Yaya tidak menduga akan seberuntung ini. Sebelumnya tidak ada yang membelikannya pakaian apalagi laki-laki. Semua laki-laki hanya menggodanya karena dia cantik. Tindakan Zhani membuat Yaya kebingungan meskipun memakai pakaian itu.
Kembali kesulitan karena tangan yang menyatu. Akhirnya pakaian putih-kelabu itu digunting dan dijahit kembali. Terpaksa Zhani harus keluar lagi untuk membeli benang dan jarum. Yaya geli karena hal itu.
Zhani selalu tersenyum karena pilihannya sangat tepat. Pakaian itu melekat sempurna di tubuh Yaya. Kaza dan Ian terus memandangi Yaya sampai tak berkedip. Yaya mencoba merapikan pakaiannya dengan menarik ujungnya.
"Apa aku terlihat bagus?" tanya Yaya masih sibuk membenahi diri.
"Itu jauh lebih baik!" kata Ian. Menggeleng pelan karena takjub.
"Kali ini kau lebih cantik dariku!" Kaza tersenyum lebih lebar. Pernyataannya membuat Yaya berdecih kecil. "Haha, kau mengaku cantik juga rupanya," ejek Yaya.
Kaza berdecak. "Ini takdir! Yang terpenting aku tetap tampan dan hebat!"
Yaya terkekeh dan ikut duduk. "Berhenti menatapku kalau tidak kupukul pakai mawar ini!" mengangkat tangannya di depan muka.
Mereka bertiga kompak menggeleng. Ian membuka satu bingkisan makanan yang tersisa. "Yaya, makanlah! Biar aku suapi!"
Bahagianya Ian menyuapi Yaya padahal Yaya menutup mulutnya rapat-rapat. "Kau tidak mau makan? Tidak menghargai pemberian orang. Zhani sudah membelikannya jadi makan saja!" kata Ian.
Yaya berdecak. "Bukan begitu, payah! Aneh rasanya makan disuapi, apalagi di depan kalian," Yaya melirik mereka.
Ian langsung menarik tangannya. Mereka berdeham mengerti keadaan Yaya.
"Memangnya kenapa? Kami memang laki-laki, tapi tidak membahayakanmu, 'kan? Kita ini teman. Tidak ada perbedaan wanita atau laki-laki. Kau bagian dari kami. Haha, ayo makan jangan sungkan!" seru Ian merangkul pundak Yaya dan menyuapi Yaya lagi.
Yaya tersenyum kaku. "Ini menggelikan! Lepaskan aku!" menggerakkan pundaknya meminta tangan Ian turun, setelah itu memakan makanan dari Ian.
"Huft, susahnya tangan menempel," desah Yaya sembari mengunyah.
"Apa boleh buat? Saat ini yang terpenting adalah menemukan cara melepaskan bunga itu." jawab Ian sambil menyuapi Yaya lagi.
"Aku yakin sangat sulit," kata Yaya setelah menelan makanannya.
Kaza dan Zhani menatap Yaya polos. "Kalian begitu dekat," Zhani membuat Yaya dan Ian menoleh. "Dia selalu menyuapiku saat makan. Tidak mungkin, 'kan kalau aku makan menggunakan kaki? Haha, tidak lucu!" jawab Yaya sembarangan.
Zhani hanya menggeleng dan Kaza tersenyum maklum. Kaza mengambil bungkus makanan Yaya dari tangan Ian. "Makan dari tanganku saja! Agar kau tidak bodoh seperti Ian!"
Yaya bingung dengan Kaza. Namun, tetap menerima suapannya.
"Heh! Sembarangan main ambil saja! Biar aku yang menyuapi Yaya!" Ian merebut kembali makanan itu.
"Aku juga ingin membantu Yaya makan!" balas Kaza mempertahankan makanan itu.
"Berikan padaku! Kau konyol sekali!" Ian menarik makanannya lagi.
"Sekarang giliranku, payah!" Kaza tidak mau kalah.
Yaya mendesah lalu menggeleng. Menatap langit-langit dengan penuh harap. "Kenapa kau memberiku situasi seperti ini? Aku jadi malu!" gumamnya berdoa.
Zhani mengerutkan dahi ikut memandang langit-langit. Yaya menatapnya heran. "Kenapa mengikuti?" sedikit menaikkan dagunya.
"Kurasa Sang Penguasa mendengar doamu. Cepatlah makan dan kita pergi. Aku tau tempat dimana bisa mendapatkan informasi tentang mawar. Mungkin kita juga bisa melepaskannya," jawab Zhani dan menurunkan pandangannya.
Yaya ternganga. "Wah, kau dapat pencerahan hanya menatap atap gudang? Hebat!" pekiknya senang membuat Ian dan Kaza berhenti bertengkar.
Zhani tersenyum miring. "Tidak ada yang seperti itu! Aku sudah memikirkanya sejak tadi," ujarnya santai.
"Ha? Benar-benar pintar, ya? Baiklah kalau gitu." Yaya mengendikkan bahu.
Yaya mendapat suapan dari Ian dan Kaza. Mereka masih ribut dan Yaya pasrah menerimanya. Zhani masih ragu untuk lebih akrab. Dia terlalu pendiam bagi Yaya. Selesai sudah makan yang penuh perdebatan, mereka keluar gudang dengan santai. Zhani sudah memastikan tidak ada prajurit ataupun warga sipil yang mengetahui identitas mereka. Yaya sedikit risih karena dia berada di tengah-tengah tiga laki-laki.
'Nasibku indah sekali!' batin Yaya.
"Kita akan ke kebun bunga. Satu-satunya kebun yang luas dan penuh berbagai jenis bunga di kerajaan Jhani. Sebagian dari mereka adalah tanaman obat. Temanku menjadi penjaga di sana. Dia sangat waspada, jangan sembarangan jika sudah di sana. Bunga-bunga itu adalah bahan utama untuk obat dan wewangian. Mereka penting bagi kerajaan," ujar Zhani sembari terus berjalan.
Yaya mengernyit. "Apa akan diekspor? Jumlah yang banyak pasti juga dibudidayakan, 'kan? Berarti ada banyak orang di sana. Apa mereka akan mengenali kita?" tanya Yaya.
"Ha? Apa itu ekspor?" tanya Zhani sedikit mengernyit.
Yaya menepuk dahinya dengan kedua tangan yang justru terkena daun mawar, "Ekspor itu kalian menjual barang ke negara tetangga. Misalnya kalian menjual bunga ke kerajaan lain. Kurang lebih seperti itu." Yaya mengangguk meyakinkan.
Zhani berpikir sejenak. "Perdagangan untuk antar kerajaan diatur oleh menteri. Kecuali tiap pasar daerah. Mereka memiliki tempat sendiri dan berdagang dengan bebas. Bahkan banyak toko dan kios yang tidak izin untuk menjual barang mereka. Kalau penjualan ke kerajaan lain, menteri sudah mengaturnya dengan baik," jawab Zhani sambil terus menatap Yaya.
"Ternyata juga ada menteri di sini. Kalau kau apa? Kenapa semua orang mengenalmu sebagai orang yang terpelajar. Kau punya keahlian khusus?" Yaya penasaran.
"Yaya, keahliannya hanyalah memikat para gadis! Setiap hari di pasar utama sering sekali banyak gadis memuji anak sang Jenderal. Aku sampai bosan mendengarnya!" Ian menyahut.
"Benarkah? Kau sangat terkenal!" Yaya menunjuk Zhani dengan dagunya.
Zhani terkekeh. "Itu menggangguku," Zhani sangat tenang.
"Apa maksudnya mengganggu? Kau tidak suka perempuan?" Kaza ikut menyahut tanpa memandang Zhani.
"Sudahlah, ini melenceng dari tujuan. Lebih baik kita ikuti Zhani. Siapa tau kalau memang bisa melepaskan mawar ini di sana." Yaya mempercepat langkahnya.
"Tunggu kami! Dia selalu saja mendahului!" gerutu Ian.
Tiga laki-laki itu mengejar Yaya. Tak terasa hari sudah sore. Yaya melongo melihat gerbang kayu yang lebar dan tinggi. Bahkan ada dua penjaga yang sempat menodong mereka. Untunglah ada Zhani yang kini tengah bicara dengan para penjaga. Yaya takjub saat gerbang itu terbuka. Hamparan bunga sangat menyegarkan mata.
"Wah, tak kusangka aku bisa kesini!" gumam Ian melongo.
"Sama seperti dulu!" gumam Kaza dan mengajak Yaya masuk.
Yaya melangkah saja tidak sadar jika Kaza yang menariknya. Di sibuk memandang semua tanaman cantik yang bahkan ada yang belum mekar.
"Setiap sudut tempat ini dipenuhi bunga. Jenis obat-obatan ada di sebelah utara. Bunga langka dan bernilai tinggi ada di selatan. Selebihnya...," Zhani menjelaskan dan yaya memotongya. "Pasti bunga-bunga yang cantik! Huaaa, aku tidak percaya ini! Walau di zamanku aku belum pernah melihat hamparan bunga seperti ini!" pekik Yaya.
Dia kabur dari cekalan kaza dan berlari ke tengah-tengah bunga. Tidak ada orang selain penjaga di gerbang.
"Kenapa perempuan suka bunga. Aku biasa saja!" Ian menggeleng heran.
"Kau tidak suka? Aku suka sekali! Hmm, harumnya!" Kaza menepuk pundak Ian dan menikmati aroma segar.
"Tentu saja! Kau pemburu bunga mawar, mana mungkin tidak suka bunga!" Ian melepaskan tangan Kaza dari pundaknya paksa lalu mengejar Yaya.
Namun, sesuatu yang sama terjadi lagi. Seketika Yaya berhenti tersenyum. Tangannya silau membuat Ian segera membuka ikatannya tanpa ragu. Silau merusak pandangan. Yaya mengernyit sekejap kemudian terbelalak. Sontak Zhani dan Kaza mendekat.
"Mawarnya bersinar lagi!" Yaya percaya jika ini yang jelas tiga kalinya mawar itu bersinar.
Ian, Kaza, dan Zhani merasa silau saat sinar itu bertambah terang dan merah. Namun, terus berusaha melihat.
"Mustahil! Tidak ada yang mengancam dan hal mencurigakan, tapi mawarnya bersinar kembali. Pertanda apa ini?" kata Ian yang menyilangkan tangan di wajahnya.
"Silau sekali! Izinkan kami melihatmu!" seru Zhani pada bunga mawar.
Sedetik kemudian bunga mawar itu membuat keajaiban. Yaya dan tiga laki-laki itu bisa melihat mawar itu dengan jelas meskipun sinarnya terang menyala.
"Luar biasa! Terima kasih bunga mawar! Yaya, apa yang terjadi?" ujar Zhani.
Kaza mengerjap dari mawar itu dan bersiap siaga jika ada ancaman. Ian bergerak ke depan Yaya untuk menutupi mawar itu dari orang yang datang.
"Aku tidak tau! Kalau mawar ini bersinar... Biarkan aku pulang! Zamanku sudah berbeda! Ayo buat aku pingsan dan kembali ke tokoku!" seru Yaya pada mawarnya penuh harap.
Bukannya mendapat jawaban, tetapi keajaiban lain datang. Seluruh bunga di kebun itu bersinar. Mereka yang belum mekar juga bersinar. Merah yang akan membutakan siapapun yang melihatnya.
Yaya tersentak. "Ini tidak mungkin! Apa yang terjadi?! Kau mau bilang apa?!" Yaya memarahi mawar itu meskipun takut.
"Aku tidak mengerti sama sekali. Yaya, jika mawar itu terus bersinar, orang-orang akan datang dan curiga! Cepat hentikan dia!" kata Zhani sedikit meninggalkan suaranya.
"Bagaimana aku bisa? Ini di luar kendaliku! Juga bukan keinginanku!" Yaya membentak Zhani.
"Yaya, aku melihat seseorang sembunyi di sana. Dia tidak kesulitan melihat kita karena silau," ucap Ian.
Yaya mundur dan menabrak Zhani. Mereka saling pandang dan Yaya memalingkan wajahnya. "Aku rasa kita akan tertangkap. Lakukan sesuatu!" pinta Yaya.
'Bunga-bunga itu terlihat aneh karena ikut bersinar,' batin Yaya.
Tidak terduga, mawar itu perlahan terlepas dari tangan Yaya. "Ha! Teman-teman, mawarnya akan lepas!" pekik Yaya.
Mereka berbalik terkejut. Mawar itu benar-benar lepas dari tangan Yaya dan terbang ke arah yang Ian maksud. Yaya menghela napas panjang merasakan tangannya sedikit lega. Dia menggenggam tangannya kuat lalu merenggangkannya sebentar.
"Aku bebas!" pekik Yaya senang.
"Ini... apa lagi? Kenapa mawarnya terlepas sungguhan? Hei, dia mau kemana?" heran Ian.
Yaya berhenti memekik senang. Menganga menatap mawarnya yang terbang dan terus memancarkan cahaya.
"Tidak ada orang, penjaga pun tidak datang. Apa tidak ada alasan kenapa mawarnya lepas?" tanya Kaza dan kembali waspada.
Zhani berdecak, "Dimana Syandu?" gumamnya sembari celingukan.
Yaya dan Ian menatap Zhani. Sedangkan Kaza bersiap terus memandangi tempat yang diarahkan Ian ada yang mengawasi.
"Syandu? Siapa dia?" tanya Yaya sambil mengerutkan dahi.
Zhani akan menjawab, tetapi Seruan keras menahannya dan mengagetkan mereka. "Itu aku!"
Disertai lemparan pedang yang meluncur cepat. Mata Yaya melebar seolah pedang itu menuju ke arahnya, tetapi mawar itu justru kembali menempel di tangan Yaya dan tangkisan kuat dari tongkat Kaza menghentikan pedang itu bersamaan. Sinar itu menghilang seakan terserap mawar di tangan Yaya. Yaya sampai memekik kaget karena tangannya memegang mawar lagi.
"Baru saja bebas, kenapa kembali lagi?!" Yaya melototi mawar itu.
Yaya kembali tertarik pada gadis yang bernama Syandu. Perempuan itu muncul dari tempat persembunyian dan akan mengambil pedangnya, tetapi Kaza menahannya dengan tongkat.
"Tindakanmu tidak baik!" desis Kaza, matanya menyorot tajam.
Yaya bingung, "Kau yang menyerang tadi?"
"Iya! Namaku Niara Syandu. Penjaga kebun bunga ini yang diutus langsung oleh raja. Kau... Pembawa kutukan itu, iya, 'kan?!" seru Syandu menunjuk Yaya. Yaya kaget, berpikir negatif jika Syandu akan membawanya kembali pada raja.
"Jaga mulutmu!" Kaza tidak terima. Memukul tangan Syandu dengan tongkatnya.
"Oh, Tuan pemburu yang diburu juga ada di sini. Aku senang kau menemukan mawarmu, tapi aku harus menghabisinya!" dengan sekali hentakan pedang itu berhasil diraih Syandu dan akan menyerang Yaya.
Kaza melotot, dia segera membalas serangan pedang dan mendorong Syandu menjauh. "Penjaga bunga tidak akan menyakiti bunga lain!" kata Kaza di sela pertarungan.
"Kalau bunga itu kutukan, kenapa tidak?!" Syandu marah. Dia lebih gesit dari Kaza, tetapi tak lebih kuat dari Kaza sehingga sering jatuh dan dipukul. Tongkat hitam Kaza bahkan tak tergores sedikitpun oleh pedang. Yaya sampai terkagum-kagum.
"Tongkat itu pasti ajaib! Pedang tidak bisa menggoresnya apalagi memotongnya," gumam Yaya tanpa berkedip.
"Yaya, kau tidak apa-apa? Mawarnya kembali." tanya Ian memeriksa tangan dan Yaya.
Yaya mengerjap memandang Ian. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kaget karena sempat bebas tadi. Tapi sekarang masalahnya berbeda. Bagaimana dengan Kaza?" menjadi panik menunjuk Kaza dengan mawarnya.
Ian berbalik, "Mereka memakai senjata, aku mana bisa?"
Zhani berdecak dan memisahkan pertarungan temannya. "Syandu, hentikan! Kami datang dengan maksud baik!"
Serentak Syandu dan Kaza menahan serangannya. "Zhani, tak kusangka kau akan memberontak dan membela gadis itu. Jangan salahkan aku jika menyerangmu juga!" Syandu masih marah dan berganti ke arah Zhani, tetapi lagi dan lagi Kaza menahannya. "Lawanmu adalah aku!"
"Aku tidak akan segan!" balas Syandu menantang.
Perkelahian berlanjut. Suara dua senjata itu menggema di udara. Anehnya tidak ada satu pun orang yang datang. Zhani merasa ada yang mengganjal. "Yaya, Ian, kalian periksa tempat ini dan cari orang-orang!" seru Zhani.
Yaya mengangguk, menendang kaki Ian pelan untuk mengajaknya pergi. Sedangkan Zhani membujuk Syandu untuk mendengarkannya.
'Kenapa jadi berkelahi?' batin Zhani.
Yaya mengitari sisi utara dan Ian di selatan. Sungguh tidak ada orang lain dan tanda bahaya lagi. Mawar itu juga tidak menunjukkan reaksi. Angin bahkan enggan berhembus. Yaya menemukan banyak jenis bunga untuk obat, tetapi tidak satu pun dari mereka yang Yaya tahu. Tiba-tiba teringat Ian di sebelah selatan. Banyak bunga bernilai tinggi, Yaya takut Ian akan mencurinya. Segera berlari menghampiri Ian. Matanya melebar karena melihat Ian akan mencabut salah satu bunga sambil tersenyum menyeringai.
"Ian Kafurai! Jangan diambil!!" teriak Yaya sambil melangkah cepat. Ian kaget, dia segera lari dan Yaya mengejarnya.
"Berhenti! Tidak tau apa kau sudah mengambilnya atau belum! Ian, berhenti!" pekik Yaya sembari lari.
Karena lelah, Ian duduk di antara bunga-bunga itu. Yaya juga lelah, dia mengatur napasnya yang terengah. Menatap sekeliling yang jauh berbeda di sudut utara dan di dekat gerbang. Namun, perbedaan ini juga sedikit berbeda dari bunga segar yang lain. Mereka seperti sekarat.