“Kamu tidak bosan membuat teman-temanmu kerepotan?”
Asia menoleh ke arah pintu dan mendapati Marigold. Mata biru Marigold memandanginya dengan tajam.
“Aku juga tidak ingin merepotkan yang lainnya.”
Langkah kaki Marigold terdengar mendekatinya, Asia hanya bisa diam saja. Dia harus bersikap baik pada Marigold agar Marigold bisa memberikan kelonggaran untuknya agar bisa keluar ke halaman atau ke taman.
Marigold sudah berada tepat di samping tempat tidur Asia, dia memandangi Asia. Tangannya kemudian menyentuh kening Asia. Marigold sedikit kaget karena Asia tidak menepis tangannya seperti biasanya.
“Suhu tubuhmu hangat, apa kamu sudah minum obat?”
“Ya.”
“Siapa yang menyiapkannya?” tanya Marigold.
“Debora.”
“Oh, dia masih mau mengurusmu ternyata.”
Mata Marigold tertuju pada buku gambar yang ada di atas meja rias. Marigold mengambil buku itu, dia awalnya mengira Asia akan marah karena dia mengambil buku itu, tapi Asia tetap diam.
“Kenapa hanya ada dua gambar di sini? Bukankah kamu sangat suka menggambar?”
“Aku tidak suka menggambar, Eugene salah memberitahukanmu,” jawab Asia santai.
“Lalu apa yang kamu suka?”
“Aku suka bunga.”
Marigold seketika teringat dengan apa yang pernah Eugene katakan. Melihat keadaan Asia yang seperti ini, Marigold jadi tidak tega.
“Kamu bisa keluar untuk menghirup udara segar di taman bunga, apa kamu mau?”
Tawaran ini yang Asia tunggu-tunggu. Dia tidak boleh menolak tawaran itu.
“Tidak ada orang yang akan betah jika terus dikurung.”
Tawa Marigold pecah, cara Asia menjawab selalu sama dan itu selalu membuatnya terhibur. “Baiklah kalau begitu, istirahat yang cukup dan jangan lupa untuk selalu oleskan salep di pipimu.”
Marigold akhirnya pergi dan sekarang Asia tinggal sendirian di dalam kamar. Semua orang tengah beraktivitas dan hanya dirinya yang terbaring dengan keadaan yang lemah.
Selangkah demi selangkah dia sudah mulai bisa keluar. Asia yakin dia pasti akan punya kesempatan untuk kabur, apalagi Debora berada dipihaknya.
Esok harinya Asia mulai bisa kembali melakukan semua aktivitasnya. Millie masih saja suka membentak dan memarahinya, tapi kali ini Millie tidak berani memukul dan juga memberikannya hukuman yang berat.
Di waktu istirahat setelah makan siang, Asia dibawa menuju taman oleh Debora. Hanya ada mereka berdua di taman siang ini, yang lainnya memilih untuk bersendau gurau di dalam daripada harus berpanas-panas di taman samping rumah.
Banyak jenis bunga di taman ini dan bunga-bunga ini benar-benar memanjakan mata Asia. Aroma bunga yang ditiup angin membuat Asia memejamkan matanya. Melihat bunga-bunga yang mekar dengan indah membuat perasaannya sedikit terobati.
Di tengah-tengah taman terdapat sebuah gazebo, Asia dan Debora duduk di sana dengan posisi yang saling berhadapan.
“Tamannya indah bukan?” tanya Debora.
“Ya, sangat indah.”
Rumah ini memiliki arsitektur yang indah dan Asia akui itu. Tapi seindah apa pun tempat ini, Asia tidak akan betah jika tempat ini adalah rumah bordil.
“Asia.” Suara Debora terdengar pelan dan kecil.
Nada suara Debora yang mendadak berubah membuat Asia mengangguk mempersilahkan Debora untuk melanjutkan ucapannya. Asia tahu kemana arah pembicaraan mereka akan berlanjut.
“Marigold sudah membiarkanmu keluar sampai ke teman seperti ini, apa kamu yakin tidak ingin mencoba untuk melihat keadaan luar kamar di saat malam?”
Kembali Debora menawari Asia untuk mengikuti rencana itu. Dia masih tidak menemukan cara lain untuk membawa Asia keluar. Terlebih untuk membawa keluar Asia pada waktu malam saja itu sebenarnya sangat sulit.
“Aku akan mencobanya.”
“Benarkah?”
Asia mengangguk mengiyakan, dia ingat kalimat yang dilontarkan oleh Marigold terakhir kalinya itu, dia akan mencoba untuk meminta melihat keadaan di luar kamar saat malam. Jika dia sudah punya kebebasan untuk itu, dia bisa melihat kesempatan yang mungkin datang untuknya.
“Semoga saja Marigold membiarkanmu keluar untuk melihat.”
“Jika tidak bagaimana? Apa tidak ada cara lain? Apa kita tidak bisa kabur di saat seperti ini?” Asia memandangi sekelilingnya, sangat sepi dan ini bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk keluar.
“Penjaga di depan gerbang sangat sulit untuk ditembus dan tembok di rumah ini penuh dengan kawat berduri. Kamu tidak akan bisa selamat jika memaksa untuk keluar.”
Marigold memasang penjagaan yang ketat bukan karena dia takut gadis-gadis yang ada di rumah bordil ini kabur, melainkan agar tidak ada pria-pria gila yang berniat untuk menculik gadis-gadisnya. Bahkan untuk keluar rumah, mereka harus sudah mengantongi kepercayaan dari Marigold dan tak lupa dikawal oleh penjaga.
Asia menyodorkan buku gambarnya. “Bagaimana jika kamu menjelaskan seluk beluk dan letak penjagaan di rumah ini?”
“Apa ini tidak terlalu beresiko?”
“Tidak akan ada yang berani membukanya. Gambarkan saja,” perintah Asia.
“Marigold bisa saja membongkar buku gambar ini.” Mengingat bagaimana Asia yang sangat tidak ingin berada di rumah bordil, Debora yakin jika Marigold pasti akan memberikan pengawasan yang sangat ekstra.
“Tidak akan, Marigold tidak akan membuka buku gambarku.”
Meski ragu, Asia mengambil buku gambar dan juga pena. Pena itu dicelupkan ke dalam tinta dan Debora mulai menggambar. Gambarannya tidak bagus, bahkan terkesan tidak jelas, tapi ini lebih dari cukup untuk menggambarkan tempat-tempat di rumah ini.
Setiap kalimat yang dikeluarkan oleh Debora benar-benar dicerna dengan baik-baik oleh Asia. Jam istirahat untuk Asia berakhir dan dia harus kembali melanjutkan kelasnya. Asia merasa beruntung karena dia sudah cukup mengerti tentang seluk beluk rumah Marigold ini.
Info yang Asia dapatkan dari Debora juga tentang Marigold yang akan menanyakan perkembangannya. Mereka harus memberitahu kegiatan apa saja yang sudah mereka lakukan setiap harinya. Asia yakin jika Marigold banyak mendapatkan keluhan akan dirinya yang setengah hati melakukan semua kegiatan yang ada di dalam kelas yang dia suruh.
Asia menyelesaikan setiap kelasnya tanpa masalah. Asia tidak lagi membuat masalah dan tampak patuh menuruti semua pelajaran yang dia berikan. Minusnya, Asia melakukannya dengan wajah datarnya hingga membuat dirinya tampak tidak tertarik dengan semua pelajaran, bahkan di pelajaran melukis di mana Asia memiliki sedikit skill untuk menggambar.
Seminggu kembali berlalu dengan tenang dan Asia selalu menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Marigold, tapi sayangnya Marigold tidak pernah terlihat. Saat Asia bertanya tentang keberadaan Marigold, semua orang mengatakan jika Marigold ada di rumah, tapi Asia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Marigold. Bahkan saat Asia meminta Debora bertanya pada Marigold kenapa dia tidak menemuinya, Marigold hanya tersenyum. Jika bertemu Marigold saja susah, bagaimana cara Asia bisa menjalankan rencananya dengan Debora. Waktu Asia sudah tidak banyak lagi sekarang. Tersisa 34 hari sebelum dia benar-benar dijual oleh Marigold.
Di pagi-pagi buta yang dingin ini, Asia dan Debora mandi berdua. Di waktu seperti ini, Asia memutuskan untuk berendam. Hari ini dia akan menari dengan iringan musik yang lebih serius dari biasa-biasanya. Asia harap kesungguhannya menari dan mengikuti kelas-kelas lainnya membuat Marigold mau menemuinya.
“Padahal Marigold tidak mengawasiku, tapi aku masih saja tidak memiliki kesempatan untuk kabur.” Asia menenggelamkan tubuhnya hingga sebatas bibirnya. Dia membuat gelembung-gelembung air dengan bibirnya yang mengerucut itu.
“Rumah ini memang terlihat tenang, tapi para penjaga tidak pernah lengah.”
“Aku punya waktu 34 hari lagi. Aku takut jika Marigold benar-benar membawaku pada p****************g dengan paksa.”
Beberapa kali Asia bermimpi jika dirinya dibawa menuju ruangan dan seorang pria mencoba untuk memperkosanya. Mimpi itu sangat menakutkan sekali baginya dan Asia tidak ingin hal itu menjadi nyata. Kesucian yang dia jaga untuk suaminya tidak boleh diambil oleh pria lain.
Asia tertegun, dari bawah air dia menyentuh bibirnya. Bibir yang harusnya dicium oleh suaminya sudah diambil oleh Eugene, pria sialan yang malah menjualnya ke rumah bordil. Rasanya Asia ingin marah jika mengingat bibirnya sudah tidak suci lagi.
Suasana hati Asia yang mendadak berubah membuat Debora mengelus punggung Asia. “Waktu kita masih banyak, kamu pasti bisa keluar dari tempat ini.”
Asia mengangguk. Walau Debora mencoba menenangkannya, sejujurnya Asia masih merasa tidak bisa tenang. Dia adalah tipe orang yang selalu ingin melakukan sesuatu dengan cepat, bukan berarti dia orang yang tidak sabaran. Waktu itu terlalu berharga baginya.
Waktu untuk Asia belajar menari akhirnya datang. Di dalam ruang latihan ada Gaia yang juga ikut karena dia orang yang paling mahir dalam memainkan alat musik harpa. Tidak heran Gaia mendapatkan tugas untuk mengajari Asia bermain alat musik.
Pemanasan mulai dilakukan. Asia merasa sedikit malu pada Gaia yang duduk memandangi dirinya yang tengah melakukan pemanasan. Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya Asia ditonton latihan.
Ekspresi datar dari Gaia benar-benar membuat Asia merasa malu untuk memperlihatkan bagaimana cara menarinya. Jangankan saat menari, saat belajar bermain harpa saja Asia selalu membuat malu dirinya sendiri karena dia memang buta nada.
“Ikuti semua gerakanku. Kita akan melakukannya secara bersamaan.”
Asia mencoba untuk tidak mempedulikan tatapan dari Gaia. Saat bunyi harpa mulai terdengar, fokus Asia sepenuhnya tertuju pada Millie. Begitu Millie terlihat mengambil ancang-ancang dan bergerak, Asia mengikuti semua gerakan Millie seperti yang dia ingat.
Tarian yang mereka lakukan sangat pas dengan alunan harpa yang lembut. Setiap mendengar bunyi harpa yang dimainkan Gaia, Asia selalu merasa dibawa terbang ke awang-awang.
Setelah hampir sepuluh menit menari, harpa yang dimainkan Gaia pun berhenti. Baru sepuluh menit dan Asia sudah keringatan dibuatnya.
“Gerakan Asia masih cukup kaku,” komentar Gaia.
“Jika kamu melihat dari awal aku mengajarinya, kamu bisa melihat hal yang lebih parah dari yang kamu lihat sekarang,” balas Millie.
“Itu karena tubuhku tidak lentur.” Jika tubuhnya lentur, mungkin dulu Asia akan dipaksa menekuni dunia balet.
“Oke Asia, terserah kamu. Kita istirahat lima menit dan kembali latihan.” Millie mengambil tempat duduk di samping Gaia. Dia memandangi Asia yang memilih duduk di tempatnya terakhir berdiri tadi. “Kamu bisa bertanya tentang hal-hal yang tidak kamu bisa.”
Sebenarnya Asia malas berbicara dengan Millie, tapi ada satu hal yang mengganjal pikirannya, dia akhirnya mencoba untuk bertanya, “Apa tarian ini memang diperuntungkan untuk satu orang?”
Setahu Asia dari drama-drama yang dia tonton, tarian yang diajarkan oleh Millie seperti tarian yang dilakukan beramai-ramai.
“Tarian ini bisa dilakukan sendiri-sendiri ataupun berkelompok.”
“Lalu bagaimana dengan kalian?” tanya Asia penasaran. Dia harap tidak ada perbedaan yang diberikan oleh Marigold.
“Kami biasanya berkelompok.”
Mendengar itu, napas Asia rasanya tercekat. Tidakkah ini benar-benar aneh? Millie sudah selesai mengajarinya dasar-dasar, tapi kenapa dia masih saja belajar menari sendirian? Kenapa dia harus menari sendirian, sedangkan yang lain menari bersama? Sebenarnya apa maksud dari Marigold?
Kembali Asia melakukan latihan, kali ini Asia jauh lebih santai melakukannya karena dia sudah tidak malu lagi dengan sosok Gaia. Begitu harpa yang dimainkan Gaia berhenti, sebuah tepuk tangan terdengar.
Asia menoleh ke belakang dan mendapati Marigold yang ada di ambang pintu.
“Semakin lama kamu semakin pintar menari juga ya.” Marigold tersenyum, dia pun berjalan mendekati Asia. “Apa kamu sudah menyerah?” tanya Marigold.
Asia diam tak menanggapi, dia tidak berani menjawabnya.
“Teman-temanmu saja sangat suka dengan pekerjaan ini. Kenapa kamu tidak tertarik?”
Asia masih diam.
“Bagaimana jika coba keluar kamar untuk melihat teman-temanmu bekerja? Kamu bebas melihat-lihat sampai kamu merasa cukup dan bisa menjawab tawaran yang kuberikan waktu itu.”
“Apa tidak akan ada yang menyentuhku saat aku keluar kamar?” Asia meneguk ludahnya.
“Tentu tidak ada selama kamu memakai topeng karena setiap gadis baru akan diberikan topeng yang menandakan dia tidak boleh disentuh.”
“Kamu tidak boleh menjualku sebelum waktu yang kamu berikan berakhir. Apa kamu berani berjanji?”
“Ya, aku berjanji Asia.”
“Aku harap kamu orang yang menepati janji, jika tidak kamu akan mendapatkan ganjarannya.”
Ini yang Asia butuhkan, kesempatan untuk keluar sekaligus kesempatan untuk memastikan jika dirinya akan aman dari sentuhan pria mata keranjang.