Yaya mengatakan kecurigaannya pada Zhani dan Kaza. Seketika perkelahian berhenti. Syandu terlihat sangat khawatir dan segera berlari menuju selatan. Yaya yang tidak mengerti dia ikut mengejar Syandu. Terpaksa tiga laki-laki itu mengikutinya. Mereka takut jika Yaya diserang Syandu.
"Tidak! Ini gawat! Aku harus melakukan apa lagi?" Syandu menerobos para tanaman bunga mahal itu dan menuju sebuah rumah kecil.
Yaya mengerutkan dahinya karena Syandu tak menutup pintu setelah masuk. Sempat berpikir jebakan dan Yaya ragu untuk masuk, tetapi penasarannya mendorong lebih jauh. Dia terkejut karena Syandu mencari sesuatu dengan sangat terburu-buru sampai beberapa barang jatuh.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" Yaya mencoba menghentikan Syandu. "Apa yang terjadi? Bunga-bunga itu bermasalah? Mereka agak berbeda!" lanjut Yaya sambil terus mengikuti pergerakan Syandu.
"Diam kau! Bukan urusanmu!" Syandu mengarahkan pedangnya ke leher Yaya.
"Turunkan pedangmu! Katakan saja yang sebenarnya, mungkin aku bisa membantu," Yaya sedikit meringis.
Syandu menarik pedangnya meskipun masih menatap Yaya tajam. Pandangannya turun ke mawar Yaya. Dia tersentak, Yaya mengerti lalu sedikit menjauh.
"Ini tidak akan berbahaya jika kau mau bekerja sama. Percayalah!" ujar Yaya mengerti kecemasan Syandu.
"Apa jaminannya kalau mawar itu menyakitiku sampai membunuhku?" Syandu melirik Yaya bengis.
"Nyatanya aku tidak mati sejak memegang mawar ini, karena niatku tidak buruk. Kau juga tidak perlu cemas." Yaya menggeleng pelan.
"Maksudmu menuduh raja terdahulu berniat buruk sampai dia meninggal karena sihir mawar, begitu?!" Syandu mengarahkan pedangnya lagi ke leher Yaya.
Yaya sedikit mendongak ngeri. "Tajam sekali! Bukan begitu maksudku! Aku hanya mau bilang kalau mawar ini tidak seburuk yang kalian kira!"
Kemudian Ian, Kaza, dan Zhani datang. "Syandu!" bentak mereka bersamaan membuat Yaya dan Syandu terkejut dan menoleh. Mereka sendiri bingung kenapa bisa serentak.
"Turunkan senjatamu! Dia bersamaku!" ujar Zhani menarik Yaya ke sisinya.
"Jangan sentuh aku!" Yaya menarik lengannya membuat Zhani menoleh dan melepaskan Yaya.
"Zhani, sadarlah! Dia itu...," Syandu menunjuk Yaya tidak suka. Namun Zhani memotong ucapannya. "Dia temanku!"
Deg!!
Bukan hanya Yaya, tetapi Ian dan Kaza juga terkejut. Sejak bersembunyi di gudang Zhani belum mengakui pertemanan mereka, sekarang mereka bisa mendengarnya langsung.
"Teman? Aku juga temanmu, kenapa tidak membelaku? Serahkan mawar dan perempuan ini ke istana atau aku yang bertindak!" Syandu tersulut amarah.
Yaya berdecak santai. "Lupakan itu dulu, sekarang katakan apa yang terjadi dengan bungamu? Mereka seperti sekarat. Apa terkena wabah penyakit?" tanya Yaya sungguh-sungguh.
"Dia tidak takut dengan Syandu?" bisik Ian pada Kaza.
"Kurasa sedikit takut, tapi Yaya memberanikan diri karena penasaran dengan para bunga mahal itu," balas Kaza juga berbisik.
"Syandu, jika ada masalah, lebih baik lapor aparat kerajaan," saran Zhani.
Syandu sedikit tenang. Pandangannya juga meredup. "Aku harus apa, Zhani? Semua orang pergi karena takut penyakit di bunga itu akan menular. Hanya aku yang tinggal dan tidak ada yang mengetahui penyakit ini. Aku yakin mereka tidak menular. Nyatanya hanya bunga yang bernilai tinggi yang diserang. Kupikir ini tipu muslihat musuh, tetapi tidak ada tanda-tanda kejahatan di sini. Bagaimana aku harus lapor pada raja? Pasti aku akan dihukum berat," keluh Syandu.
Zhani sangat terkejut begitu juga Yaya. "Sudah sejak kapan?" tanya Yaya.
"Yaya, kenapa kau peduli? Dia saja mau membunuhmu," seru Ian dan diangguki Kaza.
"Sejak dua hari terakhir. Kau mau membantuku, 'kan? Konyol! Kalau begitu kutantang kau! Atasi permasalahan ini dan aku akan melepaskanmu, jika tidak berhasil aku akan menghabisimu! Kerajaan tidak akan menghukumku jika kau mati!" desis Syandu.
"Hei, perempuan bengis! Jahat sekali kau pada Yaya! Memangnya dia menyinggungmu? Bertemu saja baru!" seru Ian lagi.
"Bukankah mawar itu menunjukkan reaksinya tadi? Aku rasa mawar itu akan berbuat hal buruk! Aku takut mawar itu akan merubah kebun ini!" jawab Syandu sedikit marah pada Ian.
"Dasar alasan! Zhani, atasi temanmu itu! Aku jadi lupa tujuan kita kemari." Ian berdecak dan berkacak pinggang.
Kaza menghentakkan tongkatnya dan terjadi gelombang yang mengagetkan Yaya, Zhani, dan juga Syandu hingga menatapnya. "Apa? Aku hanya mau bilang kalau Yaya tidak punya pilihan lain. Buktikan jika kau bisa, Yaya! Bungkam mulut penjaga kebun itu!" melirik Syandu.
Yaya mengerjap. "Tongkatmu hebat sekali! Dari mana kau dapat? Aku juga mau!" Yaya justru memekik senang.
"Sembarangan! Ini hanya dimiliki para pemburu mawar!" Kaza melengos dan Yaya berdecak.
"Yaya, apa kau bisa?" tanya Zhani ragu.
Yaya mengangguk pelan. "Aku pasti bisa! Lagipula aku ini penjual bunga mawar. Sudah keahlianku merawat mawar. Itu tidak berbeda dengan bunga yang lain," ujarnya dengan sorot mata yang berpindah-pindah.
"Lalu, kenapa matamu terlihat khawatir?" Zhani menunjuk mata Yaya.
Yaya mendelik. "Aku? Haha, tidak khawatir, kok! Ayo, kita lihat apa yang terjadi!" Yaya semangat dan keluar lebih dulu.
Zhani ingin menahannya, justru dia yang ditahan Syandu. "Kenapa kau menolongnya?" tanya Syandu sedikit menuntut. Zhani hanya diam memandang Syandu tidak bisa menjawab. "Apa karena dia cantik?" tanya Syandu lagi lebih menelisik.
Zhani mendelik. "Syandu, apa ini? Berhenti berpikir buruk pada Yaya. Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Kau bahkan tidak tau siapa dia," balas Zhani membungkam mulut Syandu.
Zhani pergi menghampiri Yaya yang mengitari para bunga bertarif mahal nan langka itu bersama dua temannya. Syandu ikut melihat hanya di depan pintu. Dia hanya memperhatikan Yaya.
"Yaya, ada kolam! Ada bunga teratai juga!" seru Ian.
Yaya mendekat dan jongkok di tepi kolam. "Mereka cantik! Kurasa teratai tidak semahal itu sampai ditaruh di sini," ujarnya.
"Benarkah? Berapa harga bunga teratai?" tanya Ian.
"Aku rasa sama seperti lemari kayu berlapis kaca," jawab Kaza yang berdiri di belakang Yaya.
"Hahaha, aku tidak tau, tapi yang pasti tidak terlalu mahal. Apa ini langka di kerajaan Jhani?" Yaya berbalik pada Kaza.
Kaza menggeleng. "Tidak! Ini ada banyak di sungai, rawa, kolam, dan dimana-mana!"
Yaya mendesah kembali menatap semua teratai. "Lalu kenapa diletakkan di sini?" gumamnya.
'Kalau aku gagal mencari solusinya, Syandu pasti akan menyerahkanku ke istana. Aku tidak bisa membahayakan Ian, Kaza, dan Zhani. Pikirkan sesuatu, Yaya!' batin Yaya.
Air begitu tenang tanpa gangguan. Melirik mawar itu juga tak bereaksi apapun. Tidak ada petunjuk dan Yaya hanya tahu jika para bunga mahal itu sedikit layu. Tentu saja tidak akan bisa dijual. Merawatnya saja susah. Jika terus berlanjut akan menyebabkan hal buruk pada perdagangan di kerajaan. Itu juga terus terngiang di kepala Yaya.
Hingga Zhani bergumam membuat mata Yaya melebar. "Air itu jernih sekali. Apa Syandu membersihkannya setiap hari? Rajin sekali!"
Yaya kembali melengos seakan kesal. "Dia bukan rajin. Memang sudah tugasnya, bukan?"
Zhani tersenyum tipis dan duduk di samping Yaya. "Iya, aku hanya memujinya," sengaja mengatakan dengan jelas dan melihat reaksi Yaya.
"Haha, teman yang baik! Minggir, aku mau lewat!" Yaya berdiri dan ingin melintas Zhani membuat Zhani hampir tersungkur ke kolam.
Namun, sesuatu seakan mencegah Yaya pergi. Yaya seperti dihasut untuk terus menatap kolam.
"Ada apa?" tanya Zhani. Ian dan Kaza menjadi curiga. Memandang Yaya dan kolam teratai bergantian.
"Yaya seperti terhipnotis!" ujar Zhani lagi dan berdiri. Menggoyangkan pundak Yaya pelan, tetapi Yaya tak bereaksi. Berkedip saja tidak.
"Yaya? Kau dengar aku? Yaya!" seru Zhani sambil menggoyangkan Yaya lebih kencang.
"Kenapa dengan Yaya?" Ian panik.
Zhani terus mencoba menyadarkan Yaya. Dia tersentak karena tangan Yaya bergetar menunjuk kolam.
Zhani mundur selangkah, "Sepertinya mawar itu ingin menunjukkan sesuatu."
Syandu yang penasaran ikut mendekat. "Kenapa kalian berhenti mencari tau? Apa mawar ini berulah lagi?" menarik pedang dari sarungnya.
"Tahan, Syandu!" seru Zhani membuat Syandu memasukkan pedangnya lagi. "Yaya sedang di bawah alam sadar. Dia seperti terhipnotis!" lanjut Zhani.
Syandu terkejut. "Siapa namanya? Yaya? Hei, sadar sekarang juga! Kalau tidak kupenggal kau!" ancamnya.
"Bicaramu sok hebat. Bermain denganku saja kalah," balas Kaza.
Syandu memalingkan wajahnya, "Kuakui kau hebat, Tuan pemburu mawar."
Kaza berdecak acuh. Kembali fokus pada mawar yang bergetar. "Kenapa Yaya selalu melihat kolam?" heran Kaza.
"Menurutmu ini tidak bahaya untuk Yaya? Dia dari tadi diam dan kalian sangat tenang," Ian bertanya pada Kaza dan Zhani.
"Dia baik-baik saja. Mawar itu mau menunjukkan sesuatu," kata Kaza santai.
Zhani memeriksa suhu Yaya dengan menempelkan tangannya ke dahi dan leher Yaya membuat Syandu sedikit tersentak. "Tidak ada perubahan suhu. Tidak ada luka dalam," kata Zhani.
Ian sedikit lega karena mawar itu memang tidak pernah menyakiti Yaya. "Aku masih bingung kenapa mawar itu memilih Yaya? Dia lepas dan kembali ke Yaya. Tidak mau ke orang lain?" gumamnya.
Zhani menyuruh Kaza mengecek air kolam dengan tongkatnya. Dengan sekali pukulan kecil, semua teratai menepi dan cahaya merah mengalir dari mawar ke tongkat Kaza hingga jatuh di permukaan air.
"Tahan, Kaza!" Zhani menghentikan Kaza yang kaget dan ingin menarik tongkatnya. Pasalnya tangannya jadi merah karena memegang tongkat, serasa memegang cahayanya.
"Lihat... Itu berubah!" ujar Zhani menyita perhatian semua orang untuk melihat air kolam yang bergelombang kecil seiring sinar itu terus mengalir.
Serentak mereka menaikkan alisnya dan menahan pekikan. Sesuatu muncul ke permukaan air membentuk sebuah tulisan. Kembali dikejutkan dengan Yaya yang bergumam. Mereka menatap Yaya dan tulisan air itu bergantian.
"Zuzalwa Yaya. Kau tidak akan pernah pergi sebelum memecahkan misteri yang tertinggal. Kupercayakan padamu gadis malang sang penjual mawar. Keikhlasan dan ketulusanmu secantik dirimu. Hatimu murni, niatmu bersih. Bukan semata-mata karena uang dan ambisi durjana. Kematian raja kerajaan Mawar adalah kuncinya. Dua zaman terhubung karena Zuzalwa Yaya dan mawar merah." Yaya bergumam tanpa sadar.
Dia membuat Ian dan Syandu merinding. Sedangkan Kaza dan Zhani terus berpikir pada ucapan Yaya.
"Apa Yaya akan ingat setelah ini? Ternyata benar jika mawar itu adalah mawar sihir yang hilang. Dia memilih Yaya untuk memecahkan misteri," kata Zhani.
Kaza mengernyit dan membaca tulisan air yang sudah mulai jelas. "Astaga! Ini tentang raja terdahulu!" pekik Kaza. Mereka semakin mendekat ke kolam. Mereka membaca penuh teliti. Tulisan itu mengatakan jika raja terdahulu mati di dekat kolam. Namun, tidak dikatakan bagaimana kejadiannya.
"Aku baru tau jika raja meninggal di kebunku," gumam Syandu menarik perhatian Zhani. "Semua orang tidak mengatakan kematian raja dengan jelas. Wajar kalau kau tidak tau karena aku juga tidak tau," Zhani menimpali.
Kaza hampir memekik karena cahaya merah itu kembali mundur dan merambat di tongkatnya. Mawar itu berhenti bergetar dan Yaya sadar.
"Hah! Aku... Aku tertahan!" pekik Yaya sambil mengatur napasnya.
Teratai kembali ke posisinya dan air menjadi tenang. Semua orang berdiri menatap Yaya.
"Kau tidak apa-apa. Ada yang sakit? Sesak napas?" tanya Ian beruntun sambil meraba wajah Yaya sampai Yaya geram. "Ih, tanganmu pahit! Aku tidak apa-apa, Ian! Biarkan aku bernapas lega dulu!" Yaya meringis sambil menggeleng.
Kaza masih syok karena mendapat kesempatan menjadi perantara mawar. Dia terus memandang tangan dan tongkatnya, "Para kakak satu kelompokku, kematian kalian alam terbalaskan dengan ini! Aku... Bersama Yaya dapat kesempatan mengembalikan bunga mawar! Keadilan juga akan ditegakkan! Raja yang sekarang... Kupastikan akan membusuk di penjara karena berani memberi perintah menghabisi kalian." mendongak seakan bicara pada anggota kelompoknya. Tujuan mereka semua berbeda. Namun, dipertemukan di waktu yang sama.
"Ini keajaiban. Aku ingat semuanya! Aku dikendalikan oleh mawar ini. Dia bicara padaku lewat diriku sendiri. Bagaimana caranya aku juga tidak tau, tapi aku ditahan untuk terus melihat ke kolam," pekik Yaya dengan mata melebar.
"Iya! Tadi mawar itu menuliskan sesuatu di air. Dia bilang disinilah tempat raja terdahulu tiada. Apa kau bisa mengulangi petunjuk mawar tadi?" Zhani berharap.
Yaya menatap kolam sambil berpikir. "Tidak bisa kukatakan semuanya, tapi ingat semuanya. Aku adalah orang yang terpilih untuk memecahkan misteri bunga mawar dan kematian raja terdahulu. Karena aku merawat mawar sepenuh hati dan tidak gila ambisi durjana. Apa itu ambisi durjana? Aku hanya tau ambisi duniawi. Jujur saja... Aku memang tidak suka berlebih-lebihan apalagi uang. Meskipun terkadang aku suka jika uangku banyak. Tetap saja aku hidup sederhana. Masalahnya... Kenapa karena ambisi itu mawar bersihir ini memilihku? Apa hubungannya? Inilah misterinya! Aku harus memecahkan misteri ini agar aku bisa kembali!" seru Yaya.
"Pemikiranmu masuk akal. Tidak kusangka kau juga pintar," kata Zhani sedikit mengulas senyum.
"Haha, aku hanya menggunakan otakku," jawab Yaya berubah melemah. Wajahnya jadi murung. Mawar itu dipandangnya lekat-lekat. "Terima kasih sudah percaya padaku, tapi aku takut mengecewakanmu dan diriku sendiri. Aku hanya gadis biasa, di sini bukanlah tempatku. Bahaya selalu mengancamku. Kalau aku tidak bisa melindungi diri bagaimana? Ini tugas yang besar," gumam Yaya.
Pesimis yang membuat tiga laki-laki itu menggeleng menolak. Mereka tidak terima jika Yaya putus asa. Sudut pandang kerajaan Jhani tentang bunga mawar bisa diubah karenanya.
"Yaya, kau bilang apa? Ada kami, 'kan?" kata Ian ikut meredupkan pandangan.
Yaya berbalik dan tersenyum manis, "Terima kasih banyak. Ngomong-ngomong, hari sudah sore. Aku belum menemukan solusi untuk para bunga mahal ini. Bagaimana kita sambung besok dan istirahat dulu? Kurasa Nona penjaga kebun tidak keberatan." melirik Syandu.
Syandu sedari tadi terdiam menjadi sadar. "Apa?"
"Ayolah, Syandu. Kau sudah tau semuanya dan masih tidak percaya. Tidak mau membantu?" tanya Zhani.
Syandu mendesah, "Baiklah, silahkan singgah sebentar." ujarnya mempersilahkan.
Yaya tertawa renyah dan menendang kaki Ian mengajaknya ke rumah itu. Dia selalu tersenyum sejak mendapat petunjuk pertama. Kini Yaya tau apa yang harus dilakukan.