Ian mendorong Kaza hingga Yaya bisa lari dan bersembunyi. Yaya menatap ngeri golok itu yang seperti baru diasah. Sedangkan Ian marah pada Kaza.
'Kaza dia berbahaya! Pemburu mawar? Lalu, kenapa dia diburu? Enak saja mau memotong tanganku. Zaman ini bisa membuatku mati cepat dengan berbagai cara,' batin Yaya takut.
"Kaza, seharusnya pemburu mawar sudah lenyap kala itu. Kenapa kau masih berkeliaran?! Jika kau menyentuh Yaya lagi, aku tidak akan mengampunimu!" seru Ian, dahinya berkerut serius.
Kaza memasukkan goloknya lagi dan menantang Ian dengan tongkatnya. "Maju!"
"Dasar sombong!" Ian menyerang Kaza dengan gesit. Kaza tidak segan-segan memukul Ian dengan tongkatnya, tetapi Ian tidak mau mengalah.
Yaya memekik menyaksikan. "Kalau begini terus Ian biasa terluka parah. Aku harus membantunya!"
Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan. Sampai akhirnya Ian terjatuh dan Kaza mendekati Yaya.
"Eh, jangan macam-macam! Kalau kau mau bunganya akan kuberikan, tapi tidak tanganku! Masalahnya ini mawarnya menempel sendiri!" pekik Yaya sambil berjalan mundur.
"Omong kosong! Dari mana kau dapat mawar itu? Bertahun-tahun kucari ke seluruh penjuru kerajaan Jhani, tapi kau justru membawanya. Kulihat kau hanya gadis biasa yang lemah. Tidak mungkin tanpa sebab mawar itu ada padamu." ujar Kaza sambil terus mendekat.
Yaya menggeleng, Kaza semakin dekat dan Ian bangkit segera membawa Yaya pergi. "Yaya, lari!" seru Ian disela larinya.
Yaya hampir terhuyung. Menoleh ke belakang ada Kaza yang mengejar. Menyadari mawarnya tidak tertutup, Yaya melotot. "Ian! Tanganku! Maksudku mawarnya tidak ditutup kain!" pekik Yaya sambil terus berlari.
"Ck, tidak sempat!"
Yaya terus menoleh ke belakang dan semakin takut. Kaza itu misterius baginya. Tidak sengaja Ian berlari ke jalan pintar menuju istana. Setibanya di sana ada tembok yang menghalangi. Ian memaksa Yaya naik, tetapi didahului beberapa prajurit yang mengepung mereka. Kaza pun ikut dikepung.
"Siapa kalian?!" seru salah satu dari prajurit.
'Astaga, kali ini aku tamat!' pekik Yaya dalam hati.
Mereka terkejut karena Yaya memegang bunga mawar. Yaya diseret paksa menghadap raja. Ian dan Kaza juga ikut terlibat.
"Hei, lepaskan kami!" Yaya meronta.
"Kenapa jadi ke istana, ya? Aku tidak tau kalau ada jalan lain menuju istana," gumam Ian membuat Yaya ingin menendangnya.
"Ian! Ini semua gara-gara kau! Kenapa bawa aku ke istana?! Sekarang... Huaaa, lepas dari pemburu mawar masuk ke kandang raja!" teriak Yaya pura-pura menangis.
"Diam! Eee, siapa namamu? Yaya? Sekarang kau akan diadili kerajaan! Salahmu sendiri tidak mau menyerahkan mawar itu padaku!" kesal Kaza.
Yaya melototi Kaza. "Dengan memotong tanganku begitu? Dasar gila!" makinya.
Kaza tersulut. "Apa kau bilang?!" ingin mendekati Yaya sampai Yaya meringis, tetapi Kaza ditahan para prajurit.
"Kalian semua diam! Nona, mawar itu harus musnah!" seru salah satu prajurit.
Yaya terbelalak. "Musnah? Bagaimana caranya musnah? Nanti aku tidak bisa kembali. Tidak! Jangan musnahkan mawar ini!" pinta Yaya tidak ditanggapi mereka kecuali Kaza.
"Kembali? Apa maksudnya?" gumam Kaza sambil mengerutkan dahi.
Kaki Yaya terasa sakit karena dipaksa mengikuti langkah prajurit yang dua kali lebih cepat darinya. Seketika Yaya disuruh berlutut di tengah-tengah aula istana. Salah satu dari mereka masuk untuk melaporkan pada raja. Sedangkan Ian dan Kaza ditahan berdiri di samping Yaya.
'Kakiku memang panjang, tapi tidak sepanjang mereka. Keterlaluan sekali!' gerutu Yaya dalam hati.
Yaya mendongak. Seketika takjub dengan aula istana yang nyata. "Wah, besar sekali!" gumamnya.
Ada banyak orang yang menyaksikan. Mereka membicarakan mawar di tangan Yaya. Yaya langsung ingat jika tangannya tidak tertutup.
"Ha! Gawat! Sekarang semuanya sudah terbongkar!" pekik Yaya mengundang Ian dan Kaza menoleh. Yaya mengedarkan pandangan ke seluruh aula. "Awalnya ingin masuk istana dan cari taman itu, tapi bukan begini caranya. Sekarang aku harus bagaimana menghadapi raja? Jantungku... Berdebar lebih kencang," sambung Yaya bergumam.
Matanya berkaca-kaca karena takut. Kepala Yaya rasanya pusing karena berpikir negatif. Dia ingin sekali mengutuk Ian dan Kaza yang membawanya dala masalah besar. Sontak semua orang menunduk dan memberi salam saat raja datang bersama pengawalnya.
Yaya ternganga lebar. 'A-apa aku tidak salah lihat?! Di-dia Yang Mulia Raja?! Aku bertemu Raja?! Aaaa, ini mimpi!' pekiknya dalam hati.
Yaya masih melongo walaupun Raja mulai bertanya. Dia sadar saat prajurit yang menahannya mengarahkan senjata tepat di leher Yaya.
"Aaaa, itu mengerikan! Jangan bunuh aku!" rengeknya memohon.
"Yaya, Yang Mulia Raja bertanya padamu," ucap Ian pelan.
Yaya menatap Ian. "Benarkah? Aku harus minta tanda tangan! Ini hal langka!" pekik Yaya senang membuat semua orang bingung.
"Apa yang dia maksud?"
"Tanda tangan? Apa mungkin stempel istana?"
"Dia aneh sekali! Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Bagaimana bunga mawar muncul lagi bersama gadis itu?"
Berbagai gumaman yang membicarakannya dapat Yaya dengar dengan jelas. Sekali lagi Yaya menatap semua orang dengan polos. Sadar jika berada di zaman yang berbeda.
"Yaya, kau mudah sekali berubah ekspresi. Apa suasana hatimu juga sering berubah-ubah?" tanya Kaza membuat Yaya menoleh. "Emm, aku juga tidak mengerti. Tuan pemburu, tolong bantu aku lepas dari sini. Aku tidak mau diadili! Kau bantulah aku melepaskan mawar ini tapi jangan dimusnahkan dan jangan sakiti aku. Aku hanya mau bebas dan pulang!" ujar Yaya terlihat menyedihkan.
Kaza semakin bingung. "Pulang? Apa hubungannya mawar itu dengan rumahmu? Lagipula sekarang tidak ada cara lain selain kau harus menerima akibatnya. Jika menurut padaku kau hanya kehilangan tangan. Mungkin di sini kau akan kehilangan nyawa," kata Kaza tenang.
Yaya merasa luruh. Ian berdecak dan menginjak kaki Kaza. "Kau tidak mengerti maksud Yaya. Bunga mawar itu punya sihir! Dia sendiri yang memilih untuk melekat pada Yaya!" desis Ian.
Kaza penasaran. "Benarkah? Aku tidak percaya!"
"Kalau begitu bebaskan aku dari keadilan raja, akan kuceritakan semuanya padamu," kata Yaya membuat Kaza menatap Yaya lagi.
Mereka bertiga tersentak kala Yang Mulia Raja berseru.
"Lancang sekali!"
Yaya menutup matanya takut. 'Raja itu auranya kuat sekali!' batin Yaya.
Perlahan membuka matanya dan menatap mawar di tangannya. "Apa kau tidak bisa membantuku? Aku dalam masalah karenamu," lirih Yaya.
Angin pun tidak berhembus. Cuaca panas dan tanah berdebu. Sangat dominan dengan lutut Yaya yang bersimpuh. Yaya merasa penjahat, semua orang memandangnya aneh dengan segala pemikiran. Saat Raja ingin bicara, tiba-tiba seorang Jenderal beserta beberapa orang yang berbeda usia datang menghadap.
"Lapor, Yang Mulia! Maafkan hamba yang lalai menjalankan tugas. Mawar itu terlepas dari pandangan! Izinkan hamba menghabisinya sekarang juga!" ujar sang Jenderal lantang.
Yaya menggeleng kuat, memeluk mawar itu hingga kelopaknya menempel di dagu. "Tidak! Jangan dihabisi! Mawar juga hidup, begitu pun aku!" seru Yaya memberanikan diri untuk membela.
'Aku tidak tau apa ada pengaruh antara mawar ini dan aku. Jika kita terhubung dan mawar ini terluka, aku juga ikut terluka. Meskipun begitu aku tidak akan biarkan satu orang pun menyakiti mawar ini. Aku menjaga mawar sepenuh hati, tidak pernah kusakiti,' batin Yaya.
Seruan Yaya mengundang perhatian banyak orang termasuk laki-laki muda yang datang bersama Jenderal. Penampilannya sangat rapi dan terlihat menawan seperti orang bijak. Dia terus memandang Yaya yang khawatir akan nasibnya dan mawar itu. Dahinya berkerut, bibir tipis merah muda alami yang memikat banyak gadis. Hampir dibilang sempurna dalam kalangan bangsawan karena kepandaiannya di semua bidang. Dia adalah Rovara Kal Zhani, putra Jenderal kerajaan Jhani.
"Tidak perlu, Jenderal. Sekarang gadis itu membawa pertanyaan. Kita temukan jawabannya di sini," ucap sang Raja tenang.
Jenderal itu menundukkan kepalanya. "Baik, Yang Mulia!"
Yaya menggeleng lagi. Dia menatap Ian dan Kaza yang juga bingung dengan keadaan. Mereka sedang berpikir sesuatu. Yaya semakin mendekap mawar itu.
"Ayah, dia ketakutan," ujar Zhani pada sang Jenderal.
Jenderal itu menatap Yaya tajam. "Jangan tertipu dengan kepolosannya, Putraku. Dia bukan sembarangan gadis!"
Firasat Zhani berkata lain dengan ucapan ayahnya. Dia kembali memperhatikan Yaya yang tidak mau mawarnya disentuh orang. Namun, Yaya tidak memandangnya sama sekali.
'Dia ... Cantik! Tapi apa dia jahat? Mungkin keturunan terakhir penyihir sampai bunga mawar ada ditangannya,' batin Zhani.
"Setelah sekian lama aku melihat bunga mawar ada di kerajaan Jhani. Aku tidak bisa mengatakan ini berkah Sang Kuasa atau kutukan. Siapa kau gadis muda yang berani membawa bunga itu kembali ke kerajaan Jhani?" tanya Raja lantang.
Yaya membuka-membuka-tutup mulutnya tidak bisa berbicara.
"Kau yang bertongkat hitam. Sepertinya aku mengenalmu. Siapa kau?" tanya sang Raja pada Kaza.
"Kenapa kalian ditanya dan tidak ada yang menanyaiku?" gerutu Ian sok sedih.
Yaya dan Kaza bungkam. Salah satu prajurit menjawab mewakili mereka. Dia menunduk dan menangkupkan tangannya. "Mohon maaf, Yang Mulia! Mereka berlari menuju jalan pintas istana. Sepertinya mereka bermusuhan. Menurut informasi yang sudah kami cari, gadis ini bukan berasal dari kerajaan Jhani. Lalu, laki-laki bertongkat itu adalah salah satu pemburu mawar yang tersisa dan disebelahnya seorang pemuda biasa. Dia teman gadis itu!"
"Hah! Akhirnya ada yang membicarakanku! Mereka tau dari mana informasi tentangku?" Ian bangga.
Yaya menelan ludahnya susah payah. "Sudah tau aku bukan dari sini jadi lepaskan aku!" pinta Yaya pada prajurit tadi.
"Hmm, jadi kau Kanzuro Viraka, anak kecil kelompok pemburu bunga mawar yang terakhir? Tidak kusangka kau tumbuh dewasa dan sangat tampan. Kami mencarimu bertahun-tahun. Ternyata datang bersama pembawa bunga mawar? Apa kau masih ingin membuat bunga itu hadir kembali?" tanya sang Raja dengan ekspresi susah ditebak.
Yaya mengerutkan dahi dan menatap Kaza. 'Anak kecil? Pemburu mawar yang terakhir? Aku tidak paham,' ucapnya dalam hati.
Kaza menatap sang Raja sangat serius tanpa takut. "Benar, Yang Mulia! Tidak perlu lari dan sembunyi lagi karena bersamaan dengan ini mawarnya sudah kutemukan! Aku Kaza dari kelompok pemburu bunga mawar akan melanjutkan tugas kami yang dengan tega kau habisi! Aku tidak akan bisa mati jika kerajaan Jhani belum layak dipanggil kerajaan Mawar kembali!" seru Kaza.
Yaya sampai tersentak begitu juga Ian dan Zhani di sana.
"Pemberontak! Habisi dia! Satu anggota pun dari kalian tidak berhak hidup!" Raja marah.
"Jangan!" Yaya refleks berteriak. Seluruh perhatian tertuju padanya.
'Eh? Kenapa aku menolaknya? Ck, dia tetap manusia, 'kan? Niatnya mungkin baik walau aku belum mengerti sepenuhnya,' batin Yaya.
"Kumohon jangan bunuh dia, Yang Mulia! Ini hanya kesalahpahaman!" seru Yaya.
Kaza menatap Yaya syok. 'Dia membelaku?' pikirnya.
"Apa yang kau katakan? Kau bahkan tidak mengenal Kaza. Lebih baik serahkan mawar itu!" ujar sang Raja.
"Tidak! Mawar ini harus membawaku pulang dulu! Jangan mendekat!" Yaya berdiri marah pada prajurit yang ingin mendekatinya.
Krikk! Krikk!
Sejenak semuanya diam. Mereka tidak mengerti maksud Yaya. Zhani mengernyit heran di sana. Lebih terkejut lagi saat Yaya lari karena prajurit terus mendekat. Mereka kejar-kejaran mengelilingi Ian dan Kaza.
"Jangan mendekat! Yang Mulia, percayalah aku bukan orang jahat. Mawar ini juga tidak jahat. Jangan habisi aku ataupun mawar ini. Katanya kerajaan Jhani adalah kerajaan mawar, tapi satu mawar saja tidak ada. Jadi bagus bukan kalau ada mawar lagi?" seru Yaya sambil terus berlari.
Ian sampai pusing melihat Yaya. "Aku mau pingsan," gumamnya.
"Omong kosong lagi! Mawar itu akan membunuhmu jika tidak kau serahkan! Sihirnya bisa jadi kutukan di kerajaan Jhani! Lebih baik serahkan mawar itu! Aku tidak akan membunuhmu!" kata sang Raja.
Yaya berhenti di tempatnya semula. Prajurit menyuruhnya berlutut dan menahan pundak Yaya, "Benarkah? Tidak membunuhku dan mawar ini? Kalau begitu ambil saja kalau bisa. Tanganku juga sudah pegal." Yaya mengangkat mawar itu senang.
'Gadis itu aneh!' batin Zhani.
Raja menyuruh seseorang mengambil mawar itu. Namun justru Yaya yang tertarik. Semua orang bergumam lagi tidak percaya. Zhani sampai maju selangkah ingin melihat lebih dekat. Orang itu terus mencoba menarik mawarnya, tetapi gagal.
"Bagaimana? Tidak berhasil?" tanya Yaya sambil meringis menahan tarikan.
"Kenapa tidak bisa dilepas? Apa dia memantrainya?"
"Ini tidak benar! Mawar itu jelas punya sihir yang sama seperti dulu! Lebih baik dihancurkan!"
Yaya menunduk lesu. "Ayo coba sekali lagi! Aku tidak menahannya sama sekali. Bunga ini menempel sendiri," keluhnya meminta.
"Apa maksudmu? Mustahil bunganya menempel sendiri! Kecuali... Itu kuasa sihir bunga mawar!" kata sang Raja.
Tangan Yaya sangat sakit dan dia pusing. "Sudah! Sudah-sudah! Kau menarikku atau mawarnya? Mawar tidak lepas tapi aku yang tersiksa!" marahnya.
"Berani sekali dia," gumam Kaza.
Ian tersenyum miring. "Itu dia temanku! Selain berani dia juga cerdas! Karena Yaya berbeda!" ujar Ian bangga membuat Kaza menoleh, "Apa maksudnya berbeda?" tanya Kaza.
"Ck, nanti juga tau jika Yaya mau memberitahu. Lebih baik sekarang cari cara agar kita bebas. Aku yakin Yang Mulia akan bertindak tegas sekarang," bisik Ian.
Kaza mengangguk dan berpikir sambil memandang raja. Orang suruhan raja menunduk tidak sanggup menarik mawar itu. Yaya sendiri mengatur napasnya sambil memandangi mawar itu. Namun, sesuatu yang kecil nan tajam menusuk d**a Yaya dari kejauhan. Pengawal raja yang melakukan hal itu.
"Yaya!" pekik Ian dan Kaza bersamaan.
Yaya menegang dan pandangan pun buram. Mawar itu bergoyang meski tiada angin yang menerpanya. Kemudian, Yaya pingsan.
Raja mendesah sebelum mengambil keputusan, "Ikat dia dengan rantai."
Deg!
Zhani ingin menahan para prajurit yang menyeret Yaya dan memasang rantai pengikat, tetapi dihentikan sang Jenderal. Ian meronta dan memohon agar raja tidak memperlakukan Yaya seperti ancaman. Kaza juga diikat karena akan dibunuh walau menunggu titah selanjutnya.