Menuju pohon itu dan terlihat sebuah rumah yang sangat terawat. Ivirou dan Kaza sudah gemas ingin menghantam para pemilik tawa itu, tetapi Ian menahan mereka.
"Ingat kata Yaya, jangan gegabah! Hampir mereka diam-diam lalu sekap di satu tempat. Ini kesempatan bagus. Kita bisa buat mereka pingsan mumpung sedang berkumpul," bisik Ian.
"Kurasa kau tertular Zhani. Gaya bicaramu mirip dengannya," Ivirou berdecak.
"Tapi rumah ini pasti digital. Pemiliknya mungkin juga di sandera. Jangan sampai merusak rumah apalagi menimbulkan kekacauan bagi warga," bisik Kaza.
"Cara kita melakukannya?" tanya Ivirou.
"Ah ha! Aku biasa mencuri dari pintu belakang. Akan kulumpuhkan bagian belakang. Kalian masuk lewat jendela, jangan buka pintu utama. Sebisa mungkin jangan sampai gagal!" Ian serius.
Kaza tersenyum miring, "Kau yang jangan sampai gagal. Kita ikuti saranmu. Ayo!"
Mulai bergerak tidak memperhatikan luka yang masih basah. Ian menganggap ini permainan. Dia senang menerobos pintu dengan sangat santai. Dugaannya benar jika ada penjagaan. Dengan cepat Ian membuat mereka pingsan dengan beberapa pukulan. Lain dengan Ivirou dan Kaza yang hanya dengan sekali pukul lawan langsung pingsan.
Dari tiga sisi mereka bicara melalui kode mata. Di ruangan itu sedang berkumpul menghitung hasil rampokan dan para gadis diikat menjadi satu. Ian memberi aba-aba untuk Ivirou dan Kaza menyerang bersamaan. Dalam hitungan detik mereka berhasil tidak sadarkan diri.
"Hahaha, ini lebih mudah dari yang kukira." Ian berkacak pinggang.
Kaza sibuk membebaskan para gadis dan Ivirou mengecek wajah para bandit satu per-satu.
"Aku tidak pernah melihat mereka," gumam Ivirou setelah selesai memeriksa.
"Apa mungkin mereka bukan dari kerajaan Jhani?" Kaza kesulitan keluar dari kerumunan para gadis yang berterima kasih padanya. Ian menyuruh gadis-gadis untuk pergi kembali ke desanya.
"Kalau begitu ini masalah yang cukup besar," Ian ikut berpikir.
"Berapa lama lagi Yaya dan Zhani datang?" Kaza mengintip celah pintu.
"Aku lebih khawatir jika ada perampok yang masih ada di luar," Ian ikut mengintip.
"Maksudmu masih ada yang tersisa dari mereka? Biar kuatasi!" Ivirou tersulut menyingsingkan lengan bajunya.
Kaza menahan Ivirou, "Kau buruk sekali! Ini jauh lebih baik bisa menangkap sekian banyak. Sisanya pasti berkeliaran di luar. Mungkin lebih dari satu dan kau bisa dikeroyok lagi!"
"Sial! Mereka pasti punya ketua!" Ivirou melengos kesal.
"Kau benar! Siapa ketua mereka? Yang mana?" Ian menjentikkan jari. Celingukan mencari dari mereka yang sekiranya seorang ketua.
Tiba-tiba pintu utama didobrak keras. Tiga laki-laki itu menoleh bersamaan.
"Hahahaha! Tiga sekaligus aku dapatkan! Terima kasih mempermudah jalanku!" seru seseorang yang kemudian menaburkan bubuk yang mengaburkan pandangan.
Seketika mereka pingsan. Orang itu tertawa lagi kemudian diam menyorot sekeliling tajam. "Orang-orang payah! Sia-sia hari ini karena tiga bocah sok pahlawan! Sekarang aku harus menyembunyikan barang-barangku!"
Orang itu adalah sang ketua. Semua harta rampasan buru-buru disembunyikan. Ivirou, Kaza, dan Ian diikat.
"Masih ada dua orang lagi. Dimana mereka?" gumam sang ketua.
Sebelum dia melarikan diri, rumah itu sudah dikepung prajurit. Zhani muncul memakai kau hitam untuk menutupi wajahnya, kemudian mendapati sang ketua di jalan. Dia mendekati prajurit dan menunjukkan jalan hingga ke rumah itu. Sang ketua tertangkap dan semua anak buahnya ditahan dalam keadaan pingsan. Harta rampasan dikembalikan secara langsung. Namun, identitas Zhani terbongkar saat sang ketua berhasil menarik cadarnya.
"Zhani? Ternyata kau di sini! Cari tiga buronan yang lain!" seru salah satu prajurit.
Pergerakan mereka sangat cepat. Zhani tidak bisa melawan saat ditahan.
"Hahaha, Zhani yang sangat lihai dalam segala hal. Kau anaknya Jenderal, bukan? Aku menangkapmu, hahaha!" tawa sang ketua yang juga sedang ditahan prajurit.
Zhani meronta, "Sialan kau!" desisnya.
Para prajurit itu berhasil menemukan Ivirou, Kaza, dan Ian. Zhani tersentak ingat meninggalkan Yaya sendirian di atas kuda.
'Yaya? Bagaimana kalau dia juga ditangkap? Gawat!' batin Zhani.
"Siapa yang berpedang ini?" tanya prajurit itu menunjuk Ivirou. Mencium aroma tubuh Ivirou sedikit menjauh, "Dasar pemabuk! Kenapa bisa bergabung denganmu?" berganti menunjuk Zhani.
Zhani meronta lagi, "Daripada mengurus buronan yang menjalankan misi, lebih baik kalian usut perampokan ini! Banyak desa yang luput dari mata kalian!" sindir Zhani tajam.
"Benar! Kami juga akan mengusut kasusmu. Dimana gadis yang membawa mawar terkutuk itu?" memaksa Zhani bicara.
"Apanya yang kasus? Mawar itu benar-benar menunjukkan sihirnya...," ucapan Zhani dipotong . "Lalu akan membawa keburukan lagi. Bawa Zhani dan yang lain ke istana!" titah prajurit itu.
Zhani kelagapan, "Tidak! Bukan begitu maksudku!"
Menggeretak pun tidak ada guna. Rumah itu telah kosong. Para prajurit itu tidak bisa membedakan mana kawan dan lawan. Zhani sangat kesal.
'Yaya, kau harus lari!' dalam hati Zhani.
Yaya menahan pekikannya di balik pohon. Dia melihat semuanya. "Benar-benar bodoh! Kayaknya ketua perampok itu sedikit gila. Dia tidak kejam seperti anak buahnya. Tertawa jahat terus, jijik jadinya!" gerutu Yaya memandang kepergian semua orang.
Yaya tersentak, "Aku harus melakukan sesuatu."
Mencari cara agar bisa menyelamatkan teman-temannya, Yaya diam-diam mengikuti prajurit lagi. Kakinya sampai lelah di tengah perjalanan. Yaya terduduk lemas saat mereka berhenti. Pos penjagaan menjadi tempat singgah sementara.
"Hahhh, kakiku mati rasa!" Yaya mengatur napasnya.
Kembali segar setelah mendengar pintu belakang ditutup, "Pasti Zhani dan yang lainnya ada di sana!"
Segera menghampiri pintu belakang yang terkunci. Yaya tidak bisa masuk, bingung mencari celah untuk mengintip.
"Ck, hanya Zhani yang sadar, yang lain asik tidur," gumam Yaya.
Tampak Zhani juga sedang berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya. Yaya menendang pintu pelan membuat Zhani waspada. Yaya menendang pintu lagi mengisyaratkan Zhani datang.
"Yaya?" bisik Zhani heran setelah melihat Yaya lewat celah.
Yaya berbisik menyuruh Zhani membuka pintu dari dalam.
"Tidak bisa. Ini dikunci!" balas Zhani.
Yaya berdecak, "Bangunkan Ian! Dia itu nakal, pasti tau caranya!" desis Yaya.
Zhani mengangguk dan bergegas membangunkan Ian. Menendang, memukul, sampai mencubit pun tidak berhasil. Kemudian Zhani mencari air di ruangan itu. Menemukan sebuah kendi berisi arak. Susah payah Zhani mengangkat kendi itu dengan jari-jarinya. Seketika Ian sadar setelah disiram arak.
"Hah! Hujan!" pekik Ian kelagapan.
"Sstt, kita ditahan, jangan berisik!" kata Zhani.
Ian terbelalak, "Astaga! Bukannya tadi menyelamatkan para gadis?" menggaruk kepalanya.
"Sudahlah, lepaskan ikatanku cepat! Yaya ada di luar." Zhani membelakangi Ian untuk mengarahkan tangannya.
Ian masih bingung, "Kau terikat, kenapa aku tidak diikat? Siapa yang melakukannya?" membuka tali ditangan Zhani.
"Aparat hukum. Karena ketua perampok membuka samaranku, jadi kita tertangkap," jelas Zhani berbisik.
"Ah, aku ingat! Ketua itu membuat kami pingsan dengan bubuk tak penghilang kesadaran. Menyebalkan sekali!" gerutu Ian.
Tali itu sudah terlepas. Zhani segera menyadarkan Ivirou dan Kaza dengan arak. Mereka sadar lebih lama dari Ian. Sedangkan Ian meneliti pintu.
"Ini mudah!" Ian menjentikkan jarinya.
"Ian, cepetan!" desis Yaya.
Ian mengintip, "Heh, kenapa kau di luar? Harusnya ikut masuk ke dalam!"
"Bodoh! Cepat lakukan sesuatu sebelum ketahuan!" Yaya kesal.
"Iya-iya!" Ian mencari sesuatu dan mendapat benda tajam dan tipis seperti tusuk besi. Mencoba membuka pintu dengan serius.
"Akhirnya terbuka!" seru Ian tertahan.
Zhani membawa Ivirou dan Kaza yang sedikit sakit akibat lukanya belum sembuh. "Kau hebat! Darimana tau cara itu?"
"Haha, aku pengangguran, tapi aku tau segalanya! Kalau mencuri dari peti terkunci, aku sudah biasa membukanya dengan mudah!" Ian berbangga diri.
"Hah, mencuri lagi. Ayo keluar!"
Sebelum Zhani membuka pintu, Yaya terlebih dulu mendorong pintu membuat semua temannya terkejut.
"Kalian tidak apa-apa? Ivirou dan Kaza kenapa?" tanya Yaya khawatir.
"Kami tidak apa-apa. Mereka masih sakit, jadi harus segera diobati," jawab Zhani membuat Yaya menatapnya.
"Ini jauh dari tempat tadi. Kita akan sulit untuk berjalan. Ivirou dan Kaza harus bisa tahan, atau kita cari tabib?" Yaya terlalu cemas.
"Kami tidak apa-apa," balas Ivirou tidak merasa kesakitan.
Yaya memukul luka Ivirou sampai Ivirou mendesis, "Dasar konyol!"
"Aku tau rumah tabib di sini," kata Zhani.
Tanpa berdebat lagi Yaya memaksa mereka untuk mengikuti Zhani. Bagaimanapun juga kesehatan mereka lebih penting. Keluar diam-diam hingga tiba di rumah sang tabib. Hanya ada satu pelita yang menerangi teras rumah itu. Begitu banyak tanaman obat yang mengitari rumah. Yaya penasaran dengan pemiliknya.
"Permisi, kami datang ingin berobat!" seru Yaya.
Hanya sekali salam tabib itu membuka pintu. Begitu melihat Yaya segera menyuruh Yaya masuk, tetapi tidak memperbolehkan yang lain masuk.
"Tuan, teman-temanku yang sakit, bukan aku." Yaya dengan ramah menunjuk Ivirou dan Kaza.
"Jangan katakan pak tua itu menyukai Yaya," bisik Ian pada Zhani.
"Dia memang sedikit bermasalah dengan perempuan," jawab Zhani pelan masih memandang tabib.
"Mata keranjang! Lihat yang cantik langsung bugar!" Ian berdecih. "Tuan Tabib, kami mau berobat bukan bertamu!" seru Ian sengaja.
Tabib itu mengerutkan darinya, "Kau laki-laki atau perempuan?" menunjuk Kaza.
Yaya langsung tertawa, "Dia cantik, 'kan?" melirik Kaza. Kaza berdecih dan memalingkan wajahnya.
"Hmm, aku tidak menerima pasien laki-laki." tangannya mengusir.
Yaya menganga, "Maksudnya apa? Kau harus membantu temanku!"
Cegahan Yaya membuat tabib itu kembali berbalik.
"Benar! Tidak masuk akal! Aku tau niat orang tua sepertimu! Yaya, jangan bicara dengannya!" Ian menarik Yaya sembunyi di belakangnya. Yaya mengerjap polos.
"Hei, kalian pergi saja kalau tidak suka. Mengganggu waktuku saja." tabib itu ingin menutup pintunya.
"Tunggu, Tuan! Setidaknya beri kami obat. Akan kubayar berapapun harganya," Zhani mencegah.
Tabib itu menelisik Zhani, "Sepertinya aku mengenalmu. Apa kita pernah bertemu?"
Zhani tersenyum sambil menggeleng, "Tidak, Tuan. Berikan obatnya." menodongkan tangan meminta.
"Ah, tunggu sebentar." memandang Zhani penasaran sebelum masuk rumah.
"Huft, dia keterlaluan!" Ian tidak suka.
"Hahaha! Hai, Cantik! Sepertinya tabib itu mau memberi obat karenamu, haha!" ejek Yaya menyenggol Kaza.
"Ck, diam!" Kaza menyorot tajam.
Yaya terkikik, tidak sengaja pandangannya bertemu Zhani, "Kau tidak boleh menyamar lagi, Zhani. Sekarang kita harus segera pergi. Mereka pasti sudah sadar kalau kita melarikan diri."
Zhani mengangguk, "Kau lelah?"
Yaya menggeleng, tetapi Ian semangat menggodanya. "Heh? Zhani menunjukkan perhatiannya! Yaya, kau tidak tau, ya?" menyenggol Yaya.
Yaya sedikit menepi dari Ian, "Apa-apa? Jangan ganggu aku!" sewotnya. "Hehe, aku masih sanggup berjalan sampai pagi tanpa henti!" cengir Yaya pada Zhani.
"Benarkah? Aku takut kaki kecilmu bisa patah," Kaza ikut menggoda.
Yaya melototi Ian dan Kaza, "Kalian jangan meremehkanku!" memunggungi mereka, "Kalau kakiku patah, kalian harus menanggung akibatnya!" lanjut Yaya.
"Tidak masalah, aku bisa menggendongmu," Zhani tersenyum tanpa beban.
Yaya refleks berbalik dan melebarkan matanya seperti yang lain. Zhani menjadi menggaruk tengkuknya, "Emm, apa aku salah bicara?"
Ian menendang Zhani. Yaya meringis beringsut sembunyi di samping Ian sambil melirik Zhani. "Haish, anak ini terlalu polos! Berani sekali!"
Zhani mengelus kakinya, "Aku hanya mau membantunya saja!" menunjuk Yaya dengan dagu.
"Zhani menakutkan!" pekik Yaya membuat Zhani mendelik.
"Kalau begitu biar kubunuh saja!" Ivirou menarik pedangnya.
"Jangan!!!" seru Yaya, Ian, dan Kaza kompak.
Ivirou tersenyum dan memasukkan pedangnya lagi. Yaya mendesah, "Terlalu mengejutkan! Ivirou, kau berdarah dingin!" menggeleng kaget.
Tabib itu datang memberikan satu kotak berisi obat-obatan untuk luka. Menjelaskan cara pengobatan dan mulai melantur. Empat laki-laki itu mengajak Yaya pergi sebelum tabib bicara lebih banyak padanya. Berputar arah menuju jalan tanpa ada pemukiman. Mereka tidak melewati desa satu pun.
'Aku ingin mandi,' batin Yaya.
Di sekeliling hanya ada rumput dan tumbuhan liar. Banyak pohon yang tidak berbuah dan Yaya tidak tahu namanya.
"Langit sejak tadi mendung, tapi tidak hujan," gumam Yaya setelah melihat langit. Tidak sadar jika teman-temannya memperhatikan dari tadi.
'Kemarin sampai sekarang salah jalur. Zaman ini lebih menakutkan!' batin Yaya lagi.
Jalannya sambil menendang rumput yang basah. Menunduk semakin lemas. Mendongak lagi saat sesuatu seperti cahaya melintas tepat di matanya. Yaya berhenti, mencari arah hilangnya cahaya tadi.
"Ada apa, Yaya?" Ian menghampiri.
"Kalian lihat itu? Ada cahaya yang menyorot sekilas tadi," ujar Yaya.
"Cahaya? Aku tidak lihat cahaya," kata Ian.
Yaya menangkap cahaya lagi dalam matanya. Kali ini berhasil mengikuti jejak cahaya itu yang menghilang jauh di depannya.
"Itu dia! Mungkin ada sesuatu di sana!" Yaya lari mengejar cahaya itu.
Ian mengikutinya, "Yaya, jangan sembarangan! Bisa saja itu cahaya hantu!"
Zhani, Ivirou, dan Kaza saling memandang. "Apa Yaya melihat hantu?" Zhani mengernyit.
"Kurasa dia berhalusinasi karena menahan lelah." Kaza mengangguk-angguk.
"Tidak! Aku juga sempat melihat pacaran cahaya. Ayo ikuti Yaya!" Ivirou menarik Kaza dan Zhani paksa.
Karena lelah berlari, Yaya berhenti sejenak. Namun, tepat di depannya ada sebuah panggung megah. Cahaya tadi berasal dari sana. Ivirou dan yang lain juga tercengang.
Yaya menekuk lututnya. "Ian, itu apa?"
Ian membantu Yaya berdiri. "Ternyata benar ada cahaya. Tapi ini sudah hampir pagi. Sedang apa?" Ian mengernyit.
"Ini seperti pelaksanaan upacara. Anehnya tidak ada orang. Apa mungkin sudah selesai?" Zhani memilah celah antara Yaya dan Ian.
"Heh, kenapa kau menjauhkanku dari Yaya?" Ian melirik Zhani.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Aku hanya ingin melihat panggung dengan jelas." jawab Zhani tanpa menatap Ian.
"Ck, banyak alasan! Panggung upacara apa yang dibiarkan kosong dan hanya obor yang bergelantungan terombang-ambing oleh angin?" Ian menunjuk obor yang terikat tali di atas panggung.
"Mana aku tau?" Zhani mengendikkan bahu.
"Kalian terus saja membuatku pusing. Kita istirahat di sini sepertinya aman. Sekalian mengobati luka." Yaya menatap mereka bergantian.
"Aku lebih khawatir padamu." Kaza merebut kotak obat dari tangan Ian dan membawa Yaya ke panggung.
"Aku? Memangnya aku kenapa?" Yaya tertawa kecil.
Mereka duduk di belakang panggung kayu yang dikelilingi obor dan satu obor bergelantungan. Tanpa tiang penyangga, hanya papan kayu yang ditata bertundak.