17. Bingung

1716 Kata
“Jangan diam saja.”   Suara teguran itu membuat Asia menegakkan tubuhnya dan mengangguk kepalanya dan menoleh ke arah Eugene.   “Perjalanan kita masih panjang jadi jangan banyak melamun,” kembali Eugene mengingatkan.   “Maaf.” Asia tersenyum canggung dan kembali fokus ke kegiatan yang seharusnya dia lakukan. Dia kemudian melepas sepatu Eugene yang dia kenakan dan membersihkan bagian sepatu yang kotor karena lumpur. Bagian-bagian ujung rok dan lengan gaunnya juga tak lupa Asia bersihkan.   Sensasi dingin dari air yang mengalir masih bisa Asia rasakan dan hal itu tiba-tiba membuat dia ingat tentang hal yang harus dilakukannya. “Eugene,” panggil Asia antusias.   “Kenapa?”   “Air ini cukup dingin, sepertinya aku bisa mengompres kepalamu dengan air ini.”   “Ah?”   Suara rendah yang terdengar penuh rasa kekagetan itu sukses membuat Asia menoleh dan bertatapan dengan Eugene yang tampak menatapnya tidak percaya.   “Ada apa dengan ekspresimu itu?” tanya Asia bingung.   “Kamu bilang mengompres kepalaku dengan air dingin?” Eugene kira Asia hanya bercanda dengan hal itu.   Asia mengangguk dengan polosnya. “Seingatku, jika kepala memar harus dikompres dengan air dingin untuk pertolongan pertama.”   “Jika anak kecil yang mengalaminya, dia pasti akan sangat kesakitan karena luka di kepalanya tidak akan sembuh semudah itu.” Eugene geleng-geleng tidak percaya dengan cara pengobatan yang Asia sarankan.   “Ya itukan pertolongan pertama, yang namanya luka memang butuh waktu untuk proses penyembuhan.”   Eugene tertawa mendengar ucapan Asia. Tawa itu membuat Asia memicingkan matanya tajam.   “Kenapa kamu tertawa?!” seru Asia. “Apa kamu menganggap cara di duniaku ini sebuah lelucon?” tanyanya tidak terima.   “Itu memang terdengar lucu bukan?” Alasan Eugene tertawa bukan karena menganggap cara pengobatan di dunia Asia lucu, tapi ekspresi Asia membuat Eugene ingin tertawa.   “Ya sudah kalau tidak mau, aku tidak akan memaksamu.” Asia memutuskan untuk memunggungi Eugene.   Eugene melirik Asia sekilas sebelum akhirnya dia sedikit mencondongkan kepalanya. Tangannya yang lebar kemudian dengan gampang mengambil air lalu mengguyurkannya tepat di belakang kepalanya itu. Dia mencoba membersihkan bagian belakang kepalanya yang kotor.   Suara percikan air yang ditimbulkan Eugene membuat Asia melirik Eugene. Cara Eugene membersihkan kepalanya membuat Asia bangun dari duduknya dan menghampiri Eugene.   Sosok Asia yang berhenti dan berjongkok di sampingnya membuat Eugene sejenak terdiam karena memikirkan apa yang akan dilakukan Asia. Dalam keadaan acuh tak acuhnya itu, Eugene tiba-tiba merasakan air yang jatuh di atas kepalanya.   “Aku membantumu bukan karena ingin mengompres lukamu.” Asia kembali mengambil air dan membasuh kepala bagian belakang Eugene. Dengan jari-jari lentiknya, Asia mengusap rambut Eugene agar kotor-kotoran yang menempel hilang.   “Kamu gadis yang aneh.”   “Aku tersanjung mendengarnya.” Bibir Asia mengerucut kesal. Bukannya berterima kasih, Eugene malah mengatai jika dia adalah gadis yang aneh.   “Kesal, tapi kamu malah membantuku membersihkan kepala.”   “Tidak, kenapa aku harus kesal?” Asia sedikit lebih kasar mengusap rambut Eugene.   “Tanyakan pada dirimu, Asia. Kenapa kamu harus kesal dengan ucapanku?”   “Aku tidak kesal.”   Eugene menegakkan tubuhnya, dia menoleh dan menatap Asia dengan intens. Dia memperhatikan ekspresi wajah Asia yang mencoba untuk tidak berekspresi. Eugene tidak bisa menahan senyumnya saat melihat ekspresi Asia itu.   “Kamu kesal,” katanya kemudian bangun dari duduknya. “Bersihkan dirimu, aku sudah selesai.”   “Dasar menyebalkan,” gumam Asia.   Gumaman Asia tentu dapat didengar oleh Eugene. “Dari awal aku sudah mengatakan jika luka di kepalaku ini tidak sakit sama sekali. Aku tertawapun bukan karena menertawakan cara pengobatan di duniamu. Ekspresimu itu sangat menghiburku.”   Sentuhan lembut di kepalanya Asia rasakan. Hanya beberapa detik sebelum sentuhan itu hilang yang diikuti langkah kaki yang menjauh. Ekspresi Asia tampak menegang, wajahnya bahkan sudah sangat merah.   Asia menangkup pipinya dengan kedua tangan. Dia tampak kaget karena ucapan dan perlakuan Eugene. Bisa-bisanya ucapan Eugene terdengar manis, padahal Asia sudah bersiap untuk menerima kalimat penuh keketusan dari Eugene.   “Asia, jangan diam saja. Cepat bersihkan dirimu.”   Teguran itu membuat Asia gelagapan. Apa Eugene memperhatikannya? Begitulah pikir Asia hingga membuatnya menoleh ke belakang dan mendapati Eugene yang memunggunginya. Punggung Eugene yang tidak tertutup sehelai benang pun itu benar-benar terlihat indah walau di beberapa bagian tampak sekali bekas luka lama yang pastinya sangat parah.   Sisa-sisa lumpur yang ada di tubuhnya segera Asia bersihkan. Selain itu, Asia juga sedikit membasahi rambutnya. Air yang segar membuatnya tergoda juga untuk membasahi rambutnya.   Saat tengah membasahi rambutnya, Asia mendadak merasa sakit perut. Asia paling benci bagian di mana dirinya ingin buang air besar. Dibandingkan di tengah hutan yang tidak ada sumber airnya, tempat ini jelas lebih baik. Tapi setelah apa yang terjadi hari ini, rasanya Asia tidak punya muka untuk meminta Eugene menunggunya untuk buang air besar.   “Eugene….” panggil Asia. Akhirnya rasa sakit yang tidak tertahankan itu membuat Asia tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan apa yang seharusnya dia keluarkan.   “Kenapa?”   “A-aku…. aku….”   “Apa?” tanya Eugene tidak sabaran.   “Sa-sakit perut.” Setelah mengatakan itu Asia semakin menundukkan kepalanya. Dia malu.   “Kamu tinggal buang air di sana.”   “Ja-jangan menoleh belakang dan ingat tutup telingamu.”   Pundak Eugene tampak turun. Dia tampaknya menghela napas berat karena Asia yang lagi-lagi menyuruhnya untuk menutup telinga, padahal hal tersebut tidak ada gunanya.   “Ayo tutup!” seru Asia tak sabaran.   “Iya, iya.” Eugene dengan terpaksa mengikuti perintah Asia.   Sambil memandangi punggung Eugene, Asia mengeluarkan apa yang harus dia keluarkan. Rasanya sangat lega sekali bagi Asia karena bisa buang air besar di air seperti ini.   “Jangan sampai sebentar lagi kamu merengek minta makan.”   Ucapan Eugene membuat Asia memicingkan matanya tajam. Ini juga bukan keinginannya untuk buang air besar, jika bisa Asia tidak ingin buang air besar sampai dia tiba di kerajaan Rigel.   “Tatapan matamu itu terasa sangat menusukku.”   “Kamu mengintipku ya!” Asia sedikit menurunkan roknya yang dia singkap itu.   “Untuk apa aku mengintip seseorang yang tengah buang air besar? Jika aku ingin aku sudah melakukannya saat kamu tidak sadarkan diri waktu itu.”   “Iya deh.” Baru saja Asia ingin kembali fokus dengan kegiatannya hingga dia seketika tersadar. “Eugene! Kamu tidak menutup telingamu dengan benar!” teriak Asia.   “Bukankah sudah kukatakan dari awal jika tidak ada gunanya untuk menutup telinga? Semuanya bisa kudengar dengan jelas, bodoh!”   Wajah Asia kembali memerah, kali ini karena dia teringat hari-hari sebelumnya di mana dia mengalami kesusahan buang air besar. Eugene pasti mendengar suara-suara memalukan itu.   “Karena sekarang aku bersamamu, mungkin butuh waktu sepuluh hari lagi untuk kita benar-benar masuk ke wilayah hutan kerajaan Rigel. Tapi jika kita menemukan kuda, kita akan sampai kurang dari seminggu.”   “Jika kita menemukan kuda, berarti kita sudah dekat dengan kerajaan Rigel?” Asia sudah tidak sabar lagi untuk bisa tidur di atas tempat tidur yang empuk.   “Iya, tapi ntuk sampai ke pusat kota butuh waktu berhari-hari lagi.”   Asia lemas mendengarnya. Itu baru desa terdekat dan itu belum sampai ke tempat tujuan mereka yang seharusnya. “Mendengarnya membuatku tidak berselera lagi untuk buang air besar.”   “Jangan sampai nanti kamu merengek minta untuk buang air besar lagi.”   “Tidak akan. Ayo cepat, bukankah kita harus bergerak cepat?”   Eugene bangun dari duduknya, dia menggunakan kembali bajunya yang basah, tak lupa dia juga mengambil tas dan pedangnya.   “Apa kamu tidak merasa kedinginan menggunakan baju yang basah seperti itu? Kamu juga bisa sakit.” Asia saja merasa tidak nyaman karena bagian bawah roknya yang basah.   “Semua bajuku basah Asia. Ini juga akan kering jika aku gunakan.” Eugene melangkah melewati Asia.   “Cepat jalan, kamu tidak ingin diterkam monster bukan?”   “Tunggu aku!” Buru-buru Asia berbalik dan segera menyamakan langkahnya dengan Eugene.   Mereka berdua terus berjalan melewati rimbunnya pepohonan dengan penuh kewaspadaan. Beberapa pengganggu kecil mereka temukan dan Eugene dapat mengatasinya dengan mudah. Tidak banyak waktu istirahat yang Eugene berikan, waktu istirahat hanya waktu untuk makan saja.   Perjalanan mereka pun terhenti mana kala malam akhirnya datang. Asia sudah sangat kelelahan hari ini karena terlalu banyak kejadian yang menimpanya, karena hal itu setelah makan Asia memilih untuk tidur lebih dulu.   Eugene duduk termenung di samping Asia. Matanya tampak fokus memandangi api unggun yang menyala dengan cukup besar itu. Suara gesekan-gesekan yang ditimbulkan Asia membuat Eugene terganggu. Saat matanya melirik Asia, Eugene meneguk ludahnya.   Jubahnya yang harusnya menutupi tubuh Asia sekarang tersingkap dan entah kenapa Eugene malah teringat saat lengannya tak sengaja menahan bagian itu. Eugene meneguk ludahnya dan buru-buru menarik jubah itu agar kembali ke posisinya semula.   Eugene tidak mengerti kenapa dirinya malah mengingat kejadian tadi siang yang akhirnya membuat dirinya tergoda dengan tubuh yang tertutup gaun. Asia memang gadis yang cantik, tapi Eugene tidak menyangka dia bisa sampai tergoda hanya karena lengannya menyentuh d**a itu, padahal dia sudah terbiasa melihat wanita-wanita sexy yang bahkan bergelayut manja di lengannya.   Sekarang Eugene mengerti kenapa orang-orang mengatakan jika sangat berbahaya jika kamu hanya pergi berdua saja dengan lawan jenismu. Hormon seorang pria yang tiba-tiba ingin disalurkan itu jelas tidak ada yang bisa memprediksinya dan Eugene harus menahan dirinya. Dia tidak boleh terjatuh ke lubang yang sama dengan teman-temannya.   Eugene tanpa sengaja kembali melirik Asia dan tampak bibir itu terbuka. Seketika saat itu juga Eugene mengepalkan tangannya erat. Asia, gadis yang sukses membuatnya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Eugene berharap tidak akan ada hal yang tidak dia inginkan terjadi selama perjalanan pulang yang lama ini.   Oh, Asia, sosok gadis yang entah kenapa Eugene bisa langsung mempercayai setiap ucapan tak masuk akalnya. Apa ini karena Asia tidak memiliki mãna? Atau karena dia melihat sosok Asia seperti dirinya yang dulu? Hampir mati dengan semua perasaan penuh ketidakadilan. Tapi sepertinya karena keduanya.   “Ta-takut….”   Suara Asia yang lirih kembali membuat Eugene kembali memperhatikan Asia. Mata itu berkerut dalam dan bibir itu tampak meringis.   “A-aku… hiks… ti-tidak ingin mati.”   Tangan Eugene terulur dan mengusap sudut. mata di mana setitik air mata terlihat di sana. Tangan itu kemudian berpindah ke atas kepala Asia. Eugene mengusap kepala Asia dengan lembut agar Asia dapat kembali tidur dengan nyenyak. Rasanya tidak nyaman bagi Eugene mendengar Asia yang sedih dalam tidurnya seperti ini.   Asia, gadis yang benar-benar lemah dan tidak bisa hidup jika tidak ada dirinya di sini.   “Kamu tidak akan mati selama kamu bersamaku,” gumam Eugene. “Ya, aku bisa menjamin itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN