13. Perdagangan Licik

2286 Kata
 Teh dan sup mengeluarkan aroma menenangkan. Asapnya masih mengepul. Yaya terus menatap sup itu tidak berselera makan. Pikirannya penuh dengan beberapa jam yang lalu. Matahari sudah terbenam. Udara dingin mulai berhembus menusuk tulang. Tidak ada api yang bisa memberi kehangatan untuk Yaya, kecuali api semangat yang berkobar. Sayangnya, Yaya seperti tak bertenaga. Semua orang menatapnya. Syandu pun tidak berkutik sejak menyaksikan keajaiban mawar penuh sihir itu sendiri. Dia yang membuat tahun dan sup itu di menjamu tamu.   "Kenapa tidak ada yang makan? Nona Syandu sudah membuatnya susah payah. Setidaknya minum teh-nya." Yaya mengerjap sekali sebelum bicara. Senyumnya masih tersungging manis.   "Mana mungkin kami bisa makan kalau kau berkelut dengan pikiranmu?" jawab Ian pelan.   "Haha, aku tidak sedang berpikir. Hanya melamun," Yaya tetap tersenyum.   "Senyummu penuh pertanyaan, Yaya," timpal Zhani.   Yaya menatap Zhani datar. "Pertanyaan mudah sekali terpancar dari ekspresi, tapi jawabannya? Susahnya setengah mati!" jawab Yaya mendesis. Zhani sampai mengerjap berkali-kali lalu berpaling.   "Aku mengerti posisimu. Lalu, kenapa jika ini sulit? Ada aku, Ian, dan si pintar ini!" Kaza menunjuk wajah Zhani.   Yaya terkekeh, "Kalian bisa dalam bahaya karenaku. Saat ini saja kita menjadi buronan. Itu tidak akan terjadi jika kalian tidak bertemu denganku."  "Hei, bicaramu buruk sekali! Kalau aku tidak bertemu denganmu, bagaimana bisa dapat melawan bahaya? Ini menenangkan, haha!" canda Ian.   Yaya menyikut Ian. "Aku ingin sekali menendangmu!" candanya.   "Ian benar! Kita sudah berteman, jadi harus berbagi. Lagipula kita di tujuan yang sama. Jangan putus asa! Kau tidak akan mati dengan mudah di sini. Aku akan melindungimu!" ujar Kaza sambil mengedipkan sebelah matanya.   Yaya ternganga. "Kau genit sekali!"   "Hahaha, aku suka ini!" tawa Kaza.   "Aku juga akan menjagamu!" seru Zhani serius.   Yaya tertegun. "Ha? Dari tadi kau diam tiba-tiba bicara begitu? Memangnya tidak takut dipenggal Yang Mulia raja? Ayahmu pasti akan marah besar," Yaya menakuti, tetapi Zhani terkekeh. "Aku lebih takut kau salah paham padaku seperti sebelumnya," jawab Zhani tanpa ragu.   Yaya tersenyum-senyum mendengarnya. "Ck, kalian senang sekali menghiburku!"   "Hehh? Pipimu bersemu merah?" Ian mencolek pipi Yaya.   "Benarkah?" Yaya melotot salah tingkah.   Tiga laki-laki itu tersenyum melihat tingkah Yaya. Syandu lebih diam dari sebelumnya. Mendengar Zhani ingin menjaga Yaya, ada rasa tidak suka di hatinya. Melihat Yaya yang berusaha menghilangkan semburat malu di wajahnya, Syandu juga mengamati Zhani yang memandang Yaya terus. Dia meremas sarung pedangnya kuat.   'Zhani, bahkan kau tak pernah bilang akan menjagaku. Dengan mudahnya kau mengatakan itu untuk Yaya? Apa karena parasnya atau karena dia yang terpilih?' batin Syandu.   Mereka memakan sup dan tidak ada yang tidur. Yaya memilih berjalan-jalan di antara para bunga mahal dan langka. Ada beberapa pelita dan obor yang menerangi. Apanya membuat wajah Yaya sedikit berkilau saat mendekatinya. Langit tidak memancarkan sinar bulan karena mendung. Yaya berjalan sendirian karena melarang temannya untuk mengikutinya. Setelah memikirkan baik-baik, Yaya akan terus berjuang demi menguak kebenarannya. Satu-satunya jalan untuknya kembali pulang dan kerajaan Jhani mendapat mawarnya kembali.   'Apapun rintangannya, aku pasti berhasil! Ini bukan hanya tentang aku, tapi pemikiran semua orang di kerajaan Jhani. Mereka harus mengubah pandangan jika mawar bukanlah hal yang harus ditakuti. Kaza berusaha, satu mawar mungkin punya sihir, tetapi tidak semuanya juga punya sihir. Ian juga benar, kita satu keluarga. Kita bersama-sama. Dia selalu melindungiku sejak aku datang. Zhani, dia pun mengatakan hal yang sama. Rela melawan perintah raja dan ayahnya untuk menjagaku. Aku tidak bisa mengacuhkan mereka. Mawar ini... Akan terus aman bersamaku sampai waktunya tiba,' batin Yaya.   Yaya berjalan menuju salah satu obor di tengah-tengah jalan. Dia menyinari mawar di tangannya yang masih belum ditutup sambil tersenyum. "Aku bukan orang lemah dan bodoh! Tidak akan kusia-siakan kesempatan ini!" serunya semangat.  Dia kembali mengamati bunga-bunga itu. Tidak menyebarkan kerusakan dan hanya bertahan di bunga yang mahal. Yaya pikir pasti ada sesuatu yang terjadi saat bunga itu disentuh orang lain, dalam artian ada orang yang sengaja merusaknya. Yaya terbelalak saat menemukan sesuatu. Dia segera berlari menuju rumah kecil itu. Mencari Syandu yang sedang bicara dengan Zhani.   "Nona Syandu, aku ingin bicara sebentar!" Yaya memaksa.   Syandu berdiri. "Lancangnya kau memerintahku!"   "Aku tidak peduli! Aku butuh jawabanmu dengan jujur!" Yaya serius. Mengundang yang lainnya mendekat.   "Maksudmu?" Syandu mulai penasaran.   "Dua hari yang lalu, bunga-bunga mahal itu masih sehat, bukan?" tanya Yaya dan Syandu mengangguk.  "Semua temanmu lari karena takut tertular, benar?" tanya Yaya lagi dan Syandu mengangguk.   "Mereka hanya takut, sementara tidak bisa dicurigai. Selanjutnya, aku bertanya lebih jauh. Siapa saja yang datang kesini dua hari yang lalu selain para penjaga? Meskipun itu orang istana atau pihak perdagangan sekalipun!" Yaya tidak berkedip.   Zhani bergabung dengan Ian dan Kaza. "Yaya serius. Apa dia tau sesuatu?" bisik Zhani bertanya.   "Kau yang pintar kenapa tanya kami? Dari tadi kami di rumah!" balas Ian tanpa mengalihkan pandangan dari Yaya.   "Sepertinya Yaya memang mengetahui suatu hal," balas Kaza.   "Emm, ada satu orang yang memaksa ingin melihat langsung beberapa bunga yang mahal. Dia pedagang kaya yang suka mengoleksi tanaman mahal. Jangkauannya cukup luas hingga berdagang ke berbagai kerajaan. Dia seperti pengembara. Dia membeli banyak bunga mahal yang khusus tidak masuk daftar penjualan yang diatur menteri. Semua orang juga bebas membelinya. Setelah itu dia tidak terlihat lagi." jawab Syandu jujur.   "Itu dia! Seratus persen aku curiga padanya. Kalau kau butuh bukti, cepat cari orang itu dan bawa beberapa tanaman koleksinya yang dijual dan geledah barang bawaannya. Sepertinya dia melakukan konspirasi dengan pihak lain agar kerajaan Jhani tidak bisa menjual bunga mahalnya ke berbagai tempat."ucapan Yaya membuat semua orang terkejut.   "Tapi apa untungnya bagi orang itu?" tanya Syandu bingung.  "Tentu saja itu akan menguntungkan baginya, Nona Syandu! Sebagai orang ke tiga dia menjadi jalan penghubung antara transaksi penjualan bunga ini! Coba bayangkan kalau kerajaan Jhani tidak bisa menjual dan memproduksi bunga mahal lagi, pasti keuangan kerajaan akan berkurang. Nama kerajaan tidak akan melambung seperti sebelumnya. Kerajaan akan di nilai buruk di dunia kualitas bunga mahal. Kau akan disalahkan sebagai penjaga kebun. Masih banyak lagi kerugian yang kalian dapat. Sedangkan... Orang itu akan mendapat banyak kesempatan untuk menjual koleksinya di kerajaan Jhani maupun kerajaan lain. Dia akan lebih kaya, terlebih lagi mendapatkan imbalan yang mahal dengan pihak yang menyuruhnya. Lalu, pihak lain itu adalah kunci utamanya. Dia bisa bebas berniaga kemana saja dan menjual bunganya dengan nilai lebih tinggi. Karena sudah mengalahkan kerajaan Jhani dalam hal ini. Dia pikir, kerajaan Jhani memiliki kualitas bagus, jadi dia merasa tersaingi. Bunga mahal kalian adalah pengaruh buruk untuk dagangannya. Mungkin saja harga mereka lebih rendah, keuntungan juga tidak lebih banyak dari kalian. Ini mudah saja, bukan?" jelas Yaya dalam satu tarikan napas. Seketika dia terengah.   Syandu dan yang lain ternganga seakan rahangnya akan jatuh.   "Ba-bagaimana kau bisa bicara secepat itu?" kata Ian sedikit memekik.   "Kau mengetahui banyak lebih dariku," gumam Zhani.  "Wah, kau lucu!" Kaza sudah bisa mengendalikan dirinya.   Syandu berdeham. "Jadi, ini permainan dagang? Kau curiga orang itu melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku?"   Yaya mengangguk. "Selalu ada konspirasi dan kelicikan dalam berdagang. Kau harus pintar menjaga dan melihat situasi!" ujar Yaya penuh senyum.   "Kau tau apa akibatnya jika salah menuduh? Hukum di sini terlalu berbahaya," Syandu memperingati.   "Coba saja untuk membuktikannya. Kupastikan dugaanku benar. Terlebih lagi tanaman bunga yang lain tidak terjadi masalah," kata Yaya meyakinkan.  "Baiklah! Kalau begitu sekarang juga kukerahkan semua penjaga untuk mencari orang itu!" Syandu pergi begitu saja.   Yaya menatap Syandu sedikit sedih. "Apa dia tidak pernah tersenyum. Pedangnya mengerikan, tapi dia seorang penjaga kebun bunga?" gumam Yaya.  "Dia tersenyum jika bersamaku. Kurasa ada yang salah dengannya hari ini," balas Zhani juga menatap kepergian Syandu.   Ian kembali berbisik pada Kaza. "Zhani itu payah sekali! Sangat jelas aku bisa melihat kalau cara Syandu memandangnya itu berbeda. Syandu juga hanya kesal pada Yaya. Benar, 'kan?"   Kaza mengangguk-angguk. "Aku setuju denganmu!"   "Yaya, kenapa kau bisa menyimpulkan hal ini dengan cepat?" tanya Zhani.   "Aku merasa ada yang aneh saja. Tidak mungkin jika ini karena wabah, karena hanya menyerang satu jenis saja. Ini pasti kelicikan seseorang. Hanya itu, haha!" tawanya bodoh.   "Kau bilang hanya itu? Aku sampai menganga mendengarmu!" bantah Ian sedikit memekik.   Yaya berdecak, "Apa kalian lupa kalau aku juga pedagang. Toko mawarku cukup terkenal walaupun kecil. Aku sudah sering hampir ditipu berkali-kali. Entah itu pelanggan atau toko langganan yang lain."   Mereka mengangguk paham. "Eh, bagaimana duniamu? Apa sama seperti di sini?" tanya Zhani lagi.   "Kenapa kau jadi penasaran, ha?" Ian yang menjawab.   "Karena Yaya sangat pintar!" jawab Zhani spontan.   "Jadi kau hanya mau bicara denganku karena pintar?" Yaya sedikit sedih.   Zhani kelagapan. "Bukan begitu, Yaya. Aku hanya...," sebelum Zhani menuntaskan ucapannya, Yaya pergi kembali jalan-jalan.   "Heh? Dia pergi begitu saja?" bingung Zhani.   Ian menepuk pundak Zhani. "Hah, kau membuatnya salah paham," ujarnya sambil berdecak kasihan.   "Salah paham? Aneh sekali!" Zhani semakin tidak mengerti.   Kaza menunjuk Zhani dengan tongkatnya. "Aku bingung dengan otakku. Kau berpendidikan, tapi tidak bisa mengerti perasaan perempuan. Payah!" ejeknya sambil tersenyum miring. Kemudian menyusul Yaya yang menuju sisi utara.   "Perasaan apa lagi yang kalian bicarakan?" Zhani kesal.   "Sudahlah, kawan! Bagaimana kalau kau mengajari sedikit ilmu bela dirimu padaku? Jangan pelit-pelit! Aku tidak pernah belajar sepertimu!" pinta Ian dengan senyuman bodoh.   "Boleh, tapi Yaya bagaimana?"   "Ada Kaza pasti dia aman. Ayo! Kupikir kau galak seperti ayahmu, haha!" menarik Zhani mencari tempat yang lebih lapang.   Yaya bercengkrama dengan Kaza seiring melihat tanaman bunga obat. Kaza menerangi jalan dengan pelita yang dia bawa. Yaya terus saja bertanya tentang perjalan Kaza yang hidup sendirian dalam pemburuan. Bagaimana Kaza mencari bunga mawar dan keahlian bela dirinya. Kaza sampai lelah menjawab Yaya.   "Apa aku juga bisa berkelahi?" tanya Yaya semangat.   "Kalau kau ada niat pasti bisa. Lagian dengan keras tentunya," jawab Kaza santai.   "Kau mau mengajariku?" matanya berbinar memohon.   "Emm, tidak!" Kaza menggeleng.   Yaya berdecih. "Tidak usah mengajariku! Aku bisa sendiri!"   "Oh, ya? Kita lihat saja nanti!" ejek Kaza.  "Hmm, lihat saja! Kaza, kalau kau ada di zamanku pasti sudah jadi aktor. Wajahmu itu pasti digemari banyak perempuan dan kau akan terkenal!" Yaya memekik seru membayangkan Kaza bermain peran.   "Aktor? Apa itu?" Kaza mengernyit.   Yaya berbalik. "Kau tidak tau, ya? Semacam orang yang memainkan drama. Tau, 'kan?"   "Ah, drama. Iya, aku tau! Di sini banyak sekali pendongeng dan pembuat cerita. Mereka sering melakukan aksi drama," kata Kaza semangat.   "Hahaha, aku masih tak percaya kau yang mau memotong tanganku jadi berteman denganku, haha." Yaya kembali mengamati bunga obat-obatan.   Kaza terkekeh. "Aku juga tidak percaya punya teman di dua zaman. Agak lucu karena aku tetap tidak paham, kecuali karena sihir mawar," ucapnya bercanda.   "Kaza, kau punya pasangan? Semacam kekasih?"   Pertanyaan Yaya membuat Kaza terbelalak. "Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Aku menolak semua gadis yang melamarku!" ujarnya bangga.   Yaya berbalik dan melotot. "Tega sekali! Sombong sekali!"   "Sekarang kau kesal," Kaza menggaruk tengkuknya.   Yaya memutar pandangan ke segala arah. "Aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi kau cukup beruntung disukai banyak gadis. Aku disukai banyak orang tapi tidak pernah ada yang serius," curhatnya.   "Kalau begitu kita sama!" seru Kaza.   Yaya tertawa. "Aku sering berpikir jika hidupku akan lebih indah jika punya pasangan. Seperti orang-orang yang selalu bersama kekasihnya," gumam Yaya.   "Perkataanmu membuktikan kalau kau kesepian. Hidup sendirian memang tidak mudah, tali kita bisa menikmati dunia yang ada. Seperti saat ini misalnya. Bukankah ini sangat bebas? Menyenangkan!" Kaza merentangkan tangannya yang memegang tongkat dan pelita.   "Hahaha, benar! Ini pengalaman yang menyenangkan!" Yaya ingin ikut merentangkan tangan, tetapi tidak bisa.   "Sudah-sudah jangan dipaksakan. Nanti tanganmu sakit," tutur Kaza.   Yaya meringis. Beberapa menit kemudian Syandu datang dan memanggil Yaya dengan keras. Segera Yaya dan yang lain menghampiri Syandu di halaman depan. Ada begitu banyak orang. Ian segera menutup tanya dan memasang cadar untuk Yaya.   "Untuk jaga-jaga. Mungkin mereka juga mengenalmu. Sementara, ka saja yang keluar. Kita akan sembunyi di sini. Jika mereka tahu kami, pasti masalah akan terjadi lagi," bisik Ian.   Yaya mengangguk memberanikan diri. Dia berjalan santai menghampiri Syandu. Seseorang dengan barang bawaan yang sangat banyak sedang ditahan. Orang itu meronta dan berteriak ingin dilepaskan. Syandu mengerti kenapa Yaya menutup wajah ya dengan cadar.   "Yaya, dia adalah pedagang yang kubicarakan. Kau tanya dia di depan kita semua. Mereka sebagai saksi!" Syandu menunjuk para penjaga.   Yaya memandang orang itu lekat. "Selamat malam, Tuan. Senang bertemu denganmu. Sebelum aku bertanya aku ingin memastikan sesuatu. Kau tidak akan bisa bohong ataupun lepas dariku! Kujamin itu!" desis Yaya di akhir ucapannya membuat orang itu sedikit tersentak.   "Siapa kau berani menggeretakku?! Kenapa menutupi wajahmu? Kalau berani lawan aku!" ujar orang itu yang sudah berkeringat dingin  "Ck, kau sudah menunjukkan ketakutan yang dalam. Pedagang tidak menggunakan kekerasan, Tuan. Tapi menggunakan otak dan kecerdikan! Bukannya itu yang kau lakukan dua hari yang lalu? Hah, sayangnya kala itu kita tidak berhadapan secara langsung. Jika iya aku akan membuatmu pingsan dalam satu detik karena gagal. Saat ini pun kau bisa kubuat pingsan karena kejujuranmu!" kata Yaya cerewet.   "Kau siapa?" tanya orang itu semakin berkeringat.   "Aku hanya pedagang kecil." Yaya sambil terkekeh. Melirik Syandu yang sedang mengamati tingkahnya. "Nona Syandu, kau sudah lihat? Dia adalah dalangnya!" bisik Yaya dan Syandu mengangguk.   Kecurigaan Yaya benar sepenuhnya. Orang itu mengaku menaburkan bubuk layu dan pembusuk daun secara perlahan pada bunga yang bernilai mahal. Dia melakukan itu atas perintah pedagang besar di kerajaan lain. Segera prajurit bertindak dan Syandu menahan orang itu. Dia merasa dikalahkan oleh Yaya karena kelalaiannya.   "Nona Syandu, aku masih tidak mengerti satu hal," ujar Yaya.   "Apa?" Syandu sudah sedikit santai dengan Yaya.   "Apa yang kau cari sampai menjatuhkan barang-barang tadi sore? Aku tidak mengerti, apa ada hubungannya dengan para bunga mahal yang rusak?" kepala Yaya sedikit meneleng.   "Ternyata kau cukup jeli. Aku mencari kaca pembesar untuk mengetahui seberapa buruk perkembangan bunga-bunga yang rusak. Sekarang masalah akan segera teratasi. Jika hal ini sangat besar, akan berlanjut ke istana. Tenang saja, tidak akan bicara tentangmu ataupun teman-temanmu," Syandu mengerti.   "Terima kasih! Kau orang yang hebat! Beritahu aku jika pihak pertama datang, ya!" Yaya melenggang pergi mencari teman-temannya.   Hampir tengah malam Yaya baru dipanggil Syandu lagi karena yang dimaksud pihak pertama sudah datang yaitu otak dibalik rencana picik dalam menghancurkan sebuah usaha. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN