10. Demi Teman dan Mawar

2164 Kata
 Berbagai cara Ian lakukan untuk membuat Yaya tenang. Namun, Yaya tenang bukan karena ucapan Ian, melainkan pemikirannya sendiri yang mengatakan semuanya akan jelas jika dibicarakan baik-baik. Marah pun percuma.   "Kalian bertiga bisa sedikit mundur? Aku merasa tidak enak." Yaya meringis karena mereka mengelilinginya sangat dekat.   Mereka mengerti lalu sedikit menjauh. Duduk melingkar empat orang dan Yaya perempuan sendiri. Yaya menatap tiga laki-laki itu dengan penuh pemikiran.   "Ian, apa yang terjadi di aula setelah aku pingsan?" tanya Yaya pelan.   Ian mendesah panjang, "Raja ingin membunuhmu, tapi keajaiban terjadi. Mawar di tanganmu melindungimu. Dia bersinar merah sangat terang dan mengeluarkan bunyi bising. Dia juga mendorong semua orang yang akan mencelakaimu. Andai kau melihatnya pasti sangat takjub. Anehnya lagi, dia membiarkan kami melihatmu dan bisa membawamu keluar dari aula. Tepatnya dia yang membawamu keluar lebih dulu. Aku yakin sekarang kerajaan merasa dikhianati olehnya." melirik Zhani.   Yaya terbelalak. "Benarkah? Bunga ini bersinar lagi? Itu berarti aku benar-benar bisa pulang dengan mawar ini!" pekiknya senang. Kemudian beralih memandang Zhani yang sedikit kesal karena Yaya menuduhnya. "Hei, Tuan yang ada dalam mimpiku. Kau siapa? Kenapa membantuku?" tanya Yaya sedikit cuek.   Zhani sedikit berdecih. "Aku Rovara Kal Zhani, putra Jenderal kerajaan Jhani. Demi menyelamatkanmu sekarang aku menjadi pengkhianat kerajaan. Aku yakin kita semua dalam buronan sekarang. Tapi ini jauh dari istana, kurasa kita aman," kata Zhani tanpa berpindah dari mata Yaya.   "Oh, ya? Aku tidak peduli kau anaknya siapa. Terima kasih sudah menolongku. Katakan bagaimana caraku bisa kembali? Katakan!" tuntut Yaya.   "Astaga, sudah kubilang aku tidak tau rumahmu! Apa kau hilang ingatan? Kita baru saja bertemu dan tidak mungkin aku ada dalam mimpimu!" kesal Zhani.   "Penipu! Kau dan mawar ini bekerja sama, 'kan?! Ini tidak adil! Tanganku pegal karena mawar dan sekarang kau tidak mau mengatakan caraku untuk pulang. Apa salahku? Kenapa menghukumku seperti ini? Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku bisa mencari jalanku sendiri! Setidaknya jangan muncul dalam mimpiku kalau tidak mau membantu! Apa artinya semua ini?!" marah Yaya dan berpaling.   "Kau ini bicara apa? Aku tidak punya masalah denganmu! Sudah bagus kutolong, tapi kau terus menuduhku. Apanya yang pulang? Mawar saja aku tidak pernah memegangnya!" Zhani masih membela diri.   Ian menatap Yaya dan Zhani bingung. "Kenapa jadi bertengkar?"   Kaza mengalihkan perhatian mereka. "Yaya, sejak awal berjumpa di tempat pengrajin kayu kau membuatku bingung. Hanya satu yang kumengerti yaitu kau bukanlah orang jahat ataupun penyihir. Aku salah sangka padamu dan terima kasih sudah membelaku di aula. Pada intinya... Semua pertanyaanku dan Zhani akan terjawab jika kau mau bercerita yang sesungguhnya. Siapa kau. Darimana dan kenapa bisa membawa bunga mawar? Kenapa bertemu dengan Ian dan sampai kemari?" tanya Kaza pelan.   Yaya mulai tersenyum manis. "Ih, wajahmu itu menggemaskan! Aku ingin meremasmu! Jika Aloa tau pasti kau akan didandani seperti laki-laki, haha! Kau cantik sekali!"   Kaza melotot. "Apa kau bilang?!"   "Eh, jangan marah! Coba tenang seperti Zhani. Dia sangat penasaran dengan kebenarannya," sindir Yaya.  Zhani berdeham cuek membuat Yaya berdecak. "Kau cukup tampan, sayangnya pelit!" gerutu Yaya.  Zhani kembali tersulut. "Aku pelit bagaimana? Kau ini sangat tidak jelas!"   "Sudah-sudah! Yaya, katakan saja biar jelas! Kita dalam satu wadah sekarang. Prajurit sedang mengejar, kalau tidak kerja sama pasti akan susah. Kau juga akan dalam bahaya nanti," kata Ian.   Yaya menghela napas panjang. "Jika kukatakan kalian harus percaya dan tidak boleh berteriak. Janji?" menatap Kaza dan Zhani mengancam. Mereka mengangguk pasti. "Aku Zuzalwa Yaya, penjual bunga mawar dari masa depan. Sebenarnya aku yang datang ke masalah lalu yaitu zaman kalian. Entah datang dari mana, tiba-tiba mawar ini menempel. Sebelumnya aku pingsan dan sering berhalusinasi tentang sinar, bisikan aneh, dan samar-samar orang yang mirip dengan Zhani sambil membawa mawar ini. Itu sebabnya aku menuntutmu, Zhani! Kau pasti tau jalannya keluarnya!" Yaya kembali meminta pada Zhani.   Mereka berdua mendelik. Ingin berteriak, tetapi diurungkan karena sudah berjanji. "Apa maksudmu masa depan dan masa lalu? Ini tidak masuk akal!" desis Kaza sambil menggeleng.   "Aku masih tidak mengerti dengan tuduhanmu, sekarang kau membuatku semakin bingung. Apa maksudmu kau bukan bagian dari kami? Kau berasal dari zaman lain?" tanya Zhani terheran-heran.   Yaya mengangguk kuat, "Kalau tidak percaya tanya saja pada Ian. Dia yang menemukanku dan memberiku pakaian ini." melirik pakaiannya.   "Iya, pakaian aneh Yaya juga masih ada di rumahku. Awalnya aku juga tidak percaya, tapi aku pikir Yaya ditakdirkan ada di sini untuk menuntaskan misteri bunga mawar. Jadi aku berjalan bersamanya mencari cara untuk melepaskan mawar itu, sampai sekarang belum bisa." imbuh Ian.  Kaza dan Zhani mengerjap pelan. Mereka berpikir lebih keras mencoba mencerna kebenaran Yaya.   "Jika memang benar, berarti Yaya bagaikan Dewi pembawa kebenaran. Kerajaan Jhani akan kembali menjadi kerajaan Mawar seperti namanya. Aku akan ikut bersamamu dan membantumu dalam hal ini!" ujar Kaza sungguh-sungguh.   "Benarkah. Kau mau membantuku? Tidak akan memotong tanganku, 'kan?" tanya Yaya.  Kaza menggeleng. "Tidak akan!"   Yaya teringat sesuatu. "Lalu, apa maksud raja tentangmu yang seorang pemburu bunga mawar terakhir. Anak kecil dan buronan?" herannya.  Kaza tersenyum. "Karena kita sudah di jalan yang sama jadi akan kukatakan. Aku Kanzuro Viraka, kelompok dari pemburu mawar. Kelompok ini dibentuk karena pihak kerajaan menghilang mawar. Kami membela bunga mawar yang tidak memiliki sihir, tetapi mereka dihabisi paksa. Raja menganggap kami sebagai pemberontak, padahal kami ingin membenarkan keadilan bunga mawar. Bukan berarti satu mawar punya sihir dan mawar yang lain juga sama. Kami hanya mau kerajaan Jhani seingatnya namanya. Sesuai peraturan, pemberontak harus diberi hukuman mati. Raja beranggapan matinya sang raja terdahulu layak dengan matinya para pemburu bunga mawar. Aku masih anak-anak dan berhasil meloloskan diri. Berkenalan dan bertahan hidup hingga kini. Masih mencari bunga mawar yang tersisa di kerajaan Jhani dan menegakkan keadilan. Lalu, akhirnya aku bertemu denganmu. Mawar di tanganmu satu-satunya harapanku, Yaya. Mimpi para anggota kelompokku akan terwujud dengan mawar itu," jelasnya.   Yaya dan Ian tersentak. "Ternyata kau sebatang kara? Bagaimana kau bisa hidup tanpa orang terdekat dan rumah?" tanya Yaya penuh prihatin.   "Haha, aku sudah terbiasa berkelana," ujar Kaza santai.   "Kau manis saat tersenyum. Kalian tau? Di duniaku aku juga tinggal sendirian, tapi ada beberapa orang yang selalu menemaniku seperti Aloa dan Nyonya Fali. Meskipun tingkah mereka terkadang aneh, tapi aku menyayanginya. Aku menganggap mereka seperti keluarga," Yaya tidak sengaja bercerita.   "Kalau begitu boleh aku menganggapmu keluargaku? Sama sepertimu yang menganggap temanmu di sana keluarga?" tanya Ian polos.   Yaya menjadi tersentuh. "Kita hampir punya nasib yang sama. Tentu saja boleh! "  Ian mengangguk senang. Kaza juga ikut tersenyum. "Apa aku bisa jadi temanmu juga? Ternyata kau asik!" kata Kaza.  "Hahaha, keramahan selalu menguasai. Baiklah, kita berteman!" Yaya memekik senang.   Mereka bertiga tertawa pelan. Namun, Zhani terus diam memandang Yaya. 'Dia memang ramah. Mudah sekali melupakan masalah dan kekesalannya. Kenapa dia selalu tidak melihatku?' batin Zhani.   Yaya menoleh ke Zhani setelah Zhani membatin membuat Zhani tersentak. "Kau bagaimana? Punya tujuan lain atau mau bergabung? Kurasa kau orang baik yang menantang keputusan raja," sindir Yaya lagi.   Zhani mengerutkan dahinya. "Kenapa kau tidak melihatku?"   Yaya mendelik. "Ha?"   "Lupakan! Aku akan ikut kalian. Terlebih lagi aku bertanggungjawab atas perginya kau," jawabnya cuek.   "Ck, kalau begitu terima kasih sudah menolongku. Zhani, meskipun orang dalam mimpiku itu kau, bukan berarti kau tau jalan keluarnya. Mungkin ada alasan lain kenapa kau masuk di mimpiku bersama mawar. Jadi buang wajah menyebalkanmu itu! Cuek sekali!" kata Yaya sambil membenahi duduknya.   Zhani membuang pandangan. Kemudian Ian mendekati Yaya dan berbisik, "Dia sejak di aula selalu memperhatikanmu, tapi kau tidak melihatnya sama sekali."   Yaya tersentak. "Benarkah? Kenapa dia memperhatikanku?" Yaya ikut berbisik.   "Mungkin dia kasihan padamu," jawab Ian masih berbisik  Yaya mengangguk mengerti. "Dia sangat sensitif. Aku tuduh sedikit saja langsung kesal. Lihat saja caranya membuang muka!" gumam Yaya melirik Zhani.   "Ah, tinggal aku yang belum memperkenalkan diri. Tuan pemburu yang cantik dan kau orang yang berbakat, perkenalkan aku adalah Ian Kafurai. Aku tidak punya pekerjaan dan orang pertama yang Yaya lihat di kerajaan Jhani. Senang berteman dengan kalian!" Ian menunduk tanda berkenalan.   Tidak ada yang menjawab membuat Ian kesal. Yaya mengamati mawar di tangannya.   'Satu pun daun tidak ada yang gugur atau layu. Tanahnya juga tidak berkurang. Kelopak bunga ini... Harum yang sama. Kalau mawar ini melindungiku, pasti tidak akan menghabisiku seperti raja terdahulu. Aku terlalu takut dengan perkataan Bibi pemilik ladang. Mawar aneh... Terima kasih. Aku akan mencari tau jalanku kembali pulang,' batin Yaya.   "Apa aku boleh menyentuhnya?" tanya Kaza mengalihkan perhatian Yaya.   "Oh, boleh." Yaya menyodorkan mawar itu. Perlahan Kaza menyentuh kelopak mawar dengan takjub.  Karena penasaran, Zhani dan Ian ikut menyentuh mawarnya. Yaya jadi merasa memberi mereka mainan baru. Dia ingin terkikik melihat mereka yang memainkan mawar.   'Sebenarnya mereka terlihat polos kalau begini. Andai ada handphone pasti aku rekam,' batin Yaya.   "Yaya, mawarmu harus ditutupi lagi. Kainku hilang entah kemana," ucap Ian berhenti bermain mawar.  "Hmm, aku punya ide!" lanjut Ian. Dia mendekati Yaya dan menyobek pakaiannya yang sudah robek.  "Hei, apa yang kau lakukan?!" bukan Yaya, tapi Zhani yang berseru. Yaya ingin protes sampai terhenti, hanya melotot dan mulutnya sedikit terbuka.   "Ini pakaian ibuku, sudah tua dan rusak. Gadis cantik sepertimu layak mendapatkan yang lebih baik. Andai saja aku punya uang pasti akan membelikanmu. Mawar ini harus tertutup, kalau tidak orang-orang di sini akan menangkapmu. Entah apa lagi yang bisa terjadi nanti." tutur Ian sambil menutup mawar Yaya dengan kain sudah dia sobek.   "Tapi ini punya ibumu! Kau tidak masalah kalau rusak?" tanya Yaya.  "Hahaha, sayang sekali, tapi kau lebih membutuhkannya. Masih banyak pakaian ibuku di rumah," tawa Ian renyah.  Yaya tersenyum dan memeluk tangannya sendiri, "Terima kasih lagi, Ian. Kau baik padaku."  "Itu hal biasa!" Ian mengibaskan tangannya membuat Yaya terkekeh.   "Apa kau tidak punya pakaian lain? Sungguh dari zaman yang berbeda?" tanya Kaza sambil menggeleng pelan.  Yaya berganti memandang Kaza. "Iya, Kaza!" jawab Yaya sedikit menekan.   Kaza menggaruk kepalanya dan memalingkan pandangan tidak tahu harus berkata apa lagi. Sedangkan Zhani terus memandang Yaya membuat Yaya membalas pandangannya. "Sudahlah, jangan melihatku seperti itu! Kenapa? Kau masih ragu juga?" tanya Yaya tidak sopan.   "Aku berpikir bagaimana caramu melakukan sesuatu dengan tangan menyatu," jawab Zhani.   Yaya memundurkan kepalanya. 'Bisa-bisa dia juga akan tanya bagaimana aku mandi dan pakai baju. Dia sangat suka berpikir ternyata,' batin Yaya.   "Eee, maksudku itu terlihat aneh. Sekarang pikirkan saja bagaimana kau dan mawar itu," Zhani memalingkan wajahnya.   "Apa? Kenapa tingkahmu seperti itu? Jangan terlalu dimasukkan hati tuduhanku tadi! Aku tidak marah kalau itu yang mengganggumu. Jangan memalingkan wajah dariku!" Yaya memelankan suaranya merasa bersalah.   Zhani menggeleng dan kembali menatap Yaya, "Aku tidak bermaksud menyinggungmu."  Yaya tidak mau menjawab lagi. Ian dan Kaza menjadi bingung dengan perubahan sikap Yaya. Untuk memecah keheningan, Zhani berinisiatif keluar dari gudang dan memastikan keadaan aman. Dia pergi begitu saja tanpa persetujuan yang lain.   "Eh, jangan pergi! Maksudku jangan keluar sendiri!" pekik Yaya. Ingin mengejar Zhani, tetapi Kaza menghentikan. "Biarkan saja. Ini untuk keamananmu dan mawar itu juga," Kaza sangat tenang.   Yaya mengangguk walaupun menyayangkan kepergian Zhani. 'Kenapa aku jadi sedikit curiga. Jangan-jangan Zhani pergi meninggalkan kami. Dia anaknya Jenderal, pasti bergabung dengan raja juga. Apa ada rencana dibalik kebaikan Zhani?' batin Yaya.   Matanya terus menyorot ke pintu. Pemikiran negatifnya dibantah oleh perasaannya sendiri. Sedikit rasa tidak terima jika Zhani pergi darinya. Seakan Yaya ingin Zhani bersamanya.   "Ck, kenapa hati dan otakku tidak sama? Mungkin pengaruh pingsan tadi." gumam Yaya sambil menggeleng.   Tidak lama kemudian Zhani datang dan membawa sekeranjang makanan. Dia menaruh keranjang itu di tengah-tengah teman-teman barunya.   "Waahh, makanan! Zhani, kau baik sekali!" pekik Ian mengambil satu bungkus makanan.   "Hmm, inisiatif yang bagus! Terima kasih! Seharusnya pejabat yang lain juga dermawan sepertimu!" kata Kaza yang sedang memilih makanan.   Zhani mengulas senyum. "Ini makanan kecil, tidak bisa diartikan dermawan dalam kebaikan. Makanlah!"   "Tentu saja bisa! Namanya orang baik dan mau mengeluarkan uang sedikit atau banyak untuk kepentingan orang lain, tetap saja namanya dermawan. Kebaikan memang tidak bisa diukur, tapi kau tetap baik walau memberi makanan yang jumlahnya tidak besar bagimu. Menghilangkan lapar dan membuat orang senang. Menurutku itu kebaikan dan dermawan! Hah, pasti kau mengeluarkan banyak uang untuk ini," kata Yaya sok bijak.   Mereka mengerjap dan Zhani terpaku. "Dari mana kau belajar semua itu?" tanya Zhani terheran-heran.   Yaya terkekeh. "Semua orang yang berhati baik pasti mengerti semua ini," senyum Yaya.  Zhani ikut tersenyum, "Kau unik! Ah, aku menemukan ini. Kupikir cocok untukmu jadi aku membelinya." Zhani menyerahkan sebuah pakaian berwarna putih bercampur abu-abu.   Yaya terbelalak, Ian dan Kaza juga berhenti makan. "Ini... Ini untukku?" tanya Yaya menatap Zhani dan pakaian itu bergantian.   Zhani mengangguk. "Merah muda memang bagus untukmu, tapi aku hanya menemukan warna putih. Setidaknya kau tidak memakai pakaian yang sudah robek," ucapnya sedikit malu.   Ian memukul pahanya membuat Yaya dan Zhani menoleh. "Pakaian robek itu milikku! Tidak apa-apa, aku tau kau tidak berniat mengejek. Zhani, kau sangat kaya! Ini pasti mahal, 'kan? Yaya, kau beruntung! Terimalah!" kata Ian sembari menunjuk pakaian itu dengan dagunya.   "Tidak mahal. Ini pakaian biasa para gadis." kata Zhani. Meneliti pakaian itu dengan baik.  Yaya sedikit mencebikkan bibirnya. 'Terlalu jujur!' batinnya.   "Yaya, pakai saja!" kata Kaza santai.   Yaya menatap mereka dengan wajah lugu. "Kalian sangat baik padaku. Zhani, apa ini tidak merepotkan?"   Zhani menggeleng. Menyodorkan pakaian itu pada Yaya yang masih merasa sungkan. Bahkan makanan Ian dan Kaza sudah hampir habis dan Yaya belum menerima pakaiannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN