Asia menatap pantulan dirinya di cermin. Dia menutup matanya saat melihat penampilannya yang terlalu terbuka. Baju yang hanya sebatas dadanya dengan rok panjang, ini terasa memalukan bagi Asia. Dibandingkan gaun yang terasa panas dan berat, Asia lebih memilih pakai gaun itu daripada yang dikenakannya sekarang.
Sentuhan di rambutnya membuat Asia membuka matanya dan langsung bertatapan melalui cermin di depannya dengan Debora. “Apa aku benar-benar harus memakai ini?” tanya Asia.
“Pakaian yang kita gunakan memang seperti itu. Ini khas dari kerajaan Pollux,” jelas Debora.
“Bukankah kita berada di kerajaan Rigel? Kenapa kita harus memakai pakaian dari kerajaan Pollux?”
“Karena Marigold berasal dari sana.” Debora menepuk bahu Asia pelan. “Sudah selesai, sekarang kita bisa pergi ke ruang latihan tari.”
Langkah kaki Asia terasa sangat berat sekali. Dia tidak melakukan semua ajaran Millie dengan benar. Jika dia sampai melakukannya dengan sempurna. Marigold pasti akan sangat senang dan semakin bersemangat untuk menjualnya pada lelaki hidung belang.
Mereka berdua kemudian tiba di sebuah pintu yang tertutup. Sebelum membuka pintu itu, Debora berpesan, “Jangan membuat kesalahan Asia. Millie bukan orang yang tidak akan segan memukul.”
“Bagaimana jika aku memang tidak berbakat menari? Mereka tentu tidak bisa memaksakan kehendak mereka.” Sebenarnya Asia ingat jika di dunianya dia pernah latihan balet saat masih kecil, tapi dia berhenti melakukannya karena dia tidak berbakat dan berujung kesakitan setiap kali latihan.
“Tidak berbakat bukan berarti tidak bisa. Tapi karena nanti kamu akan kabur, aku sarankan untuk memperhatikannya dengan sungguh-sungguh agar tidak ada luka seperti di wajah dan tanganmu lagi.”
Tidak ingin membuat Debora semakin khawatir, Asia mengangguk. “Aku akan berusaha semampuku.”
“Aku yakin kamu bisa.”
Kelegaan yang terpancar dari ekspresi Debora membuat Asia tertegun. Apa Debora benar-benar baik padanya? Tapi kebaikannya itu terlalu mencurigakan, apalagi Debora adalah bagian dari rumah bordil ini.
Pintu terbuka, aroma yang tidak pernah Asia cium menyeruak masuk. Aroma yang lembut dengan pemandangan yang menenangkan mata, tempat ini jelas terasa sangat nyaman. Tapi sosok yang ada di tengah ruangan itu jelas mengganggu semuanya.
“Jangan membuatku menunggu Asia. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusimu,” keluh Millie.
“Jika kamu tidak suka, seharusnya kamu menolak waktu itu,” balas Asia tak mau kalah.
“Asia….” Debora baru saja memperingati Asia untuk tidak memercikkan api.
Asia menoleh ke arah Debora dan berucap, “Kamu bisa pergi sekarang.”
“Kamu tidak masalah aku tinggalkan?”
“Ya, aku akan baik-baik saja. Yang lainnya sudah menunggumu, pasti mereka akan kesal jika kamu meninggalkan mereka.”
“Ya sudah kalau begitu.”
“Ayo cepat!” teriak Millie.
Tangan Debora yang menggenggam tangannya segera di lepaskan Asia. Dia mendorong tubuh Debora agar segera pergi. Tampak sekali ketidakrelaan Debora untuk meninggalkan Asia, tapi dia masih punya pekerjaan yang harus dia lakukan.
Sekarang tinggallah Asia dengan Millie. Di ruangan yang tertutup yang terasa dingin itu mendadak terasa panas. Asia mencoba mengabaikan ketakutannya akan perlakuan kasar yang mungkin saja dia akan terima.
“Aku adalah orang yang tegas, jadi aku tidak ingin ada kesalahan atau sebagainya.”
“Asal kamu perlu ketahui, ini pertama kalinya aku menari,” tekan Asia.
“Selama kamu memperhatikan semua gerakan dan mengikuti perintahku, kamu akan bisa menari.” Millie mengambil sikap untuk mulai melakukan pemanasan. “Perhatikan setiap gerakanku, kita akan mulai melakukan pemanasan.”
Millie mulai melakukan gerakan pemanasannya. Setiap gerakan pemanasan dari Millie, Asia melakukannya dengan sangat hati-hati, dia tidak ingin sampai salah gerakan yang berakibat sendi-sendi tubuhnya menjadi lebih sakit dari ini.
“Miringkan kepalamu dengan lebih niat!” tegur Millie.
“Leherku sakit,” keluh Asia.
Millie berjalan mendekati Asia. Dia menekan kepala Asia.
“Akh! Ini sakit!” pekik Asia dan mencoba menjauh dari Millie.
“Akan lebih sakit jika kamu tidak melakukan pemanasan dengan benar,” balas Millie.
Dia kembali ke posisinya dan melanjutkan kembali gerakan pemanasannya. Tatapan tajam yang diberikan Millie dibalas dengan tatapan malas dari Asia. Ini masih sangat pagi dan Asia harus menerima latihan yang seperti ini, apalagi mengingat kondisi tubuhnya yang tidak baik-baik saja.
“Sekarang aku akan mulai mengajarimu menari. Perhatikan semua gerakan di tubuhku, terutama bagian tangan dan kaki.”
“Pertama gerakkan tanganmu seperti ini.” Millie menggerakkan tangannya dengan sangat lembut.
“Serius, Asia!” tegur Millie lagi.
“Aku sudah serius, apa kamu tidak melihat tanganku yang masih memar? Bahkan di bagian sini.” Asia menunjuk bagian lengan atasnya. “Ini terasa sakit.”
“Untuk kali ini aku akan memaklumkannya, setidaknya kamu tahu tentang setiap gerakan yang harus kamu lakukan.”
Millie kembali mengulang gerakannya yang diikuti oleh Asia. Gerakan tangan Millie tampak sangat luwes, seakan tangan itu tercipta lembut, padahal tangan itu yang sudah membuat kedua pipi Asia sampai bengkak dan memar.
Kembali Asia mengikuti gerak tangan Millie dan Millie menyipitkan matanya saat melihat gerakan Asia. Gerakannya itu terasa sangat mengganggunya, tapi dia harus bersabar untuk saat ini. Di saat tubuh Asia sudah lebih baik, dia bisa melakukan pendisiplinan yang serius agar dia bisa cepat menyelesaikan latihan menari untuk Asia.
“Lalu kaki kananmu gerakkan ke depan dengan lembut.” Gemerisik halus dari rok yang dipakai Millie terdengar begitu dia menggerakkan kakinya itu.
Gerakkan kaki Asia masih saja terlihat kaku dan lagi-lagi Millie terlihat menahan kekesalannya.
“Gerakkan kedua tanganmu seperti ini,” lanjut Millie.
Kedua tangan Asia baru saja bergerak saat selendang yang dipegang Millie.
“Aaww….” pekik Asia refleks.
Pekikan Asia itu sukses membuat Millie semakin kesal dan berseru dengan kencang, “Kenapa berlebihan sekali sih? Pukulan selendang tadi bahkan tidak ada rasanya!”
“Kamu mengagetkanku dan itu membuatku refleks memekik.” Asia membela diri. Tadi dia kira Millie akan memukulnya dengan keras.
“Sekali lagi kamu bertindak seakan-akan korban, aku akan menamparmu untuk ketiga kalinya,” ancam Millie.
“Kamu bunuh aku saja sekalian,” tantang Asia.
“Sayangnya aku lebih suka menyiksa,” balas Millie sambil memperlihatkan seringainya.
Asia balas tersenyum melihat seringai Millie. Jujur dia takut, tapi dia tidak boleh memperlihatkan ketakutannya itu. Semakin dia takut, semakin dia akan tertindas.
Kegiatan belajar menari itu berlangsung dari pukul tujuh pagi hingga pukul delapan pagi. Walau melakukannya dengan setengah hati, badan Asia rasanya sakit-sakitan karena harus digerakkan terus menerus selama satu jam lamanya.
Keringat membanjiri tubuh Asia, dia tampak kelelahan dan sudah tidak sanggup untuk melakukan apa-apa. Millie yang melihat itu mendengus dan berlalu melewati Asia yang masih terduduk di tempatnya.
“Nyalimu besar tapi tubuhmu sangat lemah,” komentar Millie.
Asia diam terduduk, dia membiarkan bulir-bulir keringatnya jatuh ke lantai. Dia ingin tidur dan beristirahat, tapi beberapa saat lagi akan ada pelajaran tentang etika yang harus dia lakukan. Untuk apa seorang yang berada di rumah bordil belajar etika? Bukankah pekerjaan mereka lebih banyak merayu dan menyenangkan pria seperti seseorang yang tidak beretika? Oh, Asia benar-benar tidak mengerti.
Sebuah kaki berhenti tepat di depan Asia. Asia tidak sadar akan kedatangan seseorang karena tidak ada suara yang terdengar di langkahnya itu.
“Asia? Aku membawakanmu minum.”
Suara Debora, batin Asia. Setelah mengangkat kepalanya, barulah Asia bisa melihat wajah khawatir dari Debora. Lagi-lagi Asia melihat ekspresi itu.
“Wajahmu terlihat merah padam. Apa Millie mengajarimu dengan keras?” Gelas yang dibawanya disodorkan ke Asia.
“Apa berlatih terus menerus selama satu jam tanpa henti itu termasuk keras?” Asia tersenyum miris. Air dalam gelas yang diberikan Debora langsung ditenggaknya sampai habis.
“Untukmu yang masih dalam keadaan sakit, iya.”
“Tapi aku masih cukup kuat.” Asia bangun dari duduknya. Dia mengulurkan tangannya pada Debora. “Ayo ke kamar, aku punya waktu untuk mandi sebelum ke kelas etika.”
“Padahal kamu tidak perlu menawariku tanganmu.”
“Kenapa? Apa kamu tidak suka?” tanya Asia tanpa ekspresi. Asia mulai curiga, apa tangannya terlalu kotor dan menjijikan hingga membuat Debora tidak ingin menerima uluran tangannya.
“Tanganmu kan sakit, aku tidak ingin menambah beban lagi. Tapi terima kasih karena mau mengulurkan tanganmu.”
Uluran tangan Asia itu diterima tapi sebisa mungkin Debora tidak menarik tangan kanan Asia. Asia tertegun dengan jawaban dan sikap Debora. Asia menggeleng, dia tidak boleh terpengaruh dengan sikap baik yang ditunjukkan Debora. Eugene saja yang terlihat sebaik itu ternyata menyimpan kebusukan seperti ini.
Sebelum ke kelas etikanya, Asia masih memiliki waktu untuk mandi dan makan. Tidak banyak yang bisa Asia makan karena peraturan Marigold yang melarangnya untuk mendapatkan cemilan. Ini tentu imbas dari perbuatannya yang menyerang Marigold kemarin.
Di kelas etika, Asia banyak mendapatkan pelajaran tentang berbagai macam etika dari Lalita. Seumur hidup Asia tidak pernah belajar etika seperti yang diajarkan oleh Lalita. Etika yang dia tahu hanyalah bagaimana bersikap dengan sopan dan santun dan bagaimana dia harus menghargai orang yang lebih tua darinya.
“Apa kamu mengingat apa yang kuucapkan?” tanya Lalita.
“Untuk beberapa hal kecil iya, tapi terlalu banyak aturan.” Jika semua orang hidup seperti sebagian hal kecil yang dijelaskan oleh Lalita, tidakkah mereka seperti keluarga kerajaan yang dari bangun tidur hingga terlelap penuh dengan aturan? Apa mereka bisa hidup dengan cara seperti itu?
“Walau berada di rumah bordil, setidaknya kamu harus berkelas. Jangan sampai para bangsawan itu menginjak-injak kita karena kesalahan dalam mengambil sikap selama bersamanya dan jika kamu cukup beruntung, kamu bisa keluar dari sini karena ketertarikan bangsawan itu padamu.”
“Itu sama saja bukan?” Tidak ada kalimat yang menyenangkan yang dia dengar dari tempat ini. Di beli oleh seorang bangsawan lalu tetap berada di rumah bordil ini, dua kalimat itu selalu membuatnya bergidik ngeri.
“Setidaknya kamu hanya akan digunakan oleh satu pria dan hidupmu bisa terjamin. Itu jika kamu beruntung karena di sini hanya Millie saja yang pernah ditawari.”
Asia membenarkan posisi duduknya, ini jelas akan menjadi gosip yang bagus. “Kenapa dia tidak menerimanya?”
“Tidak ada yang tahu kenapa dia menolak.” Lalita tersentak lalu menghentakkan kipas yang dia bawa. “Kenapa kita jadi bergosip, ayo kembali mengingat bagaimana cara memberikan salam.”
Selesai dari kelas etika yang diajarkan Lalita, Asia harus mengikuti kelas etika di meja makan yang diajari Debora. Sebenarnya Asia tidak buta tentang etika makan, tapi kemarin dia hanya ingin membuat Marigold kesal saja.
Alat makan yang tersaji di atas meja makan sangat banyak. Jenis sendok dan garpu saja Asia tidak bisa bedakan apa fungsinya karena terlalu banyak.
“Apa semuanya ini diperlukan?” tanya Asia.
“Ya tentu saja. Ini tidak akan serumit yang kamu pikirkan. Kita bisa belajar dengan pelan-pelan sampai kamu mengerti cara menggunakannya,” kata Debora dengan lembut.
Helaan napas Asia yang terdengar berat membuat Debora tersenyum perihatin. Wajah Asia bahkan terlihat sangat kusut sekali. Dia benar-benar lelah dalam setengah hari ini dan penderitaannya tidak akan berakhir sampai di sini saja karena masih ada kelas-kelas lainnya yang harus Asia hadiri seperti kelas bermain musik, kelas merajut, melukis, dan kelas untuk mengenal lebih dalam tentang teh.