Pagi-pagi sekali sebelum matahari muncul Asia sudah pergi ke area jemuran. Dia tampak berjongkok di depan sebuah tanaman lavender. Menghirup aroma lavender sepagi ini membuat perasaannya jauh lebih baik.
“Sejak bisa keluar kamar, kamu selalu ke tempat ini.”
Tanpa melihat wajah orang yang berbicara dengannya, Asia menjawab, “Aku hanya bisa keluar sampai tempat ini, jadi aku harus memanfaatkannya.”
Baru tiga hari berlalu sejak Asia bertemu dengan Marigold dan esok paginya Marigold memaksanya untuk mencuci dan menjemur, sejak saat itu kemudian Asia menyempatkan dirinya ke tempat ini setiap paginya. Rasanya menyenangkan saat dirinya sendirian memandangi bunga-bunga yang tumbuh dengan subur.
“Cobalah minta untuk melihat keadaan di luar kamar saat malam hari.”
Saran yang dilontarkan Debora membuat Asia refleks menoleh ke arah Debora. “Aku tidak ingin mengambil resiko dengan keluar kamar di saat kalian tengah bekerja!”
Keluar dari kamar dan berjalan-jalan melihat keadaan di saat banyak pria mata keranjang datang jelas ide yang buruk. Bagaimana jika di saat dia tengah melihat-lihat malah ada yang tertarik untuk menidurinya? Oh ya Tuhan, Asia tidak sebodoh itu dan Asia jadi sadar jika Debora berniat untuk membuat hidupnya hancur sekali lagi karena ide bodohnya itu.
“Kamu benar. Mungkin kamu harus mendapatkan kepercayaannya untuk bisa ke bagian depan dulu di saat senggang seperti ini.”
Tempat mencuci baju berada tepat di bagian bawah bersebelahan dengan pemandian dan di dalam ruang cuci itu terdapat pintu yang mengarah ke tempat jemuran yang kemudian di kelilingi oleh tembok. Ada pintu lain di sana, tapi pintu itu tertutup dengan rapat dan kuncinya hanya dipegang oleh Marigold.
“Aku tidak pernah bertemu dengannya.”
“Kamu tahu kenapa aku menyuruhmu agar meminta untuk melihat keadaan di luar kamar saat kami bekerja?”
Agar aku bisa dijual saat itu jugakah? batin Asia. Apa yang dia pikirkan sayangnya tidak berani dia ucapkan dan dia akhirnya memilih untuk menggeleng.
“Di saat malam kamu bisa saja menyelinap keluar dan bersembunyi di kereta kuda.”
“Maksudmu aku harus masuk ke dalam salah satu kereta kuda pria mata keranjang itu?”
Debora menggeleng. “Bukan itu maksudku.”
“Lalu?”
“Ada salah satu pria yang tergila-gila padaku dan aku akan meminta bantuan padanya. Apa kamu mau? Tapi kita tidak akan bisa memasukkanmu saat itu juga karena kita harus melihat situasi.”
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Debora ini sungguh menggiurkan, tapi siapa tahu jika dirinya malah dijual ke tempat yang lebih tidak benar lagi dari tempat ini? Asia tidak ingin hal itu terjadi.
“Jika kesempatan itu datang, kamu hanya perlu masuk ke dalam penyimpanan yang ada di bawah tempat duduk di dalam kereta. Terasa tidak nyaman memang, tapi hanya itu satu-satunya cara agar kamu bisa kabur.”
Ide yang diberikan oleh Debora ini akan Asia simpan dan jika dia melakukannyapun, dia akan melakukannya tanpa bantuan Debora. Dengan kondisinya yang masih seperti ini, Asia yakin jika tidak ada yang tertarik padanya.
“Bagaimana? Apa kamu mau dengan rencana ini?”
“Aku rasa itu ide yang buruk.”
“Ya sudah kalau begitu, aku akan mencari cara lain agar kamu bisa keluar dari tempat ini.” Debora memberikan elusannya pada punggung Asia.
Sampai saat ini Asia masih belum mempercayai Debora walau Debora selalu berlaku baik dan memperhatikannya. Untuk saat ini tidak ada yang sebaik Debora di rumah bordil ini.
Seperti hari-hari biasanya, Asia akan memulai paginya dengan belajar menari dengan Millie. Semakin hari, Millie semakin keras mengajarinya. Gerakan-gerakan yang membutuhkan kelenturan Millie paksakan untuknya. Di usianya yang 20 tahun ini dia masih disuruh untuk belajar split dan itu terasa sangat menyakitkan bagi Asia yang memiliki tubuh yang kaku.
Lelah dan tidak kuat, Asia hanya bisa menahan tangisnya dengan semua ajaran yang diberikan Millie. Sampai kapan dia harus belajar menari? Bahkan belajar bermain musik tidak semenyakitkan ini walau dia juga buta tangga nada.
“Ayolah Asia! Tidak mungkin gerakan seperti ini saja kamu tidak bisa!” Millie kembali memperlihatkan bagaimana dia menggerakkan pinggulnya.
“Mana mungkin aku sengaja membuat tubuhku menjadi kaku seperti ini!” teriak Asia.
Rahang Millie tampak mengatup dengan kuat. Dia ingin sekali memukul Asia saat ini. Dia sudah tahu rencana busuk Asia agar Marigold menahannya untuk tampil di luar dengan cara terus-terusan tidak bisa menari atau bermain musik.
“Goyangkan pinggulmu sambil mengelilingi ruangan ini dan jangan berhenti sampai aku menyuruhmu!”
“Iya-iya-iya!”
Menggoyangkan pinggul dengan mengelilingi ruangan walau di dalam ruangan ini hanya ada mereka berdua, Asia merasa sangat memalukan. Dia tidak pernah melakukan hal semacam ini dan ini suatu hal yang tidak akan pernah Asia lakukan, apalagi karena paksaan seperti ini.
“Goyangkan lebih cepat agar pinggangmu lebih lentur!”
“Asia!”
“Asia!”
“Asia!”
Teriakan demi teriakan Asia dengarkan. Asia sudah tidak kuat lagi, semua tubuhnya sudah sangat kelelahan. Saking kelelahannya, Asia mendadak berhenti bergerak.
“Asia! Kenapa berhenti?! Ayo lanjutkan lagi!”
Asia jatuh terduduk dengan tangan yang dia gunakan untuk menyangga tubuhnya agar tidak terbaring. Napas yang tidak beraturan dan perasaan mual yang tiba-tiba menyerang membuat Asia akhirnya memuntahkan air dari mulutnya.
“Huek!”
Perut Asia rasanya diperas dengan sangat kuat saat dia mulai semakin kuat memuntahkan isi perutnya.
“Hueek! Hueek! Uhuk!”
Muntah adalah hal yang paling Asia benci. Perutnya hingga ke tenggorokannya akan terasa sangat sakit sekali, selain itu lidahnya akan merasakan rasa yang tidak patut untuk dicicipi.
“Astaga, bagaimana bisa kamu sampai muntah seperti ini!” Suara Millie terdengar dari kejauhan. Millie terlihat panik, tapi dia masih bergeming di tempatnya sambil memandangi Asia yang masih terus muntah.
Wajah Asia tampak pucat pasi, dia menyekat air liur dan bekas muntah yang ada di dagunya. Dia ingin segera beristirahat, tapi dia harus membersihkan muntahan ini.
“Asia? Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Millie setelah dirasanya Asia sudah tidak muntah lagi.
“Pergilah,” usir Asia. Suaranya terdengar sangat pelan dan lemah.
Millie melihat gelas air minum miliknya yang masih penuh, dia pun mengambilnya dan memberikannya pada Asia. Millie sampai harus mengalihkan pandangannya agar tidak melihat muntahan yang dikeluarkan oleh Asia. Dia tidak ingin mengotori matanya dengan pandangan yang menjijikan.
“Minum itu dan aku akan segera menyuruh Debora untuk membersihkan ruangan ini.”
Suara langkah kaki Millie kemudian terdengar menjauh dan pintu ruang tari ini pun ditutup. Bibir Asia bergetar dan matanya terlihat berkaca-kaca. Dia ingin menangis namun ditahannya. Dia harus keluar dari tempat ini, bagaimana pun caranya.
Air minum yang diberikan Millie ditendang Asia. Dia tidak sudi meminum bekas dari Millie yang mungkin saja di dalamnya sudah diludahi. Dengan langkah gontai Asia berjalan keluar, tapi baru sampai di depan pintu dia melihat Debora yang datang dengan membawa alat pel.
“Asia, bagaimana keadaanmu?” tanya Debora khawatir. Tiba di depan Asia, Debora bisa melihat dengan jelas wajah pucat pasi dari Asia. Mata Debora terlihat berkaca-kaca melihat keadaan Asia.
“Sekarang kamu istirahat di kamar, aku akan membersihkan bekas muntahanmu.”
“Biar aku saja yang membersihkannya.” Tangan lemas Asia mencoba untuk mengambil alat pel dari tangan Debora.
“Kamu sakit, Asia. Biar aku saja yang membersihkannya.”
“Biar aku saja, kamu pasti akan jijik melihatnya.”
“Aku sudah terbiasa membersihkan hal semacam muntah.”
Debora hendak melangkah melewati Asia namun Asia dengan cepat menghadang langkah Debora.
“Debora, aku bisa melakukannya sendiri.”
“Asia, kamu jangan keras kepala. Kamu sekarang butuh waktu untuk istirahat. Tolong jangan membantah, oke?”
Tidak ingin berdebat lebih lama lagi, Asia memilih untuk mengiyakan ucapan Debora saja. Dia yakin jika Debora pasti akan membicarakan kejadian ini dengan mengolok-oloknya.
Akibat insiden muntah yang dilakukan Asia, dia bebas dari seluruh kelas yang harus dihadirinya itu. Seharian Asia hanya tiduran di atas tempat tidur. Dia lelah dengan semua kegiatan tanpa henti yang harus dia lakukan itu.
Saat berada di atas tempat tidur, waktu berlalu dengan sangat lama. Asia bahkan tidak ingat sudah berapa kali dia tertidur. Saat malam dan gadis-gadis yang lain pergi keluar kamar, Asia memutuskan untuk tidur. Dia kira dia akan terbangun esok paginya, sayangnya Asia bangun tidur saat gadis-gadis itu baru selesai bekerja.
Awalnya semuanya ada di kamar, namun mereka semua sepakat untuk mandi bersama di tengah malam yang dingin ini. Asia awalnya berniat untuk kembali tidur, tapi keinginan untuk buang air kecil itu menahannya untuk tidur kembali.
Kakinya terasa sangat lemas sekali saat dia mulai berjalan keluar dari kamar. Anak tangga menuju bagian bawah Asia tapaki dengan sangat hati-hati sekali. Sampai di dasar, Asia bisa mendengar suara ribut-ribut dari arah pemandian.
Sampai setelah Asia selesai buang air kecil itu, dia masih mendengar suara bising dari arah pemandian. Suara bising itu mendadak hilang yang membuat Asia melangkah cepat menuju tangga.
“Kamu sudah seperti Ibu Asia saja.”
Langkah kaki Asia terhenti begitu mendengar namanya disebut. Dia mundur agar bisa mendengar suara itu dengan jelas.
“Ya, apa kamu tidak lelah?”
“Kenapa kamu mau sampai repot-repot mengurusnya?”
“Cukup bersikap seadanya saja sudah lebih dari cukup,” tambah suara yang lainnya.
“Ya, tapi Millie tampaknya tidak jera juga mengganggu Asia, padahal dia sudah menerima hukuman yang berat dari Marigold.”
Ini adalah fakta yang Asia tidak tahu, jadi waktu itu Millie mendapatkan hukuman dari Marigold? Tapi tetap saja Millie
“Heh! Dia muntah karena dia memang tengah sakit ya, bukan salahku!” teriak Millie.
“Iya-iya, kami tidak menyalahkanmu,” ucap Debora. “Dan aku bersikap baik memang karena aku ingin melakukannya. Awalnya karena aku kasihan dengan nasibnya yang harus dijual oleh Eugene, tapi lama kelamaan aku merasa dia seperti adik yang harus kulindungi. Aku ingin melihatnya bahagia di luar sana.”
“Kamu ingin mengeluarkannya dari tempat ini, tidakkah dunia luar bahkan lebih berbahaya dari tempat ini?” tanya Millie.
“Dijual oleh Eugene orang yang dipercayainya mungkin bisa membuatnya lebih berhati-hati dengan kehidupan di luar. Dia pasti bisa belajar setelah keluar dari tempat ini dan bisa hidup dengan nyaman.”
Asia memundurkan tubuhnya, dia kemudian berjalan cepat menuju kamar. Di dalam kamar Asia langsung menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Debora benar-benar berniat membantunya, apa itu nyata? Tapi mengingat Debora yang memang berhubungan baik dengan semua gadis, harusnya Debora berbicara jujur pada gadis-gadis itu.
Apa mulai hari ini dia bisa mempercayai Debora? Ya, sepertinya dia memang harus seperti itu. Oh ya Tuhan, Asia benar-benar berharap jika keputusannya ini tidak salah. Asia harap dia memang bisa keluar dari tempat ini dengan bantuan Debora.