34. Kuil Suci

1928 Kata
“Kenapa wajahmu tidak kunjung sembuh?” Pertanyaan itu membuat gerak tangan Asia yang hendak mengangkat teko teh terhenti. Asia mengangkat pandangannya hingga bertatapan dengan Challisa yang juga tengah menatapnya. Sedikit mengalihkan pandangannya saja, Asia langsung bisa melihat sosok yang berjalan mendekat ke arahnya. Asia melanjutkan menuangkan teh ke gelas miliknya dan segera duduk. “Selamat sore Marigold,” sapa Challisa. “Ya, apa dia belajar dengan baik?” tanya Marigold. Sudah empat hari Marigold tidak bertemu Asia karena kesibukannya dan baru kali ini bisa bertatapan langsung dengan Asia. “Kami memulainya dengan etika minum teh dan Asia sudah cukup mahir.” Bukan cukup mahir, Asia bahkan selalu melakukan setiap kelasnya dengan setengah hati. Pandangan Marigold kemudian tertuju pada Asia. “Apa kamu tidak mengoleskan salep yang kuberikan?” tanyanya tajam. “Aku mengoleskannya saat aku akan tidur,” jawab Asia setenang mungkin. Dia tidak boleh ketahuan jika dia selalu menghapus salep yang dia oleskan setiap malamnya. “Jika kamu mengoleskannya, tidak mungkin memarnya masih terlihat.” Tangan Marigold terulur, dia hendak menyentuh wajah Asia. Ketidaksukaannya ketika tangan Marigold yang menyentuhnya membuat Asia refleks menghindar. Mata Marigold menyipit tajam karena reaksi Asia tersebut. “Apa kamu takut aku menyakitimu?” “Semua orang di sini juga takut pada Anda.” Marigold terkekeh, rasanya menyenangkan melihat reaksi Asia yang seperti ini. “Apa kamu takut padaku Challisa?” tanya Marigold. Chaliisa menggeleng. “Anak-anak di sini tidak ada yang takut padaku, Asia.” Marigold menerima teh pemberian Challisa. “Itu karena mereka baik kepadaku dan aku akan baik pada mereka.” “Itu karena mereka masuk ke tempat ini karena keinginan mereka, tidak sepertiku yang dijual.” Asia memberikan penekanan pada akhir kalimatnya. “Jika kamu berada di posisiku, apa kamu akan diam saja?” Asia balik bertanya. Tawa Marigold terdengar menggelegar, dia terus tertawa hingga membuat Asia merasa kesal. Tawa itu baru berhenti sekitar satu menit kemudian. “Kamu benar, tapi karena aku sudah tidak punya kesempatan lain, mau tidak mau aku harus menerima hal ini. Di saat kamu menerimanya, bisa saja nanti kamu keluar dari tempat ini di saat ada pria yang ingin mendapatkanmu.” “Apa kamu ke sini hanya untuk itu? Jika iya, lebih baik Anda pergi saja karena mengganggu kegiatanku dengan Challisa.” Marigold mengangguk mengerti, dia bangun dari duduknya dan berucap, “Aku akan memberimu waktu satu setengah bulan. Aku yakin kamu pasti akan tertarik untuk bergabung dengan teman-temanmu yang lainnya.” Marigold kemudian pergi dari sana. Kepergian Marigold itu diawasi Asia yang dibuat was-was dengan kalimat yang dilontarkan Marigold tadi. Secara tersirat ucapan itu mengatakan jika dia harus mau ikut andil dengan yang lainnya setelah satu setengah bulan dari hari ini. Ucapan Marigold tadi tentu memiliki sisi yang positif bagi Asia karena dalam waktu satu setengah bulan dia tidak akan disentuh oleh pria mana pun. Maka dari itu, dia harus kabur dari tempat ini dalam waktu kurang dari satu setengah bulan, lewat dari itu dia akan sama seperti yang lainnya. “Kamu selalu berani melawan Marigold.” Challisa tampak mengelus dadanya. “Aku tidak bisa membayangkan jika kalian bertengkar lagi.” “Aku lebih baik tidak melihat wajahnya.” Teh yang ada di gelasnya langsung ditenggak sampai habis oleh Asia. Aksi Asia menenggak tehnya sampai habis itu membuat Challisa melotot dan sedetik kemudian dia memekik, “Oh astaga, Asia!” “Apa?” tanya Asia dengan wajah tanpa dosanya * * * “Buka tudungmu!” perintah seorang penjaga di depan sebuah kuil suci. Tudung yang menutupi hingga bagian mata itu kemudian terbuka dan memperlihatkan surai merah gelap. Senyum kecil kemudian tersungging di bibir itu. Penjaga itu tidak membalas senyum itu dam mulai melakukan pemeriksaan. Tangannya mulai bergeliriya untuk melihat apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria di depannya ini atau tidak. Setelah memastikan jika tidak ada benda yang bisa membahayakan orang di dalam sana, penjaga tersebut kemudian mengambil jarak. “Apa ada lagi yang harus kulakukan?” tanya suara berat itu. “Berikan kartu pengenalmu.” Kartu pengenal kemudian tersodor dan penjaga tersebut tampak mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera pada kartu tanda pengenal itu. “Apa kartu pengenalmu ini tidak salah? Hanya nama Eugene yang tertera di sini.” “Aku besar di panti asuhan, jadi aku tidak memiliki nama keluarga di belakang namaku,” jelas Eugene. Penjaga tersebut menutup buku identitas milik Eugene. “Setiap anak yang keluar dari panti asuhan diberikan wewenang untuk membuat nama keluarga mereka sendiri. Kenapa kamu tidak melakukannya juga?” “Apa orang sepertiku memiliki kesempatan untuk membuat keluarga dengan namaku sendiri?” Penjaga tersebut mengembalikan kartu identitas milik Eugene. “Pikiran realistis orang rendahan sepertimu memang bagus.” Eugene hanya tersenyum mendengar ucapan penjaga tersebut. “Kalau begitu kamu boleh masuk ke dalam. Berdoalah bersama pendeta agar apa yang kamu harapkan terwujud.” Eugene mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya. Halaman kuil suci yang luas penuh dengan orang-orang yang berniat melakukan doa bulanan yang akan dipimpin langsung oleh kepala pendeta. Di halaman yang luas itu, Eugene kemudian menaiki tangga yang cukup banyak untuk sampai ke bangunan utama tempat orang-orang memanjatkan doanya. Pintu kuil yang terbuka lebar memperlihatkan keadaan bagian dalam kuil yang ramai. Baru masuk ke dalam kuil, Eugene langsung naik ke lantai atas. Dia tidak terlalu berminat untuk duduk di lantai satu di mana dia bisa lebih dekat dengan kepala pendeta. Di lantai atas Eugene tidak langsung duduk, dia lebih memilih untuk melihat mosaik yang menjadi hiasan dinding. “Sepertinya Sir adalah pendatang di sini.” Eugene menoleh dan mendapati seorang pria yang sedikit lebih tua darinya. Pria itu memakai pakaian pendeta yang serba putih yang membuat Eugene langsung bisa mengenali siapa yang mengajaknya berbicara. Eugene pun mengangguk mengiyakan. “Aku baru saja tiba di sini, Pendeta,” jelasnya. “Lalu kamu berasal dari mana?” tanya pendeta itu. “Aku berasal dari kerajaan Rigel, aku datang ke sini untuk berdagang dan baru kali ini aku berada di wilayah ini.” Pendeta tampak tertarik mendengar ucapan Eugene. “Apa yang kamu jual?” “Aku menjual bulu.” “Memangnya ada yang akan membelinya?” Pendeta itu tampak kaget dengan apa yang dijual oleh Eugene. “Persiapan untuk musim dingin. Para bangsawan di sini ingin membuat mode dengan bulu-bulu yang kubawa.” “Para bangsawan tampaknya tidak pernah kehabisan akal.” Pendeta itu terkekeh. “Baiklah kalau begitu, nikmati waktumu di sini karena sebentar lagi doa bersama akan dilakukan.” “Iya, terima kasih.” Tak berapa lama setelah kepergian pendeta tadi, acara doa kemudian berlangsung. Dari tempatnya duduk Eugene bisa melihat dengan jelas sosok kepala pendeta yang sudah cukup tua. Orang-orang tampak menundukkan kepala mendengar pujaan-pujaan yang kepala pendeta sampaikan untuk Tuhan. Doa-doa itu berlangsung hingga satu jam lamanya. Saat kepala pendeta mulai pergi dari atas podium, Eugene bergegas turun ke lantai dasar. Sampai di lantai dasar, Eugene sudah kehilangan jejak dari kepala pendeta. Buru-buru Eugene pergi menuju ke bangunan samping di mana di sana terdapat ruang kerja para pendeta. Seorang pendeta muda menghadang langkah Eugene. Mata merah pekat itu menatapnya dengan menelisik. “Apa Sir punya urusan di sini?” tanya pendeta itu. “Aku ada janji dengan Kepala Pendeta, ini surat pertemuanku yang sudah disetujui.” Eugene memperlihatkan surat yang dibawanya itu. “Kepala Pendeta ada di ruangannya, Sir bisa langsung masuk ke dalam dan di sana akan ada Pendeta lainnya yang akan mengantar Sir bertemu dengan Kepala Pendeta.” Eugene mengangguk mengerti. “Terima kasih.” Eugene melakukan seperti apa yang diperintahkan pendeta muda tadi, tapi dia harus menunggu selama sepuluh menit hingga akhirnya dia bisa masuk ke dalam ruangan kepala pendeta. “Bagaimana kabarmu?” sapa kepala pendeta itu. Kepala pendeta tersenyum dengan lebar hingga gigi-giginya yang rapi terlihat. “Seperti yang Kepala Pendeta Agung lihat, aku baik seperti biasanya.” “Kamu tahu aku bukan Kepala Pendeta Agung lagi.” Eugene tersenyum. “Maaf, aku terbiasa memanggilmu dengan sebutan kepala pendeta agung.” “Kenapa kamu pergi ke tempat paling ujung seperti ini?” “Aku kebetulan ada urusan di tempat ini dan mendengar jika Kepala Pendeta Elliot dipindahkan ke tempat ini. Suatu kebetulan yang membuatku ingin bertemu dengan Kepala Pendeta.” “Kamu selalu tahu kejadian di pusat kerajaan Pollux.” Kepala Pendeta Elliot tertawa. “Informasi ini terbit di surat kabar di kerajaan Rigel, jadi aku pasti tahu informasi yang beredar.” Kepala Pendeta Elliot mengangguk mengerti. Wajahnya yang penuh dengan aura keceriaan perlahan berubah menjadi serius. “Tentu kamu menemuiku bukan karena rindu padaku bukan?” Eugene menegakkan tubuhnya, dia terkekeh mendengar pertanyaan yang dikeluarkan Kepala Pendeta Elliot. “Pertama dan terakhir kalinya kamu menemuiku karena kamu mengancamku karena menyembuhkan orang itu.” Kekehan Eugene terhenti, matanya menyipit tajam. “Bukankah aku sudah memohon maaf untuk hal itu? Waktu itu aku melakukannya untuk mengagetkanmu.” “Kamu memang selalu sukses mengagetkanku.” Kepala Pendeta Elliot tersenyum lemas. Berbicara dengan Eugene selalu membuatnya kehilangan banyak energi. “Lain kali aku akan lebih mengagetkanmu,” ucap Eugene penuh maksud. “Apa kamu tidak kasihan dengan orangtua ini? Jantungku bisa berhenti berdetak jika kamu melakukannya lagi.” “Itu yang kuharapkan.” Satu kalimat singkat yang membuat Kepala Pendeta Elliot tertegun. Reaksi tertegun itu sukses membuat Eugene tertawa dengan senangnya. “Aku tidak sejahat itu untuk mengharapkan kematianmu,” katanya di sela-sela tawanya. Tawa renyah itu dengan cepat terhenti dan terdengar suara yang sangat serius, “apalagi Kepala Pendeta Elliot sangat berguna untukku.” “Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Kepala Pendeta Elliot. “Aku ingin bertanya.” Eugene terdiam, dia mencoba menajamkan pendengarannya untuk menganalisis keberadaan orang-orang yang mungkin berada di dekatnya dan sampai saat ini tidak ada orang yang mendekat ke ruangan kepala pendeta. “Apa di kehidupan ini ada dunia lain yang juga ditinggali oleh manusia?” lanjut Eugene. “Dunia lain? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti ini?” “Jawab saja, ada atau tidak?” seru Eugene tak sabaran. “Setahuku tidak ada, bahkan pesan yang diturunkan Dewa tidak pernah menyebutkan tentang dunia lain.” Eugene mengangguk mengerti. “Lalu apa kehidupan kedua itu mungkin bisa terjadi?” “Tidak.” “Apa Kepala Pendeta yakin?” Eugene ingin memastikan. Eugene sangat berharap banyak pada Elliot karena Elliot merupakan mantan kepala pendeta agung di pusat kerajaan Pollux. Sayangnya Elliot harus digantikan dan dimutasi ke perbatasan dengan alasan Elliot terlalu berumur dan butuh tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali oleh orangtua seperti Elliot. “Aku selalu membaca setiap pesan yang diturunkan oleh Dewa. Dewa juga selalu menurunkan pesan yang sama pada setiap kuil suci di setiap kerajaan, jadi sekalipun kamu bertanya pada kuil lain, mereka akan menjawab hal yang sama.” “Apa Dewa tidak bisa menjawab pertanyaan ini?” “Kamu pikir Dewa bisa mengirim surat seperti yang kamu sering lakukan? Pesan yang dia kirimkan bahkan tidak bisa langsung diartikan secara langsung.” Masalah ini bukan hanya para pendeta saja yang tahu, hal ini sudah sangat lumrah diketahui oleh orang-orang di setiap kerajaan dan pesan-pesan yang diturunkan oleh Dewa bisa didapatkan orang-orang dengan sangat mudah di kuil suci. “Jadi tidak ada?” “Ya, tidak ada.” “Apa tidak ada pesan lain lagi yang diturunkan oleh Dewa?” “Tidak ada. Sudah satu tahun lamanya sejak pesan yang terakhir.” “Ini pertanyaan terakhirku. Apa Kepala Pendeta Elliot percaya dengan dunia lain yang ditinggali oleh manusia?” tanya Eugene setelah beberapa menit dia memilih bungkam. “Tidak.” Penjelasan Kepala Pendeta Elliot membuat Eugene kembali terpikir kalimat demi kalimat yang pernah Asia ucapkan padanya. Apa yang diucapkan Asia jelas bertentangan dengan apa yang diucapkan oleh Kepala Pendeta Elliot.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN