Yaya tidak mau memandang Ian yang terus menatapnya cemas. Semua orang yang melihat mengira jika mereka bertengkar.
"Yaya, kau mau ke istana untuk memastikan bekas taman itu? Apa yang akan kau dapat? Tidak ada! Lagipula pasti tidak akan diperbolehkan masuk ke istana. Ayo pulang dan pikirkan cara lain," bujuk Ian.
Yaya mendongak. "Kau dengar tadi? Bibi bilang raja terdahulu meninggal karena memegang mawar aneh itu. Lalu, mawarnya hilang. Ciri-ciri yang disebutkan Bibi mirip seperti bunga ini. Bagaimana kalau aku juga mati di sini? Aku sudah pergi dari kehidupan asliku, apa aku juga akan hilang seperti mawar itu? Atau kemungkinan lain, mawar ini adalah mawar yang sama? Kau bilang aku di sini karena sihir mawar, 'kan?" ucap Yaya seperti berbisik penuh rasa takut.
Mata Yaya berkaca-kaca ingin menangis. "Huaaa, aku ingin pulang ke rumahku," rengeknya melenggang pergi meninggalkan Ian, tetapi Ian menahan Yaya.
"Ayo pulang dulu, Teman! Ini sudah sore," Masih membujuk.
Yaya menggeleng. "Tidak, Ian. Akan jalan kaki lebih lama lagi nanti. Aku bisa istirahat dimanapun. Kalau kau tidak mau ikut, tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantuku," Yaya mencoba tenang.
Ian mendesah. "Aku ikut!" putusnya.
Yaya tersenyum hangat, "Aku merepotkanmu."
"Tidak, aku justru senang. Ayo, istirahat di sana saja!"
Ian segera menarik Yaya meskipun Yaya protes. Mereka berteduh di sebuah pohon besar di pasar seberang.
"Perjalananku kurasa berbahaya. Mawar ini banyak misteri. Aku takut kau terlibat masalah nanti," gumam Yaya setelah duduk bersandar pohon.
Ian ikut duduk, memandang langit yang awannya mulai menyirat jingga. "Kalau begitu aku ingin tau seberapa bahayanya, hahaha. Yaya, aku bisa melindungimu! Percayalah, mawar di tanganmu tidak berbahaya sampai merenggut nyawamu. Semuanya akan baik-baik saja. Kita pikirkan cara untuk melepasnya selain pergi ke istana," terang Ian santai.
"Cih, sok pemberani. Tadi dikejar Bibi berlindung di belakangku," ejek Yaya.
Ian langsung menatapnya lemas. "Bibi itu lebih kejam dari prajurit istana. Dia terus menghinaku," ucapnya menyedihkan.
"Jangan memasang ekspresi jelek. Aku ingin memukulmu dengan duri mawar ini!" canda Yaya mengangkat tangannya ingin memukul.
"Yaya, kita harus mandi. Aku akan cari bantuan, kau tunggu di sini." Ian tida menjawab dan pergi tanpa menunggu jawaban dari Yaya.
Yaya melamun setelah menatap kepergian Ian. Jemuran di hadapan menjadi pemandangan.
'Kenapa harus aku yang dipilih mawar ini? Aku harus apa sekarang?' batin Yaya.
Pertanyaan yang sama tanpa jawaban yang jelas. Dalam sekejap penampilan dan cara bicaranya berubah mengikuti keadaan. Mereka tidak mengerti biasa di zamannya. Yaya berharap ini mimpi agar terbangun dan kembali ke tokonya tanpa mawar aneh itu. Sayangnya semuanya terasa nyata.
Ian datang mengajaknya pergi ke salah satu rumah yang bersedia memberikan kamar mandinya sementara. Yaya mandi sangat lama karena tangan yang terikat. Anehnya saat kain penutup itu dibuka, bunga itu tidak layu ataupun rusak. Bahkan daunnya tertekuk sedikit saja tidak. Yaya semakin yakin jika itu mawar yang menghilang.
Malam hari Ian menuruti Yaya yang ingin mencari makan dengan bekerja singkat. Ian bingung apa itu kerja singkat. Pasar utama sudah tutup. Yaya menuju sungai yang memutus pasar. Air yang jernih dan mengalir pelan, banyak ikan kecil yang sudah tenang di malam hari. Ian menangkap ikan susah payah hanya demi menuruti keinginan Yaya.
"Ian, kalau tanganku tidak merekat dengan bunga, aku bisa menangkap lebih banyak ikan darimu! Kau lambat sekali!" ejek Yaya di atas jembatan.
Ian berhenti mencari ikan dengan kain yang diikat ke kayu. Mengatur napasnya capek sambil menatap Yaya. "Kau sengaja mengerjaiku, ya?"
"Hahaha, aku hanya bercanda. Itu di samping sana ada banyak lagi tidur. Cepat ambil!" seru Yaya menunjuk dengan bunga mawarnya.
Ian mendesah. "Mau makan saja repot begini. Bagaimana waktu mandi tadi?" gumam Ian.
Dia pasrah menuruti Yaya. Setengah jam sudah Ian bermain air dan ikan, mendapat dua genggam ikan kecil-kecil dan membersihkannya. Mereka meminjam dapur di rumah orang tadi. Ian kesusahan karena Yaya terus bicara mengajarinya memasak. "Kenapa tidak kau saja yang lakukan?" kesal Ian menjauh dari api tungku.
"Bagaimana melakukannya kalau tanganku menyatu?" balas Yaya.
"Kenapa aku mau menurutimu? Ini tidak adil!" gerutu Ian membuat Yaya terkikik.
Meskipun begitu Ian tetap menurut. Yaya memandangi Ian dari belakang.
"Rambutmu itu tidak pernah kau sisir, ya?" tanya Yaya melenceng.
Ian melirik Yaya sambil memasak, "Berantakan, ya? Biarkan saja. Aku tampil rapi juga buat apa?" elaknya.
"Eh, itu perlu! Sini biar kusisir!" Yaya mendekati Ian.
Ian berbalik. "Caranya?"
"Pakai duri mawar ini, haha!" menodongkan tangannya tepat di wajah Ian sampai Ian mendelik.
"Kau suka sekali mengejekku. Kalau mawar itu rusak kau yang rugi!" Ian kesal kembali menghadap tungku.
"Hah, maaf merepotkanmu." desah Yaya sambil tersenyum. Duduk di samping tungku yang hangat.
"Kapan terakhir kali aku membantu orang? Eee, hah, aku lupa," Ian menjawab aneh.
Yaya mengerti maksud Ian. Terus memandang teman barunya itu tanpa melunturkan senyum. Tidak ada gunanya takut dengan sihir mawar, dia harus fokus dalam mencari cara agar mawar anehnya terlepas.
Rasanya lumayan enak sampai Ian menghabiskan semuanya dan Yaya hanya memakan beberapa ikan.
"Aku bisa masak? Ini kemajuan!" seru Ian di sela makannya.
Yaya terkekeh. "Andai kita punya uang, pasti bisa makan kapan saja. Gimana cara dapatkan uang walau tangan menyatu?"
Yaya berpikir keras membuat Ian tidak tega. "Yaya, jual saja apa yang aku punya di rumah buat bekal perjalan. Tapi kita sudah jauh. Butuh setengah hari untuk pulang. Kakiku sudah pegal," ujarnya lanjut makan.
"Justru itu aku berpikir. Ian, pemilik rumah ini baik sekali. Dia tidak bertanya kenapa tanganku terikat. Dia hanya senyum dan sedikit bicara. Itu agak aneh," jujur Yaya.
"Kau curiga? Aku juga. Aku tidak kenal pemilik rumah ini, sepertinya dia juga tidak mengenalku," jawab Ian sembari menghabiskan ikan terakhirnya.
"Aku akan bicara dengannya." Yaya langsung pergi mencari pemilik rumah.
"Heh, kau pergi begitu saja. Tunggu aku minum apa tidak bisa?" Ian tidak terima dan segera minum dengan cepat, lalu menyusul Yaya.
Yaya sudah duduk di ruang tamu bersama laki-laki paruh baya. Sangat tenang dan ramah membuat Yaya agak gugup. Ian datang meringis bodoh dan berdiri di samping Yaya.
"Tuan, terima kasih atas kebaikanmu. Kami tidak bisa pulang malam ini, tapi kami harus pergi," ujar Yaya sengaja memberi pertanyaan tersirat untuk melihat respon pemilik rumah.
"Menginap saja di sini," kata pemilik rumah.
Yaya tidak menduga. 'Bicaranya singkat,' pikir Yaya.
Sebelum Yaya menjawab, Ian sudah mengangguk setuju. Yaya menyikut Ian sampai Ian meringis kesakitan.
"Tuan, kami terlalu merepotkanmu. Kami bisa istirahat di tempat lain. Permisi," Yaya masih ramah.
Ian melotot karena Yaya ingin pergi, tetapi pemilik rumah menghentikan Yaya. "Jangan keluar! Dingin! Tinggallah di sini!"
Deg!
Yaya merasa ada yang aneh dengan pemilik rumah. Mencoba membaca ekspresi wajah orang itu yang terlihat biasa saja. Namun, Yaya tidak bisa percaya.
'Zaman kerajaan banyak tipu muslihat, 'kan? Apa orang ini sengaja menjebakku dan Ian? Apa untungnya?' pikir Yaya.
Kembali mengulas senyum. "Tuan, kau sangat baik. Kami harus melanjutkan perjalanan. Istirahat persoalan mudah. Dingin tidak mempengaruhi kami," Yaya terus menatap manik mata pemilik rumah.
"Yaya, apa maksudmu?" desis Ian.
Karena tidak ada jawaban, Yaya menunduk tanda pamit dan mengajak Ian pergi. Pemilik rumah tidak mencegahnya, tetapi pintu tidak bisa terbuka. Yaya menendangnya juga tidak berhasil.
"Ini terkunci dari luar," bisik Ian.
Yaya terbelalak. "Orang itu punya niat jahat, Ian!" Yaya berbalik berbisik.
Ian ikut melebarkan matanya, kemudian menoleh ke belakang, pemilik rumah sudah tidak ada. "Astaga! Yaya, dia tidak ada!" pekik Ian.
Seketika Yaya berbalik kaget. "Benar tidak ada! Tuan, tolong buka pintunya! Kami ingin pergi!" seru Yaya.
Tidak ada yang menjawab membuat Yaya dan Ian saling pandang. "Ian, kita sepertinya dijebak. Entah siapa orang itu yang pasti niatnya buruk! Ayo cari jalan keluar!" ujar Yaya tanpa ragu lagi.
"Jebakan? Apa untungnya menjebak kita?" Ian tidak mengerti.
Yaya tidak sempat menjawab, pemilik rumah membekap mulut Yaya dan Ian dari belakang. Mereka meronta, Yaya melirik orang itu yang tertawa jahat.
"Kalian tidak akan bisa keluar dari sini! Kalian harus menjadi budakku! Ah, gadis cantik! Hargamu pasti mahal! Tanganmu terikat sangat menarik! Kenapa kita tidak bermain-main sebentar?" ujar pemilik rumah mengerikan menatap Yaya.
'b***k? Jadi dia menjual b***k?!' pekik Yaya dalam hati.
Tidak bisa bergerak bebas karena tangannya. Yaya merutuki hal ini. Namun, Ian berhasil lepas dan memelintir tangan orang itu sampai ke belakang. Pemilik rumah kesakitan, Ian memukulnya keras dan Yaya berhasil lolos.
"b***k? Aku akan laporkan kau pada pejabat setempat. Membusuklah di penjara! Ayo, Yaya!"
Ian segera membawa Yaya keluar lewat pintu belakang. Sayangnya pintu itu juga terkunci. Ian mendobraknya, tetapi gagal.
"Pejabat tidak akan bisa membantu! Kemarilah, gadis cantik!" teriak pemilik rumah bangkit dari rasa sakit dan mendekati mereka.
Yaya takut, dia lebih dekat dengan Ian. "Kita harus apa?" tanya Yaya.
Ian memegang pundak Yaya seakan melindunginya. "Tenanglah! Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Orang itu pasti juga menyembunyikan banyak orang. Yaya, kau geledah rumah ini dan cari mereka. Sementara aku akan menahan orang itu!" kata Ian mengangguk pasti.
Yaya mengerutkan dahi. "Kau berpikir sangat panjang. Apa kau bisa menghadapi orang itu? Aku takut! Dia ingin aku!"
"Ada aku di sini! Percayalah, cepat geledah sebelum orang itu datang!" Ian mendorong Yaya pelan agar Yaya pergi. Yaya menuruti perintah Ian. Namun, pemilik rumah berhasil datang dan akan mengejarnya. Yaya berlari, Ian menahan orang itu.
"Kebijakan sudah berubah, Tuan! Tidak ada yang menjual-belikan manusia sebagai b***k! Menjauh dari temanku!" seru Ian mendorong kasar orang itu.
"Anak sialan!" desis pemilik rumah dan meninju Ian, tetapi Ian berhasil mengelak.
Terlibat perkelahian singkat yang membuat Ian mendapatkan beberapa pukulan. Yaya melihatnya sebentar ikut meringis merasakan sakit. Dia segera mencari ruangan dimana banyak orang dijadikan b***k.
Seluruh ruangan sudah Yaya jelajahi, tetapi kosong. Sampai akhirnya dia menemukan kamar mandi lain dari sebelumnya. Kamar mandi itu sangat kering tidak ada air. Saat Yaya menyentuh wadah air, dinding kayu kamar mandi terbuka membuat Yaya terkejut.
"Pintu rahasia!" pekiknya.
Seketika Yaya menutup mulutnya takut terdengar pemilik rumah. Yaya memberanikan diri masuk.
"Ada orang di sana?" tanya Yaya bersuara pelan.
Suara langkah kaki yang sangat banyak mendekatinya. Yaya jadi takut dan keluar lagi. Tiba-tiba banyak orang mayoritas perempuan keluar dari ruangan itu. Mereka berteriak mengucap terima kasih pada Yaya bahkan memeluk Yaya dan ada yang bersujud pada Yaya, sampai Yaya tidak punya kesempatan untuk menghindar apalagi bicara, dia hanya diam. Awalnya mereka takut jika yang membuka pintu rahasia adalah pemilik rumah. Mereka buru-buru menemui pemilik rumah dan menahannya. Yaya segera menghampiri Ian.
"Ian, kau tidak apa-apa?" tanya Yaya khawatir.
Ian justru tertawa, Yaya jadi mendelik heran. "Hahaha, kau kalah! Bawa dia ke pejabat kerajaan! Orang seperti dia layak dihukum berat!" kata Ian pada semua orang.
Mereka mengangguk dan berterima kasih lagi pada Yaya dan Ian. Yaya ingin bicara, tetapi rasanya sulit diutarakan. Hanya membuka-menutup mulutnya dan berakhir tersenyum kaku. Sampai akhirnya mereka bebas dan pergi. Rumah itu kosong, Yaya dan Ian juga pergi.
"Hah, tadi itu lucu!" kata Ian sambil merenggangkan tangannya.
Yaya menendang kaki Ian keras.
"Aaaa, sakit! Kenapa kau suka menendangku?" kesal Ian sambil memegangi kakinya.
"Lucu kau bilang?! Aku tanya kau terluka atau tidak, tapi malah menikmatinya? Aku tidak mengira kau bisa berkelahi." Yaya menyenggol lengan Ian dengan lengannya.
Ian tertawa bangga. "Ian Kafurai di lawan? Siap-siap kalah telak, haha!"
Yaya berdecak, "Sombong! Ngomong-ngomong mereka terharu bisa bebas. Apa mereka sudah lama dikurung dan dijual-belikan? Kasihan sekali! Bagaimana bisa ada p********n?" Yaya menggeleng sembari terus melangkah.
Ian melipat tangan di d**a. "Mereka yang kejam pada manusia, padahal kebijakan kerajaan sudah lama berganti," ujarnya santai.
"Huft, sedikit lega. Sekarang bagaimana?" tanya Yaya menoleh.
Ian juga menatapnya, "Hmm, kita cari tempat sepi. Aku ingin lihat mawarnya."
"Tempat sepi? Malam begini apa orang masih berkeliaran? Tanganku rasanya berkeringat ditutup kain terus!" keluh Yaya.
"Entahlah, kita jalan dulu." Ian celingukan mencari tempat aman.
Mereka semakin dekat dengan istana, tetapi tidak lagi menuju istana. Ada sebuah peternakan kuda, di sampingnya ada kandang berisi tumpukan jerami. Mereka beristirahat di sana. Sinar rembulan cukup terang. Pelita yang sengaja ditancapkan di tiap jalan juga menerangi. Perlahan Ian membuka kain di tangan Yaya. Dia tersentak.
"Bunganya tidak layu sama sekali? Padahal tertutup rapat? Paling tidak, daun dan kelopaknya ada yang rusak. Ini... Sama seperti semula!" Ian memegang setiap daun dan kelopak mawar itu.
"Dari tadi juga begini. Aku semakin yakin kalau ini memang mawar yang membunuh raja terdahulu. Kau percaya?" Yaya menatap Ian serius.
"Kalau kau percaya, aku juga percaya. Tanganmu sakit, tidak?" Ian menjunjung mawar itu membuat tangan Yaya ikut terjunjung.
Yaya mendesah lemas, "Tanganku mati rasa, bukan pegal lagi namanya." bersandar diantara jerami sambil mengerutkan bibirnya. "Kenapa sinar itu tidak muncul lagi? Bagaimana caranya agar mawar ini mengeluarkan sinarnya? Aku mau pulang!" rengek Yaya.
Ian menurunkan tangan Yaya dan ikut bersandar jerami. "Jangan merengek terus. Bukankah ini keajaiban? Harusnya kau senang!"
Yaya memandang bulan yang hampir sempurna. "Kurasa sinar itu akan muncul jika memberi petunjuk. Kau benar, Ian. Aku tidak boleh mengeluh. Harusnya menikmati kerajaan Jhani, 'kan? Ini keren!" pekik Yaya bahagia di akhir ucapannya.
Ian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa itu keren?"
Yaya menepuk dahinya berulang kali. Lelah menjelaskan semua kata yang tidak Ian mengerti. Namun, dalam hati Yaya berkata jika semua yang dilakukan Ian sangat berarti. Yaya bertanya-tanya darimana Ian bisa bela diri.