13. Mandi

1785 Kata
“Apa kamu kesal dengan ucapanku?”   Asia menoleh ke arah Eugene dan dengan senyum yang mengembang Asia menggeleng. “Untuk apa aku marah? Bukankah yang kamu katakan itu benar?”   Untuk sesaat Eugene tertegun dengan reaksi yang diberikan Asia. Dia kemudian mengangguk mengerti. “Baguslah kalau begitu.”   “Iya,” balas Asia.   Setelah itu tidak ada pembicaraan yang terjadi, hanya suara hujan yang terdengar semakin lama semakin deras. Air hujan yang membasahi makhluk hidup di luar sana tampak menggodanya. Asia pun menoleh ke arah Eugene yang tampak serius memandangi langit-langit gua.   “Eugene,” panggil Asia.   “Apa?” balas Eugene tanpa menoleh sedikitpun ke arah Asia.   “Apa boleh….” Asia menggigit bibirnya, dia tampak ragu untuk mengatakan keinginanya.   Eugene melirik Asia tajam. “Boleh apa?” tanyanya.   “Uhm… itu… aku ingin… mandi.” Akhirnya Asia berhasil juga untuk mengatakan apa yang dia inginkan. Wajah putihnya bahkan tampak memerah untuk mengatakan hal itu.   “Jika ingin mandi, ya mandi saja.”   “A-aku tahu, tapi… tidak mungkin bukan aku memakai baju.” Setelah mengatakan itu Asia menunduk, dia terlalu malu untuk menatap Eugene.   “Ya kamu tinggal buka saja bajumu.”   Refleks Asia menoleh ke arah Eugene. “Aku tahu, tapi bagaimana jika kamu mengintip? Apalagi aku akan mandi di depan mulut gua.”   “Untuk apa aku mengintip, jika aku ingin melakukannya, pasti sudah kulakukan diawal.” Eugene mendengus geli. Dia jadi ingat bagaimana kesusahannya dirinya untuk harus membuka gaun Asia. Mimikirkan untuk mengintip saja saat itu tidak ada, apalagi sekarang.   “Ya sekarangkan berbeda. Sekarang aku sadar dan aku punya rasa malu. Jadi tidak ada salahnya bagiku untuk berkata seperti itu.”   Saat itu juga Eugene langsung berbalik badan menghadap ke dalam gua. “Kamu tidak perlu khawatir, aku akan memunggungimu selama kamu mandi dan jika ada apa-apa, cepat lari ke arahku.”   “Iya.”   Meski ragu, Asia berjalan sedikit mendekat ke arah mulut gua dan membuka jubah dan gaun miliknya. Selama membuka gaunnya, mata Asia tidak henti-hentinya menatap Eugene. Dia masih saja takut jika Eugene sampai menatap ke arahnya.   Begitu gaunnya terlepas, sekarang hanya tersisa dalaman. Asia bingung, haruskah dia melepaskan dalaman yang sekarang dia pakai? Atau tetap memakainya saja? Tapi jika dia telãnjang bulat, itu pasti terasa sangat tidak nyaman.   Asia akhirnya memutuskan untuk mandi dengan memakai baju dalamannya. Saat air hujan yang deras jatuh di kepalanya, Asia seketika mundur ke belakang.   “Aaaa….” Asia bergidik kedinginan.   “Apa kamu tidak apa-apa?”   Pertanyaan yang terlontar dari Eugene membuat Asia sontak menoleh ke arah belakang dan Eugene masih berada di posisi awal.   “Aku baik-baik saja, hanya saja tadi aku kaget saat air hujan menyentuhku.”   “Ingat, jika ada apa-apa lari dan berteriak.”   “Iya.”   Kembali keluar dari mulut gua, kali ini Asia sudah terbiasa dengan air hujan yang dingin.rintik hujan yang deras membuat tubuhnya langsung basah semuanya dan itu membuat Asia dengan cepat menggosok tubuhnya.   Selama menggosok setiap inci bagian tubuhnya, mata Asia memandang dengan liar ke sekelilingnya. Tidak ada satu pun hewan yang terlihat, hanya ada air hujan yang jatuh membasahi bumi.   Eugene yang duduk membelakangi Asia sekarang tidak tahu apa yang tengah Asia lakukan. Tidak ada lagi suara cipratan air yang terdengar karena kaki Asia yang tidak hentinya bergerak. Yang terdengar hanya suara hujan yang jatuh ke tanah.   Rasa penasaran membawa Eugene menoleh ke belakang. Mata Eugene melebar dan tidak bisa berkedip saat dia melihat bagaimana Asia tampak menikmati air hujan yang jatuh menimpanya.   Kepala Asia tertunduk dan rambut hitam panjang itu juga di bawa ke depan hingga memperlihatkan tengkuk dan punggung yang putih yang menyatu dengan dalaman yang senada.   Mata Eugene turun ke bawah dan dia dapat melihat bagian bawah Asia yang masih terlindungi dalaman juga. Tubuh kecil, putih dan tidak memiliki mãna, Asia terlihat sangat mudah untuk terluka.   Saat kepala Asia kembali terangkat, Eugene terpaku melihat bagaimana tangan Asia yang tampak kecil membawa rambut panjangnya itu ke belakang dan berusaha untuk mengikatnya.   Eugene meneguk ludahnya dan buru-buru kembali ke posisinya semula, membelakangi Asia.   “Eugene,” panggil Asia.   “Apa?”   “Aku hanya memanggil saja.”   “Apa kamu sudah selesai?”   “Aku baru akan mengeringkan tubuhku.”   “Oke, lakukan sesukamu.”   Asia berdiri di depan mulut gua. Dia mencoba untuk mengeringkan tubuhnya sebelum dia memakai gaun dan juga jubah Eugene. Untuk pakaian dalamnya, Asia berencana untuk mengeringkannya di atas batu yang ada di dalam gua.   “Apa kamu tidak berniat untuk mandi juga?” Asia bertanya penasaran. Jika mereka menemukan air yang melimpah seperti ini, harusnya Eugene tidak menyia-nyiakan itu bukan?   “Setelah kamu selesai aku akan melakukannya.”   Asia memeras sisa-sisa air yang ada di dalamannya itu dan meletakkannya di atas batu. Barulah setelah melakukan itu dia menghampiri Eugene.   “Aku sudah selesai, sekarang giliranmu.”   Mereka baru saja bertatapan, tapi Eugene dengan cepat membuang pandangannya dari Asia. Eugene bahkan beranjak dengan cepat sambil membawa pakaian gantinya.   “Eugene,” panggil Asia.   “Apa?”   Asia menoleh ke arah Eugene yang ternyata sudah bertelanjang d**a. Asia menundukkan pandangannya dan berucap, “Jangan pergi jauh-jauh, cukup di mulut gua saja.”   “Baiklah.”   Sambil memeluk kakinya, Asia bersenandung pelan. Senandung pelan Asia itu membuat Eugene menoleh ke belakang. Eugene tidak tahu kenapa dirinya malah mandi seperti ini. Dia seharusnya tidak melakukannya, tapi Asia malah membuatnya melakukannya.   Eugene menggosok rambutnya beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam gua. Dia membuka celananya dan segera menggantinya. Dia juga kembali memakai bajunya. Celananya yang basah itu kemudian hendak Eugene letakkan di atas batu saat dia kemudian melihat pakaian dalam milik Asia.   Sebelah tangannya Eugene gunakan untuk menghalau pandangannya dari pakaian dalam Asia. Dia kemudian asal menaruh celananya dan pergi dari sana. Eugene duduk sedikit jauh di belakang Asia.   Jika bukan karena suara yang ditimbulkan Eugene saat duduk, Asia mungkin tidak akan tahu jika Eugene sudah selesai mandi.   “Kenapa diam saja saat sudah selesai?” tanya Asia yang berdiri dan mendekati Eugene dan duduk di samping pria itu.   “Aku tidak ingin mengganggumu.”   Asia mengerucutkan bibirnya. “Jika kamu diam saja, aku bisa semalaman menatap ke dalam gua yang menyeramkan itu.”   “Tidak ada apa-apa di sana.”   “Aku tidak bodoh Eugene. Gua itu rumah bagi kelelawar, tapi tidak menutup kemungkinan ada….” Asia menutup mulutnya rapat-rapat dan segera bangun dari tempat duduknya itu. Dia buru-buru berpindah ke sisi luar, lebih aman bagi dirinya untuk duduk di lebih dekat dengan sisi luar daripada dalam gua.   “Kenapa pindah? Jauh lebih dingin jika kamu duduk di sana.” Eugene tidak ingin Asia sakit. Jika Asia sampai sakit, bisa-bisa mereka akan sangat kesulitan untuk sampai di kerajaan Rigel.   “Aku baru ingat jika bisa saja dari dalam gua muncul ular. Jelas akan lebih aman jika aku berada dekat sisi luar gua.”   “Sebelum ular itu akan menggigitmu, aku pasti sudah menyadarinya, Asia.”   “Sekali tidak tetap tidak. Dinginnya juga tidak begitu terasa karena memakai jubahmu.”   “Terserah kamu saja.” Eugene mengambil tasnya dan mengeluarkan botol minumannya. Dia kemudian menenggak minuman itu dengan cepat.   “Ini alkohol.” Suara Eugene terdengar begitu serak. “Apa kamu bisa meminum alkohol?”   Gelengan pelan langsung Asia berikan. “Tidak, aku tidak minum alkohol.”   Botol minum yang berisikan alkohol itu pun langsung ditutup oleh Eugene. “Jangan coba untuk meminumnya kalau begitu.”   “Kenapa berhenti?” tanya Asia.   “Aku harus menyisakannya untuk perjalanan panjang kita.” Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Keinginan Eugene untuk menenggak alkohol muncul dengan sangat besar hari ini. Tapi dia cukup bisa menahan dirinya untuk tidak menghabiskan semua sisa alkohol miliknya itu.   “Apa kamu sangat suka alkohol?”   Eugene menggeleng. “Tidak begitu.”   “Tapi kenapa kamu minum alkohol?” tanya Asia penasaran.   “Aku meminumnya saat aku merasa gusar. Jadi aku akan selalu membawanya ke mana-mana.”   “Di saat gusar dan banyak pikiran, tubuh lebih membutuhkan hal manis daripada alkohol, apa kamu tahu hal itu?”   “Tidak.”   “Minum alkohol itu tidak baik, jadi kusarankan kamu untuk tidak bergantung pada alkohol.”   “Ya.”   Jawaban singkat yang terkesan hanya sebagai pemanis itu membuat Asia mendesis tak suka. Eugene tetaplah Eugene bukan? Dia tidak bisa berbicara dengan lebih akrab lagi dengan dirinya. Jika bukan karena hanya ada mereka berdua di sini dan akan terus bersama, mungkin Asia tidak akan peduli jika dia tidak akrab dengan Eugene.   “Aku lapar, berikan aku apel yang tadi,” pinta Asia.   Apel yang ada di dalam tas langsung Eugene berikan untuk Asia. Asia menerima apel itu dengan senang dan memakannnya dengan semangat. Hujan membuatnya menjadi lebih cepat lapar.   “Hujan sepertinya akan bertahan sampai malam.” Suara gemuruh yang semakin terdengar keras membuat Eugene tidak yakin jika hujan akan segera reda.   “Aku juga berpikir seperti itu.” Asia menghela napas. “Bagaimana kita akan tidur malam ini? Tidak ada kayu bakar di sini.”   “Berdoa saja agar hujannya cepat reda.”   “Tapi bagaimana jika tidak? Kita berdua bisa saja mati kedinginan di sini.”   Perkataan Asia yang terdengar berlebihan membuat Eugene geleng-geleng kepala. “Dingin tidak akan membuatmu mati, Asia.”   “Eugene!” Asia berseru tak suka. “Udara dingin itu berbahaya untuk tubuh manusia dan itu bisa menyebabkan kematian.”   “Aku tahu itu Asia, bahkan tanpa kamu menjelaskannya padaku.” Suara rendah Eugene terdengar menahan tawa. “Tapi masalahnya kamu pernah mengalami hal itu dan air danau waktu itu jauh lebih dingin dari suasana sekarang.”   “Iyakah?” tanya Asia tak percaya.   Tidak ada jawaban dari Eugene membuat Asia melirik ke arah Eugene dan saat itu juga dia terpaku. Sebuah senyuman Asia dapatkan dari Eugene. Wajah tersenyum Eugene selalu terlihat indah di mata Asia. Eugene bisa terlihat sangat dingin dan tak tersentuh, tapi dia juga dapat terlihat indah sekaligus sangat nakal dan licik.   Asia memutuskan pandangannya dari Eugene. Dia mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang entah kenapa berdetak dengan lebih cepat. Setelah dirasa jauh lebih baik, Asia pun memanggil Eugene. “Eugene,” panggilnya saat itu juga.   “Hmmm?”   “Kamu pergi sejauh ini, apa keluargamu tidak khawatir? Orang sepertimu pasti sudah menikah bukan?”   “Aku belum menikah.”   “Oh.” Asia menggigit bibirnya setelah mengatakan itu.   “Jangan menggigit bibirmu.”   “Eh?” Asia menoleh ke arah Eugene. Apa Eugene memperhatikannya?   “Lupakan,” jawab Eugene singkat.   Asia menunduk dengan pipi yang perlahan memerah.   “Makan lagi apelmu.” Eugene mengingatkan.   “Iya.” Asia kembali menggigit apelnya dan matanya melirik Eugene yang ternyata memandangi bagian dalam gua. Asia kembali memutuskan pandangannya dan memilih untuk fokus pada tanah yang ada di depannya.   Dia tidak sanggup untuk memandangi Eugene lebih lama lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN