“Selamat pagi semuanya!”
“Marigold, kami mengantuk, bisa tidak jangan seribut ini!” teriak Millie. Wajah mengantuk masih terlihat jelas di wajah cantik itu.
“Hohoho… maaf, aku lupa kalau tadi malam kamu sangat kelelahan.” Marigold tersenyum sopan. “Kalian bisa melanjutkan tidur kalian.”
Marigold terkekeh dia pun berjalan beberapa langkah melewati pintu kamar. Dia menatap anak-anak didikannya itu dan matanya terhenti pada tempat tidur yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Di atas tempat tidur itu terlihat seseorang yang tengah menutup dirinya dengan selimut. Marigold tersenyum melihat bagaimana Asia mencoba bersembunyi dibalik selimut.
Langkah Marigold yang sempat terhenti kembali dilanjutkannya hingga dia berada tepat di samping tempat tidur Asia. Mata birunya mengamati dengan lekat selimut yang menyembunyikan tubuh Asia itu. Tangannya kemudian terulur dan ujung-ujung jarinya menyentuh permukaan selimut.
Begitu tangan Marigold memberi sedikit tekanan pada selimut itu, tangannya langsung ditepis dengan kuat. Senyum mengembang di bibir merah merona itu. Nampaknya dia sudah menduga tentang apa yang akan terjadi.
Tapi tidak sampai di sana, sebuah tendangan dari balik selimut itu sukses membuat Marigold terjatuh terlentang dan bersamaan dengan itu, Asia loncat dari atas tempat tidur. Semua orang yang ada di ruangan itu mendadak bangun dan menatap keributan yang dibuat Asia.
Marigold yang sadar Asia berniat kabur segera menahan pergelangan kaki Asia yang melewatinya itu. Pegangannya yang kuat sukses membuat Asia jatuh tersungkur.
“Jangan sekali-sekali menyentuh tubuhku dengan tangan kotormu itu!” teriak Asia. Dia sudah tidak mempedulikan rasa sakit yang dia rasakan.
“Jangan sekali-sekali berniat untuk kabur dari tempat ini,” tekan Marigold. “Bantu aku menahannya!” teriak Marigold.
Semua yang diperintahkan tampak ragu untuk mendekat, apalagi saat mereka melihat bagaimana histerisnya Asia.
Tatapan Marigold yang tajam membuat tiga orang akhirnya mencoba menahan semua pergerakan Asia. Marigold merapikan dirinya sendiri dan berjalan memandangi Asia yang masih dengan posisi tengkurap.
Marigold berdiri tepat di depan Asia, dia kemudian berjongkok dan saat dia berjongkok, Asia dengan cepat meludahinya. Marigold kaget seketika mengalihkan pandangannya dan langsung mengelap ludah Asia yang mengenai pipinya itu.
“Aku tidak sudi menjadi salah satu wanita penghibur di tempat ini! Tubuhku hanya milikku! Apa kamu mengerti itu!” teriak Asia. Wajahnya tampak merah padam karena emosinya.
Gerak tangan Marigold terhenti, dia seketika menoleh dan menatap wajah Asia. Wajah itu tampak sangat menyedihkan karena memar yang membuat pipi itu bengkak.
“Apa kamu kaget karena tidak bisa langsung menjualku?!”
“Untuk apa aku kaget?” Marigold bangun dari jongkoknya itu. Dia memandangi Asia yang sekarang menatapnya dengan bengis. “Diobati dan kamu akan kembali cantik.”
“Kamu tidak akan pernah bisa menjualku,” desis Asia.
“Kamu memang berbicara tanpa takut ya Asia. Eugene juga mengatakan hal demikian dan sekarang aku bisa melihatnya secara langsung.” Marigold sedikit menundukkan tubuhnya dan mengelus rambut Asia.
“Ikuti semua peraturan di tempat ini jika kamu tidak ingin cacat atau mati.”
“Aku tidak akan mati di tempat ini!”
“Bagus, buktikan kalau kamu bisa hidup. Sayang bukan jika kamu mati begitu saja, sedangkan Eugene susah payah untuk menyelamatkanmu?”
“Memasukkanku ke sini sama saja dengan membunuhku! Akan lebih baik jika aku mati di bunuh monster daripada harus mati dengan tubuh yang ternodai!”
“Oke, nanti akan kusampaikan ke Eugene.” Marigold berbalik dan menjauh. Di depan pintu dia kemudian berhenti berjalan. “Millie, ikut denganku.”
Millie yang duduk di atas tempat tidurnya tampak pucat pasi. Perlahan dia bangun dan berjalan menuju Marigold.
Sepergi Marigold dan Millie, gadis-gadis yang menahan tubuh Asia segera melepaskan pegangan mereka.
“Maaf Asia, kita tidak punya pilihan.”
“Aku benar-benar tidak berniat menyakitimu.”
“Ya Asia, aku juga tidak punya pilihan lain.”
Tiga gadis tadi pun mencoba membantu Asia kembali ke tempat duduknya. Debora juga tidak ingin ketinggalan membantu Asia.
Ketiga gadis itupun meninggalkan Asia dan Debora untuk kembali tidur. Tidak bisa dipungkiri memang jika mereka semua bersimpati dengan keadaan Asia yang dijual ke tempat ini. Di saat mereka dengan sadar masuk ke rumah Bordil Liany yang dikelola oleh Marigold, Asia malah mendapati nasib yang berbeda. Seingat mereka, Marigold bukanlah tipe pemilik rumah bordil yang sudi membeli b***k walau secantik apa pun itu, tapi kenapa kali ini berbeda?
“Asia, aku akan memberitahukanmu sesuatu,” bisik Debora.
Tubuh Asia terlentang di atas tempat tidur, matanya yang masih mengeluarkan air mata lurus memandangi langit-langit kamar. Dia tampak tidak peduli dengan kehadiran Debora di sampingnya itu.
“Aku akan membantumu kabur.”
Mendengar ucapan itu, Asia melirik ke arah Debora.
“Tapi tidak sekarang,” tambah Debora yang membuat Asia mendengus geli. Debora kembali berucap, “Kamu harus sehat dan sedikit tidaknya kamu harus punya uang untuk hidup, apalagi kamu tidak punya keluarga di sini.”
“Aku tidak mau menjual tubuhku,” desis Asia.
“Bukan… bukan seperti itu maksudku.” Debora tampak panik karena ucapannya malah disalahpahami. “Aku akan memberikan sebagian uangku untukmu, tapi nanti ketika aku sudah mendapatkannya. Untuk saat ini aku masih belum punya uang.”
Kali ini tidak ada reaksi dari Asia. Dia memilih untuk diam karena ucapan Debora terlalu mencurigakan. Ucapan yang terlalu manis itu pasti akan meninggalkan rasa getir.
“Agar aku bisa mengeluarkanmu, kamu jangan menimbulkan masalah karena bisa saja kamu akan terus dikurung di tempat ini. Selain itu, kamu bisa saja terluka dan itu semua semakin mempersulit rencana kita.”
“Aku lelah mendengarmu berbicara di telingaku, apa kamu bisa pergi?”
“Oke, nanti kita akan lanjutkan lagi. Aku akan keluar untuk mengambilkanmu sarapan.”
Sepergi Debora, Asia mengusap air matanya itu dengan perlahan. Asia terpikir kata-kata Debora tadi. Apa yang dikatakan Debora ada benarnya, tapi untuk menjadikan Debora orang yang akan membantunya keluar, Asia rasa itu ide yang buruk. Di dunia ini, tidak ada yang bisa dia percaya selain dirinya sendiri.
Asia bangun dari tidurnya. Dia memperhatikan semua orang yang tidur di ruangan ini. Ada sembilan orang yang tersisa di sini dan ada dua orang yang tengah keluar yang berarti semua perempuan penghibur di tempat Marigold berjumlah sebelas orang.
sebelas orang itu cukup banyak dan mereka semua bisa saja akan melaporkan setiap pergerakannya pada Marigold. Dia harus membuat rencana agar bisa keluar dari tempat ini. Dia harus bisa kabur sebelum luka di pipinya ini benar-benar sembuh.
“Aku kira kamu akan tidur.” Debora tersenyum. “Ayo makan agar tenagamu bisa pulih.”
“Ya.”
Gerak tangan Debora yang hendak meletakkan nampan itu di atas meja rias terhenti. “Kamu mau makankan?”
Asia mengangguk lambat dan Debora langsung urung menaruh nampan itu. “Kusuapi ya.”
Kali ini Asia menggeleng. “Aku bisa sendiri.”
“Jangan membuangnya lagi. Di luar sana banyak yang tidak bisa makan.”
Aroma menu sarapan yang dibawakan Debora sukses membuat perut Asia berbunyi. Sebenarnya Asia sedikit curiga dengan makanan di depannya. Tapi jika dia keracunan dan mati, mungkin itu lebih baik.
“Makan sampai habis,” pesan Debora.
Beberapa kali suap tidak kunjung membuat Asia muntah darah atau mendadak pingsan. Asia rasa jika makanan yang dimakannya ini memang aman.
Melihat Asia yang akhirnya mau makan membuat Debora senang. Selain karena nasib buruk yang menimpa Asia, Asia tidak tahu kenapa dia sangat peduli pada Asia. Saat pertama kali melihat Asia, dia merasa jika Asia adalah gadis baik-baik yang tidak cocok duduk bersanding dengan Eugene dan Marigold. Asia terlihat seperti kelinci di antara para binatang buas.
Dari tempat tidurnya, Asia bisa melihat cahaya jingga yang muncul dengan malu-malu dari balik tirai yang sedikit tersingkap.
“Jam berapa ini?” tanya Asia.
“Baru jam enam pagi. Biasanya mereka akan bangun jam delapan pagi.”
“Apa aku boleh mandi?”
“Jika ingin membasuh wajahmu, itu harus dengan lap yang dibasahi.”
“Badanku sakit, aku ingin berendam.” Sudah dua kali badannya dilumpuhkan dan kalau boleh jujur, Asia tidak pernah merasa sesakit ini.
“Kalau begitu aku akan menemanimu.”
Untuk pergi ke pemandian, Asia harus dibantu berjalan oleh Debora. Tidak hanya itu, Debora bahkan membantunya dari membuka gaun berserta dalamannya dan tak lupa membantunya menyanggul rambut juga.
Wewangian yang dituangkan ke dalam kolam pemandian membuat Asia merasa mengantuk. Dia memperhatikan tangannya yang memerah karena insiden tadi. Jika ini di dunianya, Asia akan melaporkan semua kekerasan ini pada polisi. Jika mereka tidak mau mengakui perbuatan mereka, bukti visum yang akan berbicara dan mereka semua akan membusuk di dalam penjara.
“Apa masih terasa sakit?”
Asia menggeleng. “Aku bisa mengatasinya.”
“Kamu terlihat rapuh dan aku ingin kamu segera keluar dari tempat ini.”
“Semoga.” Asia melirik Debora. “Apa kamu bisa menceritakan tentang Marigold?”
“Aku hampir satu tahun di sini dan sebelum aku masuk ke tempat ini, aku sering mendengar para bangsawan atau rakyat biasa yang membicarakan tentang rumah bordilnya. Selain tertarik dengan wanita di sini, tak jarang Marigold akan menerima pria untuk dihiburnya.”
“Salah satunya Eugene?”
Debora mengangguk mengiyakan. “Sebenarnya Eugene tidak sesering pria-pria lainnya datang ke sini, tapi sosoknya yang walau memakai topeng sekalipun terasa memiliki daya tarik yang besar sehingga kami sangat mudah mengenalinya.”
“Apa kalian tidak pernah melayani Eugene?”
“Beberapa kali dia datang untuk melihat tarian tapi setelah itu tidak ada yang terjadi. Saat itupun dia pasti membawa temannya. Dengar-dengar, dia itu pria yang sangat sukses karena memiliki banyak bisnis, padahal dia hanya rakyat biasa. Banyak yang ingin tahu tentang hidupnya, tapi dia terlalu misterius karena tidak banyak bergaul. Bahkan tidak banyak yang tahu wajahnya.”
“Berarti kalian yang berada di sini beruntung karena bisa melihat dia.”
“Awalnya, tapi setelah itu kami semua malas berurusan dengan manusia es itu. Dia tidak baik dan tidak seloyal para pria mata keranjang lainnya.”
Asia mengangguk mengerti, dia harus mencari lebih banyak informasi lagi, terutama tentang rumah bordil ini. Jika dia ingin keluar dari tempat ini, dia harus mengetahui seluk beluknya.
“Apa kamu bisa menceritakan tentang tempat ini? Apa saja yang kalian lakukan dan apa saya yang boleh dan tidak boleh dilakukan di tempat ini? Aku tidak ingin mati karena melakukan kesalahan di sini.”
“Aku juga merasa perlu menjelaskan padamu.”