10. Gendongan

1753 Kata
“Sudah kubilang untuk jangan membuka mata!” maki Eugene kesal.   Tubuh Asia yang awalnya jatuh ketanah kembali terangkat, tapi kali ini Asia sadar jika Eugene tengah menggendongnya karena tubuhnnya yang dimiringkan dan tangan besar Eugene juga berada di pundak dan juga di kakinya.   “Eu-Eugene,” panggil Asia masih dengan mata tertutup.   “Diam dan pegangan.”   Asia melingkari tangannya ke badan Eugene. Dia bisa merasakan jika sekarang Eugene berlari dengan cukup kencang. Eugene berlari seakan ada yang mengejar mereka dari belakang. Asia ingin melihat ke belakang, tapi dia terlalu takut untuk melihat ke belakang.   Melihat mayat-mayat hewan yang tidak jelas wujudnya itu membuat Asia merasa kaget dan takut. Asia ingat jika dia sering membedah hewan, tapi melihat hal yang tadi rasanya berbeda dengan hewan yang pernah dia bedah sebelumnya.   Eugene yang awalnya berlari kencang perlahan memelankan langkah kakinya. Asia yang penasaran pun bertanya, “Kenapa kamu berlari?” tanyanya.   “Aku tidak ingin kamu semakin berteriak kencang karena takut.”   Asia melepaskan pelukannya, dia juga sedikit mengambil jarak agar bisa melihat wajah Eugene. “Sebenarnya tadi itu hewan apa?” tanya Asia.   “Monster.”   “Monster?!”   Tubuh Asia langsung lemas begitu saja. Tatapan matanya terlihat tidak ada gairah untuk hidup. Bukan hewan buas lagi, tapi monster yang mereka hadapi.   “Jadi, di dunia ini benar-benar ada monster?”   “Jangan berlebihan hanya karena mendengar monster, anggap saja mereka itu seperti hewan pada biasanya.”   “Aku ingin pulang, Eugene.” Kembali air mata Asia tergenang di pelupuk matanya. “Aku tidak akan bisa hidup di tempat ini.”   Asia meremas kerah baju Eugene. “Aku ingin pulang,” katanya lagi.   Eugene memilih untuk diam saja karena dia tidak bisa menjawab keinginan Asia untuk pulang dengan apa. Dia sendiri masih ragu jika Asia benar-benar dari dunia lain dan jika Asia memang dari dunia lain, bagaimana cara Asia bisa sampai ke sini dan bagaimana cara dia akan kembali pulang? Eugene tidak tahu hal itu.   “Eugene?” Asia menatap Eugene. “A-aku ta-takut.”   “Menangis tidak akan menyelesaikan masalah,” hardik Eugene. “Jika kamu menghambat perjalananku ke Rigel, kamu benar-benar akan kutinggalkan di tempat ini.”   Seperti yang sudah-sudah jika Eugene mengancam, Asia akan langsung memeluk Eugene agar tidak tiba-tiba dibuang oleh Eugene. Eugene yang dipeluk dengan kuat hanya bisa menghela napas. Ini yang membuatnya benci berurusan dengan perempuan.   Membawa Asia dalam gendongannya ini membuat Eugene bisa berjalan dengan lebih cepat, tapi jika dia terus-terusan seperti ini, lama kelamaan dia juga akan kelelahan. Eugene juga tidak akan menemukan gerombolan kuda liar di sini. Jika menemukan gerombolan kuda liar, dia harus mendapatkan satu agar bisa membawa Asia dengan lebih cepat.   “Eugene,” panggil Asia karena beberapa menit sudah berlalu dan Eugene hanya diam saja.   “Apa?”   “Apa kamu tidak lelah menggendongku?” tanyanya.   “Kamu memelukku karena takut kubuang bukan?”   “Iya.”   “Ya sudah nikmati saja untuk kali ini aku menggendongmu.”   “Tapi apa kamu tidak lelah?”   “Cerewet!”   “Terima kasih,” lirih Asia.   Asia merasakan langkah Eugene yang awalnya memelan perlahan kembali cepat. Dengan keadaan yang seperti ini, Asia tak habis pikir bagaimana Eugene melakukannya. Saat ini Eugene tidak hanya membawanya saja, tapi dia juga membawa tas dan juga pedangnya yang beratnya tentu tidak seringan kertas.   Selama Eugene membawanya, Asia memperhatikan Eugene. Wajah Eugene yang tampan membuat Asia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Terlepas dari sikap Eugene yang kadang ketus dan keras, Asia merasa sangat beruntung karena bertemu dengan Eugene. Jika dia tidak bertemu Eugene, Asia tidak bisa memikirkan akan jadi apa hidupnya.   “Eugene?” panggil Asia.   “Apalagi?”   “Melihatmu, aku jadi penasaran dengan orang yang kusukai itu. Orang seperti apa dia?” Asia tahu jika ini waktu yang tidak tepat untuk dia membicarakan tentang percintaan seperti ini, tapi pembicaraan ini tentu bisa membuat perasaannya sedikit lebih baik.   Eugene mendengus geli. “Kenapa kamu bertanya padaku? Itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku.”   “Aku tahu, tapi alasan pertama yang membuatku menyukainya karena dia tampan. Jadi, aku penasaran, seperti apa dia.”   “Alasan yang sangat klise.”   “Itu menjadi alasan yang klise karena manusia memiliki mata yang digunakan untuk melihat,” balas Asia kesal. “Dan juga, bukan hanya itu alasanku menyukainya.”   Asia menatap Eugene yang tampak tidak berniat untuk membalas ucapannya. Karena tidak ada jawaban, Asia kembali berucap, “Di ingatanku, dia sangat baik dan dia selalu menolongku karena dia lebih tua dari usia dan juga dari tingkat pendidikannya.”   “Sayangnya, dia selalu mengatakan jika aku adalah adik tingkat yang baik.” Asia tersenyum getir. “Tidak lebih dari itu.”   Perasaan sedih yang tiba-tiba menghampirinya membuat Asia sedikit menyembunyikan wajahnya dengan menoleh ke arah d**a Eugene. Dia kemudian kembali berucap dengan suaranya yang terdengar sendu, “Sayangnya dia mencintai gadis lain yang bahkan baru dikenalnya. Hanya selang beberapa bulan dan akhirnya aku melihat bagaimana pria yang kucintai melamar gadis itu di puncak gunung.”   “Terdengar menggelikan, melamar seorang gadis di puncak gunung.”   Mulut Asia terbuka karena kaget. Dia pikir Eugene tidak mendengar ceritanya. Tapi ternyata, Eugene mendengarkannya. Dengan bersemangat Asia pun mengangguk setuju. “Menurutku juga begitu,” katanya kemudian.   Kembali Eugene mendengus geli. “Ya kamu berpikir begitu karena kamu tidak rela dengan hal itu. Berbeda denganku yang menganggap itu adalah hal yang menggelikan. Jika kamu di posisi gadis itu, kamu pasti tidak akan berpikir demikian.”   Asia menekukkan wajahnya. “Iya kamu benar,” katanya dengan pasrah.   Selanjutnya tidak ada kata yang Asia ucapkan. Dia mencoba untuk mencoba menerima keberadaannya di tempat yang aneh ini. Dunia yang memiliki monster, bertemu dengan hewan buas saja itu sudah menakutkan, apalagi bertemu dengan monster.   Langkah Eugene memelan dan tubuh Asia sedikit terangkat. Asia refleks menutup matanya dan saat itu juga telinganya mendengar sesuatu terbentur dengan keras. Asia mencoba untuk menyembunyikan wajahnya agar dia tidak melihat sesuatu yang mungkin menjijikan.   “Jangan terlalu kuat memegangiku.”   “Ah….” Asia mengendurkan tangannya yang menarik keras baju Eugene tanpa sadar. “Maaf.”   “Tidak semua wilayah hutan memiliki monster. Beberapa wilayah hutan diberkati oleh dewa hingga monster tidak ada.”   “Jika suatu wilayah tidak memiliki monster….”   “Berarti di sana ada hewan pemakan daging,” potong Eugene cepat.   Bibir Asia langsung membentuk satu garis lurus. “Terdengar tidak ada bedanya,” gumam Asia.   “Setidaknya hewan jauh lebih mudah di kalahkan daripada monster.”   “Itu kan menurutmu, tidak dengan.…”   “Diam,” desis Eugene cepat.   Asia menajamkan indra pendengarannya. Dia tidak mendengar sesuatu yang aneh. Kenapa Eugene menyuruhnya diam?   Detik itu juga Eugene langsung bergerak lebih cepat dan suara berisik yang terdengar membuat Asia semakin beringsut ke arah Eugene. Eugene kemudian berhenti berjalan. Dia merasakan tubuhnya dibawa ke bawah dan Eugene memeluknya semakin erat.   “Diam,” bisik Eugene. “Tutup mulutmu dengan tangan dan tahan napasmu sebisa mungkin.”   Diperintahkan untuk tidak bernapas membuat Asia ketakutan. Dia yakin jika ada bahaya yang lebih besar dari sebelumnya. Karena tidak ingin semuanya memburuk, Asia menutup mulut dan hidungnya. Dia menyembunyikan wajahnya di d**a Eugene dan hal itu membuatnya bisa mendengar bagaimana jantung Eugene yang berdetak dengan teratur. Asia ingin melihat wajah Eugene, apa ada kekhawatiran di wajah Eugene? Atau wajah itu datar-datar saja?   Di tengah suara gerombolan langkah kaki itu, Asia mencoba memfokuskan dirinya mendengar suara detak jantung Eugene. Dengan mendengar suara detak jantung Eugene, Asia merasa lebih tenang.   Beberapa saat kemudian, suara gerombolan langkah kaki yang begitu cepat. Asia menahan napasnya sebisa mungkin. Suara langkah kaki itulah yang membuatnya harus tidak bernapas. Entah itu makhluk apa yang jumlahnya begitu banyak hingga membuat dia dan Eugene harus bersembunyi.   Suara gerombolan langkah kaki itu perlahan terdengar menjauh dan tidak terdengar lagi. Helaan napas lega dari Eugene membuat Asia seketika menghela napas lega juga. Dia pun membuka matanya hingga bertatapan dengan Eugene yang menatapnya lekat.   “Monster tadi sangat banyak, aku tidak akan bisa melawannya dengan membawamu seperti ini.”   Eugene bangun dari duduknya, dia kemudian melihat ke sekelilingnya. “Kita harus sampai ke hutan seberang sungai karena itu wilayah aman, jadi jangan terlalu banyak bertanya karena membawamu yang tidak memiliki mãna sangat berbahaya,” katanya.   “Jika kita harus sampai ke tepi sungai, haruskah aku berjalan saja?”   “Tidak,” tolaknya. Membiarkan Asia berjalan sendiri, sama saja dengan memperlambat semuanya.   “Apa tubuhku seringan itu?”   “Anggap saja begitu.”   Saat matahari sudah di puncak, Eugene mencari tempat aman yang akan dia gunakan untuk beristirahat dengan Asia. Tempat yang dipilih Eugene adalah di sebuah pohon dengan akar-akar besar yang menjuntai. Eugene sengaja memilih tempat itu karena dia membutuhkan air dan akar dari pohon menyimpan cadangan air yang dia butuhkan. Untuk mengganjal perut mereka, Eugene juga sudah membawa buah-buahan.   Barulah saat malam hampir datang, Eugene akhirnya menemukan sungai yang akan dia lewati dengan Asia. Untuk melewati sungai yang deras itu Eugene dan Asia harus turun ke sungai. Kali ini, Eugene menggendong Asia di punggungnya dan dengan susah payah Eugene sampai ke seberang sungai.   “Bajuku basah,” keluh Asia yang tetap juga kebasahan padahal dia sudah mengangkat roknya tinggi-tinggi.   “Keringkan nanti. Sekarang kita harus mencari tempat untuk bermalam.”   Asia sedikit memajukan kepalanya agar bisa melihat Eugene. “Apa kita tidak mencari ikan dulu?” tanya Asia.   “Tidak, malam ini kita akan makan yang lain.”   “Oh, oke. Eh, tapi apa lebih baik aku turun saja?” tanya Asia. Dia yakin jika saat ini Eugene pasti sudah sangat kelelahan.   “Diam saja di sana, tidak ada monster yang akan mencekikmu dari belakang.”   Wajah Asia seketika datar. Sangat gampang sekali Eugene mengatakan itu, tidak tahukan dia selalu merasa akan mati selama berada di hutan Lacaille.   Asia menempatkan dagunya di bahu Eugene. Saat kepalanya sedikit menoleh ke arah kepala Eugene, napas Asia menerpa bagian telinga dan leher Eugene dan hal membuat Eugene menghentikan langkahnya.   “Turun,” perintah Eugene. Eugene mengepalkan tangannya erat. Sensasi aneh karena napas Asia yang menerpa bagian leher dan telinganya membuat dia tidak nyaman.   “Kenapa harus turun?” tanya Asia bingung. Bukankah tadi Eugene bilang jika dia akan menggendongnya.   “Aku akan berburu, tidak mungkin aku bisa membunuh hewan jika ada kamu di punggungku.”   “Ah, oke.”   Asia kemudian melepaskan lingkaran tangannya dari leher Eugene dan turun dari gendongan. Selanjutnya Asia berdiri di samping Eugene. Kepalanya menoleh ke arah Eugene dan berucap, “Ke mana kita akan pergi?”   “Ikuti saja langkahku dan jangan berisik jika ingin makan.”   Asia mengangguk patuh. “Aku akan diam.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN