30. Hati yang Kembali Patah

1709 Kata
Kenapa hidupnya menjadi seperti ini? Kenapa dirinya malah terjebak di tempat yang seperti ini? Apa kesalahannya? Apa karena dia pernah berpikir untuk mati hingga diberikan kehidupan seperti ini? Atau karena dirinya yang menyimpan dendam pada gadis yang menjadi kasih orang yang disukainya atau bahkan karena dia durhaka pada orangtuanya? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Asia. “Aku akan meninggalkan makananmu di sini.” Suara Debora menyadarkan Asia dari lamunannya. Debora meninggalkan nampan berisi makan malam untuk Asia di atas meja rias di samping tempat tidur Asia. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari Asia hingga Debora benar-benar pergi dari sana. Asia memandangi langit-langit kamar, dia ingin keluar dari tempat ini. Kamar yang sepi membuat Asia perlahan bangun dari tidurnya. Dia mendekati jendela kamar dan membuka korden yang menutupinya. Begitu jendela dibuka, pandangan Asia langsung tertuju ke bawah. Seketika Asia meneguk ludahnya, dia akan patah tulang jika berniat untuk loncat. Seketika pandangan Asia langsung tertuju pada korden yang ada di sampingnya, melihat kain yang menjuntai membuatnya terpikir sesuatu. Dia kemudian berbalik dan menatap seluruh tempat tidur yang tertutup seprai. Dia tidak perlu loncat, dia bisa menggunakan seprai untuk turun ke bawah dengan mengikatnya. Asia kembali menatap ke luar jendela. Dia mencoba mengukur keberaniannya jika dia benar-benar loncat dari sana. Baru saja Asia tersenyum karena dia yakin bisa turun, tembok tinggi yang ada jauh di depan sana sukses membuat Asia melotot. Bagaimana bisa dia kabur jika ada tembok tinggi dan berduri di depan sana? Tubuh Asia merosot jatuh dan terduduk di lantai. Karena tidak tahan dengan hal yang menimpanya ini, Asia lagi-lagi menangis. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis. Dia ingin berteriak dan memaki, tapi sudut bibirnya akan semakin terluka jika dia melakukannya. Setelah cukup lama menangis, Asia kembali ke tempat tidurnya. Begitu melewati meja rias, Asia menghentikan langkahnya. Dia memandangi dirinya yang tampak sangat buruk rupa. Melihat dirinya yang seperti ini, Asia perlahan mengambil gelas yang ada di atas meja rias itu. Dia menenggak air yang ada di dalam gelas itu sampai habis setelah itu Asia mengambil ancang-ancang untuk melempar gelas yang dipegangnya itu. Kembali tubuh Asia merosot jatuh ke lantai. Gelas yang dipegangannya jatuh dan menggelinding ke depannya. Dia saja ketakutan melihat wajahnya yang bengkak, apalagi jika Eugene melihatnya. Bisa-bisa Eugene tidak menyukainya lagi karena penampilannya yang seperti ini. Eugene tidak menyukainya lagi, memangnya kapan Eugene mengatakan menyukainya? Jika Eugene menyukainya, Eugene tentu tidak akan menjualnya. Eugene jelas-jelas adalah pria berengsek yang menjualnya ke rumah bordil. Jadi untuk apa dia berharap dan masih memikirkan pria berengsek itu. Ini semua tentu karena kondisinya yang tidak punya siapa-siapa di dunia ini, pria berengsek itu malah menjualnya. Aku akan membunuhmu jika kita bertemu. Jika sampai aku disentuh oleh pria mata keranjang di sini, aku akan membuatmu merasa menderita seperti apa yang kurasakan! Tekad Asia. Asia sendirian di kamar itu hingga tengah malam. Beberapa penghuni kamar mulai kembali, Asia sudah bersembunyi di balik selimutnya karena tidak ingin berurusan dengan semua yang ada di sini. “Debora, makanan yang kamu tinggalkan masih tidak di makan. Tolong bawa keluar karena aromanya mengganggu penciumanku,” komentar Lily yang kebetulan memiliki tempat tidur di samping Asia. “Setiap orang yang dijual akan mengalami hal seperti ini.” “Dia sepertinya anak seorang bangsawan.” “Mungkin bangsawan perbatasan yang keluarganya hancur? Mana mungkin Eugene berani membawa gadis yang masih memiliki keluarga dan menjualnya ke tempat ini.” “Apa kamu berpikir dia bisa sekaya itu padahal bukan seorang bangsawan karena dia menjual b***k? Dan karena gadis itu cantik, dia jadi ingin mendapatkan uang lebih banyak dengan menjadikannya sebagai wanita penghibur?” “Aku juga berpikir seperti itu.” “Itu mungkin saja,” jawab Debora pelan. “Kasihan sekali nasibnya.” “Dia tentu tidak akan dilepaskan begitu saja oleh Marigold karena dia dijual di sini.” Air mata Asia kembali merembes keluar. Eugene yang menolongnya dari kematian, Eugene yang selalu khawatir padanya walau terkadang bersikap kasar, bagaimana bisa dia melakukan ini semua? Kenapa kebaikannya yang nyata malah berakhir seperti ini? Tapi jika dipikirkan lagi, apa yang Eugene lakukan tentu terbayar dengan harga jualnya di tempat ini. Isak tangis tidak bisa Asia tahan lagi. Isaknya itu sukses membuat penghuni kamar yang kebetulan bisa kembali ke kamar menatap Asia. Debora dengan sigap menghampiri Asia dan mengelus lengan yang terlihat bergetar dari luar selimut. “Eu-Eugene….” Debora dan yang lainnya saling pandang. “Apa kamu menyukai pria itu?” tanya Debora takut-takut. Dia merasa, tidak mungkin Asia sampai mau ikut dengan Eugene jika bukan karena Asia tertarik pada Eugene. Mereka saja langsung tertarik pada Eugene saat pertama kali melihat pria itu tidak memakai topengnya. Sayangnya sikap buruk dari pria itu membuat mereka mulai enggan mendekati lagi. “Jika kamu menyukainya, lebih baik kamu mulai melupakannya saja. Dia bukan pria baik-baik dan dia terlalu berbahaya untuk gadis baik sepertimu.” “Di-dia sangat baik… di-dia me-menyelamatkanku dan ber-berjanji mem-membantuku pulang….” Rasa sakit di bibir dan napasnya yang terasa tersenggal membuat Asia harus mengeluarkan tenaga yang lebih banyak untuk berbicara. “A-aku ti-tidak menyangka dia menjualku…. huaaah… aku, aku ingin pulang… a-aku tidak ingin tu-tubuhku disentuh p-pria ma-mata ke-keranjang di si-sini.” “Selama lukamu masih seperti itu, kamu akan aman, Marigold tidak akan menyuruhmu untuk bekerja,” ucap Lily yang sedari tadi memperhatikan. “Setidaknya kamu harus terlihat cantik dan tahu cara melayani pria untuk bisa dibawa bekerja,” sambung yang lainnya lagi. Untuk sesaat dia memang aman, tapi tidak jika semua lukanya sudah sembuh. Saat waktu itu datang, dia bisa saja langsung dibawa ke kamar dan diperkosa, pikir Asia. Asia menangis cukup lama hingga suara tangis itu semakin lama semakin tidak terdengar. Tubuh Asia bahkan sudah tidak bergetar lagi dan tampak tenang dibalik selimutnya. Asia akhirnya lelah juga setelah seharian dia terus menangis dan tidak mengisi perutnya. Walau tampak lelah, Asia belum juga tertidur. Debora yang masih duduk di samping Asia perlahan beranjak dari sana dan pergi ke tempat tidurnya yang berlawanan dari arah tempat tidur Asia dan ada di tengah-tengah. Dalam suasana yang sepi, Asia kembali teringat kenangan-kenangannya dengan Eugene. Sebelum Eugene bertemu dengan temannya itu, tidakkah semuanya tampak baik-baik saja? Tidakkah mereka berdua masih dalam pembicaraan yang hangat? Eugene bahkan menunjukkan ketidaksukaannya saat dia menatap pria lain. Tidakkah itu artinya Eugene menyukainya? Jika bukan suka, lalu itu semua apa?! * * * Hidung mancung itu mencoba menikmati wangi yang menyegarkan yang keluar dari teh yang baru saja dia seduh. Ini adalah kebahagiaannya karena dia akhirnya bisa mencium aroma teh setelah badannya lelah. “Aku datang membawa semua barang yang diminta oleh Eugene.” Bibir merah merona itu berdecak tak suka. “Apa kamu tidak bisa datang dengan memberikan tanda-tanda?” “Aku sudah mengeraskan suara langkahku, tapi kamu tampaknya tidak sadar karena kegiatanmu itu, Marigold.” Pria itu duduk di depan Marigold. Tangan yang tertutup sarung tangan itu mengambil teko dan menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Mata biru Marigold tampak memicing tajam saat dia melihat bagaimana cara pria di depannya itu menuang teh. “Caramu menuang teh itu membuatku kesal.” Gelas teh yang Marigold pegang segera dia lepas. “Berapa puluh kali aku harus mengajarimu cara menuang teh, Arquimedes?” Arquimedes tersenyum sambil memamerkan gigi putihnya. “Jika ada kamu, kenapa aku harus belajar?” Arquimedes tertawa senang dengan jawabannya sendiri. Sebelah bibir Marigold terangkat dan dia kemudian mencibir. Arquimedes akan tetap menjadi pria yang menyebalkan dan selamanya akan seperti itu. “Oke kita lupakan itu.” Mata Marigold kemudian menemukan koper besar di dekat Arquimedes. “Apa yang kamu bawa?” “Gaun untuk gadis yang dibawa Eugene.” Arquimedes meletakkan cangkir tehnya. “Ajari semua yang bisa kamu ajarkan dan perlakukan dia dengan baik.” “Gadis itu cantik,” celetuk Marigold. “Awalnya aku juga kaget saat melihat mereka makan kue bersama. Aku sampai menempelkan wajahku di kaca jendela toko kue itu.” “Pasti itu pemandangan yang sangat indah.” “Dibanding indah, sialan itu terlihat seperti penculik,” cibir Arquimedes. “Astaga, kamu jahat sekali dengan ketuamu itu.” Arquimedes tertawa dan berucap, “Awalnya kukira Eugene akan membawa gadis itu ke rumahnya.” “Tapi Eugene malah membawanya ke tempat ini.” Marigold menyeringai. Arquimedes mengangguk. “Terlalu aneh memang jika Eugene mendadak menyukai seseorang. Ini bukan saatnya untuk dia jatuh cinta.” “Sepertinya karena itu dia memberikan gadis itu padaku.” “Walau begitu, kamu harus memperlakukannya dengan baik,” tegas Arquimedes. Marigold mengelap keringat yang tidak ada di keningnya. “Aku harus mengerahkan tenaga yang besar untuk mengajari kucing liar,” keluhnya. “Dia bahkan tampak seperti kucing peliharaan para bangsawan.” Marigold tertawa keras, disela-sela tawanya itu dia kemudian berucap, “Apa kamu tidak tahu bagaimana seorang yang diculik dan dibawa ke tempat pelelangan b***k beraksi? Tentu gadis itu akan beraksi sama dengan b***k yang ada di tempat pelelangan sana. Bagaimana pun juga ini adalah rumah bordil.” “Aku kira ini adalah tempat para bidadari,” goda Arquimedes yang sukses membuat Marigold tertawa. Suasana yang sempat terasa lebih tegang kembali mencair karena godaan Arquimedes. Arquimedes, pria itu memang bukan tipe orang yang suka berada dalam kondisi yang serius. Dia lebih suka bergurau dan menggoda. Tapi siapa yang menyangka jika dia adalah ahli strategi? Terlebih dia memiliki mãna kesatria di tubuhnya. Sebuah perpaduan yang sangat cocok. “Apa kalian tidak ingin berpesta lagi? Mungkin saja kamu ingin melihat gadis itu.” “Aku ingin, tapi aku tidak punya waktu untuk ini. Ini saja aku harus mencuri waktu untuk mengantarkan koper-koper itu.” “Padahal aku bisa membelikannya gaun yang sesuai dengan bentuk tubuh gadis itu. Tapi, Eugene tampaknya tidak mempercayai pilihanku. Bukankah pilihanku sangat indah-indah?” “Semua di pusat kerajaan tahu kamu yang terbaik dalam berbusana.” “Bahkan saat tanpa berbusana sekalipun.” Marigold menambahkan yang membuat Arquimedes tertawa. Arquimedes kemudian tersadar jika dia sudah cukup lama mengobrol dengan Marigold. “Sepertinya aku harus kembali.” “Secepat ini?” “Ya, sudah kubilang bukan jika aku tengah sibuk-sibuknya?” “Ya sudah kalau begitu, aku akan mengantarmu keluar.” Arquimedes mengangguk dan bangun dari duduknya. Tudung yang ada di belakang kepalanya segera dia pasang hingga menutupi bagian matanya. “Tidak akan ada yang melihatmu.” “Tidak ada salahnya berjaga-jaga.” Arquimedes menyeringai. “Terserah kamu saja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN