa kau lebih kuat dariku. Aku akan menyuapimu. Lagipula kau mendapatkan ini juga untukku, 'kan?" Ian mulai mengambil sedikit makanan itu.  Yaya ragu. "Kau sungguh ingin menyuapiku?"   Ian mengangguk kuat. "Iya! Kenapa? Kau tidak suka?"   Yaya segera menggeleng. "Bukan begitu. Hanya saja, aku tidak pernah disuapi apalagi oleh laki-laki. Ini agak... Aneh," cengirnya.   Ian mendesah, "Kita teman. Sesama teman harus saling membantu. Aku tidak mau kau pingsan karena perut kosong. Makanlah!" mengarahkan makanan itu ke Yaya.  "Emm, kau makan dulu." Yaya menunjukkan deretan giginya.  "Ck, kau susah sekali!" geram Ian memakan suapannya sendiri dan membuat suapan yang sama untuk Yaya. Yaya menerima suapan itu dan Ian tersenyum. "Bagus! Bagaimana rasanya? Apa sama seperti di tempatmu? Ini namanya nasi batu, karena dimasak di dalam batu. Aku suka ini!" seru Ian dan makan lagi.  Yaya mengecap lidahnya. "Lumayan! Jika ditambah sedikit geram dan rempah-rempah pasti enak!" menerima suapan Ian lagi.   "Kau bisa memasak?" Ian sedikit mengejek.  "Hahaha, tidak! Tentu saja bisa! Aku mandiri, semuanya kukerjakan sendiri. Soal masak hanya tau beberapa. Tidak terlalu pandai," jawab Yaya mulai akrab dengan Ian.   "Mandiri? Bukankah itu artinya menjadi orang yang serba bisa? Sangat pandai mengatur segala hal untuk diri sendiri dan orang lain? Aku pernah membaca kata itu di buku." menyuapi Yaya lagi.  Yaya menjawab setelah menerima makanannya. "Benar! Kau juga berpendidikan! Apa di sini ada sekolah? Akademi atau semacamnya?" tanya Yaya.  "Ada, tapi itu di dekat istana kerajaan. Hanya orang-orang yang lulus tes dan punya kemampuan untuk bisa masuk akademi. Aku tidak pernah mencobanya. Jalan hidupku tidak pasti. Bukan seperti mereka yang punya ambisi." tidak sadar Ian berbagi cerita.  "Kau akan menemukan jalan hidupmu suatu saat nanti. Hah, aku kenyang." Yaya memukul-mukul perutnya kenyang seperti anak kecil yang tangannya terikat.   Ian memberikan air itu pada Yaya. Dengan hati-hati dia membantu Yaya minum, membuat Yaya terus memandang Ian yang belum selesai makan.   'Selain Aloa dan Nyonya Fali, masih ada orang yang peduli denganku di tempat yang jauh berbeda. Ian sangat polos sebagai laki-laki. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang munafik di luar sana,' batin Yaya.   Matahari sudah tepat di atas kepala. Yaya mengeryip menatapnya. "Belum sampai ke istana sudah tengah siang. Kenapa pasar belum tutup?" tanya Yaya bergumam.   "Karena memang seperti ini. Pasar utama buka sampai malam. Masih mau melanjutkan perjalanan?" Ian balik tanya.  "Coba aku cari informasi di sekitar pasar. Pasti ada petunjuk dari mereka." Yaya memandang setiap pedagang di depannya dengan serius.   "Kalau tidak ada?" Ian mematahkan semangat.  "Pasti ada!" Yaya sangat yakin.   "Wajahmu sangat serius. Memangnya cara dapat informasi itu bagaimana?" tanya Ian lagi.   "Apa ada penjual bunga atau tanaman?" tanya Yaya menatap Ian.   "Pertanyaanku belum terjawab justru berbalik bertanya. Setahuku tidak ada penjual bunga, tetapi tanaman obat banyak!" jawab Ian.  "Bawa aku ke sana!" Yaya mengangguk berharap Ian bersedia.   "Baiklah, teman. Ayo!" Ian semangat berdiri membuat Yaya ikut semangat.  Di dekat jembatan, sebuah toko di dalam rumah penuh dengan tanaman obat. Sebagian Yaya mengenalinya karena berada dalam buku sejarah. Ilmu pengobatan tradisional yang sangat ternama dan Yaya tidak paham. Yaya memikirkan cara untuk bertanya agar tidak terlalu menyinggung tentang mawar. Dia masih melihat-lihat bersama Ian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN