5. Pemilik Ladang

2163 Kata
 Banyak jenis bunga dalam keadaan kering. Yaya tidak berpindah dari tempat itu. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mirip bunga mawar. Yaya tidak peduli dengan khasiatnya, tetapi jenisnya. Andai ada bunga mawar, pasti akan lebih mudah baginya untuk bertanya.   "Semua ini untuk obat?" gumam Yaya melihat serius semua bunga kering itu.   "Iya, Nona. Mereka punya khasiat yang berbeda juga untuk penyakit yang berbeda," ujar pemilik toko membuat Yaya terkejut.   'Sejak kapan dia ada di sampingku?' batin Yaya sambil menatap pedagang itu meringis.   "Hehe, ini bagus!" cengir Yaya membuat pedagang itu tersenyum.   "Kalau boleh tau, bunga ini didapat dari mana? Tuan, aku hanya niat bertanya. Tidak apa-apa, 'kan?" tanya Yaya ramah.   Pedagang itu mungkin terperdaya dengan senyum Yaya. "Dari hutan sekitar. Kami juga merawatnya sendiri. Tabib juga ikut bekerja sama. Tanyalah sepuasmu, aku senang jika ada anak muda yang tertarik di dunia kesehatan," ujar pedagang itu.  Yaya tertawa kaku. "Tuan baik sekali. Sebenarnya ini rahasia," bisik Yaya di akhir ucapannya.   Memandang kanan-kiri memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya. Yaya menyuruh pedagang itu mendekat dan berbisik. Ian penasaran di sudut sana. Pedagang itu menurut meskipun bingung.  "Aku mencari bunga mawar merah," bisik Yaya. Pedagang itu seketika melotot. "Jangan terkejut, Tuan! Aku mencarinya bukan tanpa alasan. Aku hanya penasaran wujudnya. Apa ada bunga mawar kering di tokomu? Aku dengar khasiatnya juga dahsyat," sambung Yaya takut jika pedagang itu marah dan membuat kehebohan.   "Nona, kau tau apa yang kau bicarakan?" pedagang itu mengerutkan dahi.   "Aku tau. Itu bunga terlarang di sini. Aku hanya penasaran apa tidak boleh?" Yaya sedikit menunduk.   Pedagang itu mendesah panjang. "Siapa yang pernah melihat bunga itu lagi? Kerajaan Mawar tidak punya satu pun mawar. Kalau kau minta bunga lain pasti kuberikan. Tidak ada mawar di sini," katanya.  Yaya memandang pedagang itu polos."Tidak ada yang kuinginkan selain mawar. Ck, sangat disayangkan. Tuan, terima kasih bantuannya. Jika ada bunga mawar tolong kabari aku, ya. Aku permisi dulu!" salam Yaya sopan.  Pedagang itu mengangguk ramah. "Pintu tokoku terbuka untukmu, Nona!" serunya.   Yaya mengajak Ian pergi lagi mencari sesuatu yang berhubungan dengan bunga.   "Kenapa pedagang itu sangat baik? Dia terus tersenyum padamu," tanya Ian sembari terus berjalan.   "Itulah kekuatan senyum dan keramahan. Jadi kau jangan marah-marah, orang bisa lari ketakutan, haha!" canda Yaya.   Ian berdecih dalam tawa, "Ungkapan yang unik! Kapan aku marah? Aku tidak pernah marah."  "Aku hanya bilang, 'kan?" kata Yaya.   Ian menepuk pundak Yaya karena melihat kios kecil menjual lukisan bunga. "Ada bunga! Mau ke sana?" tawar Ian.  "Iya, benar. Ayo!" Yaya mengikuti Ian ke kios itu.  "Nona dan Tuan, selamat datang. Lihatlah lukisanku ini! Aku membuatnya dalam semalam!" ujar sang penjual memberikan selembar kertas berlukiskan bunga teratai.   Yaya tersenyum melihatnya sedangkan Ian diam tanpa ekspresi sambil melipat tangannya di d**a.   "Ini namanya bunga apa?" tanya Yaya menunjuk sebuah lukisan yang menunjukkan bunga setangkai yang unik.   "Ah, ini bunga anggrek. Karena bunganya gugup jadi tinggal satu," jawab penjual itu ramah  "Kupikir bunga mawar," gumam Yaya.  Penjual itu mendelik, "Kau bilang mawar? Aku tidak punya lukisan bunga mawar."  Yaya terkesiap. "Haha, aku hanya ingin melihat bunga itu. Aku datang dari jauh. Kerajaan ini dikenal dengan kerajaan Mawar, kurasa ada banyak bunga mawar, itu saja." Yaya menunjukkan deretan giginya.   "Kau salah mengartikan, Nona. Pergilah ke kerajaan lain, mungkin kau bisa temukan mawar di sana," kata penjual itu.  Yaya mendekat antusias. "Apa ada tempat khusus di kerajaan Jhani untuk bunga? Jika tidak, kau mendapat imajinasi melukis bunga dari mana? Aku ingin datang ke tempatnya," membuat penjual itu seakan takut.  "Nona, ini hanya bunga di sekitar pasar. Aku tidak tau tempat yang penuh bunga, tetapi di istana pasti ada," jawab penjual itu.  "Istana? Di dalam istana?" heran Yaya. Penjual itu mengangguk. "Terima kasih, Tuan. Ngomong-ngomong, kau tidak tersinggung aku membicarakan bunga mawar?" tanya Yaya hati-hati.   "Hahaha, tidak. Itu wajar saja karena kau dari kerajaan lain. Tidak mau membeli lukisanku?" tawar penjual itu.  Yaya menggeleng dan tertawa kaku. "Ah, tidak, sekali lagi terima kasih banyak!"   Melenggang pergi dan Ian segera mengikutinya.   "Huft, istana. Kalaupun di sana ada taman bunga, bukan berarti mawar juga ada, 'kan? Aku harus cari sesuatu selain keberadaan bunga itu. Mungkin informasi tentang sihir bunga mawar. Siapa tau saja mawar ini bisa terlepas!" Yaya menggoyangkan tangannya membuat mawar itu ikut bergoyang.   "Hah, indahnya siang yang terik. Mencari informasi tidaklah mudah. Apalagi sihir mawar sudah tidak diperbincangkan. Itu hanyalah rumor," kata Ian santai.  "Menurutmu kemana aku harus mencari tau tentang sihir? Atau mungkin mawar?" tanya Yaya menoleh.  "Kau sangat semangat, ya. Kalau sihir aku tidak tau, tapi mawar... Pasti di orang yang sangat menyukai bunga. Penjual obat dan pelukis itu tidak tahu apapun. Siapa lagi yang tau soal bunga? Apa petani?" Ian berpikir sangat keras sambil menatap langit.  Seketika Yaya menghentikan langkahnya. "Petani! Kau pintar sekali! Kau tau dimana ada petani?" pekiknya.  Ian menatap Yaya sambil berdecak. "Aku seperti petunjuk jalan. Ayo!" Ian berbelok ke sela-sela pasar dan belum menyeberangi jembatan.   Yaya terkikik dan mengejar Ian. Mereka tiba di sebuah ladang gandum dan buah. Namun, tidak ada rumah, hanya gubuk kecil untuk istirahat. Yaya bingung menatap sekeliling mencari pemilik ladang.   "Tidak ada pemiliknya?" gumam Yaya.  "Tunggu saja, sebentar lagi juga datang. Nanti sore pasti akan datang!" Ian sangat santai Naina keburu kecil dan tiduran di sana.   "Masih ada dua jam untuk sore. Lama sekali?" keluh Yaya sambil berjalan-jalan mengitari ladang gandum. Senyumnya selalu terukir.   "Memangnya ada pilihan lain?" Ian membuat Yaya berpikir.   "Aku tidak tau. Kau istirahat saja. Aku mau melihat ladang sebentar!" seru Yaya yang sudah agak jauh dari gubuk.   Ian mengawasi Yaya dari kejauhan. "Dia keras kepala! Menunggu sebentar apa tidak bisa? Kakinya tidak punya rasa lelah. Kalau tangannya tidak merekat pada mawar, pasti semua sudah dipegangnya," gerutu Ian.   Selagi Yaya menjelajah ladang gandum, Ian sengaja memetik beberapa buah mangga yang hampir matang. "Hmm, harumnya. Yaya, sini makan buah mangga!" teriak Ian.   Yaya samar-samar mendengar panggilan Ian. "Dia tadi bilang apa? Hah, sudahlah," cueknya. Kembali melihat ladang yang sama dengan di desa kotanya.   Ian menunggu Yaya yang tidak menjawab, dia memakan semua buah itu. Kantuknya hilang, tetapi masalah datang. Baru setengah jam, pemilik ladang itu datang membuat Ian kelagapan.   "Ian Kafurai! Kau lagi, kau lagi! Kali ini aku akan menggantungmu di pohon mangga semalaman! Makan semua buahku di sana! Anak nakal! Sini kau!" marah sang pemilik ladang mengejar Ian yang loncat dan lari dari gubuknya.   "Aaaa, maafkan aku, Bibi! Yaya, tolong aku!" teriak Ian berlari ke arah Yaya.   Pemilik ladang masih mengomel dan mengejar Ian. Yaya berbalik dan melotot.   'Astaga, apa yang Ian lakukan?!' batin Yaya.  Semakin cepat Ian menuju kearahnya dan sembunyi di belakang Yaya. Pemilik kebun itu juga berhenti dan kaget melihat Yaya yang memasang senyum bodoh.   "Hai, Bibi. Senang bertemu denganmu!" sapa Yaya.   Pemilik ladang menatap Yaya dari atas sampai bawah. "Ian, kau menculik putrinya siapa? Dia pasti anaknya bangsawan! Kau harus kembalikan dia! Anak nakal!" masih ingin memukul Ian dan Ian semakin berlindung dengan menutupi wajahnya pakai rambut Yaya. "Aaa, Yaya, tolong aku!" pekik Ian.  Yaya menghentikan pemilik ladang dengan tangannya yang menyatu tak terlihat. "Eh, Bibi, jangan kejar Ian lagi. Aku bukan putri bangsawan dan Ian tidak menculikku. Dia temanku, apa yang sudah dia lakukan sampai membuatmu marah?" tanya Yaya baik-baik.   Pemilik ladang menganga dan menutup mulutnya. "Oh, astaga, kau apakan gadis cantik ini, Ian?! Kau menghasutnya jadi temanmu?! Nak, jangan berteman dengan Ian! Dia itu bukan pemuda baik! Kau akan sial seumur hidup nanti!" ujarnya pada Yaya sesekali melototi Ian.  "Bibi, aku tidak seburuk itu! Hanya mengambil beberapa mangga saja kau marah," rengek Ian.   "Diam kau! Jangan menghasut gadis cantik ini!" marah pemilik ladang mengepalkan tangannya ingin memukul Ian, tetapi Yaya mencegahnya lagi.   "Ahaha, Bibi, seperti kau salah paham. Mari duduk dan bicara. Apa kau pemilik ladang ini?" Yaya bersikap sangat ramah dan tenang.   "Iya, aku pemiliknya. Bagaimana bisa kau mengaku temannya Ian? Bagai langit dan bumi!" pemilik ladang menggeleng dan kembali ke gubuk terlebih dahulu.  Ian menghela napas lega. Yaya segera berbalik dan menendang kaki Ian sampai Ian mengaduh kesakitan.  "Kau berbuat apa?! Hah, ada-ada saja!" keluh Yaya dan menyusul pemilik ladang.  Ian mengelus kakinya ditendang. "Apa salahku?" gumamnya merasa kasihan pada diri sendiri, kemudian mengikuti Yaya.   Gubuk kecil itu penuh dipakai tiga orang. Yaya meminta maaf atas perbuatan Ian. Walaupun pemilik ladang marah, tetapi amarahnya reda karena sikap Yaya yang sangat ramah. Senyum Yaya sangat riang dengan binar dimatanya.   "Ian, kau bersyukur dia mau jadi temanmu. Lihat dirimu! pengangguran tidak waras!" maki pemilik ladang.  Yaya tersentak dan sedikit sakit hati. Dia khawatir menatap Ian yang mungkin juga merasa sedih.   "Kalau begitu kau mau memberiku pekerjaan? Tidak, 'kan? Wanita payah!"   Yaya terbelalak karena Ian justru membalas makiannya. Sebelum pemilik ladang marah lagi, Yaya segera melerai mengalihkan pembicaraan.   "Bibi, aku datang dari jauh. Tujuanku hanya bunga mawar. Aku tau di sini tidak ada bunga mawar, tetapi aku ingin tau alasannya yang lebih jelas." kata Yaya tanpa ragu lagi meskipun pemilik ladang sempat terkejut.   "Kau tau? Mawar itu bagaikan hidup dan mati kerajaan Jhani," kata pemilik ladang mulai tenang.   "Apa maksudnya?" Yaya sedikit mengerutkan dahi.  "Kau sudah tau kisahnya kenapa bunga itu tidak ada di sini?" tanya pemilik ladang dan Yaya mengangguk. "Lalu kenapa masih bertanya? Itu sebabnya aku katakan hidup dan mati. Mawar itu punya sihir kuat yang tidak bisa dikendalikan sang raja sampai raja kami tiada. Kurasa itu cukup jelas," lanjut pemilik ladang membuat Yaya tersentak dan berdecak dalam hati.  'Orang ini mengagetkan!' batin Yaya.   Yaya tersenyum manis. "Maksudku ada sesuatu yang tidak jelas disitu. Raja adalah orang sakit, 'kan? Bagaimana bisa kalah dengan setangkai bunga mawar? Sihir macam apa yang ada di bunga itu? Lalu, bagaimana bisa semua bunga mawar menjadi terlibat? Kandungan apa yang ada di dalam mawar sampai memiliki pengaruh yang begitu kuat? Masih banyak lagi yang mengganjal di sini," jujur Yaya.  Pemilik ladang dan Ian beradu pandang. "Kandungan? Maksudmu bunga mawar itu hamil?" tanya pemilik ladang mengernyit.  Yaya mengerjap dan menggeleng. "Bukan, tapi apa yang ada di dalam bunga mawar itu selain sihir," jelasnya.  Pemilik ladang dan Ian mengangguk mengerti. "Sepertinya kau orang yang berbakat. Pengetahuanmu luas. Kau benar, sampai sekarang hal itu masih menjadi misteri dan tidak ada yang mengungkitnya lagi? Kenapa bertanya?"   Yaya saling lirik dengan Ian bingung untuk menjawab, tetapi pemilik ladang melanjutkan ucapannya. "Mawar itu adalah lambang kerajaan Jhani. Dahulu hampir setiap orang menanam bunga mawar. Namun, raja menemukan sihir dalam mawar yang dipegangnya. Seketika raja tiada dan mawar yang membunuhnya menghilang. Mawar itu sangat berbeda dengan mawar yang lain. Warnanya merah menyala bahkan lebih cerah dari darah. Sudah, itu saja yang kutahu."  Yaya terkejut dalam hati tanpa melepas pandangannya pada pemilik ladang. Ian mengerti jika Yaya takut. Dia menepuk pundak Yaya pelan.   'Mawar cerah dan berbeda? Yang memegangnya akan pergi selamanya? Bahkan raja korbannya. Aku... Aku memegang mawar ini. Apa ini mawar yang sama? Aku sudah pergi sejauh ini. Apa aku tidak akan kembali, selamanya?' batin Yaya takut.   "Gadis cantik, siapa namamu?" tanya pemilik ladang membuyarkan lamunan Yaya.  "Ah, namaku Zuzalwa Yaya. Biasa dipanggil Yaya. Bibi, kau tau masalah ini, siapa kau?" tanya Yaya balik dengan tatapan menuntut membuat pemilik ladang terkejut.  "Yaya, dia petani biasa yang sering kuganggu," kata Ian sambil menepuk pundak Yaya.   "Petani paham betul soal bahan pangan, tidak dengan tanaman hias. Darimana kau tau mawar itu berwarna lebih cerah dari darah dan berbeda dengan mawar yang lain? Aku mohon kejujuranmu karena ini sangat penting." Yaya sedikit menunduk meminta permohonan.   Ian menjadi bingung. "Yaya, bagaimana bisa kau curiga dengan wanita tua ini?"   "Kau seharusnya menjadi pejabat tinggi karena ketelitianmu. Aku adalah penjaga kebun mawar di istana yang sudah pensiun," jawab pemilik ladang tanpa melepas pandang dengan Yaya.  Yaya terkejut begitu juga dengan Ian. "Bibi, kau tidak pernah bilang kalau pernah bekerja di istana," kata Ian.  "Untuk apa bicara padamu, anak konyol!" maki pemilik ladang membuat Ian mendesah pasrah.   "Istana? Apa dulu ada banyak mawar di sana?" tanya Yaya tetap serius.   Pemilik ladang mengangguk. "Aku merawat semuanya sejak kecil. Saat raja terdahulu tiada bersama hilangnya mawar, maka aku pun pergi dari istana dan hidup menjadi petani," ujarnya dengan sedikit senyuman.  "Lalu, apa di istana masih ada taman bunga?" Yaya sangat berharap.  "Aku tidak tau. Sepertinya kebun itu dipindahkan karena pembentukan istana. Emm, apa alasan yang kuberikan cukup jelas? Aku rasa pertanyaanmu belum sepenuhnya terjawab." pemilik ladang menggeleng pelan.  Yaya mengangguk. "Terima kasih atas kejujurannya. Kumohon satu hal lagi padamu, tolong jangan katakan pada siapapun jika aku bertanya banyak tentang mawar. Kau mau membantuku?" memasang ekspresi memohon.  "Sebenarnya apa tujuanmu. Kenapa ingin tau alasannya?" pemilik ladang heran.  "Aku mohon, ini tentang diriku. Jika kau memberitahukan ke orang-orang, mereka pasti akan mencariku. Aku tidak bisa mengatakan tujuanku, yang jelas aku tidak punya niat jahat," kata Yaya menghasut pemilik ladang.   Ian menatap Yaya lekat. 'Dia terlihat panik. Aku harus menghilangkan ketakutannya,' batin Ian.  "Baiklah. Aku kagum denganmu, aku tidak mengerti kenapa kau melakukan ini, tapi aku akan menurutimu," ucap pemilik ladang.   Yaya tersenyum dan mengucapkan banyak kata terima kasih. Dia dan Ian pamit pergi. Tidak sadar hari sudah sore. Yaya berjalan sangat cepat menuju istana sampai Ian kualahan mengikutinya. Akhirnya Ian mencegah Yaya saat tiba di jembatan penghubung pasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN