“Hei jangan takut.” Kembali Marigold mengusap pipi Asia. “Kamu akan punya banyak teman di sini, jadi kamu tidak usah khawatir.”
“Eugene akan datang menemuiku bukan? Dia sudah berjanji akan membawaku pulang.”
Marigold mengangguk. “Saat urusannya selesai, dia pasti akan menemuimu.”
Tangan Marigold terlepas, dia menegakkan tubuhnya. “Ayo bangun, aku akan mengantarkanmu menuju kamar.”
Asia mengangguk ragu, dia pun bangun dari duduknya dan mengikuti langkah Marigold. Setiap penjuru rumah Marigold sangat indah dan tampak memanjakan matanya.
“Berapa lama Anda mengenal Eugene?”
Pertanyaan Asia sukses menghentikan langkah Marigold. Masih dengan senyumnya yang selalu mengembang, Marigold kemudian berucap, “2 tahun.”
Itu adalah waktu yang sangat lama dan ada banyak hal yang tentu mereka berdua lewati.
“Apa Anda sudah menikah?”
Langkah Marigold kembali tertahan. Senyumnya yang tadi mengembang perlahan hilang.
“Aku belum menikah.” Bibir itu kemudian tersenyum kecut. “Aku sudah mengejaknya menikah, tapi pria itu tampaknya tidak suka dengan hubungan yang seperti itu.”
Untuk beberapa detik, jantung Asia berhenti berdetak. Dia tampak sangat kaget dengan ucapan Marigold.
“Pria cenderung selalu ingin bermain-main bukan?” Tangan Marigold menggenggam tangan Asia. Dia menarik Asia hingga terseret hingga ke depan sebuah pintu besar.
“Mungkin karena ini tempat terlalu menyenangkan hingga membuat semua orang berpikir untuk terus bermain-main.”
Asia hanya diam, dia tidak bisa berkata-kata. Dia sudah cukup kaget dengan pengakuan Marigold yang mengatakan jika dia pernah mengajak Eugene untuk menikah.
Pintu besar itu kemudian terbuka dan ruangan luas dengan banyak tempat duduk dalamnya. Ini seperti dua tempat yang berbeda dengan tempat yang sebelumnya dia lewati.
“Indah bukan?” Kembali Marigold menarik Asia agar mengikuti langkah kakinya. “Saat ini aku tidak akan mengajakmu berkeliling di rumahku. Tentunya kamu harus istirahat sebelum kamu mulai dijelaskan apa yang harus kamu lakukan di sini.”
“Tunggu.” Asia menahan langkah Marigold. “Apa maksud Anda? Ada yang harus kulakukan di sini?”
“Kamu tidak berpikir untuk tinggal secara percuma bukan?” Marigold menyeringai. “Tidak ada yang gratis di dunia ini, Asia.”
Sebelah tangannya yang bebas dia gunakan untuk mengelus rambut Asia. “Tapi kamu tidak usah takut, kamu akan baik-baik saja di sini.”
Ayolah, bagaimana Asia tidak bisa berhenti takut. Marigold terlalu mencurigakan untuk dia percayai. Dia yakin, pasti ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini.
Berjalan di ruangan luas itu, Asia bisa melihat ada beberapa ruangan yang Asia sendiri tidak begitu jelas tahu itu apa, yang dihias dengan indah. Selain itu di pojok ruangan terdapat sesuatu yang mirip sebuah panggung. Asia benar-benar tak mengerti ini tempat apa, dia tidak punya pikiran apa-apa tentang tempat ini.
Dari lantai pertama, mereka naik ke lantai dua melalui tangga sebelah kiri yang jika dilihat memiliki tujuan yang berbeda dengan tangga yang di sebelah kanan.
Dari tangga itu, Asia melihat beberapa pintu di lorong. Pintu itu tertutup dengan rapat. Lalu di ujung lorong, terdapat sebuah pintu yang cukup besar. Ketika pintu itu terbuka, sebuah ruangan dengan sofa menyambut mereka. Ada dua buah pintu di sana dan pintu sebelah kiri yang dibuka Marigold.
Apa yang dilihat Asia sekarang sungguh tidak pernah terbayang olehnya. Ruangan yang besar dan berisikan banyak tempat tidur dan meja rias. Asia sontak menoleh ke arah Marigold.
“Tampaknya anak-anak tengah bersih-bersih. Ini suatu yang bagus untukmu.” Marigold tersenyum.
“Apa aku akan tidur di sini?” tanya Asia.
Asia sebenarnya tidak masalah jika dia harus tidur dengan pelayan atau apa, tapi yang masih dia tidak bisa pikirkan, kenapa Eugene tidak memberikan sepatah atau dua patah kata sebelum dia pergi? Jika Eugene mengatakan sesuatu untuknya, mungkin dia bisa lebih tenang.
“Iya, kamu akan tidur dengan yang lainnya. Tidak masalahkan?”
Asia mengangguk. Marigold kemudian mengajak Asia keluar dan pergi ke pintu sebelah kanan itu. Di pintu itu terdapat sebuah tangga yang menuju ke bawah. Tangga itu pas untuk dua orang berjalan beriringan. Sayup-sayup Asia mendengar suara-suara perempuan yang berbicara. Semakin ke bawah, suara-suara itu semakin keras dan tepat di ujung tangga, Asia masih belum menemukan si pembuat suara. Ada beberapa ruangan lagi di sana hingga ketika pintu yang ada di pojok terbuka, Asia melihat banyak perempuan yang tengah mandi bersama.
Melihat tubuh tanpa busana itu sontak membuat Asia menutup matanya. Walau tubuh tanpa busana yang dilihatnya adalah tubuh perempuan sama sepertinya, Asia tetap merasa tidak nyaman.
“Tidakkah kalian ingin menyapa Lady yang akan tinggal bersama kalian ini?” tanya Marigold. Marigold melirik Asia lalu menyadari jika sekarang Asia tengah matanya.
“Hai….” ucap semua perempuan yang ada di sana sambil menahan tawa mereka.
“Asia, buka matamu. Sangat tidak sopan tidak menatap lawan bicaramu,” tegur Marigold.
“Aku tidak ingin membuat mereka tidak nyaman,” cicit Asia.
Suara tawa perempuan-perempuan yang tengah mandi itu membuat Asia memerah. Dia sadar jika dirinya tengah menjadi bahan tertawaan.
“Tidak apa, mereka sudah terbiasa. Jadi buka saja matamu.”
Ragu-ragu Asia terpaksa membuka matanya. Dia sedikit menundukkan matanya agar matanya tidak terlalu fokus ke tubuh tanpa busana karena berada di dalam pemandian.
Suara pintu yang terbuka membuat Marigold menoleh. Dia tersenyum melihat siapa yang datang.
“Semuanya sudah bersihkah, Debora?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kamu temani Asia untuk mandi. Bantu dia bersihkan tubuhnya dan pakaikan dia baju yang cantik. Apa kamu tidak kasihan dengan baju yang dia gunakan? Kita harus memberikannya baju yang terbaik.”
“Wow baju yang terbaik? Tidakkah dia anak yang baru masuk?” celetuk seorang perempuan berambut merah yang tengah berendam di dalam kolam yang ada di tengah-tengah pemandian itu.
“Dia cukup istimewa, tapi dia akan mendapatkan hal yang sama dengan kalian. Aku harap kalian tidak bermain fisik padanya. Aku akan mengawasi kalian.”
Tahukah kalian sekarang bagaimana perasaan Asia? Dia merasa benar-benar takut dan ingin pergi saja dari tempat ini. Pembicaraan yang terasa penuh tekanan ini membuatnya merasa berada di tempat yang sama berbahayanya dengan hutan.
“Jangan terlalu dipikirkan, mereka pasti akan berteman denganmu. Kalau begitu aku permisi.” Marigold menepuk bahu Asia lalu pergi dari sana.
“Ayo kuantar mengambil perlengkapan mandimu.”
Kepala Asia menoleh dengan kaku. Dia kemudian melihat sosok pelayan yang tadi mengantarkan teh. Pelayan itu ternyata bernama Debora.
“Kamu harus mandi, Marigold akan marah jika mengetahui kamu tidak mengikuti perintahnya.”
Asia kemudian dibawa menuju tempat di mana dia mendapatkan sabun mandi, sikat gigi dan handuk.
“Ayo buka bajumu,” perintah Debora.
“Apa kamu bisa memutar tubuhmu?”
Debora memutar bola matanya. “Semua orang bahkan bisa melihat tubuhmu di pemandian nanti.”
Asia menunduk dalam, perlahan tangannya mulai membuka ikat di bagian depan dadanya. Begitu tali-tali di bagian depan dadanya longgar, gaun itu dengan mudah dilepaskan oleh Asia.
Dengan cepat Debora mengambil alih gaun itu dan memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor yang kosong di sana.
“Sekarang buka dalamanmu juga.”
Sesuai perintah Debora, Asia membuka baju dalamnya dan dia dengan cepat menutup tubuh telãnjangnya itu dengan handuk.
“Tubuhmu sintal, kulit putih bersih, dãda besar, dan wajah yang cantik. Kamu pasti akan membuat mereka iri.”
“Kalaupun mereka iri, tidak ada ruginya bagi mereka.” Asia sering mendengar kalimat itu dulu, tapi tidak ada yang berubah dengannya, tetap saja dia gagal dalam percintaannya.
“Kita lihat saja nanti. Aku harap mentalmu kuat.”
“Jika mereka menggangguku, aku akan melaporkannya pada Eugene.”
Debora mengerutkan keningnya. “Apa kamu pikir pria yang bersamamu itu akan membantumu?”
Asia mengangguk. “Dia sangat baik padaku.”
“Padamu? Baik? Apa kamu serius?” katanya tak percaya.
Lagi-lagi Asia mengangguk. Eugene memang pria yang sangat baik malahan.
“Mungkin karena kamu terlihat sangat cantik hingga membuat tembok tingginya itu runtuh.” Debora tertawa.
“Melihat perempuan jatuh dari lantai dua tepat di depannya saja dia hanya berdiam diri. Bagaimana bisa dia akan membantumu jika kamu terluka di sini?” sambung Debora karena Asia hanya diam.
“Apa kamu serius? Dan bagaimana bisa seseorang jatuh dari lantai dua?” Tempat ini tidak benar-benar seram seperti apa yang Asia bayangkan bukan? Ayolah, Asia harap tidak seseram itu.
“Ya aku serius dan itu karena pertengkaran. Jadi, aku harap kamu tidak dekat-dekat dengan Millie, gadis yang berambut merah terang tadi.”
Tanpa sadar Asia menggigit bibir bawahnya, mukanya mulai pucat. Bagaimana bisa dia terjebak di tempat yang ada perundungannya? Oh ya Tuhan, selama hidup Asia sadar jika dirinya tidak pernah berada di tempat di mana ada perundungan.
“Ayo kembali ke pemandian jika tidak ingin membuat mereka curiga. Jika kamu ingin tahu lebih banyak, aku bisa menceritakannya nanti.”
Setiap langkah yang Asia lalui untuk pergi ke pemandian itu membuat detak jantungnya berdetak semakin kencang dan kencang. Setiba mereka di sana, semua orang yang ada di pemandian sudah memakai handuk mereka.
Beberapa orang melewati Asia begitu saja dan beberapa tersenyum kecil padanya. Begitu Millie tiba di depan Asia, perempuan itu memegang bahu Asia. Pegangannya itu dieratkan hingga membuat Asia harus menahan bibirnya yang ingin meringis.
“Semoga kamu betah di sini,” ucap Millie sambil berlalu.
Apa kata Debora memang benar, dia harus menghindari Millie karena baru pertama kali dia datang ke sini, Millie sudah menunjukkan kuasanya.
“Ayo kita mandi,” ucap Debora.
Asia duduk di samping Debora, sebuah gayung mandi Debora berikan padanya.
“Jangan lupa basahkan rambutmu.”
Suara air yang jatuh memecah keheningan di pemandian itu. Asia terlalu sibuk dengan pikirannya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang menimpanya saat ini. Asia sadar jika Eugene adalah seorang pria dan pasti akan mendapatkan cibiran jika membawanya masuk ke rumah pria itu. Tapi, kenapa Eugene malah pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata di tempat seperti ini lagi?
“Sini kubersihkan rambutmu.”
Debora menuangkan sampo di atas kepala Asia. Jemarinya yang lentik pun mulai memijit-mijit kepala Asia hingga Asia menutup matanya karena merasa nyaman.
“Apa Millie tidak melukaimu tadi?” tanya Debora memecah keheningan.
“Tangannya sedikit menekan bahuku.”
“Itu peringatan agar kamu sadar siapa yang statusnya lebih tinggi di tempat ini.”
“Dia pelayan dan aku hanya gadis yang dititipkan di sini. Bukankah statusku jauh lebih tinggi darinya?”
Gerak tangan Debora terhenti, dia yang awalnya ada di belakang Asia segera kembali ke tempatnya.
“Pelayan?”
Asia mengangguk. “Kalian semua pelayan bukan? Dan karena aku dititipkan di sini, aku juga akan membantu kalian membereskan rumah ini bukan?”
“Jangan bilang kamu tidak tahu ini tempat apa?” Debora tampak sangat kaget. Belum pernah ada anak yang masuk ke tempat ini dan tidak tahu tempat ini apa.
“Rumah Marigold,” jawab Asia.
Debora menggeleng, dia seketika terlihat sedih. “Apa Eugene tidak memberitahumu ini adalah rumah bordil?”
Gayung mandi yang dibawa Asia jatuh. Asia menoleh kaku ke Debora, bola matanya yang hitam tampak bergetar. “A-apa yang ka-kamu ucapkan?” katanya terbata-bata.
“Tempat ini rumah bordil Asia. Harusnya kamu sudah tahu itu.”
Asia menggeleng, masih dengan ekspresi kagetnya. Kepalanya bahkan langsung terasa kosong. Tolong katakan jika apa yang baru saja dia dengar itu salah!
“Ti-tidak… ka-kamu pasti ber-bercandakan?” Asia tertawa sumbang.
“Semua orang yang masuk ke tempat ini tahu jika ini rumah bordil. Kami secara sadar bergabung ke tempat ini dan aku cukup kaget jika kamu tidak tahu kalau kamu dijual.”
“Ti-tidak! Eugene tidak mungkin menjualku!” teriak Asia.
“Faktanya seperti itu Asia! Jika kamu tidak dijual, mana mungkin kamu berada di tempat ini!”
Asia mengambil gayungnya yang terlepas. Dia segera membersihkan sisa sampo yang ada di kepalanya. Matanya tampak memerah, bukan karena busa sampo yang jatuh ke matanya, tapi karena dia menahan tangisnya yang akan keluar.
“Sudah kukatakan bukan jika Eugene itu pria yang tidak berperasaan? Dia bahkan tidak langsung menolong saat ada yang jatuh dari lantai dua. Dan sekarang kamu dibawa dia ke sini, itu sudah pasti karena kamu dijual di tempat ini.”