Seharian Asia tidur dan dia baru bangun saat semuanya tampak gelap. Dia mengedarkan pandangannya dan mendapati beberapa orang masih ada di dalam kamar.
Rasa haus yang tak tertahankan membuat Asia menoleh ke arah meja rias. Di sana memang ada air, tapi barang-barang di atas meja itu membuat Asia mengerutkan keningnya. Seingatnya meja rias di samping tempat tidurnya ini kosong.
“Itu barang-barang milikmu.”
Suara itu membuat Asia menatap perempuan yang tempat tidurnya di sampingnya itu. Lily, perempuan itu tersenyum kecil karena melihat reaksi Asia yang lucu.
“Kabinet yang di depan tempat tidur juga sudah diisi dengan milikmu, bahkan lemari pakaianmu yang ada di bawah juga sudah diisi dengan gaun-gaun yang akan kamu gunakan.”
“Ada banyak buku dan alat tulis, apa kamu suka melukis?” kembali Lily bertanya karena tidak ada jawaban dari Asia.
“Tidak, aku tidak bisa melukis.” Asia yakin jika informasi ini diberikan Eugene pada Marigold. Apa dia akan senang dengan hal ini? Jangan harap.
“Kamu bisa belajar mulai dari sekarang kalau begitu. Kamu bisa menghabiskan waktumu dengan belajar melukis.”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Ucapanmu yang tadi. Aku merasa aku harus berterima kasih.” Asia tersenyum singkat sebelum mengambil air minum dan menenggaknya hingga habis.
“Bagaimana keadaanmu Asia?” Sosok gadis dengan rambut coklat sebahu duduk di atas tempat tidur Asia.
“Aku sudah merasa lebih baik, Chalissa.” Sebelum tidur seharian tadi, Asia sudah berkenalan dengan semua perempuan di sini dan sangat mudah untuk Asia mengingat nama mereka karena perbedaan entah itu dari mata dan rambut mereka yang berbeda.
Laci di meja rias itu dibuka Chalissa dan dia mengeluarkan salep pemberian Marigold agar luka memar Asia segera hilang.
“Luka di pipimu harus diobati lagi.”
Botol salep yang hendak dibuka Chalissa segera ditahan oleh Asia. “Nanti akan kulakukan sendiri. Tanganmu akan kotor.”
Jika pipinya diobati, waktu kematian untuk Asia pasti akan dekat. Dia tidak boleh mengobati luka ini walau rasa sakit harus dia rasakan.
“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa, apalagi dulu aku sering membuat ramuan obat.”
“Kamu seorang dokter?”
“Tidak, aku hanya pernah membantu seorang dokter.” Challisa tertawa sumbang.
“Apa kamu ingin menjadi seorang dokter?”
“Dulu pernah, tapi sekarang aku suka dengan aku yang sekarang.”
Tidak semua orang bisa menjadi apa yang dia inginkan di sini, Asia tahu betul rasanya.
“Oh ya Asia, kamu memiliki tipe mãna apa?”
Asia tersentak kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Lily yang ternyata masih memperhatikannya.
“Kenapa kamu bertanya?”
“Kita semua saling mengetahui jenis mãna masing-masing. Di sini Millie yang memiliki tingkatan mãna yang kuat. Dia juga memiliki tubuh yang segar dan bugar untuk mendukung kekuatannya itu.”
“Aku tidak tahu.”
“Tunggu, bagaimana bisa kamu tidak tahu tentang ini?” Gaia yang sedari tadi tengah memandangi luar jendela ikut menimpali pembicaraan itu.
Ucapan Gaia kemudian menyadarkan Lily dan juga Challisa tentang keanehan itu. Asia yang sadar sudah terpojok tentu segera mencari akal. Dia tidak mungkin mengatakan jika dirinya berasal dari dunia yang berbeda.
Kepala Asia tertunduk, dia mencoba membuat dirinya sedih. “Aku… aku kehilangan ingatanku,” lirihnya.
“Aku bahkan tidak ingat siapa keluargaku, di mana rumahku dan bagaimana kehidupanku selama ini.”
“Asia.” Challisa mendekatkan dirinya ke Asia dan mengusap punggung Asia yang mulai bergetar.
“Eugene kemudian menemukanku dan berjanji akan membantuku mencari orangtuaku.”
“Pantas saja,” ucap Lily dan Gaia bersamaan.
“Walau semuanya tampak baik-baik saja, kamu tidak boleh langsung mempercayai orang asing begitu saja,” pesan Lily.
Jder!
Bunyi petir seketika membuat pembicaraan itu terhenti. Hujan seketika turun dengan derasnya.
“Sore yang dingin,” gumam Challisa. “Kamu harus terus berada di atas tempat tidur. Malam ini sepertinya tidak banyak yang datang.”
“Aku kira ini sudah malam,” gumam Asia.
“Ini masih sore,” jawab Challisa.
“Lalu yang lainnya pergi ke mana?”
“Menari atau sekedar menikmati teh di bawah.”
“Lalu Debora?” Untuk teman yang benar-benar bisa dimanfaatkan, Asia sudah memutuskan untuk memakai Debora, apalagi Debora sendiri yang mengatakan jika dia akan membantunya kabur dari tempat ini. Sayangnya dia belum mengiyakannya karena rencana kabur akan dipikirkannya sendiri.
“Dia tadi terlihat tengah mengangkat jemuran,” jawab Gaia yang kebetulan sempat melihat Debora di luar jendela.
Pintu terbuka dan memperlihatkan Millie yang tampak kusut. Dari sejak pagi hingga sesaat sebelum tidur, Asia tidak melihat keberadaan Millie dan baru sekarang dia sempat melihatnya lagi.
“Jangan ganggu aku, aku ingin tidur.” Millie memperingati.
“Oh ya, kamu pasti laparkan Asia? Bagaimana jika ikut makan malam di ruang makan?”
“Apa kamu yakin ingin mengajaknya? Di sana ada Marigold,” tegur Lily. Kejadian tadi pagi lebih baik terjadi hanya sekali saja, Lily tidak ingin melihat kejadian yang sama lagi.
“Marigold pasti tidak akan setuju,” tambah Gaia yang disetujui oleh Lily.
“Aku juga tidak akan punya tenaga untuk pergi keluar dari kamar.”
“Baiklah kalau begitu, aku akan mengambilkan makan malammu sekarang saja.” Challisa beranjak dari duduknya dan segera pergi menuju dapur untuk mengambilkan Asia makan malamnya.
Baru beberapa menit Challisa keluar, dia kembali lagi dengan tangan kosong yang diikuti oleh Debora di belakangnya.
“Marigold melarang kami untuk mengambilkanmu makan malam. Katanya, kalau kamu mau makan ya harus makan bersama,” jelas Challisa.
Tenggorokan Asia terasa tercekat saat dia mendengar itu. Apa Marigold serius mengajaknya untuk makan bersama? Apa Marigold tidak takut dia kembali mengamuk? Atau dia sengaja melakukan hal ini karena ingin memancingnya.
Dengan tatapannya Debora mengingatkan Asia untuk tidak mencari masalah dengan Marigold atau yang lainnya. Selama Asia berperilaku baik, dia bisa saja kabur dari tempat ini.
“Jika dia berkata seperti itu, aku tidak punya pilihan lain bukan? Tubuhku sudah dijual padanya, jadi dia bebas melakukan apa pun padaku.”
Tubuh Debora terhuyung ke depan saat sebuah bantal menimpa bagian belakang kepalanya. Belum sempat Debora marah, suara teriakan Millie mendahuluinya.
“Bukankah sudah kukatakan jika aku ingin tidur? Aku lelah!” teriak Millie keras sebelum akhirnya dia menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut.
Semuanya seketika terdiam dan memilih untuk kembali ke tempat masing-masing. Asia juga kembali merebahkan tubuhnya, dia harus mengumpulkan banyak tenaganya untuk makan malam kali ini. Dia yakin jika suatu insiden pasti akan terjadi di ruang makan.
Tepat ketika waktu makan malam tiba, bunyi petir terdengar menggelegar. Petir yang terus menyambar itu tampaknya sesuai dengan keadaan ruang makan yang tampak sangat menegangkan.
Suara pisau yang menggores piring terdengar memecah keheningan. Daging yang sudah terpotong itu kemudian ditusuk dengan cukup kuat. Marigold melepaskan garpu yang dipegangnya itu. Tangannya yang memegang pisau menunjuk semua orang yang ada di ruang makan.
“Apa kalian tidak mau makan?” tanya Marigold. Pisau yang dipegang berhenti menunjuk tepat di diri Asia. “Kamu juga, apa kamu tidak berniat untuk menyentuh makananmu?”
“Tidak. Aku akan makan.” Asia mengambil pisau dan garpu yang ada di samping piringnya..
“Bagus. Di luar sana kamu bahkan tidak akan bisa makan seperti ini.” Seringai muncul di bibir Marigold.
Elusan lembut Asia dapatkan di pahanya. Asia mengerti kenapa Debora melakukan ini, Debora tidak ingin dia sampai terpancing emosi dan berakhir babak belur lagi.
“Tidakkah ini sangat lezat?” ucap Marigold setelah memakan daging steak yang dimasak juru masak di rumahnya ini. “Tidak salah aku memperkejakan Roberto,” tambahnya dengan riang.
Tidak ada yang mau membalas ucapan Marigold, semuanya memilih diam dan fokus pada makanan mereka.
“Oh lihat, bahkan Asia terlihat sangat lahap sekali.” Marigold memergoki Asia yang tampaknya sengaja makan dengan berantakan.
Semua mata langsung tertuju pada Asia yang sekarang tengah memotong daging steak dengan ukuran yang cukup besar dan memakannya dengan sekali suap. Mereka semua tampak tegang karena mengira akan ada pertengkaran yang kedua kalinya.
“Debora,” panggil Marigold.
Debora tersentak kaget saat mendengar namanya dipanggil. Dia terlihat meneguk ludahnya sebelum menjawab, “Iya?”
“Ajarkan Asia etika makan.”
“Baik.”
Pandangan Marigold berpindah pada Millie. “Millie, kamu ajarkan Asia menari.”
Millie tampak tersentak kaget sebelum dia mengangguk dan berucap, “Baik.”
“Hectora, ajarkan Asia merajut dan menyulam. Lalu Gaia, ajari Asia bermusik”
“Baik.”
“Untuk Challisa ajarkan Asia tentang teh dan untuk Iris,”
“Tunggu,” potong Iris cepat yang membuat Marigold menghentikan ucapannya. “Untuk apa kita harus mengajarkannya banyak hal? Seperti belajar menyulam, belajar etika? Sebagian besar di sini bahkan tidak berpendidikan.”
Jelas sekali jika Marigold memberikan perlakuan yang berbeda pada Asia karena semua orang yang masuk ke rumah bordil Liany hanya akan diajarkan tentang berbagai macam etika dan cara menyenangkan pria.
“Dia hilang ingatan Iris. Kalian walau tidak berpendidikan, tapi kalian bukan orang bodoh. Bagaimana bisa aku membiarkan anak-anakku mendapat predikat bodoh seperti dia?” tunjuk Marigold pada Asia.
“Hilang ingatan? Ayolah, mana mungkin ada yang hilang ingatan.”
Marigold menunjuk Lalita yang duduk tepat di samping Millie. “Kamu ajarkan dia etika.”
“Baik,” jawab Lalita.
Jari telunjuk Marigold bergerak ke arah Asia yang sedari tadi memperhatikannya. “Apa kamu ingin protes dengan apa yang kulakukan?” tanya Marigold.
“Tidak,” jawab Asia singkat.
“Jawaban yang bagus karena jika kamu menolak, kamu akan langsung menyeretmu ke pria-pria lapar itu.”
Pegangan Asia menguat pada pisau yang dia pegang. Mungkin jika dia punya kekuatan dia akan langsung melemparkan pisau ini ke leher itu.
Acara makan malam itu akhirnya berakhir dengan suasana yang cukup menegangkan. Asia kembali ke kamar bersama Debora, sedangkan yang lainnya memilih untuk mengobrol di ruang tengah sambil menikmati penghangat.
“Jika kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku,” ucap Debora sebelum pergi ke tempat tidurnya.
Asia yang masih berada di depan tempat tidurnya perlahan membuka kabinet yang ada di depan tempat tidurnya itu. Di sana ada cukup banyak buku dan buku yang paling atas adalah buku yang dibelikan Eugene untuknya.
Bermodalkan lilin yang ada di dekat tempat tidurnya, Asia memutuskan untuk membaca buku itu. Buku itu adalah buku yang menjelaskan tentang 3 kerajaan yang ada. Di bagian awal terdapat peta yang abstrak yang menunjukkan letak masing-masing kerajaan.
Kerajaan Ascella berada di atas kerajaan Pollux, kedua kerajaan itu cukup dekat dibandingkan dengan kerajaan Rigel. Di luar kerajaan itu hanya beberapa wilayah yang diberi nama, selebihnya hanya dituliskan dengan hutan monster.
Pandangan mata Asia terhenti di gunung Lacaille. Seketika tatapan mata itu menjadi sendu. Dia kembali teringat hari-hari yang dilaluinya dengan Eugene. Tanpa Asia sadari, permukaan buku itu basah karena air matanya yang jatuh.