20. Debaran

1970 Kata
“Hey, Eugene… kepalaku pusing.”   Permintaan maaf yang tidak digubris membuat Asia masih berada di gendongan bahu Eugene. Kepalanya yang menghadap ke bawah membuatnya merasa jika dunia berputar 180 derajat. Dia pusing dan bisa saja akan muntah jika terus-terusan dalam posisi ini.   “Bahumu yang keras menekan perutku dengan kuat.”   “Aku menyesali apa yang kulakukan.” Asia menghela napas berat. “Aku tidak akan penasaran jika kamu sudah melarangku. Aku yakin jika apa yang kamu ucapkan itu, itu pasti demi kebaikan kita.”   Asia harap ucapannya ini mampu membuat Eugene luluh. Dengan mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, harusnya mempan untuk membuat seseorang tidak kesal lagi.   Masih tidak ada jawaban dari Eugene yang membuat Asia yang sudah terlanjur kesal berseru dengan kencang, “Dasar pria menyebalkan!”   “Menyebalkan! Apa susahnya memberi maaf? Kenapa kamu sangat pelit untuk memberi maaf untuk suatu yang sepele? Aku bahkan tidak akan bisa membunuhmu! Jadi kamu harusnya tidak perlu takut!”   Masih tidak ada respons dari Eugene. Asia tersenyum kecut dan memilih untuk diam saja. Diam dan tidak bergerak sama sekali. Biarlah Eugene menikmati waktunya sendiri, Asia sudah tidak peduli. Jika dia sakit karena hal ini, toh yang akan kesusahan Eugene sendiri. Ya, itu kalau Eugene tidak berniat membuangnya.   Rasa pusing yang tidak tertahankan membuat Asia memilih memejamkan matanya. Di saat pusing, tidur memang menjadi senjata utama agar rasa pusing itu tidak terasa. Tapi baru saja Asia hendak tidur, tubuhnya tiba-tiba terangkat dan begitu membuka matanya, Asia melihat bagian bawah wajah Eugene.   “Kau tahu, kepalaku sekarang sangat pusing,” gerutu Asia.   “Aku tahu.”   Asia cemberut, dia menyandarkan kepalanya ke d**a Eugene. Matanya perlahan terpejam dan sambil memejamkan matanya Asia berucap, “Selamat berjalan dengan membawa beban berat.”   Lagi dan lagi tidak ada jawaban dari Eugene. Sebelah mata Asia terbuka. Dia ingin melihat ekspresi Eugene. Dan betapa terkejutnya Asia saat melihat wajah Eugene dengan jelas. Eugene ternyata tengah menundukkan kepalanya dan memandanginya.   “Jangan bersandiwara. Mengerti?” ucap Eugene dalam dan penuh tekanan.   Asia membuka seluruh matanya. “Tapi aku tidak bersandiwara. Kepalaku sekarang memang benar-benar pusing. Apa kamu mau bertukar kepala denganku?”   “Tidak.” Hanya itu yang keluar dari mulut Eugene sebelum dia akhirnya kembali memfokuskan pandangannya ke jalan di depannya.   Asia mencibir namun dia mencoba untuk tidak meneruskannya. “Apa tidak apa jika aku tidur?” tanya Asia.   “Tidurlah.”   Setengah jam Eugene berjalan sambil menggendong Asia. Langkahnya pun terhenti saat dia melihat begitu banyak buah beri. Seingat Eugene, Asia menyukai buah beri yang dia berikan.   “Asia!” Tangannya yang Asia jadikan bantalan Eugene goyangkan hingga membuat Asia mau tidak mau membuka matanya.   “Kamu bisa membangunkanku dengan memanggil nama saja tahu!” gerutu Asia. Baru bangun, dia sudah merasa pusing lagi karena goyangan lengan yang Eugene berikan.   “Terlalu lama. Aku tidak punya banyak kesabaran untuk menunggumu bangun.”   Eugene menurunkan Asia dari gendongannya. Baru saja Asia berdiri dengan kedua kakinya sendiri, dia hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada tubuh Eugene. Asia mengangkat pandangannya, dia tampak merengut sebelum melepaskan pegangannya.   “Kita mau beristirahat di sini?” tanya Asia.   “Iya, kamu selalu mengeluh karena tidak bisa memakan cemilan bukan?”   “Walau aku mengeluh, aku tidak memaksa.” Entah kenapa ucapan Eugene tidak enak didengar. Ada kesan negatif yang Asia tangkap dari ucapannya itu.   “Ya aku tahu. Maka dari itu aku membangunkanmu karena menemukan pohon beri.”   “Aku akan memetik banyak-banyak agar bisa memakannya sampai besok,” tekad Asia.   “Lakukan sesukamu, Asia.”   “Aku tidak pernah melihat pohon blueberry secara langsung.” Asia menatap takjub pohon blueberry yang tumbuh subur dan lebat. Tak jauh dari pohon blueberry, Asia melihat buah blackcurrant. “Bahkan aku juga baru melihat pohon blackcurrant.”   “Kamu seperti anak kecil.”   Asia tersenyum sambil memamerkan giginya. Sambil makan, Asia memperhatikan pohon beri-berian yang pertama kali dia temukan. Rasanya sangat menyenangkan menemukan pohon yang belum pernah dilihatnya. Eugene cenderung tidak memperbolehkannya terlalu lama melihat-lihat hal yang baru dilihatnya.   “Kamu tidak makan?” Asia memamerkan blueberry yang baru saja dia petik. “Ini sangat manis,” katanya.   Baru saja Asia hendak memasukkan itu ke mulutnya, Eugene mengambil blueberry itu dan langsung memakannya. Asia tertegun dengan apa yang dilakukan Eugene. Senyum canggung kemudian tersungging.   “Ayo cepat ambil semua yang kamu butuhkan.” Eugene melempar kantung yang bisa Asia gunakan untuk menyimpan buah beri.   “Bantu.”   Eugene berjongkok di samping Asia. Kantung yang Eugene berikan itu kemudian ditempatkan di tengah-tengah mereka. Asia ingin membuka pembicaraan, tapi dia terlalu bingung ingin berbicara apa. Haruskah dia membicarakan tentang buah beri yang mereka petik ini?   Tuk~   Asia tersentak kaget karena tangannya menyentuh tangan Eugene. “Maaf,” ucap Asia cepat.   “Ayo lakukan dengan cepat,” perintah Eugene sedikit keras.   Nada bicara Eugene yang mendadak berubah membuat Asia bingung. Apa Eugene marah karena sentuhan tadi?   Eugene mengambil kantung yang berisi beri itu dan mengikatnya di pinggangnya. Dia menarik Asia agar bangun dari duduknya.   “Ada apa?” tanya Asia bingung. “Kitakan belum selesai.”   “Ada sesuatu yang akan datang.” Eugene mempercepat langkahnya. “Tahan sebentar saja.”   “Apa ada monster?” Asia sudah sering menyuruh Eugene untuk memberitahukan jika ada monster, tapi Eugene tidak juga mengatakan dengan jujur jika ada monster.   Eugene mendekap Asia dan berucap, “Tutup matamu.”   Jika Eugene sudah mengatakan itu, monster sudah pasti ada di dekat mereka. Asia pun menutup matanya seperti yang diperintahkan Eugene. Deru napas Eugene yang menyentuh kepalanya membuat Asia membuka matanya.   Saat membuka matanya, Asia melihat pedang Eugene yang sudah ada di depannya. Sinar biru tipis muncul menyelimuti pedang itu. Dari depan sana Asia melihat sesuatu yang berdiri.   Asia memicingkan matanya, dia tidak bisa melihat dengan jelas sesuatu yang berdiri di depan sana. Walau sudah memicingkan matanya, Asia masih belum bisa melihat apa yang ada di depan sana.   Angin kencang tiba-tiba datang yang membuat Asia sontak menutup matanya. Saat dia membuka matanya kembali sesuatu yang bertubuh besar sudah ada di depan mereka.   Monster yang ada di depan mereka memamerkan gigi-gigi taringnya. Saat tangan monster itu bergerak ke depan, Eugene membawa tubuhnya mundur ke belakang.   “Tahan,” bisik Eugene.   Tubuh Asia yang ada di dekapan Eugene ikut bergerak sesuai dengan pergerakan Eugene yang cepat. Asia bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana Eugene mengayunkan pedangnya ke depan untuk menebas tangan monster itu. Begitu tangan monster itu ditebas dan Eugene memundurkan tubuhnya, tubuh Asia yang awalnya menghadap ke depan tiba-tiba dibalikkan oleh Eugene.   Mereka bertatapan untuk sesaat sebelum Eugene menahan kepala Asia di dadanya agar tidak melihat apa yang akan dia lakukan.   “Grrrr!” geram monster itu yang membuat Asia mengeratkan pelukannya.   Eugene merasakan pergerakan dari arah belakangnya. Dia pun dengan cepat melayangkan pedangnya ke depan dan sukses melukai leher dari monster di depannya. Begitu dia memutar tubuhnya, monster yang hendak mencakarnya dari arah belakang segera ditebas.   “Uhk!” erang Asia saat tubuhnya dipaksa untuk menunduk.   Eugene harus menunduk karena monster yang ada di belakangnya hendak menyerangnya.   “Jangan bergerak sedikit pun.”   Tangan yang memegangi tubuh Asia segera dilepas dan tangan itu Eugene gunakan untuk menyiku dan mengeluarkan es panjang yang akhirnya menancap di jantung monster tersebut.   Monster yang ada di depan yang hendak menyerang Asia yang terduduk diam sambil menutup wajahnya segera loncat dan menendang monster itu dengan keras. Pedang yang dibawanya kemudian di lemparkan oleh Eugene ke d**a monster itu.   Begitu tertancap, Eugene sudah berada di depan monster itu dan semakin memperdalam tusukannya hingga monster tersebut tidak bernyawa lagi.   “Eu-Eugene….” panggil Asia. Dia ditinggal sendirian, tapi dia tidak berani bergerak karena perintah Eugene.   “Tetap tutup matamu.” Eugene menarik pedangnya dan memasukannya lagi ke dalam sarung pedangnya. Dia pun berjalan melewati Asia hingga terhenti di depan monster yang pertama kali dia bunuh. Eugene memandangi balok es runcing yang menancap dengan kuat di d**a monster itu.   Sekali tendangan, balok es tersebut patah dan terlempar jauh. Eugene tidak percaya dengan dua monster yang ternyata bersekongkol untuk memangsanya. Pilihan yang salah karena monster-monster ini mengincarnya.   Eugene menghela napas sebelum berjalan mendekati Asia. Dia berjongkok dan menempatkan tangannya menutupi mata Asia.   “Akh!” Asia terperanjat kaget karena merasakan sesuatu yang dingin menutupi matanya.   “Berdiri,” bisik Eugene tepat di samping telinga Asia.   Dengan perlahan Asia bangun dari duduknya. Begitu dia sudah sepenuhnya berdiri, Eugene langsung membawa Asia ke dalam gendongannya. Kepala Asia sedikit Eugene tekan ke arah dadanya.   “Hey, aku tidak akan setakut itu untuk melihat mayat monster.”   “Monster ini berbeda dengan monster tempo hari.”   “Bukankah kamu bilang jika kita tidak berada di kawasan monster? Lalu kenapa tiba-tiba ada monster seperti ini?”   Langkah Eugene terhenti. Dia kemudian berputar menatap sekelilingnya. Jika dilihat dari keadaan hutannya, Eugene memang yakin jika dia masih ada kawasan hutan yang bebas monster, tapi bagaimana bisa ada monster di wilayah ini?   “Apa ada masalah?” tanya Asia penuh kebingungan.   “Tidak ada, sepertinya aku salah mengenali wilayah.” Setelah mengatakan itu Eugene kembali melanjutkan langkahnya.   “Eugene,” panggil Asia.   “Apalagi?”   “Apa kau tahu jika ada darah di bagian d**a bajumu?”   Ucapan Asia sukses membuat Eugene menjauhkan wajah Asia dari dadanya dan benar saja, di dahi Asia tertempel darah monster yang tadi dia bunuh. Eugene hanya sadar jika darah itu mengenai lengannya, tapi tidak dengan darah yang ada di bagian dadanya.   “Tahan sebentar, kita akan membersihkannya jika sudah menemukan tempat aman.”   Sebenarnya Asia bukan gadis yang takut akan darah, tapi karena ini darah monster, Asia tidak tahu kandungan dari darah monster. Bisa saja ada cacing yang akan masuk ke dalam kulit dan akhirnya menjadi parasit yang membunuh. Tapi ketakutan itu tidak boleh Asia perlihatkan pada Eugene, terlebih Eugene tampaknya biasa saja dengan darah yang sekarang mengenai dahinya.   “Sepertinya di sini sudah cukup aman.” Eugene menurunkan Asia dari gendongannya.   Sambil berjongkok di depan Asia, Eugene mengeluarkan kantung air dari dalam tasnya.   “Majukan wajahmu.”   “Aku bisa membersihkan wajahku sendiri.”   “Aku yang akan melakukannya. Kamu cukup diam dan tahan napasmu.”   Asia bingung, haruskah dia mengiyakannya? Membayangkan Eugene mengusap dahinya saja membuat Asia merasa geli.   “Asia….” desis Eugene karena tidak ada jawaban dari Asia. Asia tampak kaget dan Eugene kembali berucap, “Jangan membuat monster yang lain datang.”   Asia sedikit memajukan kepalanya. Matanya menatap Eugene sedih karena dia merasa tidak enak hati melihat Eugene yang harus membersihkan darah di dahinya.   “Tutup matamu,” perintah Eugene.   Meski ragu, Asia akhirnya menutup matanya. Eugene membuka tutup botol dan mengucurkan air ke wajah Asia. Tangannya yang bebas dia gunakan untuk mengusap bagian dahi yang terkena darah itu.   “Tahan sebentar.” Eugene mengambil tanaman obat yang memiliki aroma harum jika diremas. Tanaman itu pun dia remas dan usapkan di dahi Asia. Setelah itu, Eugene kembali mengucurkan air untuk membersihkannya.   Walau tangan Eugene cukup kasar, Asia bisa merasakan jika Eugene melakukannya dengan penuh kehati-hatian. Tangannya bahkan mengusap dahinya dengan lembut hingga membuat Asia merasa terbuai dengan sentuhan yang Eugene lakukan.   Saat sentuhan itu tidak terasa lagi, Asia merasa kehilangan hingga membuatnya membuka matanya. Eugene ternyata tengah mengambil baju dan baju itupun Eugene gunakan untuk mengelap wajahnya.   “Tutup matamu,” perintah Eugene.   Asia diam tak mempedulikan ucapan Eugene. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Eugene yang menatapnya dengan serius.   Di saat Eugene tengah mengelap wajahnya itu, Asia merasakan jika dadanya berdebar dengan cepat. Wajahnya bahkan terasa memanas dan Asia yakin jika wajahnya pasti sudah memerah.   Eugene mengusap pipi Asia. “Pipimu memerah. Apa ini karena kamu kesal?”   Dengan gerak kaku Asia menggeleng. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena Asia yakin jika suaranya pasti akan terdengar bergetar karena perasaan gugup yang tidak terbendung.   Oh ya Tuhan, Asia benar-benar tidak tahan dengan semua hal ini. Debaran jantung yang begitu cepat ini terasa menyakitinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN