“Apa kamu buta?”
“Bukan itu maksudku!” teriak Asia frustrasi. “Ya Tuhan.…”
“Semakin kamu berteriak, mereka akan menunggu kita di pinggir danau dan memakanmu.”
Eugene sukses membungkam Asia. Bahkan wajah Asia semakin dibuat pucat. Tanpa permisi, Asia langsung bangun dan membuang tubuhnya ke arah Eugene. Jika Eugene tidak sigap, bisa saja perahunya terbalik.
“Kamu berniat membuat kita berdua tercebur ke dalam danau ah?!” Eugene berteriak marah. Aksi Asia sungguh di luar dugaannya.
“Ayo pergi dari sini! Mereka bisa saja membunuh kita!” kata Asia panik. Asia semakin yakin jika dia memang berada di dunia lain. Kupu-kupu yang dia tahu itu ukurannya tidak sampai sebesar itu dan tidak juga menyerang hewan lainnya hingga mati.
Pelukan Asia pada tubuh Eugene sangat kuat. Dia takut jika dia melepaskan Eugene, Eugene akan meninggalkannya. “Eugene, ayo cari tempat yang lebih aman!” katanya panik.
“Tidak ada tempat yang aman di hutan, Asia.” Eugene hendak mendorong Asia karena dia harus mendayung perahu lagi, tapi Asia begitu kuat memeluknya. “Dan kamu tidak akan mati jika aku tidak mengizinkannya.”
Asia mendongakkan kepalanya, air mata sudah tampak tergenang di mata hitam itu. Perlahan namun pasti Asia melepaskan pelukannya dan dia memundurkan tubuhnya. “Ja-jadi kamu berniat me-membunuhku?” Katanya ketakutan.
Eugene menarik tangan Asia hingga Asia kembali berada di dalam pelukannya. Asia yang sudah terlanjur takut pada Eugene segera memberontak saat itu juga. Pelukan Eugene tentunya tidak akan bisa Asia lepaskan dengan mudah.
“Lepas!” teriak Asia. “Lebih baik aku mencoba untuk kembali ke duniaku!” teriak Asia. Jauh lebih baik jika dia mencoba untuk tenggelam sekali lagi. Siapa tau dipercobaannya ini, dia berhasil pulang.
Eugene melepaskan pelukannya, namun kedua tangannya sekarang berada di bahu Asia. “Aku tidak akan membunuhmu, apa kamu mengerti?!” teriak Eugene kesal. “Aku akan membawamu ke kerajaan Rigel, di sana kamu bisa mencari orangtuamu.”
Rigel adalah kerajaan terdekat dari wilayah gunung Lacaille dan Eugene yakin jika Asia berasal dari Rigel.
“Tidak! Aku bukan berasal dari Rigel atau kerajaan manapun!” teriak Asia. Dia kembali mencoba melepaskan dirinya namun itu tentu hanya sia-sia. “Aku tidak berasal dari dunia ini! Apa kamu mengerti apa yang kuucapkan?!”
Air mata yang sudah tergenang di pelupuk matanya itu akhirnya jatuh. Tidak tahan melihat Asia menangis, Eugene kembali membawa Asia ke dalam pelukannya. Tangan Eugene dengan kaku mulai mengusap punggung Asia yang bergetar.
“Aku bukan dari dunia ini! Di dunia ku tidak ada kupu-kupu yang begitu besar dan membunuh hewan lainnya.”
“Itu bukan kupu-kupu.”
Asia memukul punggung Eugene. “Berapa kali harus kukatakan jika aku bukan dari dunia ini?! Di duniaku tidak ada kupu-kupu yang memakan rusa hingga tidak bersisa dalam sekejap mata!”
“Jika kamu tidak berasal dari dunia ini, lantas kamu berasal dari mana?” Ini adalah suatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Eugene. Dunia lain? Apa ada hal semacam itu? Itu jelas seakan tidak mungkin.
“Di tempat di mana tidak ada hewan semengerikan itu.”
“Dan di tempat itu singa adalah raja hutannya?”
Asia mengangguk membenarkan. Eugene melepaskan pelukanya dan mengusap jejak air mata Asia.
“Jangan menangis lagi, jika kamu tidak ingin mati di sini. Teruti semua perkataanku karena sekarang kita harus keluar dari tempat ini,” sambung Eugene.
“Bagaimana jika aku pergi dari pulau ini, aku malah tidak bisa pulang?”
“Kamu sudah tenggelam di danau itu dan tidak ada yang terjadi selain kamu kehabisan napas bukan?” Tidak ada jawaban dari Asia. Eugene kemudian menghela napas dan berucap, “Dunia ini sangat luas dan mungkin saja aku bisa mencari tahu tentang kenapa kamu bisa muncul di dunia ini.”
“Jadi kamu akan membantuku untuk pulang?” Bola mata Asia tampak berbinar memandangi Eugene.
“Aku tidak yakin bisa membawamu pulang karena tidak pernah ada hal seperti ini di sini. Jika kemungkinan terburuk itu terjadi, kamu harus siap untuk membiasakan dirimu untuk tinggal di dunia ini.” Eugene tidak ingin menjanjikan sesuatu yang dia sendiri juga masih tidak percayai. Walau begitu, bukan berarti Eugene tidak akan mencari informasi tentang tubuh yang tiba-tiba berpindah ke dunia lain, dia akan mencarinya karena entah kenapa Asia terlihat sangat membutuhkan bantuannya.
Apa yang diucapkan Eugene memang terdengar berat bagi Asia, tapi Asia memang harus menerima kemungkinan terburuk yang terjadi. “Ya, a-aku akan mencoba membiasakan diriku di sini.”
Senyum getir tercipta di bibir Asia. Dia ingin menangis lagi namun Eugene yang menggeleng dengan mata yang memicing tajam itu membuat Asia urung untuk menangis. Eugene seakan mengatakan jika dia tidak boleh menangis lagi.
“Selama di sana, kamu hanya perlu percaya padaku. Jangan membuat keributan, apalagi sampai menangis dan berteriak. Cukup tenang dan selalu dekat denganku.”
Apa yang dikatakan Eugene membuat Asia semakin tidak bisa berpikir positif tentang hutan yang akan mereka masuki.
“Bagaimana jika malam?” tanya Asia.
“Aku akan menjagamu, tidak usah khawatir.”
“Kamu tidak akan tidur?”
“Ya.” Eugene kembali melanjutkan mendayung.
Kedua tangan Asia berpegangan pada sisi perahu. Dia menggenggamnya dengan erat hingga buku-buku jarinya terlihat begitu jelas. Eugene menghela napas melihat kelakuan Asia.
“Santai saja, Asia.”
“Aku tengah mencoba untuk menenangkan diriku agar siap untuk masuk ke dalam hutan.”
“Anggap saja hutan ini sama seperti hutan yang pernah kamu masuki. Tidak ada yang berbeda dengan hal itu.”
“Perbedaan jelasnya, hewan-hewan di hutan yang kutahu tidak semenakutkan itu.”
Guncangan tiba-tiba muncul membuat Asia semakin mengeratkan pegangan dan refleks berseru, “Eugene!”
Eugene bangun dari duduknya dan loncat keluar dari perahu. “Kita sudah sampai, ayo keluar.”
Asia menoleh ke sekelilingnya dan akhirnya menyadari jika mereka sudah berada di daratan. Tangan Eugene terulur ke arahnya dan dengan ragu Asia menerima uluran tangan itu.
“Tanganmu dingin,” ucap Eugene.
“Jarimu juga terasa dingin,” balas Asia karena dia bisa merasakan jari Eugene yang tidak tertutup sarung tangan yang digunakannya.
“Tanganku tidak dingin karena takut….” Eugene mengeratkan pegangannya begitu Asia mencoba keluar dari dalam perahu. Barulah setelah Asia sudah menginjakkan kakinya di darat, dia kemudian melepaskan pegangannya dan kembali berucap, “… Berbeda denganmu karena merasa takut.”
“Iya, aku memang takut,” balas Asia dengan suara lirihnya. “Sekarang aku harus bagaimana? Aku takut jika harus mengikutimu dari belakang.”
“Aku tidak menyuruhmu untuk berjalan di belakangku.” Eugene menarik Asia agar berjalan tepat di depannya. “Kamu di depanku dan aku akan berjalan tepat di belakangmu.”
Asia berbalik dan dia mendongak menatap Eugene. “Ka-kamu mencoba untuk menumbalkanku?!”geram Asia marah.
“Menumbalkan bagaimana? Kamu tidak mau di belakang dan bisa saja ada yang akan menyerang dari samping.”
“Ya… ya tapi di depan… bukankah itu terlalu… berbahaya? Apalagi aku tidak tahu harus berjalan ke arah mana.”
“Aku yang akan memberi petunjuk. Aku berada tepat di belakangmu, seperti ini.” Eugene memutuskan kontak matanya dengan Asia. Dia menatap langit biru di atasnya.
“Aku seperti ini bukan karena tidak mempercayaimu,” ringis Asia karena sadar jika Eugene kesal dan Asia takut jika Eugene tidak mau membantunya lagi. “Tapi aku seperti ini karena aku takut.”
“Jadi, kamu mau berdiri di mana? Tapi lebih aman jika kamu berjalan tepat di depanku.” Bukan tanpa alasan Eugene menyuruh Asia berjalan di depannya. Tubuh Asia yang kurus dan tingginya yang hampir sebatas bahunya saja membuat Eugene merasa jika akan sangat mudah mengendalikannya jika Asia berada di depannya.
Asia menunduk, dia menggigit bibirnya karena merasa bingung. Berjalan di depan Eugene, sensasinya jelas akan sangat menegangkan. Tapi, jika Eugene sudah menyarankan seperti itu, apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya bisa menurutinya.
Kembali Asia mendongakkan kepalanya menatap Eugene yang terlalu tinggi. “Aku akan berjalan di depan, tapi aku ingin ini.” Asia menarik tangan kiri Eugene. “Genggam tanganku,” pintanya.
“Terserah kamu,” kata Eugene pasrah.
“Terima kasih.” Asia tersenyum singkat sebelum berbalik memunggungi Eugene dan tangan kanannya menggenggam tangan kiri Eugene.
“Berjalan lurus ke dapan,” perintah Eugene.
“I-iya.”
Langkah kaki Asia begitu berat untuk berjalan memasuki hutan. Satu langkah, dua langkah, Asia mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang semakin berdebar. Dia bisa merasakan jika Eugene berada tepat di belakangnya, tapi tetap saja Asia merasa untuk takut.
“Eugene.” Asia semakin mengeratkan genggamannya karena sudah berapa langkah lagi dia akan masuk ke dalam hutan.
“Apa?” tanya Eugene.
“Ti-tidak ada.”
Eugene sukses dibuat menahan geramannya.
Begitu mereka melewati pohon itu, Asia bisa merasakan hawa dingin karena pohon-pohon begitu rapat hingga membuat sinar matahari tidak begitu tampak. Bulu kuduk Asia terangkat dan itu membuatnya mengusap tengkuknya.
Eugene semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Asia. “Semakin cepat berjalan, semakin cepat kita sampai di kerajaan Rigel.”
“Aku akan berjalan cepat, tapi kamu juga harus tetap merapatkan tubuhmu padaku.”
“Itu sudah pasti Asia,” desis Eugene yang sudah tidak sabaran.
“Oke.” Asia mengambil napas dan membuangnya secara perlahan. Dia pun mulai melangkah dengan cepat dan tangannya semakin menggenggam erat tangan kiri Eugene.
“Terus saja berjalan ke depan.” Eugene mengingatkan.
“Iya.”
“Grrrrr…. Grrrr… Grrrrr.”
Langkah kaki Asia mendadak terhenti saat dia mendengar suara garaman yang menandakan jika ada hewan buas di dekat mereka. Mata Asia bergerak liar menatap sekelilingnya. Dia takut jika tiba-tiba muncul binatang buas di sisinya.
“Eu….”
“Diam,” desis Eugene.
Suara pedang yang dikeluarkan dari tempatnya terdengar memenuhi indra pendengaran Asia. Tangan kirinya yang di genggam Eugene ditarik hingga dia membentur tubuh Eugene. Pedang milik Eugene kemudian berada tepat di depannya.
“Tutup matamu,” desis Eugene lagi.
Seperti apa yang Eugene perintahkan, Asia langsung menutup matanya. Saat itu kemudian, Asia mendengar suara geraman lagi.
Angin berhembus dan membawa bau busuk hingga membuat Asia langsung berhenti bernapas. Tangannya yang bergetar karena ketakutan mencoba untuk menutup mulut dan hidungnya. Asia tidak kuat dengan bau busuk yang semakin tercium.
Sesuatu terdengar bergerak begitu cepat dan bersamaan dengan itu, Asia merasakan jika tubuhnya melayang dengan tangan Eugene yang tidak lepas dari tubuhnya. Bunyi sesuatu yang ditusuk dan ditebas membuat Asia berteriak karena refleks.
“Jangan buka mata sedikit pun,” perintah Eugene.
Suara tebasan itu tidak hanya satu dua kali, bahkan tubuh Asia juga tidak hanya sekali di angkat oleh Eugene. Di saat tubuhnya kembali menyentuh tanah. Asia tanpa sengaja membuka matanya dan dia melihat mayat yang tidak hanya satu atau dua.
“Eugene!” pekik Asia lalu menutup matanya lagi.