27. Ditinggalkan

1949 Kata
Bunyi kursi yang ditarik menyadarkan Asia dari lamunannya. Asia meneguk ludahnya dengan susah payah. Jantungnya mendadak berdetak dengan cepat. Walau sadar dirinya menyukai Eugene, Asia belum siap dengan semua itu. “Apa kamu menunggu lama?” “Tidak, tidak begitu lama.” Eugene hanya pergi selama 5 menit dan itu tidak begitu lama bagi Asia. “Kita hanya punya waktu 5 menit lagi, cepat habiskan kuemu.” Asia mengerjap tak percaya, apa Eugene tidak ingin melanjutkan percakapan mereka yang sebelumnya? Sambil menyantap kuenya Asia berharap penuh jika Eugene kembali melanjutkan percakapan mereka. Tapi ternyata pembicaraan itu tidak dilanjutkan lagi. Asia merasa kecewa dengan hal itu. Tapi jika diperhatikan, aura dan ekspresi Eugene tampak semakin suram. Apa yang sebenarnya terjadi? “Eugene,” panggil Asia pelan. “Hmmm?” “Apa kamu baik-baik saja?” “Ya.” “Apa kamu yakin? Kamu tampak lebih kusut. Pria itu tidak melakukan suatu yang buruk padamu kan?” Asia khawatir. Asia awalnya tidak ingin ikut campur karena sadar diri, tapi dia tidak bisa melihat Eugene seperti ini. “Aku baik-baik saja, Asia.” Eugene bangun dari duduknya. “Lebih baik kita pergi sekarang. Kamu pasti lelah dan ingin beristirahat.” “Apa kita akan ke rumahmu?” Dari posisinya yang masih duduk, Asia bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Eugene. Mata hitam itu tampak memandanginya tajam. Bibir itu sedikit terbuka sebelum tertutup kembali. Hanya anggukan singkat yang kemudian Asia dapatkan. Mereka berdua akhirnya pergi dari toko kue itu. Mereka kembali ke tempat di mana kereta kuda mereka sudah menunggu. Suasana dalam kereta kuda sangat sepi. Asia memutuskan untuk berpura-pura sibuk menatap keluar jendela. Kereta kuda yang mereka tumpangi kemudian melewati sebuah area terbuka luas yang Asia yakini sebagai alun-alun pusat kerajaan dan dari sini Asia bisa melihat sebuah bangunan tinggi besar dan tampak megah. “Waah!” kagum Asia, “Itu kuil suci, para pendeta suci tinggal di sana. Mereka pemilik mãna yang ketiga dan cukup istimewa karena mereka bisa menyembuhkan dan membuat perlindungan. Sayangnya jumlah mereka sangat sedikit.” Suara Eugene yang memecah keheningan itu membuat Asia menoleh. Wajah Eugene masih terlihat serius, namun di sana ada senyum yang dipaksakan. Entah kenapa Asia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Eugene. “Jadi jenis mãna untuk kesatria dan pemanah itu sama, lalu ada mãna penyihir dan terakhir mãna pendeta suci.” Eugene mengangguk membenarkan. “Jika orang-orang sakit, apa mereka akan pergi ke kuil suci?” tanya Asia karena di tempatnya ada rumah sakit. “Tidak.” “Lalu, apa gunanya kekuatan mereka jika tidak bisa membantu orang-orang?” “Untuk beberapa hal, kuil suci akan dibuka untuk pengobatan umum. Tapi para pendeta suci tidak sehebat itu dalam menyembuhkan, kebanyakan dari mereka adalah orang yang payah dan mereka hanya menyembuhkan penyakit tertentu, karena itu rakyat memilih mengandalkan dokter. “Dokter? Di sini juga ada seperti itu?” “Tentu saja.” “Lalu siapa yang bisa menjadi dokter?” “Seseorang yang memang tertarik dalam dunia penyembuhan.” “Dunia ini ternyata bisa sehabat ini.” Eugene mengangguk setuju dan memejamkan matanya membuat Asia tidak berani berbicara lagi. Asia terdiam, memikirkan kembali semua informasi yang dia dapatkan dari Eugene. Jika diibaratkan sebuah game, untuk saat ini dunia yang ditempatinya ini terbagi menjadi empat job. Kesatria, pemanah, penyihir, dan pendeta. Setiap manusia di dunia ini, memiliki jumlah mãna yang berbeda-beda dan mãna yang mereka miliki harus memiliki media perantara untuk dikeluarkan. Jadi, selama mereka tidak membawa senjata, manusia di sini tidak ubahnya manusia di dunia Asia. Fakta itu seketika membuat Asia tersenyum karena dia banyak melihat orang-orang tidak membawa senjata. Itu artinya mereka sama saja, tidak berbeda. Saat Asia menoleh ke luar jendela lagi, Asia seketika sadar jika di luar tampak sepi sekali. Semakin lama, di sisi kiri dan kanan jalan tampak pepohonan. Semakin lama, entah kenapa suasananya semakin terasa tidak nyaman bagi Asia. Entah kenapa firasatnya tidak enak. Dari yang awalnya pepohonan, perlahan tembok besar terlihat di depan mata Asia. Tembok itu cukup panjang hingga Asia sadar jika mereka melewati sebuah gerbang. “Apa ini rumahmu?” Asia belum melihat bangunan rumahnya memang, tapi dari tembok yang panjang dan gerbang yang besar, sudah sangat jelas jika rumah di depannya pasti sangat besar. “Bukan.” “Lalu rumah siapa?” “Temanku.” Asia tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia lebih baik menunggu dan melihat daripada harus bertanya, apalagi Eugene tidak berada dalam kondisi terbaiknya. Kereta kuda itu kemudian berhenti. Saat tangan besar Eugene membuka pintu kereta kuda, Eugene melirik Asia. “Jangan gugup.” “Aku tidak gugup.” “Bagus.” Eugene keluar dan membantu Asia untuk turun. Semua barangnya yang ada di dalam kereta kuda pun sudah dibawa keluar oleh Eugene. Eugene merogoh sesuatu dari dalam saku celananya dan mengeluarkan kantung kecil yang terisi penuh. “Terima kasih,” ucap Rudolf si kusir. “Hati-hati di perjalanan pulang,” pesan Eugene. “Itu sudah pasti.” Rudolf si kusir akhirnya pergi meninggalkan Asia dan Eugene. Pria yang bisa dikatakan sudah berumur itu perlahan menjauh meninggalkan mereka dan sekarang hanya tersisa Eugene dan Asia. “Ayo masuk.” “Apa kita bisa langsung masuk?” Pintu masuk berjarak sekitar 50 meter dari mereka dan tidak terlihat si empunya rumah atau pekerja rumah yang menyambut mereka. Tidak seperti di depan gerbang terdapat dua penjaga. “Tidak ada yang marah jika aku masuk.” Tepat saat mereka sudah di depan pintu, pintu besar itu terbuka dan memperlihatkan seorang perempuan yang cukup dewasa dengan dandanan yang cukup menor namun terlihat cantik. Mata yang berwarna biru itu terbuka lebar, tampaknya wanita itu sangat terkejut akan sosok yang datang berkunjung ke tempatnya. “Eugene.” Bibir merah tebal itu menyunggingkan senyumannya setelah menyebut nama Eugene. Matanya kemudian bergulir memandangi teman yang datang bersama Eugene. “Siapa gadis kecil ini?” Pertanyaan perempuan itu membuat jantung Asia berdetak dengan lebih cepat. Apa yang akan Eugene katakan? Asia penasaran. Dan yang lebih membuat Asia penasaran, siapa perempuan yang ada di depannya ini? “Apa sopan bertanya di depan pintu seperti ini?” Nada bicara Eugene yang mendadak tegas membuat Asia refleks menoleh ke arah Eugene. Apa Eugene memang bicara seperti ini ke teman perempuannya sekalipun? “Maaf, aku terlalu kaget dengan kedatanganmu, apalagi kamu tidak sendirian.” Perempuan itu melangkah mundur. “Selamat datang di Li….” “Simpan ucapan omong kosongmu itu,” potong Eugene cepat. “Ah, hahaha… kamu masih sama saja tidak suka dengan penyambutanku.” Asia merasa orang asing di antara dua orang ini. Tunggu, dia memang orang asing bukan? Fakta itu membuat Asia tersenyum kecut. “Apa kalian ingin meminum sesuatu?” tanya perempuan itu begitu mereka duduk di ruang tamu. “Bawakan saja teh.” Sebuah lonceng dibunyikan dan seorang perempuan cantik yang lainnya datang. Kepala Asia mendadak terasa pening. Teman Eugene saja sudah secantik ini, pelayannya juga ternyata tidak kalah cantik. Bahkan tidak ada rupa jika perempuan yang datang sekarang ini adalah seorang pelayan. “Bawakan teh chamomile yang baru saja datang.” “Baik.” Sekarang mereka kembali bertiga. Senyum perempuan itu kembali mengembang. “Apa kamu tidak berniat untuk memperkenalkan kami satu sama lain, Eugene sayang?” Ketakutan Asia tampaknya terjadi. Saat kalimat sayang itu terucap dari bibir merah menggoda itu, dia merasa ada sebuah palu tak terlihat yang memukul kepalanya. “Jaga ucapanmu Marigold.” “Hahaha… lihat dia, tidakkah dia pria terlalu kaku untuk seukuran pria yang berusia 26 tahun?” tanya gadis yang bernama Marigold itu. Namanya tampaknya diambil dari warna rambutnya yang berwarna marigold juga. Asia hanya tersenyum kecil dengan canggung. Dia bingung harus menanggapinya dengan cara apa. Kalimat sayang yang terucap dari mulut Marigold itu masih menyita pikirannya. “Asia, kenalkan dia Marigold.” “Nama yang unik.” Marigold mengulurkan tangannya ke arah Asia. “Aku Marigold, senang berkenalan denganmu, Asia.” Asia memaksakan tangannya untuk membalas jabatan tangan Marigold. “Senang bertemu dengan Anda juga, Miss Marigold.” “Kamu bisa langsung memanggilku Marigold saja tanpa embel-embel. Bukankah itu terdengar akrab?” “Aku merasa tidak sopan jika….” “Sttt… tidak apa-apa, anggap kita seumuran.” “Jika itu maumu, baiklah.” Marigold tertawa pelan, dia kemudian kembali menatap Eugene. “Bagaimana perjalananmu? Apa menyenangkan? Aku kira kamu akan pulang lebih cepat, tapi ternyata lebih lama.” “Ada bertemu dengan Asia di gunung Lacaille.” “Wow, jauh sekali.” Marigold langsung menoleh ke arah Asia dan ekspresinya tampak terkejud. “Orang-orang bahkan enggan untuk pergi ke gunung itu. Selain jauh, terlalu banyak monster.” “Anehnya, tidak banyak monster yang terlihat waktu itu. Berbanding terbalik dengan saat aku datang.” Eugene terkekeh. “Benarkah? Mungkin karena monster itu tahu jika ada gadis cantik bersamamu.” Asia tidak tersanjung mendengar ucapan itu. Pembicaraan itu seketika diintrupsi oleh kedatangan pelayan cantik itu. “Jangan sungkan untuk memakannya,” ucap Marigold untuk Asia. “Ada yang ingin kubicarakan berdua.” Tangan Asia yang baru saja menggenggam pegangan cangkir teh. Ucapan Eugene untuk Marigold menahan gerak tangannya itu. Eugene tidak ingin dirinya mendengar pembicaraannya dengan Marigold. “Oh, baiklah.” “Tunggu sebentar di sini,” ucap Eugene untuk Asia. Eugene bangun dari duduknya dan berjalan menjauh. “Maaf ya gadis manis, aku harus berbicara dengan Eugene dulu.” Asia mengangguk dan Marigold pun meninggalkan Asia. Suara sepatu berhak milik Marigold terdengar begitu jelas di pendengaran Asia, hingga lama kelamaan terdengar semakin kecil dan akhirnya tidak terdengar lagi. Helaan napas berat lolos dari Asia. Dia tampak tersenyum kecut mengingat apa yang baru saja terjadi. Pria tampan seperti Eugene, tentu tidak mungkin jika dia tidak memiliki seseorang di hidupnya. Entah perempuan yang diseriusinya atau perempuan yang diajaknya untuk bersenang-senang. Marigold, perempuan itu terlihat seperti perempuan yang mampu untuk diajak bersenang-senang. Dibalik gayanya yang dewasa dan menor, Marigold tampak seperti perempuan malam yang bebas. Asia penasaran, berapa usia Marigold? Apa usia Marigold tidak begitu jauh dari Eugene? Cangkir yang berisi teh itu diambil Asia. Dia menenggaknya hingga teh itu tidak bersisa. Entah kenapa, tenggorokannya terasa sangat kering. Menit demi menit berlalu dan Eugene tidak kunjung muncul. Asia menghela napas, dia berharap Eugene segera muncul dan mereka segera pergi dari tempat ini. Asia merasa sesak jika berada di rumah ini lebih lama lagi. Dia ingin keluar dan ingin mendengar penjelasan dari Eugene. Dia memang bukan siapa-siapa Eugene, tapi Eugene pasti sedikit akan bercerita tentang sosok Marigold yang mereka temui sekarang. Eugene masih belum muncul dan Asia sudah lelah menunggu. Dia bahkan sampai menaruh kepalanya di lengan sofa sambil menatap ke arah pintu keluar. Suara langkah yang terdengar datang sontak membuat Asia menegakkan kembali tubuhnya. Yang pertama kali muncul dari balik pintu itu adalah Marigold. Gadis itu berjalan dan kembali duduk di depan Asia. “Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama.” “Tidak apa-apa.” Mata Asia kembali bergulir ke arah pintu keluar dan dia tidak menemukan Eugene di sana. “Di mana Eugene?” tanya Asia. “Eugene….” Marigold tampak berpikir sebelum dia akhirnya berucap, “Dia harus pergi karena ada urusan mendesak.” “Pe-pergi?” Tenggorokan Asia seketika terasa tersekat. “Iya, pergi. Dia adalah pria yang super sibuk.” “Lalu kapan dia akan kembali?” Marigold tersenyum penuh maksud. “Dia bisa kembali kapan saja dia mau.” “Lalu bagaimana dengan diriku?” Asia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Tidak mungkin Eugene meninggalkannya bersama Marigold bukan? “Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang.” Marigold bangun dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Asia. Tangannya yang memiliki kuku yang cukup panjang itu mengelus pipi Asia. “Cantik. Eugene memang tidak salah membawamu kemari.” “A-aku tidak mengerti.” “Mulai saat ini, kamu akan tinggal bersamaku Asia dan itu atas perintah dari Eugene.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN