11. Insomnia

1714 Kata
“Cara kamu membunuh rusa tadi sangat hebat.” Asia menatap Eugene dengan pandangan kagum. “Apa kamu bisa mengajariku?” tanyanya kemudian.   “Kamu ingin aku ajari apa? Memakai pedang?”   Asia mengangguk membenarkan. “Ya, walau aku tidak memiliki mãna, setidaknya aku masih bisa melawan jika aku diganggu oleh hewan buas atau monster.”   Senyum geli seketika terpatri di wajah Eugene. Asia menekukkan wajahnya tak suka, senyum geli yang Eugene perlihatkan jelas seperti mengejeknya.   “Apa menurutmu itu sangat lucu? Bukankah dengan kamu mengajariku, bebanmu akan lebih berkurang?”   Eugene memutar bola matanya bosan. “Memegang pedangku saja kamu tidak kuat, apalagi setelah melihat reaksi ketakutanmu itu. Sudah bisa dipastikan jika kamu tidak akan berani melukai nyamuk sekalipun.”   Ucapan Eugene sukses menyulut perasaan kesal dari dalam diri Asia. “Apa kamu kira aku selemah itu?” tanyanya kesal.   “Jika ada orang lain di sini, dia pasti akan memiliki penilaian yang sama.”   Asia mendekatkan dirinya ke Eugene. Dia kemudian mendorong-dorong dãda Eugene dengan jari telunjuknya. “Aku adalah murid dari perguruan tinggi ternama dan asal kamu tahu, aku sering membedah dan mengawetkan hewan-hewan di laboratorium. Aku sudah biasa dengan darah dan memotong hewan!”   Beberapa kata yang diucapkan Asia masih tidak Eugene mengerti, tapi inti dari ucapan Asia dapat dia tangkap. Senyum geli kembali terpatri di wajah Eugene karena ucapan penuh kepercayaan diri dari Asia. Tangannya kemudian menggenggam jemari Asia yang masih dãdanya itu.   “Jika kamu sudah terbiasa membunuh hewan, kenapa kamu berteriak saat melihat monster yang sudah mati tadi? Oh, dan jangan lupakan teriakanmu saat melihat aku membunuh rusa tadi.” Eugene menyeringai.   “Apa kamu tahu ketika manusia kaget dia akan refleks berteriak?”   Eugene mengangguk dan berkata, “Tentu aku mengetahuinya.”   “Ya sudah, itu jawabannya. Aku refleks berteriak karena kaget dan masalah monster, aku baru pertama kali melihat monster. Itu adalah hal yang wajar.”   Ekspresi wajah Eugene seketika berubah datar dan hal itu kembali membuat Asia kesal. “Kamu tidak percaya?” tanya Asia.   “Apa kamu perlu bukti dariku?” Kembali Asia bertanya. Dia tampak semakin kesal karena Eugene hanya diam saja.   “Agar kamu senang, mungkin aku lebih baik mengiyakannya saja.”   “Tapi aku serius. Aku banyak membedah hewan, dari yang terkecil hingga yang paling tidak bisa kulupakan itu ular dan hiu.”   Mulut Eugene terbuka untuk beberapa saat sebelum dia menutupnya rapat dan menoleh ke arah lain.   “Hei, apa-apaan itu?” Asia masih tidak terima.   “Aku tersanjung mendengarnya,” ucap Eugene akhirnya.   Gelagat aneh Eugene langsung membuat Asia bangun dari duduknya dan berjalan menuju arah pandang Eugene. Tapi belum sempat Asia melihat ekspresi Eugene, tangannya sudah ditahan dan dipaksa untuk kembali duduk.   Bagaimana cara Eugene memaksanya untuk duduk lagi membuat Asia takjub. Hanya dengan satu tangannya, Eugene mampu membuatnya kembali ke tempatnya. Otot-otot di badan itu memang tidak membohongi. Asia jadi ingin melihat kembali bagaimana sempurnanya bentuk tubuh dari Eugene.   Seumur-umur, Asia tidak begitu sering melihat badan pria yang bertelanjang dãda. Jika ada, kalau tidak terlalu kurus ya gendut. Jika ada yang berotot pun, sosoknya seperti kingkong.   “Apa yang kamu pikirkan hingga tersenyum seperti itu?”   Asia tersentak kaget dan menoleh ke arah Eugene. Eugene menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan.   “Tidak ada,” jawab Asia cepat.   “Aku jadi curiga setelah melihatmu tersenyum seperti itu.” Eugene menjepit dagu Asia dan memaksa Asia mendongak menatapnya. “Apa jangan-jangan semua yang kamu ucapkan itu hanya kebohongan?”   Ditatap dengan tajam, apalagi jari Eugene yang ada di dagunya, Asia tampak sangat tenang. Dia mencoba untuk tidak membuat Eugene semakin mencurigainya. Dia lelah jika setiap ucapannya dianggap kebohongan.   “Aku tidak berbohong, apa kamu mau kuceritakan hal menakjubkan yang bisa kamu temui di duniaku?” Asia memamerkan senyumannya saat melihat Eugene semakin memicingkan matanya. “Bagaimana?” tanya.   “Bagaimana bisa kamu mengingat hal-hal itu?”   Asia mendesis tak suka. “Sudah kukatakan jika yang tidak kuingat hanya nama semua orang, wajah mereka, dan nama-nama tempat di duniaku. Jadi, aku masih ingat dengan jelas hal-hal yang lainnya.”   Eugene melepaskan tangannya yang ada di dagu Asia. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di batang pohon mati yang ada di belakangnya itu. “Berceritalah dengan berbaring. Siapa tahu dengan hal itu kamu akan tertidur.”   Mata Asia melirik alas duduknya yang berfungsi juga sebagai alas tidur. Haruskah dia mengikuti perintah Eugene untuk tidur? Tidur di tempat yang gelap dan mencekam seperti ini jelas tidak akan senyaman di pulau kemarin.   “Ingin menemaniku tidak tidur?”   Asia menggeleng dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Eugene. Kepalanya yang lurus ke atas membuat Asia bisa melihat langit yang bertabur bintang. Asia terpaku menatap langit yang sangat indah di depannya.   “Terpesona?” tanya Eugene.   Pertanyaan itu membuat mata Asia bergulir menatap Eugene yang ada di sampingnya. “Di duniaku, sangat sulit untuk melihat bintang.”   “Kenapa?”   “Karena terlalu banyak polusi.”   Melihat mulut Eugene yang akan berucap, Asia buru-buru menambahkan, “Polusi itu suatu yang berbahaya yang mempengaruhi lingkungan. Misalnya, bintang yang tidak terlihat itu biasanya disebabkan karena cahaya.”   “Di sini juga ada cahaya Asia, tapi bintang masih terlihat.” Tatapan mata Eugene seketika terlihat malas. Dia jadi semakin curiga jika Asia membohonginya. Dia yakin jika Asia hanya gadis yang terlahir berbeda dan berniat untuk bunuh diri karena patah hati.   ”Cahaya lampu, Eugene! Satu rumah akan sangat terang karena ada lampu. Jangankan rumah, di setiap jalan akan ada lampu yang terus bersinar hingga pagi datang.” Asia cemberut. “Jika kamu di duniaku, kita tidak akan kegelapan seperti ini. Di sana terlalu terang hingga bintang-bintang tidak terlihat lagi.”   “Baguslah kalau begitu,” komentar Eugene datar.   “Ya begitulah dan di tempatku, ada banyak bangunan yang tinggi menjulang ke langit.” Asia melirik Eugene, dia penasaran dengan reaksi Eugene. “Orang-orang membuat bangunan yang tinggi karena jumlah manusia yang semakin banyak.”   Tidak adanya reaksi dari Eugene membuat Asia kembali berucap, “Tidak hanya membuat bangunan yang tinggi, ada juga kendaraan yang disebut mobil. Mobil digerakkan dengan mesin, tidak dengan hewan. Manusia di duniaku bisa lebih cepat berpindah tempat.”   Kembali tidak ada reaksi dari Eugene, Asia bangun dari tidurnya dan hal itu membuat Eugene menoleh ke arahnya.   “Kamu mau apa?” tanya Eugene.   “Menggambarkanmu kendaraan yang ada di duniaku. Aku baru ingat jika ada banyak jenis kendaraan dengan fungsinya yang berbeda-beda.”   Asia menarik Eugene agar mengikutinya duduk lebih dekat dengan api unggun. Tarikan Asia tentu tidak membuat Eugene bergerak sedikit pun, dan hal itu membuat Asia merengek.   “Eugene… ayo, lihat!”   Terlihat sekali Eugene yang terpaksa untuk mengikuti Asia. Dia kemudian duduk di samping Asia sambil memandangi tanah di depannya.   Asia mengambil ranting kecil yang ada di dekatnya dan mulai menggambar. Asia bisa dibilang memiliki bakat menggambar, apalagi di jurusannya itu dia juga sering menggambar anatomi.   “Jadi bentuk mobil seperti ini.” Tunjuk Asia pada apa yang baru saja dia gambarkan. “Ini digunakan di atas permukaan tanah. Ada sepeda motor dan juga sepeda juga. Kalau yang dua itu, bentuknya seperti ini….”   Tangan Asia dengan halus menggoreskan rangting ke permukaan tanah. Gambaran yang sederhana tapi cukup jelas untuk menggambarkan alat transportasi itu. Asia teringat sebuah pesawat dan kapal laut. Dia pun dengan cepat menggambar pesawat dan kapal.   “Apa yang sekarang kamu gambar?” tanya Eugene begitu Asia selesai menggambar sebuah pesawat dan kapal.   Asia menunjuk pesawat yang baru selesai dia gambar. “Ini yang seperti memiliki sayap namanya pesawat. Mereka akan membawa manusia berpindah melalui udara. Kalau yang ini namanya kapal laut, sama seperti perahu, tapi dengan muatan yang lebih banyak. Dan semua kendaraan itu digerakkan oleh mesin. Kecuali sepeda yang harus dikayuh.”   Selama Asia menjelaskan itu, Eugene menatap Asia dengan lekat. Saat Asia akan menoleh ke arahnya, Eugene buru-buru menatap ke arah gambaran Asia.   “Bagaimana menurutmu?” tanya Asia.   Eugene menunjuk mobil yang pertama kali Asia gambar. “Ini sedikit mirip dengan kereta kuda.”   “Di duniaku juga ada kereta kuda, tapi seingatku itu sudah tidak digunakan lagi.”   “Di duniamu, semuanya sangat dipermudah,” gumam Eugene.   “Iya, sangat.”   “Karena sangat dipermudah, manusia di sana menjadi sangat lemah.” Eugene bangun dan kembali duduk ke tempatnya.   Tatapan tajam dan decakan pinggang dari Asia Eugene dapatkan. Eugene yang melihat itupun bertanya, “Apa?”   “Jangan mengejek seperti itu, ada banyak hal yang kamu belum dengar dari dunia tempatku berasal yang akan membuatmu berpikir dua kali tentang manusia di sana.”   “Ceritanya besok saja, sekarang lebih baik kamu tidur.”   Asia kembali ke tempatnya dan langsung merebahkan tubuhnya dengan perasaan kesal. Begitu Asia merebahkan tubuhnya, Eugene dengan cepat menyelimuti tubuh Asia dengan jubah miliknya.   “Terima kasih,” ucap Asia.   Tidak ada jawaban dari Eugene yang membuat Asia memutuskan untuk mencoba tidur. Menit demi menit berlalu dan hanya terdengar suara hewan malam. Asia mencoba mencari posisi ternyamannya agar bisa tidur. Terus mencari hingga Asia tidak sadar jika Eugene tengah menatapnya dengan rahang yang mengetat.   “Asia,” panggil Eugene setelah tidak tahan lagi dengan suara gesekan tubuh Asia.   Takut-takut Asia membuka matanya. “Apa?” katanya ragu setelah melihat ekspresi wajah tampan Eugene yang tampak kesal.   “Tidak bisakah kamu tidur dengan tenang? Tidak hanya aku yang akan terganggu, mungkin saja hewan buas yang ada di kegelapan sana akan merasa terganggu.”   “Aku tidak bisa tidur,” kata Asia dengan sedih.   “Paksa, aku tidak ingin perjalanan yang harusnya sepuluh hari menjadi duapuluh hari.”   “Apa….” Asia menutup wajahnya dan kembali berucap, “Apa aku boleh memeluk kakimu? Aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk sesuatu.”   “Tadi malam kamu bisa tidur tanpa memeluk sesuatu.”   “Tadi malam situasinya berbeda. Tapi kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa.”   Keberadaan Asia jelas sangat merepotkannya. Eugene merasa menyesal sudah menyelamatkan Asia jika dia tahu gadis yang dia bawa sangat merepotkan.   “Lakukan sesukamu,” ucap Eugene dengan pasrah.   Tanpa basa-basi, Asia langsung memiringkan tubuhnya dan memeluk kaki Eugene. Terasa aneh memang, tapi Asia tidak punya pilihan lain selain memeluk kaki Eugene.   Asia benar-benar tertidur setelah memeluk kakinya, itulah yang Eugene tangkap setelah beberapa menit berlalu. Eugene yakin jika Asia sudah tertidur dari dengkuran halus yang keluar.   Eugene memandangi Asia. “Keadaan akan selalu memaksa kita untuk terbiasa.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN