Orang itu meminta tolong untuk membawa gerobak itu karena sudah tidak sanggup. Yaya terkejut ternyata isinya adalah guci dan keramik yang sangat banyak. Pantas saja jika orang yang sudah tua tidak sanggup membawanya terlalu jauh.
"Tuan, dimana rumahmu?" tanya Yaya.
Orang itu senang, menunjukkan jalan rumahnya. "Ada di dekat pasar. Anakku sedang berjualan di sana. Ini adalah barang-barangnya," terangnya berharap Yaya ingin membantu.
Kaza menjawab mendahului Yaya, "Kalau begitu suruh anakmu saja yang bawa. Ini barangnya, 'kan?" menunjuk gerobak itu dengan dagunya.
Yaya menyenggol Kaza dengan lengannya. "Jangan bersikap begitu! Dia orang tua, harus dihormati!" desis Yaya membuat Kaza dan yang lain menatapnya.
Yaya tersenyum ramah pada orang itu. "Kau membawanya sendirian? Apa anakmu yang menyuruhmu? Bagaimana kau dapatkan semua barang ini?" tanya Yaya.
"Kalau kukatakan apa Nona mau membantu?" orang itu penuh permohonan.
"Tentu saja!" Yaya mengangguk semangat. Tiga laki-laki itu mendelik dan orang itu senang. "Aku baru membelinya dari pengrajin keramik. Anakku akan menjualnya lagi. Sekarang dia sibuk di tokonya jadi menyuruhku untuk membawa semuanya. Anak-anak muda, bantulah aku! Aku sudah lelah!" pintanya membuat Yaya semakin tidak tega.
"Tuan, jangan sungkan. Aku akan membantumu. Seharusnya anakmu yang membawa semua ini." ujar Yaya halus dan mencoba mendorong gerobak itu dengan tangannya yang terhalang bunga mawar.
Orang itu tersentak. "Tanganmu besar sekali? Apa kau terluka?" tanyanya khawatir.
"Ah, ini cidera lama. Sudah tidak sakit tapi belum sembuh. Tidak masalah, aku bisa mengatasinya," jawab Yaya sambil terus berusaha mendorong gerobak yang tidak bergerak sama sekali, justru tangannya merasa sakit.
'Berat sekali! Susah sekali!' batin Yaya.
"Nona, jangan dipaksakan! Lukamu bisa terbuka nanti," kata orang itu.
Yaya meringis. "Tuan, sepertinya aku tidak kuat, hehe," merasa bersalah.
Zhani mengambil lihat gerobaknya. "Biar aku saja," tersenyum pada Yaya dan orang itu.
"Kau? Mendorong gerobak? Nanti derajatmu bisa turun!" bisik Yaya di akhir ucapannya.
Zhani terkekeh. "Aku tidak seperti itu. Tuan, tunjukkan saja jalan ke rumahmu," pinta Zhani baik.
Orang itu mengangguk. "Terima kasih, anak muda! Lewat sini!" mempersilahkan.
Yaya berjalan di samping Zhani yang mendorong gerobak tanpa berhenti tersenyum. Lalu, Yaya menoleh ke belakang. Ekspresi Ian dan Kaza sangat menyebalkan. Yaya berdecak dan mengkode mereka untuk membantu, tapi mereka tidak paham.
Yaya mendesah lemas. "Kalian itu... Laki-laki atau bukan?! Tidak bisa membantu Zhani?" Yaya sedikit membentak.
"Ck, dia cuma pamer didepanmu. Zhani, jangan sok baik! Cuma Yaya yang baik!" Ian melengos.
Yaya ternganga. "Kau?! Kenapa bicara begitu, Ian? Ada orang tua di sini. Tidak malu memangnya?" desis Yaya.
"Zhani sudah bisa sendiri. Biarkan saja, hitung-hitung olahraga pagi." Kaza mendukung Ian. Ian mengangkat tangannya dan Kaza menepuk telapak tangan Ian. Yaya ternganga lagi. "Kalian kompak sekali! Bagus!" melengos acuh membuat Ian menggaruk kepalanya tidak mengerti.
"Kaza benar. Suhunya masih dingin, dengan begini bisa membuat tubuh sedikit hangat." jawab Zhani sambil tersenyum tipis pada Yaya.
"Hah, mereka saja yang tidak mau membantu karena malas! Aku harap segera sampai di pasar itu." Yaya tersenyum bodoh. Zhani terkekeh pelan dan kembali menatap jalan.
Yaya senang melihat Zhani sederhana dan baik tidak seperti anak pejabat yang penuh kemewahan. Di sisi lain Syandu marah melihat Zhani dan Yaya berjalan beriringan. Padahal mereka juga berjarak satu lengan. Seolah Yaya berusaha merebut Zhani, amarah Syandu semakin bertambah. Jalannya pun lebih cepat, sangat terlihat kesal.
"Tuan, biar kubantu menurunkannya," ucap Zhani setelah meletakkan gerobak itu.
"Tidak perlu, anak muda. Aku akan memanggil anakku saja." orang itu menyilangkan tangannya.
"Tokonya yang mana? Pasar ini ramai sekali!" seru Yaya.
"Dua rumah dari sini. Sangat dekat, 'kan? Terima kasih sudah mau membantuku. Aku harus apa untuk membalasnya?" tanya orang itu.
"Tidak perlu, Tuan. Kami juga mau ke pasar." tolak Zhani.
"Terima kasih banyak! Nona, semoga tanganmu segera sembuh. Kalian orang baik!" orang itu merasa merepotkan.
"Haha, tentu saja aku orang baik!" bangga Ian.
Yaya menendang kaki Ian, "Baik apanya?" desisnya. Kemudian, tersenyum pada orang itu, "Hehe, tidak perlu sungkan, Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu. Pastikan anakmu yang membawa barangmu, ya."
Orang itu hanya terkekeh dan menangkupkan tangan. Yaya pergi menyusul Kaza dan Ian yang sudah melangkah lebih dulu.
"Kau pikir kenapa anak orang itu menyuruh ayahnya membawa gerobak berat?" tanya Zhani tiba-tiba.
Yaya menoleh, "Aku tidak berani berpikir buruk, tapi tindakan itu tidak benar." sambil menggeleng.
"Aku juga merasa begitu." ucap Zhani sambil kembali menghadap hadapan.
Hanya mengkritik sebentar sudah membuat Syandu kepanasan. Kekesalannya membuat Syandu buta. Dia menarik pedang dan lari menyerang Yaya. Mereka terkejut mendengar Syandu berteriak. Menoleh dan melebarkan matanya. Tak sempat menghindar. Syandu sangat dekat, tinggal sejengkal lagi ujung pedang itu mengenai Yaya, sayangnya pedang lain menghalang. Suara nyaring pedang yang bertabrakan menggemparkan pasar.
Kaza yang tidak sempat menolong, mengerut heran pada laki-laki yang menolong Yaya. Sampai lemas memegang tongkat. Yaya masing-masing melongo seakan menahan napasnya. Zhani tidak menduga Syandu akan mengejar dan mengincar Yaya.
"Menyerang dari belakang itu pengecut!" ujar laki-laki yang menolong Yaya. Dia menendang Syandu hingga Syandu mundur beberapa langkah.
"Kurang ajar! Beraninya kau menghalangiku!" Syandu bersiap menyerang lagi.
Tidak berpikir panjang, laki-laki itu membalas serangan Syandu. Dalam sekali gerakan Syandu kembali terdorong jauh. Namun, Syandu tidak menyerah. Laki-laki itu terus meladeninya dengan tenang bahkan terlewat santai.
"Wahh, siapa dia? Hebat!" pekik Yaya berkerling senang.
Zhani berdecak dan menghentikan mereka. Ian dan Kaza mendekati Yaya. "Kau tidak terluka?" tanya Kaza.
"Aku tidak terkena serangan Nona Syandu." Yaya menatap Ian dan Kaza bergantian.
"Syukurlah kalau begitu. Kenapa dia kembali ingin menyerangmu?" Ian heran menatap Syandu yang mendengarkan ucapan Zhani dengan tatapan nyalang.
"Ian, Kaza, kalian kenal dia?" bisik Yaya menunjuk laki-laki yang masih membelakanginya dengan dagu. Ian dan Kaza menggeleng.
"Syandu! Kau sudah gila?! Kenapa menyerang Yaya lagi?!" bentak Zhani. Syandu tersentak begitu juga dengan Yaya. "Ini di pasar! Kau mencerminkan tindakan tak masuk akal!" lanjut Zhani.
"Kau marah padaku dan membela gadis itu?! Dia saja asal-usulnya tidak jelas, Zhani! Kau menolakku karena dia, 'kan?!" balas Syandu.
Zhani menatap Syandu marah. "Jangan bicara sembarangan! Aku melakukan ini juga untuk kerajaan!"
"Hah, ternyata soal cinta. Membosankan!" ujar laki-laki yang menolong Yaya malas.
Yaya langsung tersenyum, mengajak Ian dan Kaza menghampiri laki-laki itu. Dia meneleng melihat wajah pahlawannya. Seketika Yaya melotot.
'Tampannya!' pekik Yaya dalam hati.
"Kau salah paham, Syandu. Tidak kusangka kau akan menyerang orang yang tidak bersalah, itupun dengan alasan konyol! Kembalilah ke kebun sebelum kericuhan semakin bertambah!" Zhani menunjuk jalan pulang.
Syandu menganga. "Kau bukan temanku! Aku akan membalas bentakanmu suatu saat nanti, Zhani! Suatu saat nanti!" desis Syandu tajam dan pergi dengan cepat.
Semua orang di pasar menggeleng maklum setelah tahu permasalahannya. Zhani mewakili kejadian tersebut untuk minta maaf.
'Zhani masih bisa tersenyum ke semua orang. Dia baik sekali!' batin Yaya walaupun ekspresinya bingung.
Zhani mendekat pun Yaya tidak sadar. Sampai laki-laki yang menolongnya berbalik menatapnya, Yaya tetap melamun. Matanya memandang Zhani seolah-olah memikirkan sesuatu.
"Yaya, aku bicara padamu. Kau tidak terluka, 'kan?" ujar Zhani sekali lagi sambil menjentikkan jarinya.
Yaya mengerjap sadar. "Ha? Haha, aku tidak apa-apa," tawanya kaku. Yaya menyadari jika laki-laki itu belum pergi. Dia menjadi antusias menyapa. "Salam, Tuan! Terima kasih sudah menolongku. Kau luar biasa! Apa itu pedang sungguhan?!"
Pekikan Yaya menimbulkan pertanyaan bagi mereka. Laki-laki itu tersenyum miring. Mengambil kendi kecil di pinggangnya lalu meminumnya.
"Kau punya arak?" Ian menunjuk kendi itu.
Yaya terbelalak. "Arak? Maksudnya minuman keras?" tanya Yaya polos pada laki-laki itu.
Laki-laki itu menatap Yaya dalam. "Seorang gadis berjalan dengan tiga pria sekaligus. Tapi kau tidak terlihat seperti gadis penghibur!" mengatakannya tanpa ekspresi.
Yaya ternganga. "Kau menghinaku?!" Yaya menunjuk laki-laki itu.
"Tidak sopan! Jaga bicaramu! Yaya gadis baik-baik!" Ian marah tidak terima.
"Oh, ya? Lalu, kenapa tanganmu terikat?" laki-laki itu memukul pelan tangan Yaya dengan sarung pedangnya.
Yaya segera menarik tangannya. "Aaa! Tadi membantuku, sekarang memukulku!" Yaya sewot.
Laki-laki itu mengerutkan dahi. Menarik tangan Yaya paksa. "Ini... Tanaman! Buka tanganmu!" memaksa ingin membuka ikatan kain itu.
"Eh-eh, jangan!" pekik Yaya tidak bisa bisa menarik tangannya dari laki-laki itu.
Namun, Ian, Kaza, dan Zhani menahan tangan laki-laki itu. Apalagi Kaza menggunakan tongkatnya membuat laki-laki terkejut bisa melihat dengan jelas.
Dia memandang Kaza. "Pemburu bunga mawar? Kau masih hidup?" tanyanya heran.
Kaza sempat bingung karena laki-laki itu mengetahui tragedi eksekusi para pemburu mawar, lalu tersenyum remeh. "Tentu saja! Jangan bicara di sini. Ikut aku!" memaksa laki-laki itu berjalan beriringan dengan tongkatnya.
"Aku bisa jalan sendiri!" keluh laki-laki itu. Yaya dan yang lain mengikuti Kaza.
'Dia curiga denganku. Bahkan tau tongkatnya Kaza. Sebenarnya dia siapa? Wajahnya memang tampan, tapi penampilannya sedikit acak-acakan. Minum-minuman keras seperti minum air. Cara bicaranya malas sekali, seperti tidak bertenaga. Padahal melawan Syandu dengan mudah. Ekspresinya juga datar. Benar-benar membuatku penasaran!' batin Yaya.
Sepanjang jalan dia memandang punggung laki-laki berpedang itu, tetapi Ian dan Zhani selalu menatapnya.
"Yaya, saat dipukul tadi sakit, tidak?" tanya Ian berbisik.
Yaya ikut berbisik. "Dia memukul mawarnya. Menurutmu dia baik atau jahat?"
"Kurasa... Entahlah!" Ian mengendikkan bahu.
Yaya berdecak. Beralih bertanya pada Zhani. "Zhani? Kenapa menatapku terus?" dengan wajah polosnya.
Zhani mengerjap, "Ha? Aku hanya kepikiran soal tadi. Syandu sudah keterlaluan. Aku minta maaf atas nama dia." menangkupkan tangannya.
Yaya menggeleng cepat. "Dia hanya putus cinta. Mengerikan sekali! Mau menusukku pakai pedang? Kalau aku mati bagaimana?" membayangkannya ngeri.
"Yaya, jangan khawatir. Kau akan selalu aman bersamaku," ujar Zhani sungguh-sungguh.
"Hmm?" Yaya meneleng.
Ian memukul pundak Zhani dari belakang, "Heh, ada aku di sini. Jangan merayu Yaya!"
Yaya mendelik memandangi Ian dan Zhani bergantian. Mereka tiba di belakang gudang pasar yang tertutup. Tidak ada orang yang melintas di belakang pasar karena penuh semak belukar dan pohon. Tempatnya sangat lembab. Tiba-tiba Yaya ditarik laki-laki itu dalam dekapannya.
"Sembarangan sekali! Jangan peluk Yaya! Dasar tidak punya sopan!" Ian menarik Yaya lagi.
Yaya melototi laki-laki itu. "Jadi orang jangan begitu! Tidak punya sopan santun?! Aku bukan perempuan sembarangan!" marahnya.
Laki-laki itu berdecih. "Cerewet! Aku hanya mau menghangatkanmu!" berucap tanpa ekspresi.
"Apa?! Mana ada menghangatkan seperti itu? Biar pun cuaca dingin, tapi aku tidak kedinginan! Jauh-jauh dariku!" Yaya mengibaskan tangannya ke depan.
Laki-laki itu kembali menatap tangan Yaya dan mencoba membuka kain penutupnya. Karena gerakan yang cepat, Yaya dan yang lainnya tidak sempat mencegah.
Laki-laki itu tersentak. "Bunga mawar?" tuntutnya pada Yaya.
Yaya kelagapan. "Iya. Kenapa? Mau menangkapku juga? Ck, Kupikir kau tidak bisa berekspresi. Ternyata bisa membuat wajah kaget, ya?" ejek Yaya.
"Kau! Oh, pantas saja pemburu mawar ini ada bersamamu. Kalau kau cukup hebat sampai lari dari eksekusi, lawan aku!" ujar laki-laki itu sombong.
"Tunggu dulu!" cegah Yaya saat laki-laki itu ingin menarik pedangnya. Semua pandangan mengarahkan ke Yaya. "Kenapa kau mengenal Zhani? Kau bukan orang jahat, 'kan?" tanya Yaya.
"Lalu, siapa kau sampai memegang bunga mawar?" tanya laki-laki itu.
"Tuan berpedang, pertanyaan tidak dijawab dengan pertanyaan. Perkenalkan dirimu dulu!" pinta Yaya galak.
Laki-laki itu menarik kembali pedangnya, "Aku Ivirou Hangga. Ahli pedang di sudut kerajaan Jhani." meminum arak setelah bicara.
Yaya menganga sangat lebar. "Astaga! Sekarang ahli pedang pun bertemu denganku?!" serunya. Seketika Ian menutup mulut Yaya, menyuruhnya agar tidak berbicara keras.
"Memangnya siapa kau sampai aku bertemu denganmu?" heran laki-laki itu yang bernama Ivirou.
Yaya menggigit tangan Ian sampai Ian memekik sakit, "Aku Zuzalwa Yaya. Tolong katakan dengan lengkap siapa dirimu. Kaza masih menunggu." melirik Kaza yang menatap serius pada Ivirou.
"Saat itu aku menyaksikannya dengan jelas. Anggota kelompok itu dieksekusi di depan semua orang. Hanya satu yang berhasil lolos. Dia anak kecil, sama sepertiku. Aku dan guruku mencarinya karena punya pola pikir yang sama. Satu mawar yang memiliki sihir, bukan berarti mawar lainnya pun sama. Kerajaan Jhani tidak lagi menjadi kerajaan Mawar. Demi membela orang-orang baik yang dihukum mati karena menolak perintah raja, guruku berniat membantu, justru dia ikut dibunuh. Sejak itu aku berlatih sungguh-sungguh demi menjadi ahli pedang dan membalas dendam. Para pemburu mawar berniat baik untuk mengembalikan mawar, tapi pemikiran negatif bisa mencabut nyawa. Kau... Satu-satunya penerus mereka. Apa niatmu juga sama?" mengangkat dagunya pada Kaza.
Yaya tersentak dalam hati. 'Ivirou Hangga, jadi dia terlibat di peristiwa yang sama. Tujuannya ingin balas dendam. Tak heran wajahnya selalu terlihat dingin dan tidak baik. Dia mungkin mabuk setiap hari,' batin Yaya mengerti.
Kaza menurunkan tongkatnya lemas, "Kau... Murid dari guru itu? Aku berhutang budi seumur hidup padamu dan gurumu. Aku minta maaf tida berhasil menyelamatkan gurumu. Semoga semua arwah mereka tenang." Kaza menangkupkan tangan.
"Tidak. Mereka baru bisa tenang setelah kebenaran mawar terungkap dan raja itu mati ditanganku! Beraninya membuat perintah konyol sampai merenggut guruku dariku!" Ivirou terhasut marah dan melempar kendi arak-nya.
Yaya kaget sampai mundur selangkah. Zhani memegangnya menyuruh Yaya tenang. "Jangan takut. Ini masalah yang serius," ujar Zhani lembut.
'Jangan takut katanya? Masalah serius dan aku tidak boleh takut? Yang benar saja!' batin Yaya.
Yaya meringis pada Zhani dan kembali mendengar kisah temannya.
"Aku Kanzuro Viraka. Mereka memanggilku Kaza. Aku sedang dalam misi yang sama seperti mereka. Dengan ini tujuanku akan tercapai. Para anggota pemburu mawar pasti bangga dengan ini," kata Kaza.
"Misi? Lalu, perempuan aneh ini siapa?" tanya Ivirou.
Yaya berdecak remeh. "Mimpimu untuk balas dendam juga tidak akan bisa terwujud kalau aku tidak terjebak ke zaman kalian!" balas yaya sengit.
"Dia tidak bisa bicara dengan benar?" tanya Ivirou pada Kaza sambil menunjuk Yaya.
Yaya tidak terima, dia menginjak kaki Ivirou kuat sampai Ivirou berteriak. Ian tertawa lepas, seketika diam karena Ivirou menatapnya tajam.