16. Ramalan Singkat

2008 Kata
 Perlahan dingin mulai menghilang. Sinar mentari sudah muncul di balik awan. Angin meniup awan dengan sangat kencang hingga mendungnya hilang. Duduk melingkar dan bicara banyak hal. Kebenaran tentang Yaya membuat Ivirou curiga jika Yaya seorang penyihir yang bisa membuat mawar itu takluk. Namun, yang lain menjelaskan jika Yaya manusia biasa. Mereka sudah melihat kekuatan mawar itu sendiri dan percaya.   Ivirou memilih ikut dalam perjalanan mereka. Misteri itu harus dipecahkan. Semua hal saling berkaitan. Yaya tersenyum memandang mereka yang sedang berbincang. Awalnya hanya Ian, kemudian muncul Kaza dan Zhani. Sekarang ditambah Ivirou yang hebat ilmu pedang, tetapi tidak mau dipanggil pendekar berpedang. Yaya terkikik dalam hati karena ekspresi mereka berbeda-beda dengan tujuan yang berbeda.   'Empat laki-laki? Mereka akan menemaniku di zaman ini? Semoga aku bisa bertahan dengan mereka. Aku khawatir jika aku menjadi beban dan membuat mereka menderita. Agak aneh karena aku perempuan sendiri. Syukurlah mereka menghargaiku. Ah, sudah berapa hari aku di sini? Sampai lupa,' batin Yaya.   Keasikan berbincang mereka tidak sadar jika Yaya mengawasi. Ivirou selalu menjawab dengan singkat. Suara beratnya kerap kali membuat Ian berdecak cuek. Ian takut jika Ivirou melotot tajam kearahnya. Zhani begitu ramah. Dia selalu bertanya, jika giliran ditanya pasti akan menjawab sangat panjang. Dia diejek sok pintar oleh Ivirou. Setelah tau Zhani adalah anak Jenderal, Ivirou ingin memukuli Zhani karena bersangkutan dengan pemerintah kerajaan. Namun, Kaza dan Ian berhasil melerai. Zhani membela diri jika kejadian yang telah lalu itu juga menyinggung perasaannya. Dia hanya tidak suka dengan tindakan kerajaan yang salah dan memutuskan mengikuti langkah Yaya.   Kaza pemilik wajah tampan nan cantik itu hampir saja menangis karena bertemu dengan murid seorang guru yang sudah bersedia membela kelompoknya sampai berkorban nyawa. Dia terus berterima kasih dan minta maaf pada Ivirou. Namun, Ivirou menanggapinya dengan cuek, padahal hatinya juga tersentuh. Dia hanya menanggapi Kaza agar Kaza tenang, tidak menangis di depan Yaya.   Yaya terkikik lagi dalam hati. Duduknya yang paling anggun dan memangku bunga mawar yang sudah kembali ditutup. 'Ian, dia manis dan lucu. Sederhana, terkadang nakal. Aku tau dia sempat ingin mencuri sesuatu saat di jalan pasar, tetapi malu karena melihatku. Dia menganggapku saudara. Kemudian Kaza, pemburu yang diburu, haha. Rasanya menggelikan, dia cantik sekali! Selalu membelaku seperti Ian, walau sebelumnya terlihat jahat. Lalu, Zhani, dia ingin tau segalanya. Dia yang paling pintar diantara kami. Menanggapi Syandu saja dengan sabar. Senyumnya tenang dan sepertinya bijaksana. Aku tidak tau apa Zhani juga bisa berkelahi, tapi dia cukup berpendidikan di sini. Aku merasa... Sedikit berbeda dengan Zhani. Terlebih lagi saat dia menolak Syandu. Aku justru senang. Ini aneh sekali! Ditambah dengan Ivirou sang ahli pedang yang punya ekspresi dingin ini perjalananku pasti menyenangkan. Kurasa dia dan Kaza yang pintar bela diri. Aku tidak bisa membela diri. Hahaha, serasa membentuk kelompok investigasi! Aku dikelilingi empat laki-laki sekarang. Kalau Aloa tau, pasti dia melongo tanpa henti. Kalau Nyonya Fali tau, dia pasti heboh memuji mereka. Bisa-bisa mereka dikurung di restoran agar tidak dimiliki orang lain. Setelah itu pasti lupa siapa mereka karena penyakit pikunnya kambuh, haha. Aku rindu rumah. Aku mau pulang, tapi tidak bisa,' batin Yaya.   Yaya mengerjap untuk menghilangkan lamunannya agar tidak terus berpikir untuk pulang. Dia punya empat teman yang hebat, jadi tidak ada yang perlu ditakuti. Yaya ikut terkekeh kala candaan mereka sedikit lucu. Terkadang Yaya juga tidak mengerti apa yang mereka bahas.   "Ivirou, kalau kau balas dendam, artinya kau jadi pengkhianat kerajaan," celetuk Yaya membuat mereka kompak menoleh.   "Aku tidak peduli," jawab Ivirou santai.   Yaya terkekeh. "Mudah sekali berbuat tidak adil, lalu balas dendam, kemudian menanggung akibat dari beban yang sudah lewat. Sebelumnya tak pernah kuberpikir seperti ini. Kalian mengajariku banyak hal," jujur Yaya tanpa berhenti tersenyum.   Ivirou penasaran dengan kehidupan Yaya. "Zamanmu seperti apa?"   Yaya menunduk sebentar, "Aku bosan mengatakan ini, karena mereka bertanya hal yang sama saat bertemu pertama kali." menunjuk Ian, Kaza, dan Zhani. "Di sana dunia yang sangat jauh berbeda. Kalau di sini pakai api untuk menerangi, di sana ada lampu yang terhubung dengan listrik lalu menyala. Di sini hanya ada rumah kagum dan bebatuan yang disusun seperti dinding. Di sana banyak sekali rumah tinggi bahkan lebih tinggi dari pohon tertinggi, namanya gedung. Semua orang berhak berpendidikan tidak peduli laki-laki atau perempuan, muda atau tua, kaya atau miskin. Hanya saja ada orang-orang yang menguasai, mereka mengatur kehidupan kami dengan kebijakan. Kalau hal itu sama dengan kalian yang diatur pemerintah kerajaan," jelas Yaya.   Ivirou mengangguk paham. "Masa lalu dan masa depan. Membingungkan!"   "Hahaha, aku juga bingung, jadi jalani saja," tawa Yaya renyah.   "Hmm, berapa lama kau bersama mereka? Tidak takut? Kau seperti penghibur!" Ivirou tersenyum miring.   "Sudah kubilang aku bisa menjaga diri. Mereka juga tidak akan berbuat jahat. Sekarang kau ikut dengan kami, apa kau akan menyakitiku?" tanya Yaya bergurau.   "Cih, aku tidak tertarik pada gadis cantik!" Ivirou mengalihkan pandangannya.   "Ha? Kau tidak normal, ya?" tanya Ian polos.   Ivirou melototi Ian lagi. "Omong kosong!"   Yaya tergelak, "Ivirou, aku tau sikapmu tidak seburuk itu. Kau tau? Sangat tampan saat kau tersenyum dan tertawa kecil seperti tadi." Yaya menggoda dengan menelengkan kepala.   Ivirou memutar bola matanya ke segala arah. "Ucapan perempuan memang seperti racun!"   Bukan hanya Yaya, tapi semua yang di sana tertawa. Ivirou menjadi berdecak. "Lihat, kau manis!" pekik Yaya.   "Manis mana dengan mereka? Kalau aku memintamu memilih salah satu dari kami, kau pilih siapa?" tuntut Ivirou membuat Yaya mendelik.   "Pertanyaan apa itu? Aku tidak mau menjawab! Kalian semua temanku, mana bisa aku memihak salah satu?" Yaya melengos.   Ivirou mendorong kepala Yaya sampai Yaya jatuh. Beruntung ada Zhani yang menangkapnya. "Lihat sendiri dirimu! Sok bijaksana seperti perempuan!"   "Memang aku perempuan!" sewot Yaya.   "Sudah-sudah. Duduk lagi!" kata Zhani sambil menepuk pundak Yaya dua kali.   Yaya menatap Zhani sambil meringis. "Ivirou, kau bisa seperti Zhani? Dia baik, 'kan? Suaranya halus tidak cuek sepertimu!" melirik Ivirou.   Ivirou berdecih lagi. "Jadi Zhani yang kau pilih? Pantas saja seorang gadis ingin membunuhmu," ejek Ivirou.   Yaya kesal ingin memukul Ivirou, tetapi hanya mengangkat tangannya lalu berpaling. Mereka terkekeh, Zhani terus tersenyum pada Yaya.   "Kalian menggodaku, aku tidak mau melanjutkan perjalanan!" Yaya mengancam.   Mereka langsung sibuk membujuk Yaya. Tentu saja Yaya hanya bermain-main. Setelah dia bersedia tersenyum lagi pada mereka, perjalanan dilanjutkan. Hari sudah hampir tengah siang, tetapi pasar masih ramai. Itu karena jalan menuju perbatasan desa. Yaya berhenti di salah satu kios yang penuh kelambu. Kios itu kecil, tetapi terlihat menawan bagi Yaya.   "Tempat apa ini?" gumam Yaya.   "Kau datang di waktu yang tepat, Nona. Aku merasa kau diberkati bertemu orang-orang yang berbudi baik. Selamat datang!"   Seseorang muncul dari balik tirai dan memberi salam. Yaya ternganga dan ikut memberi salam. "Salam, Tuan! Kau benar! Aku bertemu mereka dalam satu perjalanan. Kau siapa? Apa yang kau jual?" tanya Yaya.   Orang itu melihat teman Yaya sambil tersenyum. "Aku peramal. Apapun yang ingin kau ketahui akan terjawab di sini," ujarnya.   Ian berdecih. Mendekati Yaya dan berbisik, "Dia hanya menipumu."   Yaya melirik Ian dan kembali semangat dengan peramal itu. "Kalau begitu, bisa kau katakan tentang apa yang akan kualami kelak?"   Orang itu tertawa pelan. "Sinar merah menyelimuti jalanmu. Kau akan membawa perubahan besar...," orang itu berhenti bicara karena Yaya ditarik Kaza dan pergi begitu saja.   "Lupakan, Yaya! Dia hanya asal bicara," kata Kaza.   "Tapi ramalannya belum selesai. Tuan, maaf, ya, aku pergi! Terima kasih!" seru Yaya menoleh ke belakang melihat orang itu yang kebingungan.   "Kenapa berterima kasih? Hadap depan sana!" Ian mendorong kepala Yaya untuk kembali menoleh ke depan.   "Ck, kalian tidak asik!" kesal Yaya melepaskan diri dari Kaza.   "Berikan aku arak!" celetuk Ivirou.   Yaya mendelik menatap Ivirou. "Kau tidak punya uang?"   "Kau harus memberiku arak, sebagai tanda aku mau bergabung dengan kalian," jawab Ivirou cuek.   Yaya melotot dan yang lain menahan tawa. "Ada yang begitu? Mereka bergabung juga tidak meminta hadiah. Dasar, bilang saja kehabisan uang! Ian, kasih dia uang!" melirik Ian yang ada di belakangnya.   "Hahaha, nanti bagi aku, ya!" Ian memberikan beberapa uang milik Yaya pada Ivirou.   Yaya terkejut menatap Ian. "Kau juga minum minuman itu?!" pekiknya.   "Ssttt, sudah kubilang, jangan berteriak terus! Aku minum hanya sekali-kali," elak Ian.   Yaya menggeleng tidak percaya. "Aku yakin kalian semua minum arak! Zhani juga, 'kan?!" melirik Zhani tajam.   Zhani menggeleng. "Eh, aku tidak pernah meminumnya," memandang Yaya sungguh-sungguh.   "Benarkah? Kalau ada acara di kerajaan pasti ada arak dan kau meminumnya," kata Ian menggoda. Yaya menatap Ian dan Zhani bergantian.   "Haha, aku hanya menyesapnya. Arak tidak baik untuk kesehatan," ringis Zhani.   Yaya memekik lagi membuat Zhani kaget. "Kalau begitu bagus! Jangan meminumnya, Zhani. Hanya aku dan kau yang tidak tertarik dengan arak. Mereka semua pemabuk!" kesal Yaya.   "Kalian cocok sekali! Gaya berpikir kalian hampir sama," goda Kaza.   Yaya menendang kaki Kaza sampai Kaza meringis. Ditertawakan oleh Ivirou. "Kau menggodaku lagi?!" Yaya semakin kesal.   "Hahaha, Yaya ternyata sangat galak. Jalan saja dengan benar!" ujar Zhani sambil membalikkan kepala Yaya untuk melihat ke depan.   "Kalian sama saja! Pokoknya kalau kalian mabuk, aku tidak mau membantu!" Yaya melengos.   "Bagaimana caramu membantu? Tanganmu terikat dengan mawar," ejek Kaza lagi.   "Huaaaa, tim macam apa ini?!" Yaya menghentakkan kakinya sambil berjalan.   "Heh, aku benci gadis cengeng!" seru Ivirou.   "Memangnya aku peduli?!" marah Yaya pada Ivirou sampai Ivirou tersentak.   "Dia galak!" bisik Ian pada Zhani.  "Sama Ivirou pun tidak takut. Benar-benar unik!" balas Zhani juga berbisik.   Mereka menunggu Ivirou yang sedang membeli arak dalam kendi lagi. Yaya mengawasi sekitar jika ada sesuatu yang menarik dan berhubungan dengan mawar. Jangankan mawar, penjual bunga saja tidak ada. Pasar yang padat dan sibuk. Ivirou datang langsung meminum arak-nya. Ian sungguh-sungguh meminta arak itu. Yaya terkejut Ivirou benar-benar membaginya. Dia tersenyum hangat melihat pertemanan yang nyata dalam waktu singkat.   Semua menyerahkan arah jalan pada Yaya. Yaya sendiri tidak tahu, hanya mengikuti insting hingga masuk ke desa lain. Mereka semakin jauh dan mulai lelah. Tidak ada rumah, hanya jalan penuh pohon dan rumput liar di kanan-kiri. Beberapa pohon buah juga ada. Yaya terus melangkah sambil memandang sekeliling.   'Tempat apa ini? Satu rumah pun tidak ada. Mereka kenapa tidak berkomentar?' batin Yaya.   Menengok semua temannya yang juga memandangi alam. Yaya tiba-tiba berdeham. "Ehm, kalian tidak lelah? Matahari sudah terlihat sejak tadi. Sepertinya sudah pertengahan siang. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar?" tawar Yaya ragu.   Serentak mereka berhenti. Yaya kebingungan, takut jika berbuat salah.   "Yaya, ini dimana? Aku baru tau ada tempat seperti ini. Bahkan hutan pun ada rumahnya," heran Zhani.   Yaya tersenyum kikuk, "Benarkah? Aku juga tidak tau. Mungkin Kaza dan Ivirou tau. Mereka berkelana sejak kecil." menunjuk Kaza dan Ivirou.   Kaza menurunkan tangan Yaya pelan. "Tempat ini jarang dilewati orang. Aku sendiri jarang kesini," katanya datar.   Yaya kaget dalam hati. Semakin cemas jika pikiran buruknya benar. Ian yang mengetahui perubahan ekspresi Yaya langsung menarik Yaya di dekatnya.   "Lalu, sekarang harus apa?" tanya Yaya sedikit takut. Ian tidak melepaskan lengan Yaya.   "Kau takut?" tanya Ivirou setelah meminum arak.   "Tidak masalah. Kita jalan saja. Apapun jalan yang kau ambil pasti benar." kata Zhani dengan senyuman.   Yaya menatap Zhani memastikan. "Sungguh? Kau percaya sekali padaku padahal aku sendiri tidak tau," Ada keraguan besar dalam ucapannya.   Zhani melebarkan senyumnya, "Selagi mawar itu tidak memberi petunjuk maka tidak apa-apa. Aku yakin padamu, Yaya."   Dalam hati Yaya membenarkan perkataan Zhani. Namun, Yaya bingung karena mawar itu tidak menunjukkan jalan ataupun cara secara langsung agar Yaya menyelesaikan misi dengan mudah dan kembali secepatnya.   "Ian, kau bagaimana?" menatap Ian yang memasang ekspresi sama dengannya.   "Ck, benar kata Zhani. Kaza dan Ivirou tidak tau, tapi kita tidak akan tau jika tidak melewatinya, 'kan? Jangan cemas!" tutur Ian.   Yaya menyikut perut Ian pelan. "Kau bijak sekali! Kalau begitu, ayo!" seru Yaya mencoba semangat.   Mereka tersenyum tak terkecuali Ivirou walau hanya senyuman tipis. Langkah Yaya menjadi melambat. Empat laki-laki itu sadar, tetapi tidak mengkritiknya.   "Kau tau tempat ini?" tanya Kaza berbisik pada Ivirou.   Ivirou menatap kanan-kiri sebentar. "Perbatasan desa yang ditakuti banyak orang," jawabnya santai.   "Maksudnya?" Kaza menggeleng tidak mengerti.   "Entahlah. Malas ikut campur urusan orang. Aku tidak pernah kesini," Ivirou sangat tenang.   Yaya mendengar bisikan mereka. "Ivirou pun tak pernah berjalan di sini? Sulit dipercaya!" kembali takut.   "Harusnya Zhani yang mengenal tempat ini. Dia pintar, pasti tau peta dan lokasinya," kata Kaza.   Zhani mendesah, "Aku memang tau, tapi tidak tau tempat ini. Setahuku ada desa di depan." menunjuk hadapan.   Yaya mendesah terlihat semakin cemas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN