Akhirnya mereka keluar dari jalan yang panjang dan menemukan sebuah desa. Awalnya Yaya lega, tetapi kembali bingung karena warga desanya berwajah muram. Yaya terus berjalan seakan tidak sadar sampai empat laki-laki itu sengaja berhenti pun Yaya tidak tahu.
"Yaya mau kemana? Dia mengamati desa ini serius," ujar Ian.
Zhani menggeleng. "Mungkin penasaran. Apa kau tidak penasaran? Semua orang tidak bahagia," gumamnya.
"Kurasa terjadi sesuatu." kata Kaza yang mengawasi sekitar.
Ivirou begitu tenang dengan kendi arak-nya. Dia menyusul Yaya yang berhenti di salah satu rumah.
"Eh, Ivirou pergi?" Ian segera menyusul beserta Kaza dan Zhani.
Yaya terjingkat pundaknya ditepuk Ivirou. "Ada apa?" tanya Ivirou.
Yaya berdecak. "Rumah ini kosong," jawab Yaya seperti bergumam.
Ivirou melirik Yaya, lalu mendorongnya, "Kalau begitu masuk saja!" dengan mudah menendang pintu hingga terbuka sambil menarik Yaya paksa.
Setelah semua orang masuk, Ivirou menutup pintunya lagi. Yaya terlepas begitu saja. Kakinya tidak berhenti mengitari seisi rumah. Tidak ada pembatas ruang.
"Benar-benar tidak ada orang?" gumam Yaya setelah kembali ke Ivirou.
"Rumah ini aneh sekali!" kata Ian mencebikkan bibirnya.
"Tidak masalah kalau kita istirahat di sini sebentar." Yaya duduk begitu saja bersandar pintu.
"Aku yakin kau tidak benar-benar lelah," kata Zhani.
Yaya menatap Zhani. "Tau dari mana?"
"Sangat jelas di wajahmu." Zhani menunjuk wajah Yaya. Yaya memalingkan wajahnya saat Zhani mendekat. "Kau masih takut? Tidak ada apapun di sini," tanya Zhani.
Yaya mendesah panjang. "Tidak bisa disembunyikan, ya?"
"Ekspresimu sangat jelas." Zhani terkekeh. Yaya semakin memalingkan wajahnya.
"Kau pikir kenapa semua orang tidak bahagia?" tanya Kaza yang mengintip di celah pintu.
"Kurasa ketakutan Yaya ada benarnya. Di sini bukan tempat yang aman," Ian ikut mengintip di samping Kaza.
"Yaya, apa kau takut karena bunga mawar juga takut?" tanya Zhani menunjuk mawar di tangan Yaya.
Yaya menjunjung mawarnya. "Tidak, ini murni dariku. Entahlah, aku rasa ada yang aneh. Coba kalian pikir, bukankah tidak wajar jika sebuah jalan yang begitu terang dan panjang tidak dilewati orang?" tanya Yaya mulai terbuka.
"Kau benar! Jadi, kita harus bagaimana?" tanya Ian setelah berbalik menatap Yaya.
Krikk!! Krikk!!
Tidak ada yang menjawab. Mereka hanya saling lirik. Paling tenang adalah Ivirou. Dia tidak berpikir sedikit pun, hanya sibuk meminum arak.
Yaya mendesah panjang, "Kita bermalam saja di sini. Jika kecurigaan kita benar, pasti akan terjadi sesuatu." Yaya bersandar lebih santai.
"Aku setuju! Eh, Tuan yang pintar! Minggir sedikit! Aku mau bersama saudaraku!" Ian menggeser duduknya Zhani agar menepi dari Yaya. Kemudian, dia nyengir membuat Yaya bergidik. Zhani menurut, tetapi justru pindah ke sisi Yaya yang lain. Yaya menahan tawa melihat Ian melotot.
Kaza dan Ivirou ikut duduk di depan mereka. Senyap tidak ada lagi pertanyaan. Yaya mulai sedikit gugup. Satu tempat, tanpa ada yang tau, bersama empat lelaki hebat. Ini terlalu mengganggu Yaya sebagai perempuan. Yaya melirik Kaza yang sudah tidur dengan tongkat tidak terlepas dari tangannya. Di sampingnya ada Ian yang menguap terus.
Ivirou mulai berdecak karena arak-nya hampir habis. Yaya menggeleng pelan karena Ivirou. Dalam hati Yaya berpikir kenapa Ivirou tidak mabuk setelah dari tadi minum. Lalu, Zhani yang masih menemaninya terjaga. Memandang langit-langit rumah yang sedikit berdebu, tanpa melakukan apapun.
"Zhani, kau tidak tidur?" tanya Yaya hampir seperti berbisik.
Zhani menoleh dan tersenyum tipis. "Kalau semua tidur, siapa yang berjaga? Kau sendiri kenapa tidak tidur?"
Yaya meringis, "Aku tidak tau."
"Masih cemas? Kalau begitu ayo hilangkan kecemasanmu. Kita keluar cari makanan untuk nanti malam, sekalian mengetahui kalau keadaan aman," tawarnya.
"Ide bagus! Tapi mereka?" tanya Yaya menatap semua temannya.
"Biarkan saja di sini. Kita pergi hanya sebentar," kata Zhani.
Yaya mengangguk. Dia berpindah menghampiri Ivirou yang masih terjaga sepenuhnya walaupun matanya menyirat ngantuk.
"Ivirou, aku dan Zhani mau pergi cari makanan buat kita. Kalian tetap di sini, ya!" bisik Yaya.
Ivirou menatap Yaya lekat, kemudian memukul dahi Yaya pelan sampai Yaya mendesis. "Pergilah!" ujarnya dingin.
"Dasar batu!" desis Yaya berhasil membuat Ivirou melotot. Yaya langsung pergi ke pintu.
"Zhani, jaga dia!" ucap Ivirou penuh peringatan. Zhani hanya mengangguk dan mendahului Yaya saat keluar.
Sama seperti sebelumnya, hanya berbeda kondisi. Sepi tidak ramai orang. Yaya semakin curiga, "Kenapa sekarang begini?" gumam Yaya.
"Coba kita masuk ke gang di depan sana!" Zhani mengajak Yaya menuju celah kecil membentuk jalan diantara rumah-rumah.
Yaya menjumpai seseorang yang keluar dari rumahnya. Dia membawa bakul berisi bumbu dapur yang akan dijemur. Yaya mengajak Zhani untuk menanyainya.
"Maaf, Bibi. Boleh kami bertanya?" ucap Yaya ramah.
Orang itu menatap Yaya dan Zhani aneh. "Siapa kalian?"
Zhani tersenyum kecil. "Kami pengelana. Bibi, desa ini sangat sepi. Kau mengetahui sesuatu?"
Orang itu menggeleng. "Pergilah jika tidak ingin menyesal!" ujarnya lalu pergi.
"Tunggu! Setidaknya katakan dimana ada pasar?!" pekik Yaya menahan. Sayangnya orang itu sudah tak terlihat. Yaya mendengus. "Apa maksudnya menyesal?"
"Mungkin memang ada yang tidak wajar, Yaya. Kau jangan takut, tetaplah bersamaku. Kita cari tau lagi." Zhani menggenggam lengan Yaya seakan tidak boleh terlepas.
"Zhani, kenapa kau seperti mengendap-endap?" bisik Yaya di tengah perjalanan.
"Tidakkah kau pikir benar-benar mencurigakan? Semua orang bersembunyi, Bibi itu menyuruh kita pergi tanpa alasan, pasti ada tidak kejahatan!" putus Zhani.
"Ha?! Yang benar?" Yaya terkejut.
"Sstt, tenang!" Zhani menaruh telunjuknya di bibir.
Yaya langsung menutup mulutnya. "Kita cari makan saja!" Yaya seperti merengek.
"Kalau kau yang mencari makan dan aku mencari tahu situasi bagaimana?" Zhani berhenti.
"Bagaimana caraku membawa banyak makanan?" Yaya menunjukkan tangannya.
Zhani menepuk dahinya. "Ah, iya! Yaudah, ayo cari makan!" pasrahnya.
"Hehe, jangan putus asa, kawan! Aku tau kau semangat dan tertantang. Tapi bukan sekarang!" Yaya jalan mendahului Zhani.
"Yaya, jangan berjalan sendiri!" seru Zhani justru membuat Yaya berlari. Yaya rasa dengan begitu akan cepat baginya menemukan pasar dan membawa banyak makanan.
Di balik salah satu rumah warga, seseorang sedang mengawasi Yaya dan Zhani tanpa diketahui. Dia pergi setelah Yaya dan Zhani pergi. Hingga tiba di tempat jauh dari desa. Ada banyak orang dan salah satunya duduk di kursi kayu penuh kehormatan.
"Lapor, Ketua! Dua orang itu sudah curiga! Awalnya laki-laki itu mau melakukan investigasi, tapi perempuan itu melarangnya demi makanan!" seru orang yang mengawasi Yaya tadi.
Diam beberapa menit menimbulkan pertanyaan bagi mereka. Seketika sang ketua berbalik tanpa ekspresi. "Dua orang? Lalu dimana yang tiga lainnya?" tanyanya menggema menggetarkan hati semua orang di satu ruangan.
Orang itu menggeleng. "Tidak terlihat! Kurasa hanya dua orang itu yang terlalu curiga," katanya sedikit gemetar.
Segerombolan orang berpakaian serba hitam sedang bersembunyi di atas pohon mengawasi desa dan jalanan panjang menuju desa. Mereka melihat Yaya dan tim-nya dengan penuh waspada. Tidak menduga jika yang pertama kali merasakan bahaya adalah Yaya seorang perempuan.
"Kau tidak cari tahu kenapa tangan gadis itu diikat?" tanya ketua.
"Tidak. Mereka segera pergi setelah bertanya pada salah satu warga. Orang yang ditanya juga tidak menjawab. Kita masih bisa bertindak!" jawab orang itu semangat.
"Bodoh!" ketua membentak. Mereka kaget bukan kepalang. "Salah satu dari mereka membawa pedang, satunya lagi bertongkat, lalu gadis itu sok pintar! Mereka tidak bisa diremehkan! Jika salah satu dari mereka bertindak, kita akan gagal! Cepat cari tiga orang itu! Kurung dia di markas!" seru ketua.
Mereka semua berseru, "Baik, Ketua!"
Berpencar mencari Yaya dan yang lainnya. Usai kembali mencari makanan, Zhani membawa sekeranjang buah dan makanan ringan. Yaya heran dengan makanan ringan itu, mereka tidak sama dengan zaman modern.
'Itu bukan makanan ringan, tapi kue basah dan lauk! Herannya!' Yaya tidak mau memandang Zhani.
Seketika mereka terhenti karena Ian, Kaza, dan Ivirou berlari menghadangnya. Segera menarik mereka untuk bersembunyi.
"Kalian?! Ada apa ini?!" Yaya panik seiring berlari.
"Ada sekumpulan orang jahat yang mengincar kita. Untung Ivirou tahu dan membangunkan kami. Jadi kau bisa lari sebelum ketahuan!" jawab Ian dengan napas terengah.
"Konyol! Memangnya kita berbuat apa sampai takut ketahuan? Maksud Ivirou, kita bisa cari tau nanti jika kita bersembunyi, bodoh!" Kaza menjitak kepala Ian.
"Aduh! Aku hanya menjawab Yaya, apa salahnya?!" kesal Ian.
Lelah berdebat akhirnya menemukan tempat persembunyian yaitu di balik pohon beringin yang sangat besar jauh dari rumah warga. Mereka terengah kecuali Ivirou.
"Yaya, kau akan menyelidiki ini atau tidak? Kami ikut denganmu!" kata Ivirou datar.
Yaya mengernyit, "Ha? Selidik apa? Bisakah kau katakan dengan jelas?" di sela napasnya yang terengah.
"Kecemasanmu, bodoh!" desis Ivirou.
"Ck, biasa saja, dong! Aku... Ingin mengetahui yang sebenarnya. Desa ini kehilangan keceriaannya. Kalian tau? Salah satu warga bilang kita harus pergi jika tidak mau menyesal. Itu membuatku semakin bingung. Zhani juga mendengarnya." menunjuk Zhani dengan kedua tangan.
Zhani mengangguk, "Andai Yaya tidak mencegahku dan menemaninya mencari ini, aku pasti menemukan sesuatu tentang mereka!" menunjukkan keranjangnya yang penuh makanan.
Ian semangat memandang makanan. Saat ingin mengambil makanan itu, Kaza menahan Ian dengan tongkatnya. "Apa yang orang-orang itu inginkan? Kenapa mau menangkap kita seakan kita ancaman?" gumam Kaza sambil berpikir.
"Itu sebabnya! Mereka pikir kita ancaman. Kalau Yaya ingin tau, maka kita harus mencari tau. Asalkan kau tidak boleh lepas dari kami, Yaya!" ujar Ivirou serius.
"Kalian tidak keberatan?" justru Yaya khawatir.
"Apa maksudmu? Ini tantangan bagi kami. Tentu saja tertarik!" balas Kaza.
Yaya tersenyum. "Kau, Zhani, dan Ivirou setuju. Bagaimana dengan Ian?" tanya Yaya memandang Ian.
"Aku? Kalau kalian setuju aku bisa apa? Tapi aku lapar, boleh makan dulu?" pinta Ian sambil nyengir.
"Tidak boleh!" cegah Ivirou.
Yaya menahan tawa dan Ian berdecak. "Hah, wajah dingin ini! Jangan terlalu serius, ayolah! Kita makan sebentar sebelum hari benar-benar gelap. Lagipula kita butuh tenaga untuk menyelidiki, benar? Ayo makan dulu!" Ian merebut keranjang itu dari Zhani.
"Di sini? Apa aman?" tanya Yaya celingukan.
"Aman, kecuali kau mau di atas pohon," jawab Ivirou.
"Hehe, tidak usah. Di sini aja. Kalian juga harus makan!" suruh Yaya. Dia duduk bersama Ian. Mereka ikut duduk mengepung makanannya. Ivirou kaget karena Yaya terus disuapi dan Yaya hanya pasrah menerima.
"Heh, sudah besar makan sendiri!" seru Ivirou.
Yaya kesal. "Mau makan pakai apa? Kaki?" jawabnya sewot.
Ivirou tersenyum miring menatap tangan Yaya. "Siapa suruh mawar itu melekat. Aneh!" cueknya berlanjut makan.
Yaya melengos acuh. Dia heran saat Zhani mengulurkan tangannya untuk menyuapinya. "Zhani, kau menyuapiku?" tanya Yaya polos.
Zhani mengerjap. "Eee, hanya mau mencoba. Mereka bergantian menyuapimu, jadi kenapa aku tidak?" elaknya polos.
"Hehe, aku jadi sungkan. Nanti tanganmu kotor," Yaya berkilah.
"Kau tidak menerimanya dariku?"
Yaya segera menggeleng. "Bukan begitu!" segera memakan makanan dari tangan Zhani. "Terima kasih," lanjutnya dengan mulut penuh.
Zhani tersenyum dan melanjutkan makannya. Ivirou terus mengejek Yaya dengan seringaian geli.
'Rasanya aku ingin menendang p****t Ivirou!' batin Yaya.
Gelap datang dan masih tersisa beberapa makanan ringan. Yaya menuruti rencana yang dibuat Ivirou. Dia harus selalu berada bersama Ivirou untuk mencari tahu kebenaran dari orang-orang misterius itu. Kemudian Zhani dan Ian bersama untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya dari warga. Lalu, Kaza sendiri sembunyi-sembunyi mencari sesuatu yang berhubungan dengan orang-orang itu. Mereka berpencar. Ivirou benar-benar mengawasi Yaya yang pergerakan yang kurang cepat darinya. Dia sering memaki Yaya, tetapi hanya menggoda. Yaya sering mengomel dan pasrah menurut.
Hingga dia bersembunyi dengan cepat saat menjumpai rumah kosong yang sempat mereka singgahi telah digeledah beberapa orang misterius itu.
"Yaya, kau lihat itu? Kurasa mereka tetap di sana sejak mengejar kami." bisik Ivirou menunjuk rumah kosong itu dengan dagunya.
"Itu berarti, beberapa dari mereka berpencar?" tanya Yaya sambil berbisik.
"Tepat sekali!"
"Kita harus apa?" Yaya bingung.
"Amati saja sampai mereka bergerak," jawab Ivirou serius. Yaya mengangguk pasti meskipun hatinya sedikit cemas. Bukan cemas karena takut lagi, tetapi mencemaskan teman-temannya yang berpencar.
'Apakah mereka baik-baik saja? Sebentar lagi malam sungguhan.' batin Yaya sambil menatap langit.
Zhani dan Ian berpencar tidak terlalu jauh. Mereka mendapatkan pernyataan yang berbeda-beda. Banyak dari mereka menyuruh pergi, tetapi ada juga yang menyatakan dengan kesedihan.
"Zhani, raut wajah mereka sebagian besar menunjukkan kekhawatiran yang sama seperti Yaya. Apa desa ini dirundung?" Ian bingung.
"Atau mungkin diteror? Kenapa aparat sampai tidak tau?" Zhani ikut bingung.
"Sekarang bagaimana?" tanya Ian.
"Tunggu sebentar lagi. Pasti ada petunjuk. Orang-orang itu akan bergerak!" kata Zhani.
"Bagaimana kalau kita lakukan interogasi pada satu orang sambil menunggu?" tawar Ian.
"Ide bagus! Dari mana kau dapat ide ini?" Zhani menjentikkan jarinya.
"Haha, aku sering diintrogasi setelah ketahuan mencuri. Jadi... Ya, seperti Itulah." jawab Ian santai membuat Zhani menganga.
Sedangkan pekerjaan Kaza menjadi sangat sulit karena berhasil menemukan markas kelompok itu. Awalnya tidak menemukan satu orang pun, kemudian tiba-tiba dia dikepung dari berbagai sisi.
"Siapa kalian?!" tanya Kaza serius bersiap dengan tongkatnya.
Bukannya jawaban baik-baik yang didapat, justru serangan secara bersamaan membuat Kaza kualahan. Sekitar sepuluh orang lebih yang bertarung dengannya. Kaza kesulitan untuk menyampaikan kabar pada yang lain.