Tangis Asia yang terdengar menyayat hati itu membuat Eugene menutup wajahnya. Bisa-bisanya Asia menangis dengan heboh seperti ini, padahal dia tidak meninggal atau terluka parah. Sudah cukup lama Asia menangis dan lama-kelamaan Eugene merasa semakin kesal dengan tangisan itu.
“Jangan menangis lagi, atau aku akan meninggalkanmu di sini!”
Seketika Asia mengangkat pandangannya dan menatap Eugene dengan mata berairnya itu. Dia terdiam, namun beberapa saat kemudian air mata Asia mengalir lagi.
“Jangan menangis lagi!” teriak Eugene.
“Huuuu… huuu… huuu….” Asia mencoba tidak menangis lagi setelah Eugene menegurnya itu. Sayangnya dia tidak bisa berhenti menangis karena terharu dengan bagaimana Eugene yang mencoba untuk selalu melindunginya, selain itu Eugene juga sampai harus terluka di kepalanya.
Eugene mengulurkan tangannya dan memegang kepala Asia. “Jangan menangis lagi oke? Kepalaku sekarang sangat pusing dan aku butuh menenangkan diriku.” Dia memberikan senyum kecil terpaksanya dan itu sukses membuat Asia diam.
Asia segera menutup wajahnya dan mengangguk cepat. Dia berusaha untuk tidak menangis lagi. Tangan Eugene yang ada di kepala Asia pun menjauh dan hal itu membuat Asia memperlihatkan wajahnya lagi. Dia merasa kehilangan.
“A-aku mengkhawatirkanmu,” lirih Asia. “Ti-tidak ada yang pernah berkorban seperti itu untukku.”
Pandangan Eugene melunak dan dia tersenyum dengan tatapan mata yang menggoda. “Aku merasa terkesan karena menjadi yang pertama berkorban untukmu.”
“Eugene jangan tersenyum,” rengek Asia.
“Terus aku harus bagaimana?” balas Eugene.
“Kepalamu pasti tengah berdenyut dan sekarang kita harus mengobatinya.” Sambil mengambil tas Eugene, Asia berucap, “Di sini pasti ada obat-obatan bukan?”
Tas itu dengan cepat direbut oleh Eugene. “Biar aku yang mengambilnya,” katanya.
“Ah, maaf,” cicit Asia yang sadar akan kesalahannya. Dia tidak pernah membuka tas Eugene karena Eugene melarangnya. Entah apa yang Eugene sembunyikan dan Asia tidak peduli dengan hal itu karena itu bukan urusannya.
“Obat-obatnya pecah.” Eugene mengeluarkan beberapa kaca yang berasal dari pecahan botol persediaan obat-obatan miliknya itu. Setelah membuang itu, Eugene menyentuh bagian kepalanya yang memang sedikit benjol itu. “Dan sebenarnya ini tidak perlu untuk diobati.”
“Aku ingin melihatnya, boleh?” tunjuk Asia ke arah kepala Eugene.
“Jika itu bisa membuatmu tidak khawatir, lihat saja.”
Asia mencoba untuk bangun dan beruntungnya dia sudah tidak lemas lagi. Dia sedikit menggeser tubuhnya agar bisa melihat luka itu. Tangan Asia sedikit bergetar saat dia menyentuh surai merah milik Eugene. Saat dia menyingkap rambut merah gelap, kelembutan dari surai itu membuat Asia menahan napasnya. Rasanya ada sensasi aneh saat dia melakukan hal ini.
“Bagaimana? Apa kamu sudah melihatnya?” tanya Eugene.
“Ah, aku belum menemukan lukanya, tunggu sebenar,” kata Asia panik.
Selembut mungkin Asia menyingkap surai Eugene dan akhirnya menemukan di mana benjolan itu berada.
“Bagaimana?” tanya Eugene tak sabaran.
“Merah….” rengek Asia. “Bagaimana bisa kamu tidak meringis kesakitan?”
“Untuk apa aku meringis kesakitan?” Eugene menatap Asia tak habis pikir.
Asia terduduk, dia memandangi Eugene dengan tatapan sedih. “Itu sangat sakit, Eugene. Aku yakin jika itu pasti sangat sakit!” serunya tak terbantahkan.
Ucapan Asia sukses membuat Eugene tertawa. Disela-sela tawanya itu Eugene pun berucap, “Aku yang terluka, kenapa malah kamu yang sangat yakin jika ini sangat sakit?”
“Apa susahnya berkata jujur?” Tatapan Asia terlihat sangat serius. Dia ingin mencari kebenaran dari ucapan Eugene.
“Aku tidak pernah membohongimu Asia.” Eugene bangun dari duduknya.
Asia buru-buru mengikuti Eugene untuk bangun, tapi sebelum dia benar-benar berdiri, Eugene lebih dulu membantu Asia berdiri.
“Benarkah?” balas Asia saat lengannya masih digenggam Eugene. Eugene terlihat terdiam dan mengerutkan keningnya. “Aku mendengar bagaimana kepalamu terbentur dengan sangat kerasnya, apalagi aku juga melihat bagaimana lukanya. Bagaimana bisa kamu bilang itu tidak sakit?” tambahnya dengan kesal.
“Jika ini sakit, sekarang kamu mau apa? Dengan apa kamu akan mengobati kepalaku ini?” Tampak Eugene terlihat menantang. Dia penasaran dengan kemampuan Asia yang katanya sudah biasa masuk ke dalam hutan.
“Aku akan mengobatimu.”
“Dengan cara apa? Obat yang kumiliki sudah tidak bisa dipakai.”
“Aku butuh….” Asia terlihat berpikir keras. Dia mencoba mengingat obat apa yang bisa digunakan untuk kepala yang mengalami benjol.
“Butuh apa, Asia?”
“Ah!” Asia tersenyum senang. “Aku hanya perlu air dingin, kita harus segera mengompresnya dengan air dingin.”
“Dari mana kamu mendapatkan air dingin di sini?”
Pertanyaan Eugene menyadarkan Asia dari kenyataan. Di tempat seperti ini dia tentu tidak akan bisa menemukan air dingin yang akan dia gunakan untuk mengompres kepala Eugene.
Tanpa permisi Eugene menggenggam tangan Asia. “Lupakan dan lebih baik kita turun dari sini.”
“Air yang langsung dari mata air,” seru Asia. “Kita harus mencari mata air di bawah. Aku yakin airnya pasti akan sangat dingin.”
Semangat yang dikeluarkan Asia malah membuat Eugene ingin tertawa. Semangat itu seakan tidak cocok dikeluarkan hanya untuk mencari mata air.
“Terserah kamu saja, sekarang kita harus turun dari sini.”
Asia menoleh ke belakang di mana terlihat dengan jelas jalur yang terbuat karena mereka jatuh tadi. Melihat panjangnya jalur yang mereka lalui, Asia menatap Eugene khawatir. “Apa kamu yakin akan langsung turun sekarang?” tanyanya.
“Apa kamu tidak kuat untuk berdiri?” Eugene balik bertanya.
“Bukan aku, tapi kamu.” Asia menunjuk jalur jatuh mereka. “Kita berdua jatuh sejauh itu dan tubuhmu pasti sangat sakit.”
“Badanku baik-baik saja. Jika kamu sanggup, kita bisa langsung bergerak karena jika kita tetap di sini, bisa-bisa kita akan diserang monster.”
“Aku tahu kamu hanya menakutiku saja.”
Eugene tersenyum kecil menanggapi itu. Dia kemudian mulai melangkah yang membuat Asia mau tidak mau ikut melangkah karena tangannya yang digenggam Eugene. Sebelah tangan yang tidak menggenggam tangan Asia Eugene gunakan untuk memegang pedang yang dia jadikan sebagai penyangganya.
Berjalan di jalan yang curam dan licin sebenarnya bukan masalah bagi Eugene, tapi karena ada Asia semuanya jadi lebih berat.
“Perhatikan langkahmu!” tegur Eugene karena Asia terus-terusan hampir terjatuh.
“Sakit tapi masih sempat marah,” cibir Asia.
Cibiran itu sukses membuat Eugene menoleh ke arah Asia. Matanya tampak memicing tajam. “Yang memberi diagnosis jika aku sakit itu kamu Asia, bukan aku.”
Asia meneguk ludahnya, dia selalu takut jika Eugene sampai memicingkan matanya tajam, terlebih suara rendahnya yang penuh penekanan itu menambah kesan menakutkan.
“Ka-kamukan sudah mengenalku, seharusnya kamu bisa menggunakan bahasa yang lebih… lembut.”
Eugene menghentikan langkahnya. “Berarti kamu yang tidak mengenalku,” katanya.
Eugene kembali melanjutkan langkahnya yang membuat Asia kembali mengikuti langkah Eugene. Dia kemudian berucap, “Bagaimana bisa aku mengenalmu kalau kamu tidak pernah bercerita tentang dirimu?”
“Mengenal sikapku selama bersamamu, Asia.” Eugene membenarkan maksud dari ucapannya itu.
“Tapi bukankah jika lebih mengenal satu sama lain itu bagus? Aku juga menceritakan banyak hal padamu.” Terlihat sekali wajah Asia yang memandangi Eugene penuh harap.
“Aku tidak memaksamu untuk bercerita tentang kemajuan yang ada di duniamu.”
Asia menahan geramannya. Apa Eugene tidak tahu dia melakukan hal agar mereka bisa memiliki topik pembicaraan? Jika tidak ada interaksi di antara mereka, yang ada Asia bisa gila, apalagi di sini tidak ada ponsel.
“Menyebalkan,” gerutu Asia.
Eugene tentu mendengar gerutuan Asia, tapi dia memilih untuk tidak menanggapinya. Tidak akan ada habisnya jika dia menanggapi Asia.
Mereka berdua terus berjalan dan kali ini Asia benar-benar berjalan dengan penuh kehati-hatian. Jurang yang begitu licin itu akhirnya berhasil mereka lewati. Saat Asia melihat rumput yang hijau yang ditumbuhi bunga-bunga kecil. Perasaan lega itu tidak bisa dia sembunyikan.
Saat Asia hendak berlari mendahului langkah Eugene, tepat beberapa langkah di depan Eugene, Asia terpeleset ke depan namun dengan cepat Eugene menahan tubuh Asia dengan lengannya.
Mereka berdua seketika membatu dengan posisi tubuh Asia yang condong ke depan. Wajah Eugene dan Asia perlahan memerah karena mereka berdua menyadari jika tangan Eugene sekarang tengah melingkar di depan dãda Asia.
“Bi-bisa tangannya sedikit ke bawah?” tanya Asia dengan perasaan canggung.
“Ya.” Tangan Eugene langsung turun ke bagian perut Asia dan membantu Asia untuk berdiri dengan benar.
Asia tidak berani menoleh ke belakang. Dia terlalu malu untuk melihat ke arah Eugene.
“Perhatikan langkahmu,” komentar Eugene saat Asia mulai melangkah dengan pelan.
“I-iya.”
Kecanggungan itu tidak bisa mereka elakkan. Telinga Eugene bahkan masih tampak memerah karena hal yang baru saja dia lakukan. Karena cepat-cepat ingin membantu Asia, dia sampai salah menempatkan posisi tangannya hingga mengenai dãda Asia.
Eugene melirik ke bagian lengannya yang bersentuhan dengan dãda Asia. Di sana masih terasa sensasi aneh dari dãda Asia. Sensasi aneh itu coba dihilangkan oleh Eugene dengan menggosok lengannya, tapi semakin dia menggosoknya sensasi itu malah semakin nyata terasa.
Eugene menutup wajahnya dan menghela napas kasar. Asia sukses membuat hidupnya tidak pernah tenang. Selalu ada saja hal-hal yang tidak masuk akal terjadi saat dia bersama Asia.
Langkah Asia yang semakin cepat membuat Eugene yang melihatnya segera berseru, “Jangan berjalan terlalu jauh!”
“Aku melihat aliran air!” seru Asia penuh semangat.
“Sekarang kamu sudah berani berjalan jauh dariku ya.”
Asia menoleh ke belakang dan matanya yang langsung bertatapan dengan Eugene membuat mereka berdua terpukau satu sama lain. Dengan gerak kaku Asia kembali berbalik dan diam menunggu Eugene. Saat Eugene sudah melewatinya, barulah Asia kembali berjalan.
Mata Asia melirik Eugene, apa Eugene tidak merasa malu karena sudah menyentuh dãdanya? Apa hanya dia yang merasa canggung karena kejadian tadi? Jika hanya dirinya, bukankah itu berarti Eugene sudah terbiasa menyentuh hal-hal terlarang seperti itu?
Mereka akhirnya sampai di depan aliran air kecil yang cukup deras itu. Air yang tampak sangat segar itu membuat Asia berjongkok dan memasukkan tangannya.
“Aaah….” Sensasi dingin dari air seketika membuat Asia mendesah lega. Merasa ada yang mengawasi, Asia menoleh dengan kaku ke samping kirinya dan mendapati Eugene yang memperhatikannya.
“Euhm… kamu bisa membersihkan tubuhmu lebih dulu.” Asia hendak bangun dari jongkoknya namun segera ditahan oleh Eugene.
Arah pandang Asia seketika tertuju pada tangan Eugene yang menahan pergelangan tangannya. Mata Asia yang begitu kentara menatap ke arah tangannya membuat Eugene buru-buru melepaskan genggamannya itu.
“Kamu bersihkan tubuhmu terlebih dulu. Aku bisa menyusul setelahnya.”
Asia menggeleng. “Tidak-tidak, kamu dulu. Apalagi sekarang kamu harus mendapatkan perawatan.”
“Aku akan membersihkan tubuhku, kamu juga bisa membersihkan lumpur yang ada di kaki dan tanganmu. Kita tidak boleh terlalu lama di tempat ini.”
“Oke….”
Eugene mengambil jarak dan mulai membersihkan tubuhnya. Mendengar suara gesekan dari air dan tangan Eugene, Asia menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa melupakan kejadian di mana tangan Eugene menyentuh dãdanya tadi. Sensasi lengan Eugene yang menahannya dan jemari Eugene yang menyentuh sisi tubuhnya itu masih terasa sampai sekarang.
Asia bisa tersiksa jika sensasi tangan Eugene masih terasa seperti ini. Dia ingin menghapusnya. Bisakah?