12. Obrolan

1857 Kata
Bunyi tepukan yang nyaring dari arah sampingnya membuat Eugene melirik ke arah Asia. Dia sudah lelah menegur Asia untuk tidak banyak menimbulkan suara, tapi Asia masih saja melakukan itu.   Sebenarnya Asia bukan tanpa sebab melakukan itu semua. Jika bukan karena nyamuk yang sedari tadi berusaha menggigitnya, dia tidak akan menepuk. Asia tidak sebaik itu untuk harus merelakan darahnya diambil oleh makhluk kecil itu. Selain itu, dia bisa saja terkena malaria jika membiarkannya. Jika dia terkena malaria, bisa-bisa dia mati di tempat ini.   Karena tepukan Asia yang tak kunjung reda, Eugene berhenti berjalan dan hal itu membuat Asia juga menghentikan langkahnya. Perasaan Asia mendadak tidak enak. Jika Eugene diam, Asia yakin jika ada sesuatu yang aneh yang terjadi. Asia ingin sekali saja dirinya tidak bertemu monster, tapi sepertinya itu cukup mustahil.   “Apa ada sesuatu yang berbahaya?” bisik Asia.   “Pakai.” Eugene menyodorkan jubahnya.   Asia menatap Eugene, matanya mengerjap beberapa kali karena dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Eugene. “Kenapa kamu memberikannya padaku?” tanya Asia bingung.   Eugene menarik kembali tangannya, tapi sebagai gantinya dia langsung memakaikan jubah itu pada Asia. “Pakai saja dan jangan banyak tanya,” ucap Eugene.   Ucapan Eugene seperti ultimatum. Asia pun memakai jubah pemberian Eugene itu. Barulah setelah dia memakainya, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Asia tampak menundukkan kepalanya dan diam-diam mengembangkan senyum yang awalnya dia tahan itu. Eugene akhirnya mengalah dengan membiarkan dirinya memakai jubahnya.   Mereka akan terus berjalan hingga Asia merasa lelah. Di mana Asia mengeluh kelelahan, Eugene akan memutuskan untuk beristirahat selama 10 sampai 15 menit lamanya. Kali ini, mereka beristirahat di bawah pohon apel.   Apel dengan warna merah mengkilap itu diusap-usap Asia dengan tangannya. Dia sudah makan satu apel dan ini apel kedua yang dia makan. Tadi dia juga sudah makan daging kelinci, tapi entah kenapa Asia masih merasa lapar.   “Kenapa?” tanya Eugene yang melihat perubahan suasana hati Asia. Padahal tadi Asia terlihat sangat senang melihat pohon apel ini.   “Aku ingin makan nasi.” Asia kembali menggigit apel yang sudah dia bersihkan itu.   “Jangan mencari sesuatu yang tidak mungkin kamu dapatkan di sini.”   Asia langsung menoleh ke arah Eugene. “Tapi di dunia ini ada nasi kan?”   “Tentu ada, tapi di kerajaan Rigel nasi bukanlah makanan pokok dan jarang diperjual belikan. Tapi jika kamu pergi ke kerajaan Ascella, nasi adalah makanan pokok di sana.”   “Kenapa kita tidak pergi ke kerajaan Ascella saja?” tanya Asia. “Mungkin di sana kita menemukan petunjuk yang bagus.”   “Tempat ini sangat jauh dari kerajaan Ascella, mungkin sekitar 30 hari jika tidak ada hambatan.”   Mendengar itu Asia membisu. 30 hari? Yang benar saja. “Dunia ini sangat lambat,” keluhnya.   “Kereta kuda sangat susah untuk digunakan melewati hutan jika tidak dijaga oleh banyak prajurit. Beberapa hutan monster juga harus dilewati.”   “Sangat merepotkan sekali.” Asia menyandarkan kepalanya di lengan Eugene.   Baru saja kepala Asia bersandar di sana, Eugene sudah mendorong kepala Asia hingga menjauh dari lengannya itu. Dorongan itu sukses membuat sisi tubuh Asia yang lain menyentuh tanah. Asia melotot dan segera bangun, dia melempar apel yang ada di tangannya.   “Apa kamu tidak tahu itu sakit dan bisa saja kepalaku terbentur tanah?!” seru Asia kesal.   “Jangan asal menyentuh tubuhku.”   “Kamukan bisa mengatakannya dengan baik-baik! Tidak perlu tiba-tiba mendorongku seperti itu! Bagaimana jika kepalaku terbentur dan berdarah?”   “Obati.”   Kedua tangan Asia terkepal dan tanpa ragu dia melayangkan tangannya itu untuk memukul Eugene. Belum sempat tangannya menyentuh tubuh Eugene, Eugene sudah keburu menahan pergelangan tangan Asia.   “Simpan tenagamu, kita akan segera melanjutkan perjalanan.”   Asia menarik tangannya dari genggaman Eugene. Eugene jelas pria yang menyebalkan dan tidak bisa diajak untuk mengobrol lebih santai agar mereka bisa dekat, apalagi perjalanan yang akan mereka tempuh tidak sehari dua hari.   Apel tersodor tepat di depan Asia. Asia bergeming dan tidak mempedulikan apel yang tersodor ke arahnya itu.   “Makan lagi Asia,” perintah Eugene.   “Aku sudah kenyang,” balas Asia cepat dengan sedikit ketus.   “Jangan sampai aku mendengarmu mengeluh ingin cemilan. Kamu tahu sendiri jika aku tidak bisa membawa banyak apel untuk persediaan kita.”   Dengan sangat terpaksa, Asia mengambil apel yang ada di tangan Eugene itu. Dia memakannya dengan cepat tanpa mempedulikan Eugene yang mungkin menatapnya dengan tatapan jijik karena cara makannya.   Sisa setengah apel dan dari ekor matanya, Asia sadar jika sekarang Eugene tengah memperhatikannya. Asia memilih untuk tetap diam dan fokus memakan apelnya.   “Kita lanjutkan perjalanan kita sekarang,” ucap Eugene.   Selain mengatakan itu, Eugene juga menyodorkan tangannya untuk membantu Asia berdiri. Niat baik Eugene tidak disambut Asia, dia teringat bagaimana Eugene yang mendorongnya dan sekarang Eugene malah memberikan tangannya.   Asia berdiri tanpa bantuan Eugene, dia membiarkan tangan Eugene begitu saja. Saat Asia tidak sengaja menatap wajah Eugene, tidak ada ekspresi yang aneh dari wajah itu. Tampak datar dan terlihat masa bodoh dengan apa yang baru saja dia lakukan.   “Hari ini akan hujan, semakin cepat kita berjalan, mungkin saja kita akan mendapatkan tempat untuk berteduh.”   “Iya,” jawab singkat Asia.   Asia berjalan di samping Eugene dan berada satu langkah di belakang Eugene. Matanya sesekali melirik Eugene yang tampak tidak ada keinginan untuk membuka suaranya. Padahal Asia sudah berharap Eugene sedikit lebih peka dengan apa yang dirasakannya dan memilih untuk minta maaf.   “Kenapa diam saja?” Eugene sedikit menolehkan kepalanya ke arah Asia.   “Memangnya aku harus bagaimana?” Asia membuang sisa apel yang sudah tidak bisa dimakan.   “Bercerita.”   “Untuk apa aku bercerita lagi? Toh kamu tidak percaya.”   Eugene menghentikan langkahnya. Asia pun langsung menghentikan langkah kakinya dan mengambil satu langkah mundur agar tidak sejajar dengan Eugene.   “Terserah kamu saja.” Setelah mengatakan itu, Eugene kembali melanjutkan langkah kakinya.   Asia memandangi punggung Eugene yang menjauh dengan tatapan kesal.   “Apa kamu ingin kutinggalkan di sini?”   Pertanyaan yang dilontarkan Eugene membuat Asia berjalan cepat untuk menghampiri Eugene. “Apa kamu tidak berniat untuk minta maaf padaku?” tanya Asia.   “Maaf.”   Ucapan Eugene tidak membuat Asia senang, kata maaf yang terlontar dari Eugene jelas tidak tulus.   “Kenapa ekspresimu seperti itu?” Eugene tidak sengaja melirik ekspresi Asia yang tampak merengut.   “Ucapan maafmu itu tidak terdengar tulus.”   “Menurutmu, yang tulus itu seperti apa?”   “Ya… setidaknya kamu harus berbicara sambil menatapku.”   Eugene menghela napas lelah, Asia ternyata tipe gadis yang akan langsung mengatakan hal yang mengganggu pikirannya. “Kamu berada satu langkah di belakangku, bagaimana aku bisa menatapmu?” jawab Eugene akhirnya.   “Ya kamu bisa berhenti berjalan bukan?”   “Tidak, kita dikejar waktu.”   “Oke, terserah.”   “Oke.”   Ketidakpedulian Eugene membuat Asia memutuskan untuk menahan langkah Eugene. Dia berdiri sambil merentangkan tangannya di depan Eugene.   “Apalagi?” tanya Eugene bingung. Dia bahkan sampai harus memijat keningnya saat itu juga.   “Tidak bisakah kita berteman? Apa kamu tahu, bagaimana cara kita mengobrol membuatku tidak nyaman.”   Eugene berjalan dan menarik tangan Asia agar mengikuti langkahnya. “Aku memang seperti ini Asia dan terserah kamu mau menganggapku apa, aku tidak begitu peduli.”   Mata Asia memanas, dia tidak tahu kenapa dia tiba-tiba ingin menangis. “Kamu tidak pernah peduli dengan apa yang kukatakan.”   “Aku selalu mendengarkan apa yang kamu katakan.”   “Kamu juga tidak percaya dengan apa yang kukatakan,” sambung Asia.   “Awalnya aku tidak percaya. Tapi sekarang aku percaya dengan itu semua.” Eugene menoleh ke arah Asia. “Dan aku jadi semakin penasaran dengan dunia yang kamu tinggali.”   Sebelum istirahat di bawah pohon apel, Asia bercerita tentang bagaimana sistem kepemimpinan di dunianya dan itu terdengar sangat menarik bagi Eugene.   “Oh ya?”   “Terserah kamu mau percaya atau tidak, itu hakmu Asia.”   “Jika aku bercerita lagi, setidaknya berikan tanggapan yang membuatku merasa tengah mengobrol denganmu.” Asia menatap Eugene dengan penuh harap. “Iya?”   “Hmmm….”   “Iya?” ulang Asia.   “Iya Asia, iya.”   Asia tersenyum lebar. “Begitu dong. Setidaknya buat aku nyaman dengan cara seperti itu di tempat yang menyeramkan ini.”   Sesuatu yang jatuh menyentuh tangannya yang digenggam Eugene membuat Asia mendongak ke atas. Baru mendongak, Asia sudah ditarik dengan cepat oleh Eugene karena ternyata hujan mulai turun.   “Kita akan berteduh di mana?” tanya Asia panik. Dia berusaha sebisa mungkin menyamai langkah kakinya dengan Eugene.   “Yang paling memungkinkan di bawah pohon yang memiliki teduhan yang lebar.”   Bukan menemukan pohon dengan teduhan yang lebar, mereka menemukan yang lebih baik dari itu. Mereka menemukan sebuah gua dan tanpa ragu Eugene langsung mengajak Asia masuk ke dalam gua itu.   “Kita tidak bisa pergi terlalu jauh ke dalam gua.”   “Aku mengerti.”   Asia memilih untuk menatap air hujan yang semakin lama tampak semakin deras daripada harus menatap ke arah dalam gua yang entah ada apa di dalamnya.   “Tidak ingin melanjutkan ceritamu lagi?” tanya Eugene.   “Kamu ingin dengar apalagi?”   “Bagaimana dengan negara yang di pimpin oleh seorang raja, apa mereka hidup dengan bahagia?”   “Kebahagiaan seseorang itu bukankah relatif? Pasti akan ada yang suka dan tidak suka dengan sistem kerajaan. Bahkan yang pemimpinnya dipilih oleh rakyat sekalipun, masih ada yang tidak menyukainya.”   “Bagaimana dengan raja yang memimpin? Apa sering terjadi perebutan kekuasaan?”   Asia menggeleng. “Bukankah yang akan menjadi raja sudah ditentukan, jadi tidak mungkin akan membuat hal itu terjadi bukan? Apalagi di zaman yang informasi yang mudah menyebar, suatu negara tentu harus hati-hati dalam hal itu, jika tidak ingin perserikatan bangsa-bangsa turut andil dalam konflik itu.”   “Ah, begitu.” Eugene mengangguk mengerti. “Lalu bagaimana dengan tempat tinggalmu, siapa yang memimpinnya? Seorang raja atau presiden?”   Asia mengendikkan bahunya. “Entahlah, aku tidak ingat.”   “Sebagian ingatanmu yang hilang itu terasa sangat aneh.” Eugene terkekeh. “Sepertinya seseorang yang membuatmu datang ke dunia ini sengaja melakukannya.”   “Aku juga berpikir seperti itu, tapi untuk apa dia menghilangkan ingatan itu? Kenapa bukan menghilangkan pengetahuan yang kumiliki tentang dunia yang kutempati? Atau jangan-jangan….”   Eugene langsung menoleh ke arah Asia. “Jangan-jangan apa?” tanyanya serius.   “Apa di dunia ini tengah dilanda konflik?” tanya Asia penasaran.   Eugene menggeleng dan Asia kembali berucap, “Apa kamu yakin? Karena di drama-drama yang kutonton, seseorang dibawa ke dunia lain untuk menyelamatkan dunia itu. Mungkin saja bukan jika aku di sini untuk menyelamatkan duniamu?”   Tewa menggelegar langsung keluar dari mulut Eugene. Bagaimana ekspresi wajah Asia yang serius saat mengatakan hal itu membuatnya semakin tidak bisa mengontrol tawanya.   “Eugene!” tegur Asia kesal.   “Ucapanmu sangat menghiburku.” Eugene mencoba untuk menghentikan tawanya dengan berdaham.   “Tapi aku serius.”   “Jika dunia ini dalam bahaya, bagaimana bisa kamu akan menyelamatkan dunia ini? Dengan kekuatanmu? Mãna saja kamu tidak memilikinya Asia. Jangankan mãna, mengangkat pedang saja kamu tidak bisa melakukannya. Bahkan sekarang kamu bergantung padaku Asia. Jadi bagaimana bisa kamu akan menyelamatkan dunia ini?”   Perkataan Eugene membuat Asia terdiam. Semua yang dikatakan Eugene memang benar dan Asia jadi penasaran, jika dia dibawa ke dunia ini bukan karena untuk menyelamatkan dunia ini, lalu untuk apa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN