Orang yang selalu berkeliaran dan melakukan pekerjaan apapun sesuka hatinya bukanlah orang yang remeh. Belajar bisa dari mana saja. Itu yang Ian katakan saat Yaya bertanya tentang ilmu bela dirinya. Walaupun kurang mumpuni, setidaknya bisa melindungi diri sendiri. Jika tidak bisa maka pilihannya hanya lari. Yaya tertawa saat Ian selalu melucu.
Jerami rasanya gatal. Yaya tidak pernah berada di antara jerami sebelumnya. Bulan terus bersinar menemani Yaya yang tak kunjung mengantuk. Ian sudah tidur karena lelah mengoceh. Yaya mencoba merapikan rambut Ian dengan lengannya, tetapi tidak bisa.
"Menurut novel online, semua orang berpasangan. Sebelumnya semua tempat yang kudatangi juga orang-orang bersama pasangannya. Sekarang aku merasakannya, tapi ini bukan pasangan. Lalu, pasanganku dimana? Justru mawar aneh ini yang menempel," gumam Yaya bicara pada bulan.
Kantuk pun menyerangnya. Pagi datang dan Yaya bangun terlebih dahulu. Dia mencoba mencari air. Ada sumur di dekat peternakan kuda. Yaya berusaha mengambil air dengan sangat sulit. Lengannya tidak bekerja sebaik genggaman tangannya. Lalu, Ian datang dan memarahinya karena membuatnya panik, mengira Yaya meninggalkannya. Dia membantu Yaya menimba air. Banyak kuda yang meringkik membuat sang pemilik peternakan datang. Ian dan Yaya memasang senyum bodoh takut ketahuan. Orang itu mendekat sambil mengernyit.
"Aku pernah melihatmu membuat onar di pasar utama, tapi Nona ini... Siapa? Kenapa ada di tempatku?" tanya orang itu memandang Yaya heran.
Yaya sedikit mengangguk memperkenalkan diri. "Aku temannya Ian yang datang dari jauh. Kami membutuhkan air di sumurmu. Maaf, tidak minta izin dulu," ujarnya merasa bersalah.
"Tidak perlu sungkan! Ambil saja sepuasmu! Asalkan jangan berteman dengan Ian. Dia tidak punya masa depan yang cerah. Lihat penampilannya, acak-acakan!" kata orang itu sambil menunjuk Ian dari atas sampai bawah.
Yaya menatap Ian yang polos dan orang itu bergantian. "Tuan, bagaimanapun juga dia temanku. Kalau kau tidak mau memberi airnya tidak apa-apa, aku akan cari tempat lain," Yaya ramah.
"Jangan, Nona!" cegah orang itu.
"Heh, apanya yang jangan? Kau menghinaku jadi temanku tidak terima. Hehe, ayo, Yaya. Kita pergi." Ian menarik Yaya pergi begitu saja.
Orang itu tidak bisa menghentikannya lagi dan dibuat bingung. "Kenapa Nona cantik itu mau berteman dengan Ian? Tidak mungkin dia menyukainya. Ck, pasti ada hutang budi di masa lalu," gumam orang itu.
Yaya bingung celingukan mencari sumur, "Dimana ada kamar mandi? Aku mau mandi."
Sudah terbiasa mandi setelah bangun tidur, sekarang harus repot mencari sumur. Saat sumur berhasil ditemukan, justru masalah baru muncul. Pakaian Yaya tersangkut kayu yang melenceng dari gundukanya membuatnya tertinggal Ian. Memanggil Ian sekeras mungkin, tapi Ian tak mendengar. Yaya tidak bisa melepaskan diri.
"Hei mawar cantik yang aneh! Bisakah kau berhenti menempel sebentar? Aku tersangkut, bagaimana caraku lepas?!" geram Yaya bicara pada mawar yang tertutup kain di tangannya.
Terpaksa Yaya melangkah lebih kuat sampai pakaiannya robek. "Yah, udah rusak! Ian! Pakaian ibumu robek!" teriak Yaya sambil mengejar Ian.
Jauh di sana Ian terus berjalan santai sambil bersenandung. Mendengar teriakan Yaya, Ian berbalik. Yaya langsung menunjukkan pakaiannya yang robek.
Ian terbelalak. "Pakaian ibukuuu!!!"
Yaya melengos, "Kenapa dari tadi kupanggil tidak dengar? Aku tersangkut di kayu, jadinya pakaian ini robek. Bukan salahku!"
Ian mengernyit. "Kayu?" sedikit berpikir membuat Yaya meliriknya. "Ah, aku tau! Ayo pergi ke tukang kayu!" seru Ian dan menarik Yaya untuk berlari.
"Ha?!" pekik Yaya karena ditarik kuat.
Dia kebingungan terus mengikuti Ian yang berlari seakan tak tahu tujuan. Yaya pasrah dibawa kemanapun. Sampai Ian melepaskan lengan Yaya sesudah tiba di sebuah perkampungan yang berisik.
"Tempat apa ini?" tanya Yaya bergumam.
Aroma kayu menyeruak lebih kuat. Banyak orang sedang memotong kayu yang berukuran besar. Serpihan kayu berserakan. Saat angin meniupnya pelan, serbuk dan serpihan itu berterbangan membuat mereka yang menghirupnya batuk. Beberapa dari mereka menatap Yaya sekelas lalu kembali bekerja.
"Laki-laki dan perempuan bekerja sama? Mereka sedang apa? Kenapa para perempuan tidak takut memegang senjata? Kayu seperti mainan," gumam Yaya yang masih mengedarkan pandangan ke segala arah.
Ian tersenyum, "Ini tempat khusus para pengrajin kayu. Jangankan perempuan, anak-anak juga ikut di sana. Mereka sangat bekerja keras." menunjuk di ujung sana yang ada banyak anak kecil bermain sambil bekerja.
Alis Yaya terangkat. "Mereka bekerja?"
"Iya. Aku payah! Kalah dengan mereka yang semangat demi mendapat nasi. Hah, nasib memang mempermainkan!" dengan santainya Ian berbalik dan berjalan mundur sambil memandangi Yaya.
"Ini kesenjangan sosial yang nyata," Yaya bergumam lagi.
Ian bingung. "Kau bilang apa?"
Yaya menatap Ian. "Bukan apa-apa. Hanya perbedaan antara kaya dan miskin. Roda kehidupan selalu berputar. Aku juga tau sulit dan mudahnya mendapat uang. Kita harus bekerja keras. Tapi yang ini benar-benar keterlaluan. Anak-anak itu rela menjadi pemotong kayu demi nasi? Berapa upah yang mereka dapat? Dimana orang tuanya? Apa tidak ada yang memberi kehidupan lebih layak untuk mereka? Jika aku jadi mereka pasti menangis setiap hari. Entah berapa kali tangan kecil itu terluka. Apa kerajaan tau hal ini?" dalam satu tarikan napas Yaya mengatakannya.
Ian mengerjap polos mendengar Yaya. "Aku... Tidak berpikir panjang seperti itu. Kerajaan mungkin tau, tapi memang ini keinginan mereka. Aku sendiri pengangguran, Yaya, bagaimana bisa mengerti semua ini?" decaknya setelah bicara.
Yaya menghampiri anak-anak itu. Ian menggaruk kepalanya sampai rambutnya berantakan karena Yaya terus meninggalkannya. Mengejar Yaya saat Yaya berbicara pada anak-anak itu.
"Kakak, kau punya makanan?" tanya salah satu dari mereka dengan ceria. Bahkan tangannya masih memegang kapak kecil untuk memotong kayu yang seukuran tubuhnya.
Yaya menggeleng miris, "Aku tidak punya."
"Kalau begitu pergilah! Jangan menasehati kami!"
Yaya tidak menyangka anak itu mengusirnya. 'Apa dayaku? Andai waktu masuk ke zaman ini aku membawa semua uangku pasti kuberikan pada kalian. Eh, nilai uangnya, 'kan sudah berbeda? Yaya, kau bodoh sekali!' batin Yaya.
"Lihat? Tidak ada gunanya membuat mereka berubah lebih baik. Mereka hanya berambisi untuk uang dan makanan," kata Ian.
Yaya berdiri sambil meringis kaku. "Pekerjaan orang dewasa dilakukan anak kecil. Luar biasa! Aku jadi malu." ujar Yaya dan melenggang pergi.
Ian mendelik. "Hei, kau menyindirku? Tunggu aku!" mengejar Yaya lagi.
Yaya berhenti di ruangan terbuka yang penuh meja dan kursi dengan ukiran cantik yang belum jadi. Ian terpesona, tangannya tidak sabar untuk menyentuhnya.
"Heh, jangan! Nanti kau merusaknya!" Yaya menendang kaki Ian pelan saat Ian ingin mendekati ruangan itu.
Ian meringis. "Aku hanya ingin memegangnya!"
"Sebenarnya kenapa kau bawa aku kemari?" tanya Yaya membuat Ian ingat. "Aku akan membebaskan tanganmu dari sihir mawar itu!" bisik Ian.
"Caranya?" Yaya semangat.
"Tunggu sebentar!" Ian mendekati salah satu tukang kayu. Lalu, dia kembali sambil membawa kapak, pisau, dan besi tajam lainnya.
Yaya melotot. "Kau?!"
"Ssttt! Ayo sembunyi!" Ian menarik Yaya masuk ke ruangan terbuka dan bersembunyi di balik kursi yang sangat panjang dan besar.
"Yaya, kita belum pernah mencobanya pakai ini! Siapa tau bisa!" seru Ian meskipun berbisik. Menunjukkan benda mengerikan itu pada Yaya.
"Ha?! Kau ingin membunuhku?! Kalau aku tergores sedikit saja aku bisa mati!" desis Yaya.
"Ck, berlebihan sekali! Aku akan hati-hati! Percaya padaku!"
Ian mengambil pisau yang lumayan tajam terlebih dulu. Yaya menyerahkan tangannya ragu. "Kau tidak akan memotong tanganku, 'kan?"
Ian membuka ikatan kainnya, "Tenang saja!" ucapnya santai.
"Aku tidak mau lihat!" cicit Yaya.
"Tidak mau lihat, tapi matamu sangat lebar," polos Ian sambil mencari posisi yang pas untuk mengarahkan pisau.
"Aduh, Ian, hati-hati!" Yaya panik sendiri.
"Diam, jangan bergerak terus!" Ian menjadi kesal.
Yaya menutup matanya rapat-rapat, sesekali melirik saat merasakan ujung pisau itu menyentuh celah tangan dan mawar.
'Ide konyol! Ini mengerikan!' batin Yaya.
Ian mencobanya perlahan, pisau itu rasanya tak setajam yang dilihat. Seperti kayu tumpul dan halus tidak bisa memotong. Ian mencoba dengan keras membuat Yaya terbelalak.
"Hei, kau tidak waras! Mau memotong tanganku sungguhan?!" Yaya marah.
"Ini tidak bisa, Yaya!" Ian terus mencoba.
Yaya terheran menatap pisau itu yang seolah susah mengiris daging. "Kenapa tidak bisa? Pisaunya kurang diasah mungkin," gumam Yaya.
"Tidak, ini lumayan tajam, tapi mencari celah pun tak bisa. Aneh sekali!" Ian berhenti menggunakan pisau. Dia tersenyum mengambil kapak yang lebih tajam.
"Kau mau kupenggal?!" Yaya memekik lagi.
"Sstt, diam! Kapak ini pasti berhasil!" Ian menyeringai semangat ingin mencongkel mawar itu. Yaya tidak berani melihat. Karena tidak merasakan apapun, Yaya membuka matanya. "Kenapa diam?" tanyanya.
Ian tidak menggunakan kapak itu. "Karena ini juga tidak bisa," bingungnya.
"Apa? Bagaimana mungkin?" Yaya meneliti mawar itu.
"Kita coba yang lain!" putus Ian mengambil benda tajam lainnya.
Semua itu sia-sia. Ian bahkan sudah sangat teliti sampai matanya hampir tercolok daun mawar. Yaya tak menyangka benda tajam tidak mempan pada bunga mawar.
"Hah, sudahlah, ini percuma. Kita pergi saja," ujar Yaya lemas
Ian kembali menutup mawar itu dan mengembalikan semua benda tajam yang dipinjam. Yaya sangat murung menatap tangannya yang nampak besar. Berjalan mengikuti Ian tanpa tujuan.
Tidak mereka sangka, seseorang memperhatikannya sejak bersembunyi di balik kursi besar. Mawar itu terlihat jelas dan memikat. Dia mengikuti Yaya dan menunggu sampai berada jauh dari orang-orang untuk mencegah langkah Yaya.
Mereka tiba di celah rumah-rumah yang sepi. Seketika orang itu menghalangi jalan Yaya dan Ian. Orang itu menodongkan tongkat pada Yaya.
"Ha?! Siapa kau?!" pekik Yaya.
Ian menggaruk kepalanya bodoh sambil mengitari orang itu tanpa takut. Orang itu terus menatap Yaya. Saat Yaya melangkah ke samping, tongkat itu mengikutinya. Yaya tidak bisa bergerak.
"Kau siapa?! Kenapa menghadangku?!" Yaya sok berani.
'Siapa orang tampan ini? Dia laki-laki tapi cantik. Anak rambutnya dibiarkan menggantung seperti aktor film saja. Pakaiannya... Sepertinya dia kedinginan. Kenapa tebal sekali? Tongkat apa ini? Hitam pekat dan halus. Orang ini lebih aneh dari Ian!' batin Yaya.
"Tunjukkan tanganmu!" ujar orang itu serius.
"Hei, kau yang harus tunjukkan identitasmu! Kenapa menghadang kami? Dari tongkatmu sepertinya aku pernah lihat. Kau...," ucap Lian sengaja menggantung.
Yaya menatap Ian dan orang itu bergantian. "Siapa dia, Ian? Kenapa mau melihat tanganku?!"
Ian berdecak. "Jangan berteriak, Yaya! Telingaku sakit mendengarmu terus teriak sejak tadi," keluhnya.
Yaya tidak terima, menepis tongkat itu dengan lengannya lalu mendekati Ian marah. "Aku berteriak bukan tanpa alasan! Kau menunjukkan senjata tajam tentu saja aku teriak! Sekarang ada orang asing ini. Heh, kenapa kau ingin melihat tanganku?!" berbalik menatap orang itu.
Ian mendelik. "Pemarah! Aku rasa dia pemburu, Yaya. Tongkat itu bukan tongkat biasa. Hanya dimiliki oleh pemburu. Tapi kau pemburu jenis apa?" Ian mengusap dagunya heran.
Orang itu menarik kembali tongkatnya dan tersenyum miring, "Aku Kanzuro Viraka, pemburu bunga mawar." Sontak Yaya dan Ian melebarkan matanya. "Jangan berteriak dan mengatakannya pada siapapun atau nyawa kalian taruhannya!" sambungnya sambil menodongkan tongkat lagi ke Yaya.
"Kanzuro Viraka? Kau... Kau Kaza yang diburu itu, 'kan? Ternyata... Cantik sekali!" kagum Ian polos.
Tukk!!
"Aduh! Kenapa memukulku?!" protes Ian mengelus kepalanya karena dipukul pakai tongkat.
"Aku laki-laki sejati! Beraninya kau menyebutku cantik!" kesal sang pemburu mawar yang bernama Kaza.
"Ck, aku bicara yang sebenarnya!" gumam Ian masih mengelus kepalanya.
Yaya masih mencerna ucapan mereka, "Aku tidak mengerti." menggeleng polos.
Kaza menarik paksa tangan Yaya dan membuka ikatan kainnya. Ian segera mencegah membuat mereka saling menarik tangan Yaya.
"Lepaskan temanku!" seru Ian.
"Aku mau bunganya!" desis Kaza.
"Apa tujuanmu?!" Ian marah.
"Tidak-tidak. Bunga saja tidak cukup. Aku mau gadis ini juga!" Kaza menggeleng dan menarik Yaya lebih keras.
"Aaaa, sakit!" pekik Yaya.
"Yaya, kau tidak apa-apa? Pemburu yang diburu, lepaskan Yaya! Kalau berani hadapi aku! Bagaimana kau tau Yaya memegang mawar?! Kau mengikuti kami, ya?!" Ian sangat tidak terima. Sedikit kesulitan menarik Yaya karena tenaga Kaza lebih kuat.
"Pemburu yang diburu? Ungkapan yang aneh!" gumam Yaya. Dia kembali berteriak karena lepas dari Ian dan berada di pelukan Kaza. "Aaaaa, jangan sentuh aku! Aku tidak mau memperlihatkan tanganku pada orang sepertimu! Pemburu bunga mawar katamu? Orang berburu itu yang diburu hewan, bukan bunga!" bentak Yaya sambil meronta.
Kaza tidak mendengarkan Yaya. Dia membuka kain penutup mawar walaupun Ian mencegahnya. Bunga itu keluar dengan indahnya membuat Kaza terpesona.
"Ini... Sungguhan. Mawar merah yang sudah lama hilang," gumam Kaza ingin menyentuh bunga itu, tetapi Yaya segera menjauhkan tangannya membuat Kaza menatap Yaya. "Berikan itu padaku!" pintanya.
"Tidak bisa! Kau aneh!" maki Yaya.
"Berikan!" Kaza merebut tangan Yaya sampai Yaya memekik.
"Pemburu bunga tidak layak jahat pada seorang gadis! Jangan kasar padanya jika hanya ingin melihat mawar itu!" kesal Ian.
Yaya menatap Ian takut. "Ian, dia mau apa? Aku takut sekali!"
"Dia tidak akan berbuat macam-macam jika menyangkut tentang bunga. Kau jangan khawatir," tutur Ian menenangkan.
"Aaaa, kenapa menariknya!" teriak Yaya karena Kaza menarik bunga mawar itu sampai tangan Yaya tertarik sakit.
Kaza berusaha sekuat mungkin, tetapi bunga itu tidak mau terlepas. "Bagaimana bisa? Kau apakan mawarnya?" Kaza memelototi Yaya.
"Sakit tau!" Yaya meringis sakit.
Kaza melepaskan bunga itu. Ian berdecih. "Sudah menyerah? Kapak dan pisau saja tidak bisa melepasnya. Air pun juga tak bisa. Itu seperti lem abadi!" ujar Ian.
"Mustahil! Kalau begitu aku potong saja tangannya!" ujar Kaza tanpa berpaling pandangan dari bunga mawar.
Yaya terbelalak. "Po-potong? Kau bercanda? Serius? Potong tangan?" mulai cemas.
"Mau potong pakai apa? Tongkat hitammu itu?" Ian santai.
Sringg!!
"Ha! Golok! Tidaaakkk! Jangan dekati aku! Jangan potong tanganku, hiks... Malangnya nasibku!"
Yaya ingin lari, tetapi Kaza menahan pakaiannya membuat Yaya hanya berjalan di tempat.