19. Napas Buatan

1855 Kata
Tanpa pikir panjang Eugene langsung loncat ke dalam kolam air terjun hingga dia berhasil mencapai tubuh Asia. Dia memotong rumput hidup yang ternyata tumbuh di kolam air terjun ini. Bentuknya yang menyerupai rumput biasa membuat Eugene lupa dengan hal ini.   Eugene sedikit kesusahan untuk memotong rumput yang membelit seluruh tubuh Asia. Rumput hidup ketika sudah membelit sesuatu akan kembali membelit ketika sudah dilepaskan. Selesai memotong seluruh rumput itu, Eugene berenang dengan cepat ke pinggir kolam.   Sampai di pinggir kolam, Eugene bergegas mengecek denyut nadi Asia. Seperti petir yang menyambar di siang bolong, Eugene tertegun dengan apa yang dia rasakan. Denyut nadi Asia terasa sangat lemah sekali.   “Ck, sialan!” umpat Eugene sebelum akhirnya dia segera menekan kedua tangannya di dãda Asia. Eugene melakukannya selama beberapa kali. Karena tidak ada reaksi dari Asia, Eugene tidak punya pilihan lain selain memberikan napas buatan juga.   Tanpa ragu Eugene mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Asia. Eugene memberikan napas buatan dan setelah itu dia kembali melakukan kompresi pada dãda Asia. Saat dia hendak kembali memberikan napas buatan untuk Asia, semburan air Eugene terima.   Eugene seketika menahan napasnya saat melihat Asia perlahan membuka matanya. Mata hitam yang menatapnya dengan sendu itu membuat ekspresi wajah Eugene seketika melunak. Dia bisa merasakan kesedihan yang Asia rasakan.   Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari Eugene dan Asia, mereka berdua seakan terhipnotis oleh satu sama lain. Air mata Asia menetes tanpa dia sadari. Saat dia mencoba mengambil napas, Asia merasakan sakit di dãdanya itu.   “Uhk.…” Asia memegangi dãdanya.   “Jangan menangis.”   “A-aku ti-tidak…. ke te-tengah ko-kolam.” Air mata Asia turun semakin deras. Dia ingin bercerita, tapi dia tampak sangat panik karena takut Eugene akan memarahinya.   “Aku tahu.” Eugene mengambil jubahnya dan membungkus tubuh Asia dengan jubahnya itu. Setelah membungkus Asia dengan jubahnya, Eugene membawa Asia dalam pangkuannya.   “A-aku se-selalu me-merepotkanmu.” Sudah berulang kali Eugene menyelamatkannya dan semakin lama Asia sadar jika dia hanyalah beban yang Eugene bawa. Jika tidak ada dia, mungkin Eugene sudah sampai di kerajaan Rigel.   “Kamu memang merepotkanku.”   Asia mengangguk lemah. “Ka-kamu bi-bisa me-meninggalkanku di sini,” lirihnya.   Eugene memberikan tatapan tajamnya. Selalu saja seperti ini setiap Asia selesai tenggelam. Selalu hilang kendali dan mengatakan hal-hal yang terdengar menyebalkan.   “Minum.” Eugene mendekatkan mulut kantung minumannya ke bibir Asia.   Karena tidak bisa menolak, Asia pun meneguk minuman yang disodorkan oleh Eugene. Hanya beberapa teguk sebelum Asia memilih untuk menyandarkan tubuhnya ke tubuh Eugene. Dia tidak kuat karena tenaganya sudah terkuras habis karena tenggelam tadi.   “A-aku serius dengan ucapanku.” Kembali Asia mengingatkan.   “Sejak pertama aku menolongmu, aku sudah tahu jika kamu akan merepotkanku.” Eugene menghela napas lelah. Dia membuang pandangannya dari Asia dan kembali berucap, “Jadi aku sudah siap dengan segala hal yang akan merepotkanku.”   “Ke-kenapa kamu se-sebaik ini, Eugene?”   “Aku pernah ada di posisimu dan keberadaanmu membuatku bisa membalas kebaikan orang yang menolongku.” Eugene menyentuh pipi Asia dan mengusap jejak air mata yang ada di sana. “Jadi jangan menganggap dirimu beban.”   “Terima kasih.” Asia tersenyum getir. “Aku akan berusaha membalas semua kebaikanmu, bagaimana pun caranya.”   “Jangan pikirkan itu dulu, pikirkan saja keadaan tubuhmu. Apa masih ada yang sakit?”   Asia menggeleng. “Aku ingin tidur, bo-boleh?”   “Tidurlah.”   Asia menyandarkan kepalanya di dãda Eugene. Perlahan namun pasti dia mulai memejamkan matanya dan perlahan terlelap. Eugene sebisa mungkin membuat tubuh Asia hangat. Eugene juga harus membuat obat agar Asia tidak sampai demam. Akan sangat merepotkan jika Asia sampai demam.   Sejauh ini, Eugene sadar jika Asia sangat kuat untuk seukuran gadis yang terlihat manja. Dia bahkan tidak demam walau tidur di alam terbuka. Tubuhnya yang tanpa mãna harusnya membuat dia lebih gampang sakit.   Hampir setengah jam Eugene di posisi memangku Asia. Tidak ada pergerakan dari Asia dan napasnya pun terdengar teratur yang menandakan jika Asia tidur dengan nyaman.   Eugene melirik sekelilingnya dan menemukan pohon yang tak jauh dari posisinya sekarang. Dia pun bangun dari duduknya dan berjalan menuju pohon itu. Direbahkannya tubuh Asia di sana. Eugene memperhatikan Asia yang tidur dengan nyenyaknya.   “Haaah….” Eugene berbalik dan meninggalkan Asia.   * * *   Suara serangga yang berbunyi dengan nyaringnya membuat Asia membuka matanya. Saat dia membuka matanya, cahaya jingga memenuhi indera penglihatannya. Terlalu silau membuatnya kembali menutup matanya.   Kulit yang terasa sejuk tiba-tiba menyentuh dahinya. Hanya sesaat tangan itu menyentuh dahinya yang membuat Asia kembali membuka matanya.   “Jangan jauhkan,” pintanya dengan suara yang serak.   Eugene terdiam, matanya melirik Asia sekilas sebelum kembali menempatkan tangannya di dahi Asia. Asia memindahkan tangan Eugene untuk menyentuh pipinya. Perasaan nyaman itu membuat Asia menggesekkan pipinya.   “Ayo makan malam,” ajak Eugene. Ini sudah cukup larut dan Asia baru bangun dari tidurnya. Tadi tubuh Asia sempat menghangat, tapi untung saja ada tanaman obat yang bisa membantunya memulihkan kesehatan tubuh Asia.   “Sebentar lagi.” Asia terlalu enggan untuk melepaskan tangan Eugene.   Jika Asia sudah meminta seperti itu, Eugene tidak bisa memaksanya. Dia membiarkan tangannya dimainkan oleh Asia. Saat Eugene tengah fokus memandangi api unggun di depannya, dia tersentak kaget saat merasakan hembusan napas panas di telapak tangannya. Tidak hanya itu, tiba-tiba saja Eugene merasakan telapak tangannya di bibir Asia.   Dari sudut matanya, Eugene bisa melihat Asia yang menempatkan tangannya di atas bibirnya. Saat tangannya menggesek bibir itu, Eugene menahan napasnya. Dia jadi teringat saat dia memberikan napas buatan.   “Sialan,” umpat Eugene tanpa sadar.   “Kenapa?” tanya Asia. Tangan Eugene sekarang dia tempatkan di pipinya lagi.   “Bukan apa-apa.”   “Bisa kamu membantuku bangun?”   Tanpa menjawabnya, Eugene langsung membantu Asia bangun. Ikan yang sudah dia siapkan untuk Asia pun Eugene sajikan. Beberapa jenis sayur yang Eugene temukan di dekat air terjun juga dia sajikan.   “Terima kasih.”   Eugene menyedorkan kantung airnya. “Minum dulu sebelum makan.”   Asia menerima itu dan menenggak minuman yang diberikan Eugene dengan cepat. Terlihat sekali jika Asia sangat kehausan.     “Akhirnya makan malam kita tidak hanya daging.” Asia yang hendak memasukkan makanan ke mulutnya seketika terhenti. “Kamu sudah makan?” tanya Asia.   “Sudah.”   “Oh, baguslah.”   Asia makan dengan lahap. Dia bahkan menghabiskan dua ikan untuk dirinya sendiri dan setelah makan, Asia langsung tertidur dengan memegang sebelah tangan Eugene. Sepanjang malam Eugene terus-terusan kepikiran tentang apa yang terjadi hari ini. Dia berharap bisa sampai dengan cepat ke kerajaan Rigel, tapi sepertinya itu sangat mustahil.   Sebelum matahari muncul, Eugene melepaskan tangannya yang digenggam oleh Asia. Dia menangkap ikan yang ada di kolam air terjun dengan sangat mudahnya. Saat matahari perlahan menampakkan semburat jingganya, Eugene kembali menyalakan perapian dan membakar ikan hasil tangkapannya.   Aroma ikan yang dibakar membuat Asia bangun dari tidurnya. Mata yang masih setengah sadar itu memandangi Eugene dengan sayu.   “Selamat pagi.” Asia tersenyum kecil. Dia menyandarkan tubuhnya di batang pohon yang ada di belakangnya.   “Hmmm….” Eugene hanya bergumam.   Asia mengerucutkan bibirnya tak suka. “Harusnya kamu menjawab ucapanku dengan benar.”   “Sepertinya kamu sudah sangat sehat.”   “Iya, ini berkat kamu.”   “Ya aku bisa melihatnya.”   “Dari wajahku yang terlihat cerah?” Asia memperlihatkan senyum manisnya.   Senyum yang Asia sunggingkan membuat Eugene membalasnya dengan senyum terpaksanya. “Dari ucapanmu yang sudah mengajakku berdebat,” balasnya kemudian.   “Dasar menyebalkan,” ucap Asia sambil melempar kerikil ke arah Eugene. Kerikil itu harusnya mengenai bahu Eugene, tapi dengan mudahnya Eugene menangkap kerikil itu.   Sambil memperhatikan kerikil yang ada di jarinya, Eugene pun berucap, “Dari kerikil yang sekecil ini, bisa saja berubah menjadi batu besar yang ada di atas air terjun itu.”   Sebuah senyum muncul dari tatapan rendah yang Eugene berikan. Dengan suaranya yang sedikit serak, Eugene pun berucap, “Asiaku sudah berniat melukaiku ternyata.”   Entah karena angin yang tiba-tiba berhembus atau karena ucapan Eugene, Asia merasa bergidik.   “Makan.” Eugene memberikan ikan yang sudah matang.   Asia memperhatikan sekeliling Eugene dan segera berucap, “Sayur yang kemarin tidak ada?”   “Tidak ada lagi.”   Asia hampir saja menghela napas namun segera dia urungkan karena sadar apa yang dilakukannya bisa saja membuat Eugene mengira jika dia tidak bersyukur.   “Kita akan berangkat setelah makan.”   “Iya.”   “Karena tubuhmu masih lemah, aku akan menggendongmu dari belakang.”   “Tidak!” tolak Asia cepat. Dia sudah cukup merepoti Eugene dan Asia yakin jika Eugene tidak tidur sama sekali karena harus menjaganya.   “Aku tidak sedang memberimu pilihan, Asia.”   “Aku tidak mau digendong, aku punya kaki yang sehat dan bagaimana jika ada monster yang menyerangku dari belakang? Sebelum kamu menolongku, aku sudah mati.”   “Aku tidak sebodoh itu hingga lengah dengan apa yang ada di belakang, Asia.”   “Terserah kamu, yang jelas aku akan jalan dengan kakiku sendiri.”   Keinginan Asia untuk berjalan sendiri tidak bisa dia lakukan. Eugene lebih dulu mengambil sepatunya, bahkan saat dia memaksa untuk berjalan tanpa menggunakan sepatu, Eugene memilih untuk diam hingga Asia dengan sangat terpaksa membiarkan Eugene menggendongnya.   “Kepalamu jangan dimiringkan.” Eugene memperingati.   Begitu diperingati, Asia malah mempraktikannya. “Seperti ini?” tanyanya kemudian.   “Iya, Asia!” tekan Eugene agar Asia segera menuruti perintahnya.   Asia kembali membenarkan posisinya. Senyum samar tercipta saat itu juga. Dia jadi punya ide untuk melakukan hal yang Eugene tidak suka. Mungkin saja dengan hal itu membuat Eugene berhenti menggendongnya.   “♫Eugene seorang kesatria tangguh... memiliki tatapan mata yang tajam dan ucapan yang tak kalah tajam♫”   Nyanyian yang Asia keluarkan membuat Eugene mengepalkan tangannya kuat. Suara Asia jelas tidak ada bagusnya.   “♫Dibalik semua itu, Eugene seorang kesatria yang baik hati dan tidak sombong… huuuu… huuu…♫” Asia mengambil jeda dan segera menoleh ke arah leher Eugene. Barulah setelah itu dia kembali berpura-pura bersiul. “Huuuu….”   “Sepertinya kamu harus diajarkan sopan santun.” Eugene menurunkan Asia dengan paksa. Tas yang dia gendong dari depan kemudian dia tempatkan ke belakang punggungnya.   Aura mencekam yang Eugene keluarkan sukses membuat Asia meneguk ludahnya. Apa Eugene marah karena dia menghadap ke arah lehernya?   “Aku tidak akan melakukannya lagi.” Asia memberikan tanda damainya pada Eugene. “Janji!”   “Kamu memang tidak akan melakukannya lagi, Asia.” Eugene mendekat dan segera membawa tubuh Asia ke pundaknya. Dia menggendong Asia layaknya karung beras.   “Eugene!” Asia tampak panik. Kepalanya yang menghadap bawah membuatnya merasa sedikit pusing.   “Ini hukuman untuk orang yang tidak patuh.”   “Aku hanya penasaran kenapa kamu marah jika aku menoleh ke arah lehermu. Padahal tidak ada yang aneh.” Dibanding aneh, Asia malah merasa jika leher Eugene sangat seksi. Mengingat bagaimana seksinya leher Eugene membuat Asia tanpa sadar terkekeh pelan.   “Kekehan yang kamu keluarkan itu sudah cukup menjawab semuanya.”   Asia seketika memukul mulutnya. Bisa-bisanya dia terkekeh di saat yang serius seperti ini. Eugene jadi salah paham!   “Eugene… aku serius. Aku tidak sengaja menggodamu. Aku hanya penasaran.”   “Eugene… aku anak yang penurut. Semua ucapanmu aku turuti. Tapi untuk hal yang tadi, itu karena rasa penasaranku.”   Eugene masih saja bungkam yang membuat Asia semakin merengek.   “Eugene, maaf….” Tatapan Asia terlihat penuh harap. “Ya? Kamu kan baik.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN