14. Pelukan Hangat

1820 Kata
Rintik-rintik hujan masih saja jatuh sampai malam hari. Asia sudah menghela napas sampai puluhan kali karena terlalu bosan di dalam gua. Sudah tidak ada yang bisa dilakukan, makan pun juga tidak bisa. Asia lapar dan ingin makan sesuatu yang akan membuat dirinya tidur karena kekenyangan.   “Haaah….” Lagi dan lagi Asia menghela napas. Dia benar-benar bosan. Matanya melirik Eugene yang tengah memejamkan matanya.   “Eugene, apa kamu tidur?” tanya Asia dengan suaranya yang pelan. Takut jika Eugene benar-benar tidur, suaranya itu membuat Eugene terbangun.   “Tidak.”   Kelegaan langsung menghampiri Asia. “Aku bosan,” keluhnya.   “Tidur saja kalau begitu,” saran Eugene. Dia juga bosan, tapi dia tidak mungkin akan mengatakan itu pada Asia.   “Aku tidak mengantuk dan kalau aku tidur sekarang, aku takut terbangun di tengah malam.”   Penjelasan Asia membuat Eugene membuka matanya dan menoleh ke arah Asia. “Lalu apa yang biasanya kamu lakukan agar tidak bosan?”   “Apa ya?” Asia tampak berpikir, dia mencoba mengingat apa yang biasanya dia lakukan di saat dia bosan dan saat dia mendapatkan jawabannya, tampak Asia yang ragu untuk mengatakannya.   “Apa?” tanya Eugene lagi.   “Aku bermain game.”   “Game?”   “Permainan.”   “Berapa usiamu hingga sampai sebesar ini masih bermain sebuah permainan?” Eugene bertanya bingung, tapi jika dilihat juga, Asia memang masih tampak sangat muda hingga bisa saja sifat kekanakannya membuatnya bermain sebuah permainan untuk mengusir kebosanannya.   “20 tahun. Sudah sangat tua bukan?”   “Apa kamu serius?”   Asia mengangguk. “Ya, itu yang ada diingatanku.”   “Dan di usia 20 tahun kamu masih melakukan permainan anak kecil?”   “Permainan anak kecil? Ini bukan permainan anak kecil.” Asia berdecak tak suka. “Tidak semua permainan untuk anak kecil,” tegasnya.   “Oh ya?”   “Iya, asal kamu tahu ya, permainan yang kumainkan itu adanya di ponsel dan anak kecil belum boleh untuk memegang ponsel.”   “Ponsel? Apalagi itu?”   Dengan jarinya Asia menggambar sebuah persegi panjang. “Sebagian besar bentuk ponsel seperti ini. Ponsel bisa dibawa ke mana saja dan dengan ponsel, kamu bisa berbicara dan bertukar pesan dengan seseorang yang jauh.”   “Dengan alat seperti ini?” tanya Eugene takjub.   Asia mengangguk semangat, melihat Eugene yang tampaknya tertarik membuatnya senang. “Iya dan tidak hanya itu, dengan ponsel kamu bisa mengambil sebuah gambar. Jadi kamu tidak perlu susah-susah untuk melukis wajah seseorang, cukup dengan mengambil gambar mereka dengan ponsel.”   “Hidup di duniamu benar-benar dipermudah.”   “Teknologi berkembang dengan pesat hingga memudahkan semuanya dan dari teknologi itu, banyak muncul permainan,” kata Asia bangga.   “Permainan seperti apa?”   “Biasanya aku bermain permainan strategi. Tapi, akhir-akhir ini aku bermain game mmorpg. Di dalam game itu terdapat dunia dan kita akan memiliki sebuah karakter yang memiliki kekuatan.”   “Kekuatan? Kekuatan seperti apa?”   Asia tersenyum malu-malu, dia ragu untuk mengatakannya, apalagi di depan ahlinya.   “Kenapa diam saja?” tanya Eugene bingung.   “Di game itu aku mengambil keahlian sebagai warrior,” cicit Asia. “Harusnya aku mengambil mage, tapi karena seseorang aku mengambil warrior.”   “Tolong pakai kosakata yang kumengerti.”   “Ah, maaf… aku tidak bisa membedakan kosakata yang kugunakan. Saat aku menyebutnya, ternyata kamu tidak mengerti.”   “Kepalamu selalu rumit.”   Asia tersenyum malu dan kembali teringat untuk menjelaskannya apa yang Eugene tidak mengerti.   “Oh ya warrior itu memiliki senjata pedang dan mage seseorang yang akan mengeluarkan kekuatan dengan tangan dan menyerang musuh dari jarak jauh.”   “Aku paham. Warrior sama saja dengan kesatria di sini dan mage itu penyihir.”   “Ah ya seperti itu!” Asia entah kenapa bingung untuk menjelaskannya.   “Bagaimana bisa kamu memainkan peran sebagai seorang kesatria yang membawa pedang?” Ada senyum geli di bibir Eugene.   “Karakterku di game itu yang membawanya. Aku hanya perlu menekan layar ponselku. Jadi wajar saja jika aku tidak bisa memakai pedang di kehidupan nyataku karena itu hanya sebuah game.”   “Bagaimana bisa seseorang membuat sebuah ehm… game yang di dunianya ada kesatria dan penyihir?”   “Bisa saja dari imajinasi dan atau dari legenda. Tapi ya di duniaku tidak ada sihir seperti yang aku lihat di pedangmu itu.”   Eugene memicingkan matanya tajam menatap Asia. “Kamu tidak berpikir ini adalah game yang kamu mainkan bukan?”   “Kerajaan di game yang kumainkan tidak ada yang bernama Rigel, Ascella atau Pollux. Jadi ini tidak mungkin di dunia game dan seandainya ini di dunia game, bagaimana perasaanmu?”   “Biasa saja.”   “Biasa saja? Kamu memang Eugene,” kata Asia takjub. Balasan yang singkat padat dan jelas itu jelas menggambarkan Eugene yang dia kenal.   “Hidupku terlalu nyata untuk dianggap sebuah game. Tidak ada yang aneh selain bertemu denganmu.”     “Tapi aku jamin kamu tidak akan rugi bertemu denganku. Aku akan membantumu dan membalas apa yang sudah kamu lakukan untukku.” Mata Asia terlihat penuh dengan kobaran semangat untuk membalas budi baik dari Eugene, karena pria itu Asia bisa hidup sampai sekarang.   “Aku tidak akan berharap banyak,” balas Eugene lalu memutuskan kontak matanya dengan Asia.   Asia merengut. “Apa kamu berpikir aku tidak bisa melakukan apa-apa?” tanyanya kesal.   “Menurutmu bagaimana?” Eugene balik bertanya.   “Di duniaku, aku adalah murid yang pintar asal kamu tahu. Nilaiku kalau tidak A ya B plus. Di duniaku, nilai A itu adalah nilai yang tertinggi,” kata Asia bangga.   “Bagaimana tes yang kamu lalui untuk mendapatkan nilai A itu?”   “Dengan tes tulis atau dengan tes lisan.”   Eugene mengelum senyumnya saat mendengar jawaban Asia. “Hidup bukan hanya sebuah teori Asia.”   “Aku banyak melakukan praktik juga. Di dalam laboratorium, di hutan, gunung, pantai. Aku melakukannya untuk meneliti tentang hewan, tumbuhan dan ekosistemnya. Aku juga diajari untuk bertahan hidup di alam, tapi rasanya aku tidak akan bisa hidup jika alamnya seperti di dunia ini.”   Suara kekehan yang terdengar membuat Asia menoleh ke arah Eugene dan melihat bagaimana Eugene yang tampak indah saat tertawa. Asia yang ingin tersenyum mencoba untuk membuat ekspresi kesal.   Merasa diawasi membuat Eugene menghentikan kekehannya dan melirik Asia. “Tidak suka?” tanyanya.   “Kamu tertawa untuk sesuatu yang salah.”   “Menurutku itu lucu, jadi tidak ada yang salah.”   “Itu menurutmu, tapi karena kamu tertawa aku merasa tersinggung.”   “Kenapa harus tersinggung?”   Balasan Eugene di luar ekspektasi Asia. “Pembicaraan ini kita akhiri saja, aku mengantuk.”   Asia merebahkan tubuhnya dan menutup matanya. Dia membuka sedikit matanya saat merasakan ada pergerakan dari Eugene. Eugene memindahkan posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan mulut gua.   “Eugene, apa yang kamu lakukan!” seru Asia tidak suka.   “Aku akan menghalau udara dingin Asia. Kamu tidak akan kuat jika kamu terlalu dekat dengan mulut gua.”   “Tidak ada bedanya kamu duduk di sana karena udara dinginnya akan tetap aku rasakan, kecuali jika kamu memelukku.”   Asia seketika membuang pandangannya, dia mendadak malu setelah melihat ekspresi Eugene yang berubah. Mata yang memicing itu membuatnya takut.   “Jadi kamu minta untuk dipeluk?”   Cepat-cepat Asia menggeleng. “Bukan itu… jadi maksudku itu, apa yang kamu lakukan sia-sia. Jadi lebih baik kamu kembali duduk di tempat yang tadi karena aku takut.”   Mengalah, itu yang dilakukan Eugene. Dia pun kembali ke tempatnya semula dan duduk di sana. Asia tersenyum kecil setelah melihat Eugene kembali duduk di tempatnya.   Berbaring seperti ini membuat kedua mata Asia terasa berat dan dia akhirnya jatuh tertidur juga. Beberapa kali Asia terlihat menarik kakinya yang tampak keluar dari dalam jubah. Hawa dingin karena hujan yang tampaknya enggan untuk berhenti membuat semuanya menjadi bertambah buruk.   Hujan yang awalnya sedikit mereda mendadak semakin deras. Angin yang bertiup pun semakin kencang dan Asia yang awalnya tertidur perlahan membuka matanya. Dia kedinginan dan tidak tahan dengan hawa dingin yang dia rasakan.   “Eugene, dingin….” keluh Asia yang kemudian menguap. Jelas sekali Asia sangat mengantuk, tapi siapa yang akan bisa tidur jika hawanya sangat dingin? Tentu tidak ada.   “Bagaimana jika kita masuk ke dalam gua?”   Asia menggeleng lemah. “Di sana sangat gelap, aku takut.”   Asia bukan orang yang benar-benar takut kegelapan, hanya saja ini bukan dunianya yang berarti hal yang mengerikan sangat bisa terjadi di tempat ini. Asia takut jika dari dalam kegelapan akan muncul monster.   “Tapi jika terus di sini, kamu bisa saja mati kedinginan!” kata Eugene gusar.   “Peluk aku.”   “Apa?” Eugene kaget mendengar permintaan Asia.   “Ya, mungkin dengan kamu memelukku, hawa dinginnya tidak akan begitu terasa dingin. Apalagi badanmu cukup besar.”   Eugene terdiam, ada sesuatu yang menahannya untuk melakukan itu, tapi dia tidak mungkin membiarkan Asia sampai harus sakit karena kedinginan.   Bibir Eugene terasa kelu. Dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Setelah itu dia berdiri dan duduk di sisi terluar dari gua. Asia tampak akan melayangkan protesnya, namun tidak sempat dia lakukan karena Eugene dengan cepat menggeser tempat tidur Asia.   Eugene merebahkan tubuhnya dan langsung membawa Asia ke dalam dekapannya. Tubuh Asia terasa sangat kecil sekali saat Eugene melakukan hal ini. Mungkin jika dia mengeratkan pelukannya, Asia akan remuk dia buat.   “Eu-Eugene….”   “Diam Asia dan lebih baik kamu tidur.”   “A-aku takut….”   “Takut apa?” potong Eugene cepat.   “... itu… pandanganku langsung terarah ke dalam gua,” cicit Asia.   Eugene mengendurkan pelukannya dan membalikkan posisi Asia hingga sekarang mereka berhadapan. Tidak ingin lebih lama melihat wajah Asia, Eugene pun kembali membawa tubuh Asia lebih dekat dengan tubuhnya. Eugene memeluk Asia lagi.   “Apa masih terasa dingin?” tanya Eugene.   “Ti-tidak. Ini ha-hangat.”   “Kalau begitu lanjutkan tidurmu.”   “Euhm… I-iya.”   Tidak ada yang membuka pembicaraan setelah itu. Eugene terlihat sangat serius memandangi bagian dalam gua yang begitu gelap. Napas Asia terasa berhembus di dadanya dengan tidak teratur dapat Eugene rasakan. Selain napas yang tidak teratur, tubuh Asia juga terasa sangat tegang.   Eugene mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ingin sekali Eugene menegur Asia saat ini, tapi bibirnya terlalu kelu untuk mengatakan ketidaksukaannya akan Asia yang tidak berusaha tidur. Jika Asia tidur, semuanya jelas akan lebih baik daripada saat ini.   Sedangkan Asia, dia tampak sangat tegang sekali karena ini pertama kalinya dia tidur di peluk oleh seorang pria. Terasa hangat memang, tapi perasaan tegang itu tidak bisa Asia hindari. Dia tidak menyangka jika Eugene benar-benar akan memeluknya. Keinginanya dipeluk memang bukan karena dia sengaja memintanya, tapi keadaan yang memaksanya meminta hal itu.   Asia mencoba berkonsentrasi untuk tidur, tapi yang dia dengar adalah detak jantung Eugene yang terdengar tidak seperti biasanya. Takut-taku Asia pun berucap, “Eugene, apa kamu tidak kedinginan?”   “Tidak,” jawab singkat Eugene.   “Ah, aku kira aku sudah….”   “Tidur Asia. Semakin cepat kamu tidur, semakin bagus.”   “Aku mengusahakannya.” Asia semakin erat memejamkan matanya. Dia berusaha untuk mengabaikan semua yang terdengar dan yang dia rasakan. Dia harus tidur agar Eugene tidak kesal padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN