15. Jatuh

1797 Kata
Saat pertama kali membuka matanya, Asia masih berada dalam pelukan Eugene. Tidak hanya itu, tangannya juga memeluk tubuh Eugene. Mereka berpelukan, begitulah faktanya. Entah kapan ini dimulai, yang jelas Asia ingin segera menghentikan semua ini.   Perlahan namun pasti Asia menarik kembali tangannya yang memeluk tubuh Eugene itu. Saat tangannya berhasil lepas, Asia refleks mengangkat pandangannya dan wajah Eugene yang menunduk membuatnya bisa melihat wajah Eugene dengan jelas.   Mata Eugene yang awalnya tertutup perlahan terbuka dan mereka berdua saling bertatapan. Mata Asia melotot karena kaget, dia bahkan sampai tidak bisa bergerak atau mengatakan sepatah katapun saat itu.   Eugene melepaskan pelukannya dan menjauh Asia dari tubuhnya. Dia menoleh ke arah luar gua dan tampak hari yang sudah sangat terang. Eugene mengusap bagian belakang kepalanya dan berucap, “Aku tertidur.”   “Kamu memang harus tidur bukan?” Asia bangun. Rasanya sangat canggung sekali.   “Tadi malam ada yang mengatakan takut, bagaimana bisa aku tidur jika dari dalam gua benar-benar keluar monster?”   Asia seketika meringset mendekati Eugene. “Apa di sini benar-benar ada monster?” katanya takut.   “Aku bercanda, tidak ada monster di sini.” Dengan sangat hati-hati Eugene melepaskan pegangan tangan Asia. “Aku akan ke depan mulut gua.”   Asia menutup wajahnya karena malu. Apa yang baru saja dia perbuat? Memegang Eugene dan akhirnya dilepaskan oleh Eugene sendiri karena pria itu merasa tidak nyaman. Sangat memalukan bukan?   “Apa… apa kita akan langsung berangkat sekarang?” tanya Asia ragu-ragu yang membuat langkah Eugene terhenti.   “Nanti setelah kita selesai sarapan.”   Mendengar kata sarapan, Asia tersenyum lebar. “Aku ingin makan banyak hari ini,” katanya penuh semangat. Asia sengaja seperti ini karena dia ingin menyudahi kecanggungannya itu.   “Ya.”   Terlihat Eugene melipat sesuatu. Asia yang melihat itu awalnya tampak biasa saja, hingga dia kemudian teringat akan dalamannya yang dia letakkan di tempat di mana Eugene berdiri. Wajah Asia memerah karena membayangkan Eugene memperhatikan dalaman yang dia kenakan.   Kenapa dia bisa tampak setenang itu, pikir Asia saat itu juga.   Jika situasinya seperti ini, Asia bingung harus bagaimana mengambil dalamannya. Bagaimana juga cara dia memakainya lagi? Saat dia meminta untuk memakainya, tidakkah itu terasa sangat canggung sekali?   Pelan namun pasti mata Asia bergulir melirik Eugene. Eugene terlihat melakukan pemanasan. Dia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku sejak semalam. Saat Asia ingin memutuskan pandangannya dari Eugene, mata mereka tanpa sengaja bersinggungan.   Dengan cepat Eugene menatap ke arah lain dan hal itu juga langsung dilakukan oleh Asia. Baru beberapa saat Asia membuang pandangannya, Asia dengan wajah yang tertunduk memanggil nama Eugene.   “Eugene,” panggil Asia.   “Apa?”   “Bisakah kamu membalikkan badanmu?” tanya Asia.   Tanpa menjawab atau bertanya lebih jauh, Eugene langsung membalikkan badannya begitu saja. Asia bangun dari duduknya dan mengambil dalaman miliknya. Setelah mendapatkan dalamannya, Asia kembali ke tempatnya semula.   “Jangan membalikkan badanmu sebelum aku perbolehkan.” Asia memperingati.   “Iya.”   Asia melepaskan pakaiannya dan mulai menggunakan dalamannya itu. Perasaan was-was membuat Asia beberapa kali melirik Eugene yang masih melanjutkan peregangan badannya itu.   Setelah selesai menggunakan kembali dalaman dan gaunnya, Asia berjalan mendekati Eugene.   “Apa kita bisa pergi sekarang?” tanya Asia begitu sampai di samping Eugene.   “Apa kamu sudah siap?” tanya Eugene memastikan.   “Iya, aku sudah siap.”   Begitu Eugene tak sengaja melihat penampilan Asia, Eugene pun bertanya, “Kenapa jubahnya dilepas?”   “Rasanya sesak, apalagi tanah masih becek, pasti susah untuk berjalan.”   “Ya sudah kalau begitu.” Eugene mengambil seluruh barang-barangnya yang tertinggal di dalam gua. Begitu kembali ke mulut gua, Eugene menyodorkan sisa apel yang mereka miliki.   “Makan untuk mengganjal perutmu.”   “Ini apel terakhir bukan?”   “Iya.”   “Kita bagi dua. Kamu juga pasti lapar.” Asia tidak akan tega memakan satu apel itu sendirian. Sangat tidak tahu diri jika dia memakan apel itu sendirian dan membiarkan Eugene kelaparan.   “Aku tidak lapar Asia.”   “Aku tidak akan makan jika kamu tidak makan juga,” ucap Asia penuh tekad.   Eugene menghela napas. Apel itu pun langsung dibelahnya dengan tangan kosong. Asia yang melihat itu tampak takjub.   Asia menerima potongan apel yang Eugene berikan dan bertanya, “Bagaimana kamu membelahnya dengan semudah itu?”   “Tentu saja karena kekuatan tanganku.”   “Otot-ototmu memang bukan hanya hiasan ternyata,” kata Asia takjub.   “Memiliki mãna saja tidak cukup. Kamu harus memiliki ketahanan tubuh yang kuat untuk mengimbanginya.”   “Apa yang terjadi jika tubuh tidak kuat?”   “Saat ada serangan, tubuhmu akan sangat mudah terkena serangan itu. Maka dari itu pentingnya latihan fisik. Selain dari tubuh, senjata juga sangat berpengaruh.”   “Dengan senjata yang bagus?”   “Setiap senjata terbuat dari bahan yang berbeda dan bahan-bahan itulah yang akan membantu memperkuat serangan karena dapat mengalirkan mãna dengan baik dan dengan ketahanan yang baik juga.”   “Oh begitu….” Asia mengangguk mengerti.   Mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanan mereka lagi. Hujan yang terus berlangsung hingga dini hari itu membuat seisi hutan menjadi basah dan becek. Asia melirik ke tanah dan mendapati kaki Eugene penuh dengan lumpur. Sangat berbanding terbalik dengan kakinya yang tentu saja bersih karena terlindungi sepatu Eugene yang kebesaran di kakinya itu.   “Apa kakimu baik-baik saja?” tanya Asia. Dia jadi tidak enak hati karena terus-terusan merepotkan Eugene.   “Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan tentangku, Asia.”   “Aku tidak bisa untuk tidak khawatir.” Suara Asia terdengar lirih. “Kamu sudah membantuku sampai sejauh ini dan sampai sekarang aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu.”   “Cukup tidak melakukan hal yang merepotkanku, itu lebih dari cukup.”   Asia mengangguk mantap, dia berjanji tidak akan mengeluh lagi pada Eugene, apalagi tentang makanan.   Entah sudah berapa lama mereka berjalan dan tidak terlihat buruan untuk mereka makan.   “Tumben hari ini sangat sepi,” ucap Asia sambil terus melihat sekelilingnya.   “Apa telingamu bermasalah?”   “Tidak, telingaku baik-baik saja.”   “Bagaimana bisa kamu berpikir jika hari ini sangat sepi di saat serangga berbunyi dengan nyaringnya.”   “Aku tahu kalau yang itu!” sergah Asia. Dia jelas bisa mengetahui juga jika serangga itu dari famili cicadidae yang akan muncul di akhir musim penghujan dan mengeluarkan suara nyaringnya dengan khas.   “Hmmm?”   “Ya maksudku tidak ada hewan yang bisa kita makan. Tidak mungkin bukan kita makan serangga?”   “Bagaimana jika burung?” tanya Eugene.   “Burung?”   “Kuanggap iya.”   Saat itu juga Eugene mengambil dua pisau kecil yang ada di pinggangnya itu dan melemparnya jauh ke depan sana. Lemparan yang jauh dan sukses membuat dua burung yang bertengger di atas pohon itu jatuh ke tanah. Bunyi burung yang jatuh itu membuat Asia kaget.   Mereka berdua buru-buru berjalan menuju burung yang sudah tekapar mati itu. Sesampainya di sana, Eugene pun berucap, “Kita beruntung karena mendapatkan burung yang besar.”   Senyum kepuasan yang Eugene perlihatkan malah terlihat mengerikan bagi Asia karena dengan sangat gampangnya Eugene membunuh burung yang di dunianya di lindungi!   “Apa kamu serius kita akan makan burung ini?” Tatapan nanar itu terlihat saat Asia menatap dua burung kakatua dengan jambul kuningnya itu sudah tidak bernyawa lagi.   “Itu yang ada, jadi kita harus memakannya.” Dengan santai Eugene mengikat leher kedua burung itu dan membawanya.   “Ayo jalan, kita harus mencari tempat untuk membakar ini.”   Asia tidak tega harus memakan burung itu, terlebih burung itu dilindungi dan sangat cantik. Berbanding terbalik saat Asia harus memakan kelinci. Tidak ada rasa kasihan karena kelinci yang dia makan adalah kelinci hutan yang memiliki tubuh cukup besar dan memiliki bulu coklat dan terkesan tidak cantik.   Tidak tega tapi Asia harus mengisi perutnya. Agar tega memakan burung kakaktua itu, Asia membayangkan jika dia memakan daging ayam. Rasanya jelas berbeda, tapi Asia tidak punya pilihan lain.   “Ekspresi wajahmu membuat nafsu makanku turun.”   “Aku tidak tega,” aku Asia.   “Karena burungnya indah?”   Asia mengangguk membenarkan. “Selain itu, burung kakaktua tadi juga dilindungi di tempatku.”   “Bagaimana bisa burung seperti ini malah dilindungi di tempatmu?”   “Manusia banyak memburu mereka hingga akhirnya terancam punah.” Asia menghela napas. “Hutan di duniaku juga semakin lama semakin berkurang karena beralih fungsi menjadi permukiman atau tidak perkebunan dan pertambangan.”   “Hutan memberikan segalanya bagi manusia,” komentar Eugene. “Hutan yang kita tempati sekarang adalah hutan yang bisa dikatakan dilarang untuk disentuh karena merupakan hutan yang tidak dimiliki oleh kerajaan mana pun. Yah, walau begitu hutan ini tetap berguna bagi orang-orang yang mencari bahan untuk membuat senjata.”   Asia menoleh. “Apa kamu ke sini untuk mencari bahan untuk senjatamu?” tanyanya kemudian.   “Begitulah.”   “Apa kamu mendapatkannya?” tanya Asia penasaran.   “Tidak.”   “Apa itu karena aku?”   “Tidak.”   Asia berhenti berjalan tanpa disadari Eugene, tapi baru dua langkah Eugene seketika berhenti. Dia tersenyum kecut melihat jurang di depannya.   Eugene berbalik dan berucap, “Karena hujan, jurang yang ada di depan susah untuk dilewati.”   “Apa kamu serius?” tanya Asia.   “Lihat sendiri, jurangnya sangat berbahaya untuk kamu lewati.”   “Bukan itu, maksudku apa kamu serius tidak mendapatkan bahan senjatamu karena diriku?” jelas Asia.   Sreek~   Bunyi yang terdengar dari atas membuat Eugene menoleh dan tanpa permisi Eugene langsung menarik tangan Asia untuk mendekatinya. Tarikan Eugene begitu cepat, sayangnya kaki Asia tersandung hingga memberikan dorongan yang kuat ke arah Eugene dan membuat mereka berdua seketika terjatuh.   “Aaaaa!” teriak Asia. Dia bahkan langsung menutup matanya karena terlalu takut.   Eugene dengan sigap mengeratkan pelukannya dan melindungi bagian kepala Asia. Sebisa mungkin Eugene membiarkan tubuhnya menjadi bagian bawah agar tubuh Asia baik-baik saja. Selain posisi memeluk tubuh Asia di atasnya, kepala Eugene juga menjadi bagian terdepan.   Brug!   Kepala Eugene yang membentur sebuah pohon membuat tubuh mereka berhenti merosot jatuh. Teriakan Asia juga langsung berhenti saat itu juga. Saat dia membuka matanya, tatapan mata Eugene yang terlihat santai membisu Asia.   “E-Eugene….” Suara Asia terdengar bergetar. Tidak hanya itu, dia bahkan tidak punya tenaga untuk bangun dari atas tubuh Eugene. Tubuhnya terlalu lemas karena kaget dan takut.   “Apa kamu baik-baik saja?” Eugene mencoba bangun. Begitu dia berhasil menegakkan tubuhnya, Eugene melepaskan tangannya dari tubuh Asia dan segera melepaskan tas yang ada dia gendong. Barulah setelah itu dia langsung bersandar pada batang pohon di belakangnya.   Asia mencoba menjauhkan tubuhnya dari tubuh Eugene. “Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Asia.   “Khawatirkan saja dirimu.” Eugene mengusap bagian kepalanya yang tadi terbentur dengan cukup keras itu.   Dengan keberanian Asia menarik tangan Eugene dan melihat tangan Eugene yang kotor. Tidak ada darah di sana dan Asia sudah sangat khawatir jika kepala Eugene sampai berdarah,tapi Asia bisa merasakan jika ada benjolan di sana.   “Eugene….” Air mata Asia jatuh tanpa bisa dia tahan. Suara tangisnya yang awalnya pelan perlahan meninggi dan dia akhirnya menangis tersedu-sedu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN