Yaya sudah mundur dan bersiap untuk lari. Untungnya Zhani sigap segera membuat orang itu pingsan. Salah satu perampok berhasil menemukan mereka. Yaya dan Zhani menyembunyikannya di antara semak-semak.
"Pasti akan ada yang datang lagi," gumam Yaya masih memandang perampok yang pingsan.
"Tidak akan kubiarkan itu terjadi. Saat ini kita tidak boleh pindah." Zhani mengawasi dengan tenang.
"Begitu, ya?" Yaya menidurkan kepalanya di atas lutut, "Sekarang menunggu lagi."
Suara Yaya yang begitu lirih membuat Zhani mendekat, "Kau lapar?"
Yaya menggeleng, "Aku berpikir bagaimana kalau tadi benar-benar jatuh di jurang sendirian pasti sudah mati. Apa aku bisa kembali?"
"Tentu saja tidak. Sudah jelas kau harus membantu mawar itu untuk menguak segalanya baru bisa kembali. Aku akan melindungimu, tenang saja," memandang Yaya polos.
Yaya tersenyum simpul, "Kau jujur sekali."
Mereka saling menatap tanpa arti. Yaya begitu menelisik sampai duduk lebih dekat membuat Zhani heran.
'Dilihat lebih dekat begini Zhani memang mirip sama orang di mimpiku. Dia benar-benar Zhani,' batin Yaya.
Zhani melambaikan tangannya, "Yaya? Ada apa?"
Yaya semakin serius saat mengerutkan dahi. "Wajahmu...," sengaja menggantung ucapannya.
Zhani meraba wajahnya. "Ada sesuatu di wajahku?"
"Sshh, sepertinya agak mirip denganku. Iya, tidak?" Yaya menggeleng.
Zhani mendelik, "Mana mungkin?"
"Tidak, ya? Kupikir kita saudara kembar, haha. Kalau bukan saudara kenapa kau yang muncul di mimpiku?" tanya Yaya bingung.
"Kau ini... Kukira perihal apa," Zhani melirik Yaya.
"Hehe, aku tidak mau menunggu lagi. Ayo kita cari yang lain. Mungkin saja butuh bantuan. Ini sudah cukup lama, 'kan?" pinta Yaya.
"Ya, sudah, pastikan kau tidak jauh dariku." Zhani menggandeng lengan Yaya.
"Bagaimana caraku menjauh kalau kau menarikku terus?" Yaya berdecak.
Mereka mencari jalan alternatif untuk sampai ke desa. Karena tidak berhasil menemukannya, mereka kembali ke bukit bebatuan dan masuk ke jalanan lembab hingga tiba di desa. Kaki lelah tidak dirasakan. Pedih menyayat hati mendominasi karena pemandangan buruk yang di dapat.
Isak tangis semua orang menjadi lagu penghalang tidur. Banyak orang tua yang memanggil nama anak perempuan mereka yang dirampas oleh perampok. Semua berantakan, ternak dan ladang hancur. Satu pun harta tidak tersisa.
Yaya perlahan menghampiri mereka. Zhani mengepalkan tangan mengetahui ketidakadilan yang luput dari pandangan aparat hukum.
"Nyonya?" panggil Yaya pada salah satu warga yang bersimpuh di tiang rumahnya.
"Anakku!! Tolong selamatkan anakku! Para b******n itu layak mati! Tolong kami, anak muda!" pinta orang itu memohon di kaki Yaya.
Yaya sedikit mundur, "Nyonya, tenangkan dirimu." lirih Yaya.
"Bagaimana bisa tenang? Lihat disekelilingmu! Kami harus tenang?!" teriak tangis orang itu.
Yaya mendesah dan kembali pada Zhani, "Rencana apa yang kau punya, Zhani? Kau sangat bijaksana, pasti tau jalan keluarnya."
Zhani masih memandang semua orang, "Apa yang bisa kulakukan, Yaya? Satu-satunya cara kita harus menyamar untuk bisa menangkap para perampok dan membawa aparat hukum kemari!" desisnya.
"Yaya... Zhani..."
Mendengar seruan yang tertatih itu membuat Yaya memutar pandangan, "Itu suara Kaza!"
"Di sana!" Zhani menunjuk pertigaan jalan.
Seketika mereka lari menghampiri Kaza yang bertompang tongkat untuk berdiri. Banyak goresan dan darah di tubuhnya. Dia meringis saat Zhani memapahnya.
"Kaza, kenapa bisa begini?" sedih Yaya meneliti tubuh Kaza.
"Jangan hiraukan aku. Ian dan Ivirou belum ditemukan. Kita cari tempat singgah dulu," lirih Kaza.
Yaya dan Zhani mengangguk. Yaya berlari mencari sebuah gubuk tidak memperdulikan para warga dulu. Air matanya luruh saat Zhani membuka pakaian Kaza.
"Banyak sekali sayatan! Apa kau tidak melawan, ha? Kalau tanganku bebas akan kupukul lukamu! Gunanya tongkat sama golok buat apa sampai kau seperti ini?" Yaya menggeleng bingung ingin menyentuh luka Kaza.
Kaza justru tersenyum seiring Zhani membersihkan lukanya. "Aku senang kau menangis karenaku. Heh, kau sendiri tidak apa-apa, 'kan? Bukannya tadi bersama Ivirou? Kenapa sekarang dengan Zhani?"
Yaya mengusap air matanya dengan lengan, "Ivirou menyuruhku lari menyelamatkan diri karena tidak mau melibatkanku dalam pertarungan. Kemudian, Zhani menolongku saat aku hampir jatuh dari jurang, walaupun akhirnya kita jatuh juga."
Kaza nyengir, "Jadi kalian bersama? Syukurlah ada Zhani. Yaya, pergi cari mereka sekarang juga! Kurasa desa ini sudah aman."
"Kau bagaimana? Lukamu cukup parah!" Yaya memarahi Kaza.
"Apa dengan tangisanmu lukaku bisa sembuh? Jangan konyol! Ada Zhani di sini, jadi cepat cari mereka!" titah Kaza.
Yaya berdecak, "Zhani, pukul saja lukanya jangan diobati!" meminta bantuan Zhani.
Zhani menakut-nakuti Yaya dengan tangannya yang terkena darah Kaza. "Aaa, jangan begitu! Awas kalian!" Yaya menunjukkan mawar di tangannya kemudian keluar dari gubuk dan lari memanggil dua temannya. Zhani dan Kaza terkekeh.
"Jenderal mengajari banyak hal padamu," ujar Kaza memulai pembicaraan.
"Ilmu yang tinggi akan sia-sia jika tidak berguna bagi masyarakat. Kaza, kita harus berantas para perampok itu!" Zhani tidak berhenti mencoba menghentikan darah Kaza yang mengalir.
"Benar! Rasanya gatal sekali ingin membalas dendam!" Kaza mengepalkan tangan kuat.
Yaya berlarian tak tentu arah, tidak berhasil menemukan Ian dan Ivirou. Hingga dia menginjak air disekeliling pasar desa. Yaya mencium air itu yang ternyata arak. Insting Yaya mengatakan Ivirou sedang bersembunyi di pasar sambil minum arak. Yaya menggeledah setiap toko. Mendengar suara pedang yang diasah meminta Yaya untuk mendekat. Di celah satu toko itu suaranya semakin jelas. Seketika sebuah pedang keluar dari celah menantang leher Yaya.
"Ivirou, ini aku!" Yaya melirik celah itu.
Pedang itu langsung jatuh dan Ivirou menampakkan diri. Yaya tersenyum karena Ivirou baik-baik saja.
"Yaya, mana yang lain?" Ivirou ambruk ditahan Yaya, "Astaga! Kau kenapa? Kau juga terluka?" Yaya panik.
"Mereka semua b******n pengecut! Aku akan membunuh mereka!" seru Ivirou seraya menjauh dari Yaya.
Darah keluar dari lengan kanan Ivirou yang tertutup. Wajah Ivirou pucat seperti Kaza.
"Orang tangguh sepertimu pun kalah? Ivirou, maaf, harusnya kau ikut lari bersamaku." air mata Yaya luruh lagi.
"Aku tidak kalah. Mereka yang keroyokan!" bantah Ivirou marah.
Yaya mengangguk saja paham sifat Ivirou, "Biarkan dulu. Zhani dan Kaza ada di gubuk. Ayo obati lukamu di sana."
Ivirou mengambil pedangnya lagi dengan tangan kiri. Setibanya di gubuk itu, Kaza mengejek Ivirou yang juga terluka walau hanya di lengan. Mereka berdebat tiada henti membiarkan Zhani mengobatinya. Yaya kembali ke jalan desa mencari Ian. Yaya punya banyak prediksi tentang Ian. Entah Ian terluka atau dibawa perampok, atau justru ikut merampok. Ian mencuri dan bebas kemana saja. Yaya berteriak sekeras apapun tidak ada tanda-tanda dari Ian.
'Dari mereka berempat, Ian yang kemampuan bela dirinya kurang. Orang itu pergi kemana? Kalau dia macam-macam, akan kutendang pantatnya!' batin Yaya.
Menambah kecepatan kakinya, Yaya mendadak berhenti saat melihat padepokan yang tertutup rapi seperti rumah yang lain. Sedikit takut, tetapi karena penasaran Yaya masuk. Terdengar bisik-bisik suara perempuan. Yaya menguping di pintu, suaranya masih samar. Yaya menendang pintu dengan mudahnya terbuka. Yaya menganga tidak menduga akan ada pemandangan mengerikan yang dia lihat.
"Iaaaannnnn!" teriak Yaya membuyarkan kerumunan para gadis itu.
Ada banyak gadis desa yang bersembunyi bersama Ian. Mereka merengek takut mengepung Ian laksana Ian seorang pahlawan. Ian meringis dan sibuk mencari tempat sembunyi diantara para gadis itu.
"Si bodoh yang kurang ajar! Temanmu sampai keluar darah dan kau... Bersenang-senang di sini? Tindakanmu memalukan!"
Yaya mengejar Ian yang terus berputar-putar.
"Aaaa, jangan tendang pantatku yang seksi! Nanti mereka bisa marah!" seru Ian karena Yaya berhasil menendangi p****t Ian.
"Dasar m***m!" geram Yaya.
"Iya, jangan tendang dia!" kata para gadis desa serentak.
Yaya berhenti dan menatap mereka semua, "Kalian sedang apa? Perampokan sudah selesai dan semua orang dilanda takut! Cepat keluar atau aku akan menendang kalian juga!" matanya menyorot marah.
Mereka segera keluar dari padepokan dan Yaya menggiring Ian hingga ke gubuk sambil terus menceramahi Ian. Di gubuk itu Yaya mengeluh soal sikap Ian. Kaza dan Ivirou hanya memandang Ian dengan senyum penuh arti seakan mendukung perbuatan Ian. Lalu, Zhani lelah dan tiduran bersandar tiang.
"Mau bagaimana juga aku harus melindungi mereka, 'kan? Kalau mereka merayu juga bukan salahku menikmatinya. Kau iri, ya?" goda Ian.
"Apa katamu?! Kenapa yang kau selamatkan hanya gadis-gadis? Kenapa tidak nenek-nenek yang sudah tidak kuat berjalan?!" marah Yaya.
Ian mendelik, "Matamu menakutkan, Yaya! Untuk apa nenek-nenek kubawa? Tidak ada istimewanya," gumam Ian di akhir ucapannya.
"APA?!" Yaya semakin marah.
"Yaya, kemari!" pinta Zhani menarik perhatian mereka.
Yaya menatap temannya satu per-satu, "Luka Kaza dan Ivirou sudah terbalut. Dengan kondisi ini mereka akan kesulitan bertarung. Hanya kau dan Ian yang baik-baik saja. Aku tidak ingin ada yang terluka lagi." kata Yaya menjadi sendu setelah mendekati Zhani membuat Zhani membuka matanya.
"Apa maksudmu. Aku masih sanggup menghajar mereka!" geram Ivirou.
"Golokku masih belum kugunakan. Dia haus darah para perampok itu!" sambung Kaza.
Yaya mendesah, "Mengertilah, kawan! Kita harus atur strategi. Ada Zhani di sini. Dia akan berusaha membawa aparat hukum menangkap para perampok dan mengembalikan kedamaian desa. Kita harus berpikir kali ini bukan dengan kekerasan."
Mereka diam kemudian mengangguk.
"Yaya benar. Aku akan membawa aparat hukum dengan cara menyamar. Sedangkan kalian diam-diam menuju desa selanjutnya, tempat dimana mereka melakukan aksinya lagi," sambung Zhani.
"Lalu, kita buat apa di sana? Merampok juga?" tanya Ian polos.
"Kali ini akan kutendang wajahmu!" desis Yaya. Ian kembali mendelik duduk mendekati Ivirou.
"Kalian cegah mereka diam-diam. Jangan menunggu sampai mereka merampok apalagi menyerang, tapi kalian menyerang mereka terlebih dulu. Sekap mereka dalam satu tempat. Hati-hati, mereka sangat banyak dan lihai. Berusahalah agar tidak terjadi suara sekecil apapun saat menangkap mereka. Setelah itu aku pastikan aparat sudah datang menyelamatkan. Bagaimana?" jelas Zhani.
"Kurasa ini aman untuk kita, tapi tetap harus waspada," Yaya menyahut.
Mereka mengangguk kompak.
"Tunggu dulu, kau pergi sendiri?" tanya Ian pada Zhani.
Yaya menoleh pada Zhani, "Kau pergi sendirian? Tidak bisa! Aku ikut!"
Zhani menggaruk tengkuknya, "Kalau kau ikut aku tidak bisa bergerak bebas."
"Maksudmu aku akan mengacau? Yang benar saja!" Yaya berdecih.
Zhani menggeleng, "Bukan begitu, Yaya. Ck, baiklah kalau kau memaksa."
Yaya tersenyum puas. "Lihat saja pasti aku yang lebih berguna nanti," sedikit sombong.
"Ha?" Zhani mendelik.
"Soal menyamar dan merayu perempuan jagonya!" seru Yaya.
"Betul itu!" sahut Ian.
Krikk! Krikk!
Tidak ada yang bersuara lagi. Tengah malam lima remaja itu menjalankan niatnya. Kaza, Ivirou, dan Ian mengambil jalur keluar desa untuk tiba di desa selanjutnya. Ian bertukar mengawasi Ivirou dan Kaza yang semangat ingin membalas dendam meskipun lukanya hanya terbalut perban. Jika sesuatu terjadi pada Ivirou dan Kaza maka Yaya akan menendang p****t dan memarahi Ian setiap saat.
Yaya bergegas kembali ke tempat sebelumnya dimana akan ada pos penjagaan para aparat hukum. Dia menunggang kuda bersama Zhani untuk menyingkat waktu. Sedikit geli punggungnya yang sesekali bertabrakan dengan d**a Zhani, tetapi Yaya senang bisa berkesempatan menunggang kuda. Tidak jauh dari kebun bunga, mereka berjumpa beberapa prajurit yang berjaga. Dari kejauhan Zhani mengajak Yaya bersembunyi.
"Sekarang apa?" tanya Yaya berbisik.
"Menyamar," jawab Zhani polos.
"Menyamar seperti apa? Dalam sekejap mereka bisa mengenali postur tubuhmu," Yaya gemas.
"Benar juga. Lalu, bagaimana?" Zhani kebingungan.
Yaya berdecak kemudian mengintip para prajurit yang sudah hampir dekat, "Kalau aku yang melapor bagaimana? Aku akan pakai cadar. Ini berhasil waktu di kebun bunga, bukan?"
Zhani mengangguk-angguk, "Ah, benar!"
"Cadarnya mana?" lanjut Yaya.
"Pakaian luarmu lepas saja. Gunakan untuk menutupi wajah dan tanganmu. Setidaknya mereka tidak akan curiga pada tanganmu," saran Zhani antusias.
"Iya! Aku akan pura-pura jadi korban perampokan yang berhasil melarikan diri. Cepat bantu aku!"
Zhani membantu melepas pakaian luar Yaya dan membuat wajah Yaya tertutup rapi hanya terlihat matanya saja.
"Ehm, waktunya beraksi!" Yaya berusaha berekspresi semenyedihkan mungkin.
Zhani terkikik menahan tawa, "Yaya, kuserahkan padamu!" mengepalkan tangan memberi semangat.
Yaya ikut mengepalkan tangan, kemudian berlari dengan terpincang-pincang dan berhasil menarik perhatian para prajurit.
"Berhenti!"
Yaya hampir terjatuh saat berhenti. Terengah saat para prajurit mendekatinya.
"Nona, kau baik-baik saja? Kenapa keluar tengah malam begini?" tanya ya salah satu prajurit.
Yaya terisak sangat terlihat seperti gadis yang sedang dirundung. "Tuan, desaku dirampok banyak orang. Saudari-saudariku diculik. Aku berhasil melarikan diri. Tolong selamatkan kami, Tuan!" Aku Yaya.
"Perampokan? Mustahil! Tidak ada kejahatan selama kami berjaga di sini!" bantah prajurit tadi.
"Desaku jauh di sana. Dekat jalan yang amat panjang. Tuan, kumohon bantu kami! Aparat hukum apa yang tidak bisa melindungi rakyatnya? Harta kami sudah habis, apa nyawa kau juga harus habis? Mereka banyak sekali dan bersenjata. Kami tertindas, Tuan!" Yaya menangis sesegukan sambil berlutut. Menunjuk arah dimana dia datang.
"Kenapa Yaya menangis sungguhan? Dia pandai bersandiwara," gumam Zhani mengintip tersenyum tipis.
"Kalau begitu ayo kita ke sana!" seru prajurit itu disetujui yang lainnya dengan keras.
"Bawa Nona ini ke tempat yang aman!" titah prajurit tadi sebelum pergi.
Yaya spontan berdiri mencegah mereka, "Tuan, biarkan aku ikut! Aku ingin bertemu teman-temanku!"
Permintaan Yaya tidak dihiraukan. Ada dua prajurit yang mencoba membawanya.
"Eh-eh, Tuan, biarkan aku ikut!" Yaya bersikeras.
Zhani segera datang dan memukul leher mereka hingga pingsan. Yaya mendesah lega. Zhani membantu Yaya melepas samarannya.
"Kau berhasil! Tidak kusangka mereka sangat mudah dibujuk!" ujar Zhani senang.
"Nanti bicara lagi. Ikuti mereka!" seru Yaya sudah kembali seperti semula.
Beberapa prajurit tadi menunggang kuda, Yaya dan Zhani bisa mengimbangi mereka dari belakang. Di sisi lain, Ivirou, Kaza, dan Ian sudah tiba di seberang desa. Tepat di perbatasan desa, terdengar gelak tawa yang sangat menjijikkan bagi Ivirou dan Kaza. Suara itu melewati celah pohon besar.