“Asia, tunggu aku!”
Langkah kaki Asia semakin cepat. Dia pergi ke ruangan di mana dia terakhir kali melepaskan gaunnya. Begitu sampai di sana, Asia malah tidak menemukan gaunnya di sana.
“Di mana gaunku!” teriak Asia.
“Pasti sudah dibawa untuk dicuci.”
“Lalu aku harus pakai apa sekarang? Semua gaunku ada pada Eugene!”
“Aku akan mengambilkanmu gaun, tapi kamu jangan berteriak. Anak-anak yang di atas bisa saja mendengarnya.” Debora berlari pergi mencari gaun ganti untuk Asia.
Tubuh Asia merosot jatuh ke lantai. Di ruangan itu, terdengar suara napas Asia yang berat. Wajah yang tertunduk membuat rambut basah itu menutupi hampir sebagian wajah Asia. Asia bahkan tidak peduli jika tercipta genangan air di atas lantai yang didudukinya.
“Ini gaun yang disediakan Marigold untukmu.” Debora meletakkan gaun itu di depan Asia.
Tangan kanan Asia langsung menyentuh gaun itu dan meremasnya dengan kuat. Dia harus meminta penjelasan dari Marigold. Dia harus tahu kenyataan yang disembunyikan oleh Marigold.
Baru saja bangun, Asia hampir saja terjatuh. Debora yang masih ada di sana segera menahan tubuh Asia.
“Hey, Asia, aku tahu ini berat untukmu.” Debora sadar jika dirinya tidak akan bisa menghibur Asia. Semua orang yang masuk ke rumah bordil dengan dipaksa tentu akan mengalami hal yang seperti ini.
“Sudah cukup mengerjaiku. Aku tidak ingin mendengarmu berbicara.” Didorongnya tubuh Debora. Asia kemudian berjalan ke pojok ruangan dan memakai gaunnya.
Tali gaun yang ada di belakang membuat Asia harus berusaha menarik-narik tali gaun itu agar tertutup. Melihat Asia yang kesusahan, Debora langsung membatu Asia menarik tali gaun itu.
Bukannya mengatakan terima kasih, Asia langsung pergi dari sana. Dia berlari kencang dan tidak mempedulikan panggilan Debora. Kaki Asia bahkan tampak sangat cepat melangkah di setiap anak tangga yang dilaluinya.
Karena berniat untuk mencari Marigold, Asia langsung menuju pintu utama. Pintu yang cukup besar itu tidak bergerak sedikit pun. Dengan kencang Asia mendorong pintu itu, tapi pintu itu tetap saja tidak terbuka.
“Pintunya terkunci?” tanya Debora.
“Marigold! Buka pintunya!” teriak Asia kencang. “Marigold!”
Pintu kamar yang ada di belakang Asia terbuka. Millie tampak yang paling depan dan gadis yang lainnya juga tampak tidak ketinggalan untuk menonton.
“Marigold! Aku butuh penjelasanmu!” Gedoran kencang Asia lepaskan untuk pintu di depannya. Dia tidak peduli dengan tangannya yang akan memerah karena melakukan itu. Dia yakin jika suara pukulannya akan membuat Marigold datang.
“Sia-sia kamu memukul pintu itu. Pintu itu tebal dan suaramu tidak akan terdengar.” Millie berseru.
Asia langsung berbalik, semua orang tampak memandanginya dengan tatapan meremehkan. Wajah putih Asia semakin dibuat memerah karena kesal.
“Bukankan aku pintu ini!” teriak Asia. “Aku ingin bertemu dengan Marigold!”
“Marigold sepertinya sadar jika kamu akan bertingkah seperti ini.”
“Apa kalian tidak akan membantuku membuka pintu ini?”
Semua orang yang ada di sana menggeleng secara bersamaan. Tentu tidak ada yang bisa mereka lakukan saat pintu itu tertutup.
Asia langsung berbalik ke arah Debora dan menaruh kedua tangannya di bahu gadis itu.
“Debora, tolong bantu aku membukanya! Aku butuh berbicara dengan Marigold!”
“Ada apa dengannya Debora? Kenapa dia tiba-tiba mengamuk?” tanya seorang gadis yang sedari tadi memilih untuk diam.
“Dia datang bersama Eugene ke sini, Lily.”
“Pria yang selalu ingin dilayani oleh Marigold?” Lily tampak tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Mendengar kata dilayani oleh Marigold tangan Asia terlepas dari bahu Debora.
“Kenapa Eugene harus dilayani oleh Marigold?” suara Asia terdengar lirih dan menusuk.
“Karena dia butuh hiburan bodoh! Semua pria yang datang ke tempat ini karena butuh hiburan! Sama seperti kamu yang datang ke sini karena kamu butuh uang dengan menjual tubuhmu itu.”
Pandangan Asia semakin mengabur. Ketika matanya mengerjap, air matanya langsung jatuh begitu saja.
Asia mundur dan menatap perempuan-perempuan di depannya. “Aku tidak datang untuk menjual tubuhku di sini!”
“Oh ya? Jika tidak menjual, kamu akan memberikannya secara gratis?” Millie tertawa yang diikuti dua orang gadis yang ada di sisi kiri dan kanannya.
“Seorang perempuan yang masuk ke rumah bordil adalah wanita penghibur. Kita semua adalah wanita penghibur dan kamu juga seorang wanita penghibur!” tegas Millie yang semakin membuat Asia geram.
“Aku bukan seorang wanita penghibur!” pekik Asia. “Aku tidak sudi menjual tubuhku! Aku bukan jangla seperti kalian!”
“Asia, tenang.” Debora tidak tega melihat Asia yang seperti ini.
Asia berbalik dan kembali menggedor pintu di depannya dengan kuat. “Marigold! Aku ingin bertemu dengan Eugene!”
“Eugene tidak mungkin menjualku! Eugene! Eu… Aaaa!”
Tubuh Asia mendadak melayang. Dua teman Millie mengangkat Asia dengan menggenggam erat lengan Asia.
“Sakit!” pekik Asia saat merasakan lengannya digenggam dengan erat.
Tubuh Asia dibalikkan dan ditekan ke pintu. Millie entah bagaimana sudah ada di depan Asia dan memperlihatkan seringainya.
“Millie, Marigold sudah mengatakan kita untuk tidak macam-macam pada Asia.”
“Apa kamu tidak dengar apa yang dia katakan barusan? Bocah ini menghina kita semua!”
“Memang faktanya seperti itu bukan?” balas Debora. “Kita ini jangla yang menjual tubuh kita sendiri untuk uang.”
“Jangan ikut campur ya, Debora!” Milie mendorong Debora dengan keras. Selanjutnya tangan Millie dengan mencengkram pipi Asia.
Asia berontak, sekuat tenaga dia menendang Millie hingga Millie harus dibuat terjatuh. Kedua teman Millie sontak menahan kaki Asia agar tidak bisa menendang Millie lagi. Millie kemudian bangkit, ekspresi wajahnya menggelap. Tanpa basa-basi, melayangkan tamparannya.
“Gadis tidak tahu diri!” pekik Millie dan kembali melayangkan tamparannya dengan kuat.
Plak!
“Akh!” Asia memekik kesakitan. Rasa panas dan perih benar-benar terasa di pipinya. Tidak hanya di pipi, Asia merasa jika sudut bibirnya sekarang sobek.
Semua orang seketika menutup matanya saat mendengar tamparan keras itu. Mereka sadar jika Millie mengerahkan banyak tenaganya untuk menampar Asia.
Puas melihat tangannya yang tercetak jelas di pipi Asia, Millie kembali melayangkan tamparannya. Tamparan yang ketiga hampir saja mendarat di pipi Asia jika bukan karena Debora yang menahan tangan Millie.
“Eugene menjualnya ke tempat ini. Dia tidak tahu apa-apa! Tolong mengerti perasaannya yang tidak ingin berada di tempat ini.”
“Seorang Eugene menjual seseorang ke tempat ini?” Millie tampak tidak percaya. “Dia pria pebisnis yang sukses, untuk apa dia menjual bocah ini ke tempat ini?”
“Faktanya memang seperti itu! Aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku jika Eugene datang membawanya ke tempat ini dan pergi meninggalkannya. Apa artinya jika bukan karena dia dijual? Marigold bahkan mengatakan jika dia cukup istimewa. Bukankah itu karena Asia dibawa oleh Eugene?” Napas Debora memburu setelah mengeluarkan semua penjelasan agar Asia tidak dipukuli lagi. Debora berharap penjelasannya itu membuat Millie menjadi sedikit lebih bersimpati pada Asia.
Millie memandangi Asia. Asia itu tampak sangat kacau karena perbuatan Millie. Air mata bahkan tidak henti-hentinya mengalir hingga membasahi wajah penuh luka itu.
Millie menghela napas, dia mendadak tidak tega setelah mendengar penjelasan Debora. “Lepaskan,” perintahnya.
Kedua teman Millie itu pun melepaskan pegangannya pada tangan dan kaki Asia. Asia langsung terjatuh menyentuh lantai yang dingin. Tubuhnya yang lemas membuat Asia tidak mampu untuk duduk tegak, tubuhnya jatuh menyentuh lantai begitu saja.
“Asia ayo kita masuk ke dalam.” Debora mencoba membantu Asia bangun.
“A-aku ingin pulang,” lirih Asia sebelum dia jatuh pingsan.
*
*
*
Sesak, dãdanya terasa sangat sesak sekali. Semakin lama rasanya semakin sakit. Dia sudah tidak tahan dengan perasaan ini.
“Haaaah… haaaaah…. haaaah,” erengan kehabisan napas itu lolos dari bibir pucat itu.
“Asia?”
“Asia?!”
Suara asing itu memanggilnya dengan nada khawatir. Dia ingin membuka mata, tapi matanya terlalu berat untuk dibuka.
“Haaah….”
“Asia! Bangun!”
“Haaah!” Panggilan dan sentuhan itu sukses membuat Asia terduduk dengan mata yang terbuka lebar. Bola mata hitam itu bergerak melihat sekelilingnya dengan horor.
Banyak pasang mata yang tengah menatapnya dengan tatapan yang Asia sendiri tidak bisa definisikan. Dia takut berada di sini dan ingin pulang saja.
“Asia, minum dulu.”
Suara itu kembali menyadarkan Asia. Asia menatap sosok yang duduk di sampingnya. Debora ternyata yang sedari tadi memanggilnya.
“Minum dulu, kamu pasti haus.”
Gelas disodorkan Debora sampai ke depan bibir Asia. Saat Asia membuka mulutnya, rasa perih dan sakit seketika menghampirinya. Tangannya pun refleks memegang kedua sudut bibirnya.
“Akh!” ringis Asia.
“Sudut bibirmu sedikit sobek, jadi jangan dibuka terlalu lebar.”
Mata Asia yang memandangi Debora perlahan bergulir memandangi semua orang yang tengah duduk di atas tempat tidur mereka. Tatapan kasihan itu terlihat jelas dari tatapan mereka.
“Kamu harus minum.”
Asia menepis gelas dari tangan Debora hingga gelas itu jatuh ke lantai. Setelah melakukan itu, Asia kembali tidur dan menutup wajahnya dengan selimut. Saat Asia berbalik untuk tidur menghadap kirinya, rasa sakit yang tak tertahankan terasa.
“Akh! Sakiiit….” Air matanya bahkan sampai keluar karena rasa sakit itu.
“Asia, jangan menekan keras kedua pipimu. Itu pasti terasa sangat sakit sekali.”
Suara Debora membuat Asia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
“Cermin,” lirih Asia dengan suaranya yang kecil. Dengan keadaan yang seperti ini, Asia tidak bisa membuka bibirnya terlalu besar.
“Asia.” Debora tentu tidak tega jika membiarkan Asia melihat dirinya yang tampak mengenaskan karena sekarang pipi itu bengkak.
Mata Asia memicing tajam dan kembali berucap, “Cermin.”
“Debora, berikan saja,” seru Lily.
Debora bangun dari duduknya, dia pergi menuju meja riasnya dan mengambil cermin bulat yang seukuran telapak tangannya. Dia menyodorkan cermin itu dengan kondisi yang terbalik. Saat Asia hendak mengambilnya, Debora menahan pegangannya.
Asia menatap Debora dengan malas. Tatapannya itu sukses membuat Debora melepaskan pegangannya pada cermin itu.
Perlahan namun pasti Asia melihat gambaran dirinya di cermin. Bola mata Asia tampak melebar kaget. Dia membisu melihat bagaimana penampilannya yang terlihat di cermin itu. Air mata Asia tanpa sadar keluar.
Tangan Debora mengelus lengan Asia. “Ini bakalan sembuh, aku sudah mengobatinya.”
Cermin itu jatuh ke paha Asia. Matanya bergerak mencari sosok yang melakukan hal ini pada pipinya. Asia menemukan sosok Millie yang duduk di atas tempat tidur yang ada di pojok.
“Terima kasih sudah membuat wajahku seperti ini,” ucap Asia sambil menahan sakit di bibirnya. Rasa sakit yang terasa tidak Asia pedulikan. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencaci Millie.
“Itu karena ucapan tidak sopanmu itu. Jika kamu bisa lebih sopan, aku tidak akan melakukannya.”
Asia mendengus, dia pun kembali berucap, “Semoga kelak wajahmu tidak akan seperti ini.”