18. Masalah Desa

2114 Kata
 Zhani dan Ian berlari setelah berhasil mendapat jawaban yang sebenarnya dari salah satu warga. Interogasi mereka berjalan lancar. Desa itu benar-benar di teror dan warga memiliki trauma yang mendalam. Belakangan ini sering terjadi perampokan besar-besaran di beberapa desa oleh sekelompok berandal yang berjumlah banyak. Walaupun warga kehabisan harta mereka, para berandal itu tetap mengincar desa mereka. Entah apa yang kelompok itu cari, tetapi terus mengganggu kenyamanan warga hingga harta mereka terkuras habis. Tak jarang para perempuan muda yang mereka tahan untuk pemuas nafsu. Membuat semua gadis dikunci dalam rumah. Semua orang tidak berani melapor karena ancaman yang diberikan adalah peledakan desa. Tentu saja para warga takut. Sejauh ini tidak ada yang terluka parah meskipun melawan.   Sekarang, perkiraan warga desanya juga akan diserang perampok. Setelah beberapa hari yang lalu berhasil menaklukkan desa sebelah. Itu sebabnya desa serasa sunyi. Tidak diduga dalam perjalanan mencari Ivirou dan Yaya, Zhani dan Ian menjumpai markas kelompok perampok itu. Mereka terkejut karena Kaza sangat kesulitan bertarung, bahkan mendapat beberapa pukulan dan goresan.   "Astaga, si cantik itu terluka!" seru Ian.   Tanpa perintah, mereka terjun membantu Kaza dan mengambil senjata perampok untuk membalas serangan. Kaza sangat terkejut Zhani bisa bertarung menggunakan pedang, kemampuan Ian juga meningkat. Namun, tidak ada waktu bagi Kaza untuk berkomentar. Dia terus menangkis serangan sambil menahan sakit.   "Kaza, mundur!" titah Zhani di sela bertarungnya.   "Heh, kau lumayan terampil juga!" bukannya menurut, Kaza justru tersenyum simpul.   "Bodoh! Ayo lari!" pekik Ian lari duluan.   Sebagian dari perampok mengejar Ian membuat Zhani dan Kaza harus berlari. Mereka berpencar semakin jauh dan tidak tahu arah. Menyelamatkan diri masing-masing dengan keadaan lelah. Di lain itu Ivirou dan Yaya juga berlari karena ketahuan. Ivirou bisa saja menghabisi mereka tanpa ampun, tetapi dia harus melindungi Yaya. Yaya sangat ketakutan di belakang Ivirou. Mereka dikepung di pertigaan jalan.   "Ivirou! Ivirou!" Yaya terus teriak padahal perampok itu belum menyerang.   Ivirou menggenggam erat lengan Yaya sambil waspada. Pedang tajamnya sudah menantang, Ivirou membaca situasi.   "Yaya, jika ada celah cepat lari. Cari yang lain jangan sampai tertangkap! Akan kubunuh mereka semua!" desis Ivirou.   Yaya menggeleng kuat. "Tidak mau! Aku takut!" pekik Yaya.   "Hahaha, gadis cantik! Kau yang cerdik itu rupanya? Jangan khawatir, tiga teman laki-lakimu pasti sudah tertangkap."   Seru salah aku dari mereka membuat Yaya dan Ivirou terkejut.   "Jadi mereka tau kita dari awal?" gumam Yaya.   "Tidak, mereka hanya tau firasatmu. Mereka melihat kita sejak masuk ke desa," bantah Ivirou.   Yaya menggigit bibir bawahnya. 'Sekarang bagaimana?' batin Yaya.   Yaya terbelalak saat mereka menyerang bersamaan. Ivirou tidak tanggung-tanggung menyayat dan menusuk mereka dengan sadis membuat Yaya terus memekik, terkadang juga menutup mata. Suara tangkisan pedang itu menggema. Yaya tidak bisa berdiam diri. Sejak tadi Ivirou membawanya berputar-putar karena kepungan perampok. Yaya membasahi bibirnya seraya berpikir.   'Putar kanan ada pedang. Ke kiri ada pedang. Dimana-mana ada pedang. Aku harus tau segalanya. Pasti... Di tempat lain terjadi keributan,' pikir Yaya.   Sedetik kemudian terdengar suara riuh dari setiap sisi. Bising barang-barang bertabrakan, orang-orang panik keluar dari rumah. Banyak orang tertawa berpakaian serba hitam seperti mereka yang mengepung Yaya.   "Ha! perampokan besar!" teriak Yaya membuat mereka berhenti menyerang dan tertawa terbahak-bahak.   Yaya dan Ivirou miris dengan keadaan. Mereka sibuk tertawa membuat Ivirou menarik Yaya untuk berlari.   "Hei, berhenti! Kejar mereka!" seru salah satu dari mereka.   Yaya lari lebih cepat dari sebelumnya. Matanya sangat waspada melihat tombak yang akan memisahkannya dengan Ivirou.   "Awas!" pekik Yaya sambil berputar sampai tangannya terlepas dengan Ivirou. Mereka berdua menjauh dan orang itu mengajak Ivirou bertarung.   "Yaya, lari!" perintah Ivirou.   "Ivirou, jaga dirimu!" seru Yaya sembari lari.   Beberapa perampok mengejar Yaya. Kondisi desa sudah kacau-balau. Empat laki-laki itu tidak bisa membantu menyelamatkan warga yang menangis karena barang-barang mereka diambil. Halaman banyak rumah rusak parah. Tawa dan sayatan pedang menggema. Ivirou lelah meladeni para perampok. Yaya tidak tahu harus kemana dia bersembunyi. Hanya terus berlari, sesekali menengok ke belakang. Kaza yang terluka juga tengah sedih melihat situasi parah dan dia hanya bisa menyelamatkan diri sendiri. Ian dan Zhani entah menuju di sudut mana untuk kembali berkelahi dengan para perampok. Nasib malang sungguh menyayat hati Yaya.   'Dimana mereka bertiga? Apa mereka juga dikepung?' pikir Yaya.   Masih sempat memikirkan temannya sampai tidak fokus pada jalan. Kaki Yaya tersandung akar yang keluar dari tanah.   "Aduh!!"   Lutut Yaya berdarah. Susah payah Yaya kembali berlari setelah melihat orang-orang yang mengejarnya semakin dekat.   'Astaga! Ini buruk! Aku harus kemana? Kenapa mereka mengejarku, sih? Kalau sampai tertangkap bisa tamat riwayatku!' pekik Yaya dalam hati.   Takut bukan kepalang, Yaya berbelok hingga masuk ke jalur yang lembab dan penuh pohon. Terdengar banyak suara langkah kaki menyibak semak-semak membuat Yaya semakin berlari kencang menembus jalanan lembab itu menjadi jalan yang berbatu. Yaya bisa merasakan ada batu besar yang dia injak.   "Pasti di bawah sana ada gua! Aku harus turun!" gumam yaya.  Perlahan menuruni bebatuan. Bersembunyi di celah batu yang sangat gelap. Yaya memejamkan matanya berharap para perampok tidak menemukannya. Di samping itu lututnya semakin sakit walaupun hanya luka gores.   'Sshh, semoga mendung terus nggak ada sinar bulan malam ini!' suara hati Yaya.   Menatap langit yang sepertinya mendukungnya. Yaya tersentak mendengar seruan para perampok lagi. Mereka ikut menuruni jalan berbatu. Yaya ketar-ketir sampai menggoyangkan bunga mawar di tangannya berulang-ulang.   "Semoga tiba-tiba mereka buta, nggak akan lihat aku, semoga aku tak kasat mata dalam sekejap. Aaaa, siapapun tolong aku!" cicit Yaya.   Menelan ludahnya kasar, kemudian menunduk. Seketika Yaya mundur dan terantuk batu. Tidak ada jalan lain selain jalan dimana dia datang.  "Ju-ju-ju-jurang?!" Yaya menahan pekikannya.   Membasahi bibir dengan lidahnya, celingukan tidak bisa berpikir, kakinya tiba-tiba gemetar.   'Siapa yang menaruh jurang di sini? Kenapa aku ada di posisi menghampiri maut? Huaa, aku mau pingsan!' sambung Yaya dalam hati.  "Gadis cantik! Dimana kau bersembunyi?" seru salahkan para perampok yang terdengar sangat dekat.   Spontan Yaya menutup mulutnya, justru terantuk sama mawar. "Susah sekali! Jangan panik, Yaya. Tarik napas dan harap tenang. Buang perlahan jangan sampai kaki bergerak sedikit ke jurang," gumam Yaya tenang. Setelah itu berteriak lagi dalam hati. "Bagaimana bisa tenang, bodoh?!" Yaya memukul kepalanya dan batu dengan kesal.   Yaya hanya bisa menunggu dan berdoa agar selamat. Dia memandang jauh di hadapan yang sangat gelap. Pemukiman warga tidak terlihat.   'Sepertinya ini jauh dari desa. Kasihan para warga dirundung musibah. Mereka yang merampok tidak pantas diberi ampun! Aku sampai dikejar! Aku akan balas jika selamat nanti! Lihat saja!' tekat Yaya penuh dalam hati.   Matanya terlihat lebar jika melamun dan memikirkan sesuatu. Sejenak Yaya merasakan indera pendengarannya tidak berfungsi. Ternyata para perampok itu sudah pergi. Perlahan Yaya mengintip, dirasa aman Yaya perlahan keluar. Tidak mau melihat jurang, tetapi harus menunduk agar tidak salah melangkah. Justru kakinya gemetar lebih kuat membuat Yaya teriak takut.   "Itu dia!" seru prajurit perampok yang ternyata bersembunyi di antara bebatuan lain.   "Ha?! Oh, tidak!" Yaya kehilangan keseimbangan mengakibatkan kakinya terpeleset.   "Aaaaaaa!" teriak Yaya menggelegar.   Para perampok itu terkejut dan melarikan diri. Yaya memejamkan mata mengetahui ini akhir hidupnya, akan tetapi sebuah tangan dengan sigap menahan tangan Yaya. Yaya masih berteriak tidak melihat apapun. Kakinya menendang kesana-kemari membuat tubuhnya semakin berat.   "Yaya, diamlah! Ini aku, ayo naik!" seru Zhani di atas sedang kesulitan menarik Yaya.   Yaya berhenti teriak dan membuka matanya sebelah. Melotot seraya tersenyum lebar, "Zhani?! Ahaha, kau datang! Syukurlah, terima kasih Sang Penguasa masih membiarkanku hidup! Zhani, tolong bantu aku cepat!" Yaya sibuk ingin Naina, terhalang oleh mawar yang dia genggam.   "Ck, kau jangan bergerak terus! Berat tau!" keluh Zhani berusaha menolong Yaya.   Beberapa detik kemudian Zhani berhasil membawa Yaya ke pelukannya. Yaya diam tidak bergerak dan tidak bernapas. Zhani melepaskan pelukannya dan meraba kaki serta tangan Yaya.   "Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?" Zhani begitu panik.   Yaya terus diam memandang Zhani, memekik saat Zhani menyentuh lututnya. Zhani segera berlutut menyibak pakaian Yaya sampai lutut.   "Apa yang kau lakukan?!" Yaya sadar sedikit menarik kakinya.   "Kau jatuh? Dimana?" tanya Zhani dengan polosnya mendongak.   Yaya semakin tercengang, "Demi apapun aku baru melihat wajah polosmu ini, Zhani?" gumam Yaya.   Zhani menurunkan pakaian Yaya dan memukul pelan luka Yaya, "Aku serius, Yaya!"  "Aww, sakit-sakit!" Yaya meringis. Berdecak melirik Zhani, "Terima kasih sudah menolongku. Sekarang ayo cari yang lain! Kita tolong warga desa!" Yaya terburu-buru berbalik.   Namun, para perampok itu kembali dan mengetahui Yaya selamat. "Gadis itu bersama temannya! Cepat tangkap mereka!"   Yaya dan Zhani kelagapan. "Yaya, pegang aku!"   Zhani mengalungkan tangan Yaya di lehernya membuat Yaya terkejut, lebih terkejut lagi saat Zhani memeluk pinggangnya dan mengajak Yaya terjun ke jurang.   "Zhani gilaaaaaa!!!" teriak Yaya membuat telinga Zhani sakit.   Pendaratan yang sangat tepat dari Zhani menghentikan teriakan Yaya. Yaya menarik dirinya dari Zhani dan mendongak. "Aku terjun dari jurang sungguhan! Ini kemajuan karena aku tidak mati! Wah, mereka mencari jalan lain! Zhani, ayo cari tempat sembunyi!" celingukan panik.   Zhani memukul kepalanya gemas, "Tenggorokanmu tidak sakit teriak terus dari tadi? Telingaku sampai sakit rasanya." menggeleng lalu menarik Yaya untuk mencari tempat yang aman.   "Tidak ada yang bisa kulakukan selain teriak. Apa daya kalau tangan terikat? Coba saja kalau tanganku bebas, mereka sudah kupukul habis-habisan!" celoteh Yaya seiring berjalan.   "Oh, ya? Memukul bagaimana? Seperti ini?" Zhani memukul dahi Yaya.   "Aww, kau... Ih, pukulan seperti itu mana bisa melukai lawan? Payah!" Yaya melengos.   Zhani berhenti sejenak, "Payah? Terjun dari jurang itu kau bilang aku payah?" meneleng menatap Yaya.   Yaya meringis, "Hehe, iya Zhani yang baik, hebat, nan pemberani! Aku hanya mengoceh apa salahnya?" memutar pandangan ke segala arah.   Zhani mendesah, "Kau membuatku risau saja." gumamnya dan kembali melangkah.   "Apa? Risau padaku? Eh, aku juga merisaukanmu. Maksudku, merisaukan kalian semua. Apalagi melihat para warga yang menangis itu, aku kasihan. Kalian berempat orang hebat, pasti bisa menjaga diri. Meskipun terluka, kalian bisa membela diri. Zhani, kenapa mereka mengejar kita? Mereka mau apa? Bukannya sudah puas merampok?"   Zhani hanya menghela napas panjang mendengarkan runtutan pertanyaan Yaya. Sampai tiba di sebuah semak-semak yang dihalangi ilalang dan pohon besar, mereka sembunyi di sana.   "Ini mungkin ladang yang terbengkalai. Kurasa di sini aman." gumam Zhani sembari mengawasi sekitar.   "Hah, akhirnya bisa duduk dengan tenang. Ck, bagaimana dengan Ivirou, Ian, dan Kaza?" Yaya meluruskan kakinya. Berdecak cemas mengundang perhatian Zhani.   Suara hewan malam menghilangkan kesunyian. Tetap saja rasanya tenang. Langit masih mendung sesuai seperti keinginan Yaya. Sekarang Yaya berharap agar tidak turun hujan.   "Kenapa mendongak?" heran Zhani.   Yaya menoleh, "Aku berdoa agar tidak turun hujan. Kalau hujan turun kita bisa mati kedinginan di sini." jelas Yaya kembali mendongak.   Zhani menggeleng pelan, "Biar kulihat lukamu." menarik kaki Yaya pelan.   "Eh-eh, tidak usah." Yaya menarik kakinya merasa malu.   "Aku hanya melihatnya," kekeh Zhani.   Bukan hanya Zhani, Yaya sendiri heran lututnya tergores banyak.   "Sepertinya akar itu membuatku jatuh sangat keras." lirih Yaya. Menunduk dan meniup lukanya.   "Ini luka kecil. Satu hari mungkin sudah sembuh." Zhani ikut meniup luka Yaya.   Yaya menarik-narik kecil kakinya merasa tidak enak pada Zhani, "Zhani, sudahlah."   Zhani merobek sedikit pakaian luarnya untuk membalut luka Yaya. Jantung Yaya bergemuruh, mulutnya sedikit terbuka susah untuk mengatakan sesuatu.   "Sudah selesai." Zhani tersenyum.   Yaya mengerjap dan mengalihkan pandangan, "Terima kasih lagi. Maaf, pakaianmu jadi rusak."  "Tidak masalah. Ngomong-ngomong, aku tau segalanya kenapa mereka merampok dan mengejar kita," Zhani mendadak serius.   Yaya tertarik, "Benarkah?"   Zhani menceritakan semuanya dari apa yang dia dengar dari warga dan juga kejadian berkelahinya bersama Ian dan Kaza. Yaya khawatir mengetahui Kaza terluka. Bisa Yaya tebak jika perampokan satu desa sudah selesai dan para perampok kembali ke markasnya atau pergi ke tempat lain.   "Jadi, Ivirou benar jika mereka tau kita dari awal. Melihat kalian berempat mereka merasa terancam apalagi Ivirou dan Kaza yang membawa senjata. Zhani, kita harus berantas mereka!" Yaya menatap manik mata Zhani sungguh-sungguh.   Zhani mengangguk, "Untuk itu kita butuh rencana. Seratus persen aku yakin mereka akan pindah ke desa lain yang jauh dari pandangan aparat hukum. Sayang sekali aku tidak bisa membawa pemerintah untuk menyelidiki ini."   "Kalau begitu kita cari Ian dan yang lainnya. Mereka pasti masih ada di desa!" seru Yaya terlalu semangat.   "Jangan dulu, Yaya! Bagaimana kalau para perampok belum sepenuhnya kembali? Mereka masih mencari kita, sudah pasti ada beberapa yang belum pergi," cegah Zhani.   "Benar juga. Lalu, bagaimana?" raut wajah Yaya sangat cemas.   "Kita tunggu dulu," Zhani menenangkan.   Yaya menurut, menekuk kakinya lelah. Teringat saat dia selamat dari jurang secara tidak sengaja.  Memandang Zhani penasaran. "Oh, ya, Zhani... Kau datang dari mana? Kenapa bisa ada di tepi jurang tiba-tiba? Perasaan aku sembunyi sendirian di celah bebatuan itu," heran Yaya.   Zhani menunjukkan deretan giginya. Menggaruk kepala bingung ingin menjawab. "Aku juga lari dari mereka. Kakiku membawaku kemari, jadi aku bertemu denganmu. Aku loncat dari atas segera saat tau kau kepergok waktu mau keluar dari celah. Eee, selanjutnya begitulah," masih sedikit ragu.  Yaya mendelik, "Wah! Ternyata kau sangat hebat! Kupikir tidak bisa bela diri. Anaknya seorang Jenderal tentu saja sangat lihat, haha! Lain kali ajari aku, dong!" pinta Yaya.   "Tidak mau! Berbahaya untukmu." Zhani berpaling pandangan.   Yaya terus gencar membujuknya dengan berbagai rayuan dan ekspresi. Sampai akhirnya Yaya berhenti mengoceh karena seseorang menghampiri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN