14. Perasaan Syandu

2098 Kata
 Permainan selesai dalam satu malam. Pelakunya juga memberi obat penawar agar bunga-bunga yang diracuni kembali sehat. Kecerdikan Yaya dalam memahami situasi membuatnya mendapatkan hadiah dari pengawas kebun yang juga orang dalam istana. Sebuah kotak obat dan banyak uang koin. Meskipun Yaya tidak tahu berapa jumlahnya, dia tetap senang dan menerimanya.   "Nona Syandu, lain kali perhatian permainan dagang, ya. Jangan sibuk bermain pedang dan menjaga kebun terus, haha. Jangan marah, aku hanya bercanda!" ujar Yaya.   "Bercanda katamu? Tidak akan kuberikan hadiahmu!" Syandu pergi membawa hadiah Yaya. Dia yang menerimanya karena Yaya tidak bisa. Membuat alasan jika tangan Yaya sedang sakit parah.   "Loh, jangan begitu! Kembalikan, itu punyaku!" Yaya mengejar Syandu dan Syandu semakin cepat berlari menuju rumah kecil itu.   Tidak sengaja Yaya menabrak Zhani yang kebetulan lewat. Dia hampir jatuh jika Zhani tidak menahan lengannya membuat Yaya hanya miring. Zhani menarik Yaya segera hingga sangat dekat dengannya. Yaya segera menjauh dan tersenyum bodoh.   "Hehe, terima makasih, Zhani. Eh, Syandu merebut hadiahku! Kembalikan!" pekik Yaya mencari alasan dan kembali mengejar Syandu.   Zhani terdiam tanpa berbalik. Dia heran dengan dirinya. Tidak tahu jika Yaya juga sedang bingung saat ditahan Zhani. Hingga dia lari tanpa tujuan karena Syandu sudah berhenti sejak tadi. Menyaksikan Zhani menahan Yaya agar tidak jatuh, membuat Syandu diam lagi. Akhirnya Yaya sadar jika tidak mengejar siapapun. Dia menghampiri Syandu dan meminta hadiahnya. Dengan kesal Syandu menyerahkan hadiah itu dan Yaya menerimanya menggunakan lengan.   "Dia selalu kesal denganku," gerutu Yaya.   Membawa kotak hadiahnya pada Ian dan Kaza. Mereka tergiur dengan uang yang begitu banyak.   "Yaya, ini banyak sekali! Kau mau apakan uang ini?!" pekik Ian sambil menghitung uangnya.   "Seberapa banyak? Apa cukup untuk kita makan berhari-hari?" Yaya berharap lebih.  "Kau bercanda? Kau bahkan bisa beli banyak pakaian tidak hanya makanan untuk berhari-hari. Hadiahmu menarik sekali!" balas Kaza.   Yaya berbinar senang, "Haha, baik sekali Tuan pengawas kebun! Uang itu kita pakai untuk bakal perjalanan. Dengan begini tidak perlu khawatir cari makan."  "Baiknya kau, Yaya! Obat-obatan ini juga berguna nanti! Biar kubawa saja!" Ian memasukkan kotak obat kecil itu dalam sakunya.   Zhani sudah bergabung dengan mereka. Syandu mengajak Zhani untuk bicara banyak hal. Alhasil dia tidak tidur bersama yang lain. Yaya juga tidak bisa tidur, tetapi merebahkan diri dan menutup mata. Dia tidur di kursi kayu, Ian dan Kaza di lantai beralaskan tikar. Samar-samar Yaya bisa mendengar pembicaraan Zhani dan Syandu.   "Zhani, kau tidak mau pulang?" bujuk Syandu lagi.   "Aku harus bersama mereka," jawaban Zhani tetap sama.   "Tapi kenapa?"   "Karena aku merasa ada di jalan yang benar. Yaya benar, Ian dan Kaza juga benar," kata Zhani sabar.   "Apa sihir mawar juga benar?" Syandu memancing Zhani.   "Iya, kurasa itu juga benar. Misteri ini harus dipecahkan!" jawaban Zhani membuat Syandu mendesah kesal. "Aku ikut!"   "Jangan! Tugasmu sangat besar di sini," cegah Zhani.   "Kau sangat peduli dengan Yaya." Syandu sedikit menunduk.   "Apa maksudmu? Aku juga peduli denganmu. Peduli dengan semua orang itu baik, 'kan?"   "Kau terlalu baik jadi orang. Jangan sampai ditipu di kemudian hari," tutur Syandu.   Zhani tersenyum. "Jangan cemas. Sekarang tidurlah!"   Syandu menurut, menuju suatu ruangan yang tertutup. Zhani juga bergabung dengan Ian dan Kaza.   'Zhani mau tidur di tikar? Dia tidak keberatan sama sekali?' pikir Yaya.   Dia melirik Zhani dengan segala asumsi. Berpikir jika semua orang kaya yang memiliki jabatan itu akan bertindak sesuka hati dan tidak bisa jauh dari kemewahan. Namun, itu tidak ada di diri Zhani. Perlahan Yaya mengulas senyum. Senyumnya kembali luntur mengingat percakapan Zhani dengan Syandu.   'Nona Syandu begitu khawatir dan menurut pada Zhani. Mereka sangat dekat,' batinnya agak sedih.   Lalu, Yaya mengerjap bingung. Memiringkan badannya dan memeluk mawar itu. 'Yaya, biarkan saja. Apa urusannya denganmu kalau mereka dekat?' sambungnya dalam hati.   Mencoba untuk tidur dengan menutup mata rapat-rapat. Mendung membuat suasana menjadi murung dan sunyi. Senyum Yaya di pagi hari tak secerah biasanya. Hal yang paling menyebalkan bagi Yaya sudah tiba yaitu mandi. Lama sekali membuat Kaza dan Zhani khawatir.   "Apa dia bisa mandi? Sudah sangat lama, jangan-jangan terjadi sesuatu!" ujar Zhani.   "Ck, Yaya memang begitu. Dia melakukannya dengan baik!" jawab Ian santai.   "Bagaimana caranya? Tangannya menempel," Kaza ikut bingung.   Ian mengendikkan bahu, "Nyatanya dia bisa. Tenang saja." melipat tangannya di d**a.   "Kau pernah melihatnya?" tanya Zhani mendesis.   Kaza melotot. "Kau membantunya mandi?" bisiknya.   Ian berdecak kesal. "Tidak! Jangan berpikir yang aneh-aneh! Sebenarnya aku juga bingung, tapi aku tidak berani bertanya. Yaya akan marah nanti, haha!"   Zhani mendorong kepala Ian pelan. "Jangan pikirkan Yaya! Dia bisa tersinggung!"   "Heh? Kau marah?" Ian mendelik.  Kaza tersenyum miring. "Sepertinya baru sehari kau sudah dekat dengan Yaya. Kenapa?"   "Kau juga baru sehari sudah dekat dengannya. Kenapa?" Zhani tersenyum tipis.   "Cih, pertanyaan yang sama. Tidak seru!" canda Kaza sambil memukul pundak Zhani pelan.   Mereka tertawa ringan hingga akhirnya Yaya keluar dengan wajah cemberut. Memandang langit yang tidak menunjukkan sinar matahari sedikitpun.   "Haha, mendung yang indah! Dimana Nona Syandu?" tanya Yaya. Mereka tidak menjawab, melainkan memandangnya tak berkedip. "Jangan menatapku!" Yaya membentak, mereka terjingkat kaget.   Ian meringis bodoh. "Hehe, kau lebih baik dari semalam," jujurnya.   "Lama sekali, ngapain saja di kamar mandi? Membersihkan kamar mandi?" Kaza menimpali.   "Kau.. Harum! Ck, mustahilnya bisa mandi dengan tangan menyatu apalagi ada bunga mawar." Zhani terheran-heran.   Yaya memutar pandangannya ke segala arah. "Ehm, kalian tidak sopan!"   Melenggang pergi begitu saja membuat mereka bertanya-tanya dan menyalahkan diri sendiri. Perbedaan laki-laki dan perempuan sangat kuat. Yaya sudah cukup bertahan bergaul dengan mereka. Tidak sepantasnya mereka membuat Yaya malu dengan menanyakan perkara mandi.   Saat mengejar Yaya, mereka berhenti di tengah jalan karena melihat Yaya dan Syandu dari kejauhan. Terlihat sangat serius berbincang, Zhani menahan Kaza dan Ian untuk ikut campur. Padahal mereka hanya ingin memastikan Yaya baik-baik saja bersama Syandu. Gadis penjaga kebun itu terus memegang pedang. Sewaktu-waktu bisa menusuk Yaya.   "Syandu tidak sekejam itu. Dia baik, hanya saja agak... Ya, seperti itu," kata Zhani.   "Kau selalu membelanya. Dulu waktu aku bermain di sini bersama kelompokku, tidak pernah melihat Syandu." Kaza menggeleng.   "Dia diutus langsung oleh raja. Tentu kau tidak pernah melihatnya." jawab Zhani.   "Ayo lebih dekat!" kata Ian mengajak untuk mendekati Yaya.   Perbincangan yang mendebarkan bagi mereka karena ekspresi Yaya datar.   "Apa yang Syandu katakan sampai Yaya tidak tersenyum?" tanya Ian.   "Dengarkan saja!" titah Kaza.   Bahkan Yaya mengerutkan dahinya setelah Syandu berhenti bicara.   "Intinya, jangan dekati Zhani!" ujar Syandu lagi.   Yaya tersenyum miring. "Semua alasanmu tidak masuk akal," ujarnya membuat Syandu tersentak.   "Tidak masuk akal bagaimana? Aku sudah mengatakan dengan jelas kalau aku tidak ingin kau mendekati Zhani! Dia temanku! Aku tidak mau dia terkena pengaruh buruk dalam misimu!" balas Syandu.   "Kenapa tidak terus terang, Nona Syandu? Kau menyukainya!" desis Yaya di akhir ucapannya.   Syandu lebih tersentak. "Omong kosong!"   "Aku mendengar pembicaraanmu dengan Zhani semalam. Kau bersikeras untuk ikut, tapi Zhani menolak. Sama seperti dia, aku juga menolak permintaanmu," tegas Yaya.   "Artinya?" Syandu mengerutkan dahi.   "Iya, Nona Syandu. Dimana ada Zhani pasti ada aku. Karena kita berteman. Bukan hanya Zhani, tapi Ian dan Kaza juga akan selalu bersamaku. Bukan karena aku mengikat mereka, tapi ini kenyataannya," jelas Yaya.   "Aku masih tidak mengerti." Syandu menggeleng.   "Mawar ini membiarkan mereka bisa melindungiku dan melihat sinarnya tanpa sakit. Sedangkan kau tidak diizinkan. Pikir saja sendiri kenapa alasannya. Takdir membawaku kemari. Takdir juga yang membuat mereka ada bersamaku. Nona Syandu, kalau kau menyukai Zhani, harusnya kau biarkan dia melakukan apa yang diinginkan, bukan memaksa kehendakmu padanya dan padaku." Yaya berusaha sabar.   "Kau mengatakannya agar aku tenang. Bagaimana bisa tau aku menyukainya?"   "Karena matamu mengatakan segalanya, haha! Terlebih lagi orang tidak akan mengatur rencana tanpa tujuan. Kau menyuruhku menjauhi Zhani, jelas saja kau menyukainya! Hal seperti ini banyak di novel yang k****a!" Yaya mulai tersenyum.     "Novel? Buku cerita cinta?" heran Syandu.   Yaya mengangguk kuat. "Terus terang saja pada Zhani!"   Syandu mendelik. "Tidak mungkin!"   "Kenapa tidak? Katakan saja! Biar kubantu! Zhaniiii! Kau dimana?! Nona Syandu mau bicara!" teriak Yaya tanpa persetujuan Syandu membuat Syandu kelagapan.   Sontak Zhani terkejut dan hampir terjungkal. "Yaya memanggilku. Aku harus apa?" gumam Zhani panik.   "Ahaha, hadapi sana!" Ian mendorong Zhani.   "Disukai teman sendiri sejak lama. Hmm, agak rumit, ya?" goda Kaza.   Zhani berdecak. "Ini masalah!" gerutunya sambil menghampiri Yaya dan Syandu.   Ian dan Kaza tergelak dan menyusul Zhani. Wajah Zhani yang bingung sangat lucu bagi mereka. Yaya menunjukkan deretan giginya seakan mengejek Zhani.   "Ini dia orangnya! Dia mau bicara hal penting denganmu. Aku tidak mau mengganggu, jadi aku pergi dulu!" Yaya langsung lari mengajak Ian dan Kaza berlari.   "Yaya, tunggu!" Zhani mencegah, tetapi tidak bisa. Dia mendesah pasrah memandang Syandu yang cemberut.   "Ada apa? Kau sedih?" tanya Zhani.   Ian dan Kaza terpaksa kembali bersembunyi karena Yaya menendangi mereka tanpa henti. Tidak terlalu jauh, Yaya berusaha menguping pembicaraan.   "Yaya, kenapa pergi? Harusnya tetap di sana!" keluh Ian.   "Nona Syandu terlihat murung. Aku tidak tega," kata Yaya pelan.  "Menyebalkan, Yaya! Aku mau ikut Zhani!" Kaza hendak pergi, tapi Yaya menendangnya keras membuat Kaza melototinya. "Diam di sini dan lihat saja! Jangan diganggu!" desis Yaya.   "Kau berani menyuruhku?" Kaza menunjuk wajahnya sendiri.   "Berani! Kenapa? Mau memukulku?" tantang Yaya.   "Aku tau! Sikapmu begini karena tidak terganggu dengan Syandu, 'kan?" tuduh Kaza.   Bola mata Yaya berputar-putar. "Tidak!" elaknya.   "Kau gugup!" kata Kaza menuntut.  "Ck, banyak omong! Dengarkan saja!" Yaya kesal.   "Aku juga tidak mengerti kenapa kau kesal, Yaya," jujur Ian.   Yaya hanya berdecak dan fokus pada pernyataan Syandu. Sesuai dugaannya jika Zhani akan menolak dengan canggung. Yaya tidak sadar tersenyum. Namun, Syandu sangat kecewa. Zhani pergi setelah menepuk pundak Syandu dua kali. Yaya yakin jika Zhani tersenyum dan minta maaf sebelum pergi.   "Yahh! Sudah kuduga dia menolaknya, haha!" Yaya menahan pekikan.   "Iya-iya-iya. Aku heran kenapa kau senang. Ayo pergi juga!" Ian menarik Yaya paksa.   "Eh-eh, santai saja, dong!" Yaya terseret.  Yaya cemas saat melintas di depan Syandu. Penjaga kebun itu menatap Yaya tanpa arti. Ada sedikit tidak tega, tapi Yaya tidak bisa berbuat apa-apa. Bergabung dengan Zhani yang menunggu di samping gerbang.   Yaya langsung bertanya tanpa malu. "Zhani, kenapa kau menolaknya?"   Zhani menoleh. "Karena aku tidak punya perasaan apapun padanya selain teman," jawab Zhani tenang.  "Kau tidak merasa bersalah? Dia sangat sedih," Yaya sedikit cemberut.   "Apa kau sedih?" Zhani membuat Yaya melotot. "Aku? Haha, kenapa aku harus sedih?" Yaya menunjukkan deretan giginya.   Zhani mengangguk-angguk tanpa menjawab. Yaya ingin bertanya lagi. Namun, mengingat situasi dia tidak akan membahas hal ini lagi.   Sambil menatap Zhani, Yaya bicara dalam hati, 'Cinta tidak mudah. Setidaknya itu yang pernah kulihat dan k****a. Apa Zhani sedih? Kurasa dia hanya memikirkannya saja. Nona Syandu yang sedih.'  "Sekarang kita akan apa?" tanya Ian.   "Pecahkan misteri sihir bunga mawar dan kematian raja terdahulu." jawab Yaya serius memandang jalan di depan gerbang.   "Baiklah! Mulai dari mana?" tanya Kaza antusias sembari menaruh tongkatnya di punggung.   Yaya menatap mereka polos, "Tidak tau." sambil menggeleng.  Mereka kompak mendesah. "Kita coba di pasar sebelah. Di sana banyak orang kaya. Mungkin tau sesuatu," kata Kaza.   "Kalau begitu ayo kita pergi! Eh, tidak berpamitan dengan Nona Syandu?" Yaya celingukan mencari Syandu.   "Aku sudah mewakili kalian tadi. Tidak masalah, kita pergi sekarang," Zhani menimpali.   "Ha? Oh, baiklah. Aneh sekali tidak berpamitan langsung." Yaya mengendikkan bahu yang keluar gerbang.   Dia tersenyum bahagia setelah puas dengan kemarin. Berada di tengah-tengah tiga laki-laki itu. Terkikik dalam hati sambil mengayunkan tangannya. Menoleh ke belakang tanpa berhenti melangkah.   'Kebun bunga yang luas, aku akan merindukanmu!' batin Yaya.   Syandu yang masih mematung menjadi sadar dan tidak terima. Zhani yang selalu baik padanya menolak perasaannya. Syandu berpikir itu karena pengaruh Yaya yang hadir di hidup Zhani. Syandu sempat menolak pemikirannya karena Yaya sendiri yang mendorongnya untuk mengatakan isi hati. Namun, rasa tidak sukanya kembali meninggi. Seratus persen Syandu yakin jika Zhani menolaknya karena ada Yaya. Syandu melempar pedang dan menangkapnya cepat, lalu segera mengejar Yaya. Tidak terang-terangan, melainkan bersembunyi dan mengawasi tingkah Zhani pada Yaya. Sempat ditanya penjaga gerbang, Syandu tidak menjawab dan terus bergerak cepat. Dalam sekejap sudah melihat Yaya yang sibuk menikmati perjalanan.   "Gadis itu... Wajahnya pura-pura ramah. Aku yakin Zhani dipikat olehnya!" desis Syandu yang bersembunyi. Meremas sarung pedangnya kuat dan mengikuti dengan jarak lumayan jauh.   Rumah-rumah banyak yang terbuka. Masyarakat melakukan pekerjaan dengan baik. Pemukiman yang ringan dan asri. Sayangnya awan hitam masih menyelimuti. Yaya bingung pada beberapa wanita yang sedang menjemur pakaian. Tidak ada sinar matahari, maka pakaian itu tidak bisa kering.   "Kenapa mereka menjemurnya? Mana mungkin bisa kering?" gumam Yaya.   Ian merangkul pundak Yaya membuat Yaya risih dan menyuruh Ian sedikit menjauhkan tangannya. "Yaya, mereka tidak punya pakaian lain jika tidak menjemur pakaian," jawab Ian.   "Dari mana kau tau? Ini mendung, Ian!" Yaya masih mengamati mereka.   "Mendung belum tentu hujan. Kenapa? Kau kedinginan?" tanya Ian mulai cemas.   Dalam hati Yaya bosan dengan kata kenapa. Banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan. Saat ini pun harus mencari jawaban dari pertanyaan yang berat. Langkah mereka terhenti karena seorang pria tua yang sedang mendorong gerobak menghalangi jalannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN