9. Lari dari Hukuman

2029 Kata
 Leher dan tangan berbau besi. Berkali-kali Ian memanggil Yaya untuk sadar, tetapi percuma. Kaza waspada lantaran dikelilingi prajurit yang siap memenggal kepalanya. Karena tidak tega memandang Yaya, Zhani memohon pada Raja.   "Mohon maaf, Yang Mulia. Kita masih belum tau mawar itu berbahaya atau tidak, begitu juga dengan gadis itu. Hamba rasa merantainya terlalu berlebihan. Tidak diikat pun dia tidak melawan. Justru kesakitan saat mawarnya ditarik. Mohon lepaskan dia, Yang Mulia!" pinta Zhani membuat Jenderal dan Raja heran.   "Kenapa kau peduli dengannya? Justru itu aku merantainya, sewaktu-waktu mawar itu akan mengeluarkan sihirnya lewat gadis itu. Kita tidak bisa percaya begitu saja," jawab sang Raja.   Zhani diam. Kembali memandang Yaya yang belum sadar. 'Kurasa dia gadis biasa, tidak mungkin bisa menahan serangan Yang Mulia. Jika dia penyihir pasti tidak akan pingsan begitu lama,' batin Zhani.   "Gawat! Yaya tidak akan bisa sadar jika tidak disadarkan! Lepaskan aku!" Ian meronta ingin menghampiri Yaya.   Kaza terdiam heran memandangi Yaya. Dia tidak berpikir jika nyawanya dalam bahaya. 'Yaya, sebenarnya kau siapa? Baik atau jahat?' batin Kaza.  Tidak sadarnya Yaya masih tidak berhasil membuat mawar itu diambil. Para prajurit sudah berusaha keras dan Raja semakin yakin jika kutukan mawar kembali. Dia menurunkan perintah untuk memotong mawar itu.   "Tidak! Jangan sentuh Yaya dan mawar itu dengan senjata! Aku sudah mencobanya tapi gagal! Percayalah padaku, Yaya tidak membawa kutukan mawar!" seru Ian selalu membela dan meronta, tetapi tidak didengarkan.   Pedang, tombak, kapak, belati, api, ramuan racun serta senjata lainnya tidak bisa memotong bunga mawar di tangan Yaya.   "Mustahil! Gadis itu tidak sadar diri, tapi mawarnya tetap bertahan. Apa maksud semua ini?! Apa dia mengancam kerajaan Jhani? Mawar itu akan menghabisi kerajaan Jhani?! Bukti sudah jelas, tidak ada yang bisa menghancurkan mawar itu! Tidak ada yang memegang mawar lagi, tetapi gadis itu tiba-tiba muncul dan membawa ancaman. Tiada pilihan lain, bunuh gadis itu! Dia mungkin penyihir yang tersisa!" seru sang Raja.   "Tidaaakkk! Jangan bunuh temanku! Dia satu-satunya temanku! Yang Mulia! Percayalah padaku, Yaya tidak berbahaya! Dia sangat polos dan baik! Dia bahkan tidak tau kenapa mawar itu bisa menempel di tangannya! Yang Mulia, jangan!" seru Ian meronta lebih keras.   Suara Ian tidak dipedulikan. Hanya Kaza dan Zhani yang menanggapinya dengan tatapan heran. Pembelaan yang terus-menerus dilayangkan Ian membuat mereka semakin penasaran dengan Yaya.   "Yaya, bangun! Sadarlah! Mereka mau membunuhmu!" teriak Ian ketakutan.   Wajah lemas Yaya tidak ada tanda-tanda ingin sadar. Seseorang sedang mencabut pedang dari sarungnya dan mendekati Yaya. Ian semakin meronta tak terkendali. "Yaya! Yaya, sadar! Aku tidak bisa menolongmu! Yayaaaa!"   Air mata hampir saja keluar dari mata Ian. Kaza bertanya sambil berbisik. "Kenapa kau bersikeras? Kalau mawar itu memang punya sihir, pasti Yaya memang bukan gadis biasa. Dia akan menyelamatkan dirinya sendiri. Percayalah!"   Ian menatap Kaza marah. "Apa kau bodoh?! Dia tidak berdaya! Pedang tajam itu akan menguak jantungnya! Lakukan sesuatu, Kaza! Kau lebih hebat dariku! Kumohon bantu Yaya!"   "Aku... Aku bingung!" Kaza menunduk penuh keraguan.   Orang yang akan membunuh Yaya itu semakin dekat. Dia bermain dengan pedangnya sebentar dan memposisikan pedangnya di udara mengincar jantung Yaya.   "Hiyaaa!" teriak orang itu sembari berlari.   Namun, sesuatu yang berbunyi nyaring lebih nyaring dari tangkisan pedang menggema di aula istana. Disertai sinar merah yang sangat cerah memancar dari mawar itu menyilaukan semua mata. Sontak orang itu berhenti dan berpaling. Semua yang ada di sana menutup mata dan telinga tidak tahan.   "Aarrghh, ada apa ini?! Cahaya aneh apa ini?! Ilusi atau sihir?!"   "Suaranya nyaring sekali! Tolong hentikan! Aku tidak tahan!"  "Mawar itu memang terkutuk! Yang Mulia, bunuh saja gadis itu!"  Seruan dari orang-orang yang menjadi saksi membuka hati Zhani. 'Gadis itu tidak tersentuh. Pasti mawar melindunginya dari bahaya,' batin Zhani.   Dia ingin melihat Yaya, tetapi sinarnya terlalu kuat untuk dihadang. Hingga Raja kembali bertitah. "Cepat, bunuh dia!"   Orang yang akan membunuh Yaya mencoba bertahan. Dia perlahan melangkah, tetapi seakan ada kekuatan tak kasat mata yang mendorongnya hingga terpental jatuh ke kaki Raja. Orang itu memekik kesakitan.   "Prajurit! Habisi gadis itu sekarang juga!" perintah Raja pada penjaganya.   Mereka berseru dan mencoba mendekati Yaya, tetapi hal yang sama terjadi. Sesuatu dari bunga mawar itu keluar dan mendorong mereka hingga jatuh. Raja terus menyuruh orang untuk menyerang Yaya, tetapi mawar itu terus melindungi Yaya.   'Dahsyat! Ini benar-benar mengagumkan!' batin Kaza yang mengintip bagaimana para suruhan Raja kalah.   "Ternyata mawar itu melindungi Yaya!" kata Kaza membuat Ian ikut melirik Yaya. Dia tersenyum karena Yaya terlindungi.   Semakin terang dan bising, Raja tidak bisa menyuruh orang lagi. Sangat ajaib bagi Ian, Kaza, dan Zhani. Mereka bisa melihat dengan mudah seakan sinar itu menutup jalan untuk menuju mata mereka. Kesempatan besar bagi Zhani untuk membebaskan Yaya. Dia pergi tanpa suara dan menatap Yaya sejenak.   'Gadis ini benar-benar cantik. Terima kasih mawar merah, kau membiarkanku membantu Yaya,' batin Zhani.   Meskipun sempat berprasangka buruk, perasaan Zhani menolaknya. Dia segera melepaskan rantai yang mengikat Yaya dan membawa Yaya pergi dengan cepat. Kekuatan berlarinya seperti terbang. Kaza dan Ian mengetahui hal itu. Mereka melotot dan segera membebaskan diri dengan mudah. Mengejar Yaya tanpa suara dan berpikir jika Yaya akan diculik Zhani.   Seketika sinar dan suara nyaring itu hilang saat Yaya mereka sudah jauh dari istana. Raja dan rakyatnya kaget. Yaya hilang berserta dua tahanannya. Jenderal kerajaan Jhani pun terkejut karena anaknya tidak ada.   "Kurang ajar! Ini permainan yang menghina! Dimana Rovara Kal Zhani?! Apa dia membebaskan tahanan?! Penghianat!" murka sang Raja.   Jenderal segera menangkupkan tangan sembari menunduk. "Mohon maaf, Yang Mulia! Zhani menghilang beserta sihir mawar. Tidak ada yang melihat kejadiannya dengan jelas. Mohon Yang Mulia pertimbangkan lagi keputusan Yang Mulia!"   "Zhani membela gadis itu termasuk mawarnya. Prajurit, cepat cari ketiga tahanan dan Zhani! Mereka jadi buronan sekarang! Mawar itu harus musnah!" seru Raja tak menghiraukan permintaan sang Jenderal.   Jenderal kerajaan Jhani menjadi berpikir serius. 'Kenapa Zhani menyelamatkan gadis itu? Apa dia ingin mati karena mawar? Anak konyol! Kalau dia menjadi buronan, bagaimana bisa menjabat dikemudian hari? Aku harus mencari mereka semua!' batinnya dan segera pergi bersama prajurit.   Heboh satu aula istana. Mereka takut dan trauma. Sekali lagi sihir mawar kembali menyapa. Mereka beranggapan itu adalah ancaman yang pertama. Akan ada lagi ancaman berikutnya yang lebih parah. Sihir mawar sepenuhnya dianggap kejam. Misteri kematian raja terdahulu belum terpecahkan sepenuhnya, tetapi asumsi baru tumbuh di pemikiran setiap orang di kerajaan Jhani.   Zhani membawa Yaya pergi jauh dari istana kerajaan. Kaza dan Ian mengejarnya sangat cepat sampai kaki mereka sedikit sakit. Ian terus meneriaki Zhani agar berhenti, tetapi Zhani justru menambah kecepatan larinya. Dua desa terlampaui. Dua pasar sudah terlewat dengan mudah. Kaza tidak lelah, tetapi Ian terus mengeluh capek. Tidak ada cara lain selain mengejar Yaya. Hingga akhirnya Kaza menggunakan tongkatnya dan memukul pundak Zhani dari kejauhan.   Zhani langsung berhenti, merasa sedikit sakit. Kaza dan Ian mencegahnya saat Zhani ingin kembali berlari.   "Berhenti, anak Jenderal! Kembalikan temanku!" seru Ian marah dan ingin merebut Yaya.  Kaza memegangi Zhani agar tidak lepas. "Dia adalah jalanku membawa mawar kembali. Jadi serahkan Yaya!" ujar Kaza.   Zhani sedikit meronta. "Aku hanya menolongnya! Kalau kalian teman, maka ikuti aku dan cari tempat yang aman!" ujarnya serius.   "Apa kau bisa dipercaya? Anggota kerajaan pasti berniat sama dengan Raja. Kau ingin menipu kami dan menculik Yaya, 'kan?!" tuduh Ian.   "Tidak! Itu sebabnya bunga mawar memberiku jalan untuk membawanya pergi! Mengertilah, dia tidak akan bisa sadar dengan cepat jika tidak segera ditangani!" jelas Zhani.   Kaza dan Ian menatap Zhani serius. "Apa taruhannya jika kau berbohong?" tanya Kaza.  "Nyawaku!" jawab Zhani tanpa ragu.  "Orang yang sombong! Aku tidak akan biarkan temanku berada ditanganmu!" Ian marah dan menarik Yaya paksa.   "Jangan! Kali ini kita turuti dia! Jarum yang menusuk Yaya harus dikeluarkan. Ayo!" Kaza menghentikan Ian dan mendorong Zhani untuk melangkah.   Mereka kembali pergi dan menemukan rumah kecil tak berpenghuni dan hanya satu ruang. Mereka berpikir itu bukan rumah, tetapi gubuk tempat istirahat yang sengaja dibuat seperti rumah. Tidak ada orang, mereka mengunci pintu rapat. Zhani segera mendudukkan Yaya di tengah-tengah mereka. Dengan sekali pukulan di punggung, jarum itu keluar dari tubuh Yaya. Yaya kembali ambruk dan ditangkap Zhani.   "Cantik!" tidak sadar Zhani memuji Yaya membuat Ian dan Kaza melotot.   "Kau bilang apa?" tanya Ian.   Zhani mengerjap bodoh dan membaringkan Yaya perlahan. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," elaknya.   "Apa dia juga cantik?" Ian menunjuk Kaza.   Kaza melotot. "Bilang kalau kau sudah bosan hidup, golokku siap memenggalmu!" desis Kaza.  Ian mendelik. "Kejam sekali!"   Zhani menatap Ian dan Kaza heran. "Kalian teman atau musuh?" tanyanya ragu.  "Kami punya pertanyaan yang sama padamu," jawab Kaza.  Zhani tersenyum miring. "Tidak peduli siapa kita, yang terpenting sekarang mawar ini kembali memperlihatkan kuasanya. Kenapa dia membuka jalan untuk kita bertiga?" Zhani menatap Yaya bingung.   "Entahlah. Apa Yaya baik-baik saja?" tanya Ian sangat khawatir.   "Seharusnya begitu," jawab Zhani santai.   "Jalan? Kurasa mawar itu sengaja memilih kita karena menyangkut Yaya. Jika tidak, Yang Mulia pasti akan menghabisi Yaya sungguhan. Aku tidak mengerti bunga mawar itu dan juga Yaya. Jika dia bangun, akan kupaksa berbicara!" kata Kaza.   "Bisa kau sedikit lembut seperti cantiknya wajahmu? Dia baru saja membelamu." Ian menunjuk dahi Kaza.   Kaza menarik jari Ian dan menekuknya membuat Ian mendesis sakit. "Dasar bodoh! Kau ingin mati?" tanyanya santai.   Zhani justru terkekeh. "Kau kesal jika dibilang cantik? Tak kusangka bisa bertemu dengan pemburu bunga mawar yang terakhir," ujarnya.   Kaza menghempaskan jari Ian dan memandang Zhani datar. "Tak kusangka bertemu orang yang arif dan bijaksana melebihi Raja. Putra tunggal seorang Jenderal pemberani di kerjaan Jhani. Terimalah salamku!" menangkupkan tangan tanpa menunduk.  Zhani ikut menangkupkan tangan, "Salam, Tuan pemburu. Aku tidak sehebat itu."  Ian ikut memberi salam. "Aku hanya orang biasa. Bertemu orang hebat seperti kalian rasanya seperti mimpi. Hanya saja... Kau anggota kerajaan, tapi dari pandanganmu melihat Yaya sangat berbeda dari yang lainnya. Kenapa?"   "Karena... Aku sendiri tidak tau." jujur Zhani sambil menggeleng.   Kaza dan Ian mendelik. "Jujur sekali!" kompak mereka.   "Kupikir selalu ada alasan bagi orang pintar. Ternyata kau lebih lugu dariku," kata Ian.   "Kau bodoh, bukan lugu!" bantah Kaza.  Mereka tidak melanjutkan berkenalan. Bahkan nama pun juga tidak diucapkan. Perhatiannya tertuju pada Yaya yang beberapa menit sudah belum juga sadar. Mawar itu kembali tenang sejak dibawa pergi. Mereka beranggapan mawar itu tidak akan melukai orang yang akan membantu Yaya.   Setengah jam kemudian Yaya sadar. Tiga laki-laki itu terlihat senang dan menatap Yaya lekat. Saat pandangan Yaya mulai jelas dia berteriak melihat tiga wajah laki-laki yang begitu menantikannya.   "Aaaaa, menjauh dariku!" Yaya refleks mundur hingga menatap tembok.   Mereka heran masih memandang Yaya polos. Yaya mengerjap dan mengedarkan pandangan ke segala arah. "Ini... Bukan aula istana. Kenapa aku ada di sini? Apa yang terjadi setelah aku... Pingsan?! Aku pingsan berapa lama?!" pekiknya setelah bergumam membuat Ian menutup telinga dan mendekati Yaya.  "Sstt, tenang, Yaya! Bisakah jangan berteriak? Bisa saja orang akan datang dan menangkap kita nanti." Ian duduk di samping Yaya dengan santainya.   Yaya menatap Ian heran. "Kau bebas. Aku juga bebas. Lalu, Tuan pemburu? Dia tidak jadi dihukum mati?" tanyanya beruntun.   Ian menggeleng. "Dia ada di depanmu," jawabnya santai dengan senyuman.   Yaya langsung menatap Kaza yang juga tersenyum tipis. Yaya terbelalak dan memekik senang  "Aaa, akhirnya kita bebas! Kalian baik-baik saja? Syukurlah! Raja itu tidak sebaik parasnya! Kukira dia mengagumkan dan bijaksana, tetapi memberi perintah dengan mudah dan bermain hukuman mati. Maksudnya apa?" gerutu Yaya mulai santai tanpa rasa takut.   Zhani berdeham karena tidak dihiraukan. Yaya menjadi menoleh. Dia mengerutkan dahi heran memandang Zhani. "Siapa kau?" tanyanya sambil mendekati Zhani.   Ian dan Kaza membiarkan Yaya memandang Zhani aneh. Yaya duduk manis di depan Zhani yang memasang senyum tipis.   "Dari penampilanmu sangat rapi, kau pasti bukan orang biasa. Kelihatannya kau bangsawan, atau mungkin pelajar? Eh, tunggu sebentar. Sepertinya aku pernah melihatmu sekilas, tapi dimana?" Yaya mengoceh sendiri. Menautkan alisnya seakan berpikir keras. Zhani masih diam membiarkan Yaya berbuat sesuka hati.   Yaya memekik membuat mereka kaget. "Aku tau! Kau orang yang ada di mimpiku sambil membawa bunga mawar ini, 'kan?! Iya, itu kau! Berarti kau juga salah satu penyebab yang membawaku kemari! Kau keterlaluan!" menjadi marah dan menjauh kembali pada Ian.   Zhani tersentak. "Aku? Dalam mimpimu? Terdengar sangat aneh," gumamnya.   "Tidak, itu memang kau! Bayangannya sangat mirip denganmu walau samar! Aku masih ingat jelas! Kau harus tanggung jawab dan bawa aku pulang! Kau, sinar, dan mawar ini! Kalian harus membawaku kembali ke asalku!" marah Yaya menunjuk Zhani dengan tangannya yang menyatu.   Ian dan Kaza mendelik. Zhani lebih parah karena tidak mengerti apa yang Yaya tuduhkan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN