“Eugene, aku bosan dan lelah.” Asia menghela napas kasar. Ini sudah hari kelima dia berjalan dan sampai sejauh ini dia tidak menemukan kuda.
“Kita istirahat sebentar lagi.”
Asia kembali menghela napas. “Kenapa di dunia ini tidak ada motor, mobil atau pesawat sih? Kita tidak perlu berjalan kaki sejauh ini jika ada itu.”
“Mengeluh tidak akan membuat kita sampai.”
“Aku tahu, tapi apa salahnya mengeluh? Daripada aku memendamnya yang akhirnya membuatku kesal sendiri, lebih baik aku mengutarakannya bukan?”
“Aku tidak ingin diam dengan semua pemikiran yang akhirnya menyakitiku. Aku sudah terlalu sering diam dan tidak boleh mengeluh dengan semua yang kulakukan.” Selama ini dia terus-terusan memandam semua perasaannya dan Asia tidak ingin hal itu kembali menimpanya di sini. Dia harus mengubah hidupnya agar jauh lebih baik mulai dari sekarang.
“Oke terserah, lakukan saja apa yang kamu ingin lakukan.”
“Aku rindu makan nasi. Aku juga rindu minum soda. Terus yang paling kurindukan ponsel dan juga laptopku. Baru kali ini aku bisa hidup tanpa ponsel dan laptop. Dua barang itu padahal seperti teman hidupku. Rasanya aku akan mati jika mereka tidak ada di sampingku.”
“Tidak rindu dengan pria yang kamu cintai itu?”
Pertanyaan Eugene sukses membuat Asia berhenti tersenyum. Dia tidak suka saat Eugene mengungkit pria yang pernah dia sukai itu. Ya, setelah sadar dengan semua kebodohannya, entah kenapa Asia jadi tidak suka dengan pria itu. Seperti, kenapa juga dia ingin mati karena pria yang bahkan tidak mencintainya?
“Tidak.” Asia menoleh dan menatap Eugene. “Aku sudah tidak menyukainya lagi.”
“Secepat itu?”
“Setelah dipikir-pikir, aku sangat bodoh saat menyukai pria itu. Aku merasa dikhianati, padahal aku sendiri tidak pernah mengungkapkan perasaanku. Aku juga berpikir ingin mati karena mendengar dia yang akan menikah. Jika mengingatnya, aku menyesal.”
Eugene terkekeh mendengar pengakuan Asia. Ada juga gadis yang tidak terus-terusan buta karena cinta. Gadis-gadis bangsawan yang dia tahu selalu mengejar cinta yang mereka dambakan sampai mereka mendapatkannya.
“Tidur di hutan ternyata membuat kepalamu jauh lebih waras.” Eugene kembali tertawa.
“Sepertinya begitu.” Asia juga ikut tertawa.
“Perhatikan langkahmu,” tegur Eugene saat sadar sesuatu yang ada di bawah kakinya.
Asia sontak melihat tanah yang dipijaknya. Saat sadar ada kawanan cacing tanah yang sangat banyak, Asia seketika loncat dan mendekap Eugene dengan kuat.
“Ayo cari jalan yang lain!” seru Asia panik. Dia tidak pernah melihat cacing tanah sebanyak ini dan melihat cacing tanah sebanyak ini membuatnya ingat dengan mie. Apa jadinya jika mie yang dia makan berubah menjadi cacing? Sangat menakutkan bukan?
“Kamu takut dengan ini?” Asia mengangguk cepat.
Tanpa memberi aba-aba Eugene membawa tubuh Asia ke dalam gendongannya. “Aku akan menurunkanmu setelah cacing-cacing ini tidak ada,” tambahnya begitu sadar tatapan kaget dari Asia yang tertuju ke arahnya.
“Tidak masalah.” Asia ingin menundukkan kepalanya, tapi entah kenapa dia tidak bisa melakukannya. Melihat Eugene dari bawah membuat Asia bisa melihat rahang tegas yang Eugene miliki.
Indah, itulah yang selalu terpikir di kepala Asia saat melihat Eugene.
“Ada air terjun tidak jauh dari tempat ini.”
“Benarkah? Kamu hafal tempat ini ya?” Asia sangat antusias mendengar akan ada air terjun di depan sana. Dia sudah bisa membayangkan segarnya air yang akan menimpa mereka. Asia sudah tidak mandi dari kemarin dan dia sudah tidak sabar untuk mandi.
“Aku bisa mendengar suara air yang jatuh.” Eugene menundukan kepalanya. Sebuah seringai tampak terukir di bibirnya. “Sebenarnya baru pertama kali melewati jalan ini. Jadi aku tidak tahu ada bahaya apa di depan.”
“Tunggu!” seru Asia panik.
“Apa?”
“Jika ini pertama kalinya kamu melewati jalan ini. Bagaimana kamu tahu kita berada di jalan yang benar? Bagaimana jika kita tersesat dan tidak bisa pergi ke kerajaan Rigel?” Asia bahkan ingat jika Eugene tidak memiliki kompas atau peta, jadi bagaimana bisa Eugene yakin dengan jalan yang dipilihnya?
“Insting?”
“Jawab dengan serius!” rengek Asia.
Eugene menghentikan langkahnya karena di depannya terdapat undakan tanah yang sangat rendah yang membuatnya harus menurunkan Asia dari gendongannya. “Dari arah matahari,” jawabnya kemudian.
“Nah, ini baru bisa diterima oleh kepalaku.” Asia menahan tangan Eugene saat Eugene ingin kembali melanjutkan langkahnya.
“Kenapa lagi?” tanya Eugene lelah.
“Aku mendengarnya!”
Eugene mengangkat sebelah alisnya.
“Suara air terjunnya.”
Raut wajah penuh keantusiasan itu membuat Eugene terpaku sebelum akhirnya dia mendengus geli.
“Pokoknya kita harus beristirahat di sana karena aku ingin mandi!” seru Asia antusias.
“Bagaimana jika aku tidak ingin kita berhenti di sana?” Eugene tersenyum nakal.
“Kamu harus mau karena aku sudah tidak mandi dari kemariiiiiin!”
Eugene loncat menuruni undakan tanah di depannya. Eugene mengulurkan kedua tangannya ke arah Asia.
“Loncat,” perintah Eugene.
Seperti perintah Eugene, Asia pun loncat dan menubruk tubuh Eugene. Sesaat mereka terdiam dalam posisi berpelukan karena Asia yang tidak ingin melepaskan dekapannya. Eugene berdaham dan dengan canggung Asia melepaskan dekapannya dan menjauh dari Eugene.
“Apa salahnya dengan tidak mandi?” tanya Eugene yang mencoba mengembalikan.
“Seluruh badan akan terasa lengket dan bau, Eugene.” Asia kembali menghentikan langkah kakinya yang membuat Eugene menghentikan langkahnya juga.
“Tapi kenapa kamu tidak bau ya?” tanya Asia tak percaya. Ini adalah hal yang baru Asia sadari. Tidak ada aroma yang yang dikeluarkan Eugene padahal dia berkeringat. Tapi akan ada aroma yang segar dan ketika Eugene selesai mandi.
“Jika musim panas datang, semuanya tercium tidak enak dan aroma tubuhmu juga tidak bau.”
Asia mendekatkan hidungnya ke arah ketiaknya dan dia memang tidak mencium aroma yang tidak sedap, tapi tetap saja dia merasa tidak nyaman karena keringat.
“Tunggu.” Eugene menahan tubuh Asia yang hendak kembali berjalan. Suara pedang yang dikeluarkan langsung mengalihkan pikiran Asia. Asia sontak menatap waspada kesekelilingnya.
“Apa ada monster?” tanya Asia takut.
Brugh!
Suara itu sukses membuat Asia memeluk lengan Eugene dengan kuat.
“Ranting ini sangat mengganggu.” Eugene hampir tertawa saat melihat ekspresi kaget dari Asia.
Asia mendorong Eugene menjauh dari dirinya dan memberikan pukulan di bahu yang keras itu.
“Kamu bisa memberitahuku jika ada ranting, jangan malah bersandiwara seakan-akan ada monster.”
“Aku hanya menyuruhmu untuk menunggu, tapi kamu sendiri yang menyimpulkan jika ada monster.” Eugene melanjutkan langkahnya meninggalkan Asia.
Asia memandangi punggung lebar nan tegap itu dengan perasaan kesal. Ingin sekali dia memukul Eugene hingga Eugene merasa kesakitan, tapi pria itu terlalu kuat untuk merasakan sakit.
Dengan langkah yang disentak Asia menyusul Eugene hingga dia akhirnya bisa menyamakan langkahnya.
Eugene berucap, “Singkirkan pikiran yang ingin memukulku itu.”
Asia melirik Eugene dan berucap, “Aku tentu tidak memiliki pikiran untuk memukul penyelamatku.”
“Harusnya memang seperti itu.” Eugene menoleh dan tersenyum manis.
Asia buru-buru membuang pandangannya dan meringis. Senyum yang Eugene berikan terlalu manis hingga menusuk ke jantungnya. Dia suka jika Eugene tersenyum, tapi jika Eugene terus-terusan tersenyum, bisa-bisa dia akan terkena serangan jantung.
“Kenapa?” tanya Eugene begitu menyadari tingkah aneh dari Asia.
“Aku pasti akan membalas utang budiku,” ucap Asia cepat. Dia terlalu gugup hingga mengatakan hal yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
“Aku akan menunggunya.”
Asia mengangguk, dia pasti akan membalas semua kebaikan Eugene. Perjalanan mereka akhirnya terhenti di depan sebuah kolam yang tak jauh dari sana terdapat air terjun.
Mulut Asia ternganga tanpa bisa dicegah. Dia takjub dengan air terjun yang dia lihat. Kolam biru yang jernih dengan air terjun yang seperti tirai.
“Aku akan naik ke atas sana.”
“Atas? Atas mana?” Asia tidak mengerti dengan apa yang Eugene ucapkan.
“Di atas undakan air terjun kedua.”
Asia pun memperhatikan undakan kedua dari air terjun dan di sana memang ada tumbuhan yang Asia sendiri tidak melihat dengan jelas itu tanaman apa.
“Bagaimana cara kamu naik ke atas sana? Aku takut kamu kenapa-kenapa.”
“Ada tanaman rambat, jadi kamu tidak perlu khawatir.” Eugene melepaskan tas dan melepas bajunya. Pedang miliknya tidak boleh lepas darinya.
Eugene turun ke kolam air terjun dia kemudian menyelam dan segera muncul ke permukaan.
“Sisi ini bagus untuk kamu mandi. Jangan pergi ke tengah karena aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.”
Asia mengangguk patuh. “Aku akan menuruti ucapanmu.”
Tanpa berkata-kata Eugene kemudian berenang menjauhi Asia. Asia memandangi Eugene yang semakin lama semakin jauh sambil berdecak kagum. Rambut Eugene yang basah itu membuat Eugene tambah terlihat tampan.
Sebelum Eugene sampai di depan tirai air terjun itu, Asia membuka gaun yang dia kenakan. Asia memutuskan hanya menggunakan dalamannya saja karena sangat tidak nyaman jika berenang menggunakan gaun.
Dinginnya air terjun membuat Asia bergidik, tapi dia mencoba menahan rasa dingin itu hingga tubuhnya mulai terbiasa dengan rasa dingin itu. Begitu terbiasa, Asia memasukkan seluruh tubuhnya ke kolam air terjun itu.
“Haaaah….” Asia menghela napas lega. Dia senang karena bisa berendam di air sesejuk ini.
Saat Asia ingin menyelam, dia terhenti karena Eugene yang menoleh ke arahnya. Tatapan tajam Eugene mambuat Asia tersenyum kaku. Asia mengerti kenapa Eugene memberikan tatapan tajam. Eugene tidak ingin dia sampai berulah dengan berenang ke tengah.
Karena tidak ingin membuat Eugene marah, Asia pun menikmati berenang di pinggiran kolam air terjun. Asia menggosok seluruh tubuhnya yang terasa lengket, setelah itu dia pun menyelam.
Air yang bersih membuat Asia bisa melihat dengan jelas isi dari dalam kolam air terjun itu. Dasar kolam penuh dengan bebatuan, tapi di beberapa sisi terdapat tumbuhan yang menurut Asia mirip dengan tumbuhan lamun yang tumbuh di air asin.
Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal di dunia ini dan hal itu membuat Asia tidak mempedulikan hal itu. Baru saja Asia muncul ke permukaan, dia tiba-tiba merasa ditarik hingga membuat tubuhnya kembali menyelam.
Tidak ada waktu untuk Asia berteriak karena tubuhnya langsung ditarik ke tengah kolam. Asia berusaha keras melepaskan jeratan kakinya, tapi hal itu tidak berefek apa-apa. Berusaha untuk berenang ke atas pun tidak bisa Asia lakukan. Napas yang Asia tahan pun sudah mencapai batasnya.
Sementara Eugene yang ada di atas undakan air terjun yang kedua mencoba mengambil sebanyak yang dia bisa tanaman obat yang dia yakini akan sangat berguna, terlebih untuk Asia. Tanaman itu pun Eugene masukkan ke dalam tas kecil yang dia bawa dan saat dia hendak turun ke bawah, Eugene menyadari jika Asia sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Mata Eugene bergerak liar mencari keberadaan Asia hingga dia akhirnya menemukan tubuh Asia di dasar kolam air terjun.