8. Keluar dari Pulau

1813 Kata
Eugene menyandarkan tubuhnya di batang pohon sakura. Di saat Eugene hampir terlelap dalam tidurnya, dia seketika mendengar suara tangis. Matanya dengan berat terbuka dan melihat Asia yang tidur dan tampak mengigau sambil menangis. “Ke-kenapa bukan aku?” “Ayah… Ibu… ke-kenapa aku tidak bisa men-mendapatkan kebahagiaanku?” Tangan Eugene terulur ke arah Asia. Tangannya berhenti tepat di atas kepala Asia, dengan ragu dia menurunkan tangannya dan mengelus kepala itu. Pelan dan lambat, Eugene takut Asia terbangun karena apa yang dia lakukan. “Bunuh diri karena patah hati.” Eugene mendengus geli. “Perasaan itu memang sangat berbahaya.” Hanya sesaat Eugene mengelus kepala Asia karena saat itu juga Asia terdiam dan tidak menangis lagi. Karena sudah terlanjur bangun, Eugene memutuskan untuk menjaga Asia sedikit lebih lama. Dia ingin memastikan Asia tidak mengigau dan menangis, karena dia tidak suka melihat gadis itu menangis. Rasanya mengganggu membiarkan air mata itu jatuh dibarengi rengekan. Melihat Asia yang sedikit menggigil karena bagian kakinya yang tidak memakai sepatu itu membuat Eugene membenarkan posisi jubahnya. Asia kembali tenang lagi dan itu membuat Eugene merasa lega. Selama hidupnya, Eugene baru menemukan seseorang yang tidak memiliki mãna dalam dirinya. Seorang yang tidak memiliki mãna harusnya sudah mati. Dunia ini bahkan terlalu berbahaya untuk seseorang yang tidak memiliki mãna. “Mencoba bunuh diri atau sebenarnya kamu hendak dibunuh?” Apa yang Asia ceritakan membuat Eugene jadi berpikir ulang. Asia mengatakan jika dia tidak mencoba untuk bunuh diri, tapi dari ceritanya itu sangat jelas sekali jika dia adalah gadis yang patah hati yang sangat berkemungkinan besar mencoba bunuh diri. “Jika kamu ingin mati, aku bisa membiarkanmu di sini.” Eugene memajukan posisi duduknya, dia kemudian merebahkan tubuhnya di samping Asia. “Tapi jika kamu tidak ingin mati, aku bisa membantumu pergi ke tempat yang aman.” * * * Asia meringsut karena merasa dingin. Dia mencoba mencari kehangatan dari arah belakangnya. Begitu punggungnya membentur sesuatu, Asia berbalik dan mencari posisi ternyamannya agar dia tetap bisa merasakan kehangatan. Saat Asia membuka matanya, hal yang pertama dia lihat adalah d**a Eugene yang jaraknya tak terlalu jauh darinya. Asia refleks mendongak dan wajahnya Eugene yang sedikit menunduk membuat Asia bisa merasakan napas Eugene membelai wajahnya. Asia dengan cepat kembali menunduk dan memundurkan tubuhnya. Cukup jauh dari tubuh Eugene, Asia segera bangun dan duduk. Dia melirik Eugene yang masih tidur dengan nyenyaknya. Eugene yang tidur entah kenapa terlihat menarik bagi Asia. Dia pun membenarkan posisi tubuhnya agar bisa melihat Eugene dengan jelas. Sejak pertama kali melihat Eugene, Asia sudah terpesona dengan ketampanan yang dimiliki Eugene. Tidak hanya memiliki wajah yang tampan, Eugene juga memiliki badan yang sangat indah. Apalagi jika badan itu tertimpa wajah cahaya matahari atau saat basah, terlihat sangat indah walau di beberapa bagian tubuh Eugene terdapat banyak bekas luka. “Jika dia tidur, dia terlihat lebih baik,” gumam Asia. Dia kemudian menghela napas. Dia mendadak teringat dengan pria yang dicintainya itu. “Kira-kira seperti apa wajahnya? Kenapa aku tidak bisa mengingat wajah dan nama tentang orang-orang di hidupku? Kenapa hanya kenangannya saja yang tertinggal?” Asia bangun dari duduknya. Dia kemudian berjalan mendekati danau. Matahari belum muncul, namun danau yang bercahaya membuat semuanya menjadi begitu jelas. Asia memasukkan tangannya ke dalam danau. Dia kemudian mengambil air yang tampak bercahaya itu. “Ini jelas karena phytoplankton. Tapi jika ini adalah ostracoda laut, tapi kenapa bisa ada di danau air tawar?” “Bahasa asing apalagi yang keluar dari mulutmu?” Asia menoleh ke belakang dan Eugene tampak berjalan mendekatinya. Eugene kemudian duduk di samping Asia. “Di sini kami menyebutnya bintang air.” “Karena dia tampak bercahaya di malam hari?” tanya Asia. “Iya seperti itu.” Eugene memasukkan tangannya ke dalam air. “Kenapa bangun sepagi ini?” “Bukankah kamu mengatakan jika kita akan keluar dari pulau ini?” “Terlalu berbahaya untuk kita keluar dari tempat ini sebelum matahari muncul.” “Apa kita di hutan belantara hingga membuatmu mengatakan jika akan sangat berbahaya hingga kita pergi di saat seperti ini?” “Ya, dan apa itu akan membuatmu takut?” “Aku beberapa kali bertemu hewan buas dan sampai sekarang aku bisa hidup.” “Seorang yang tidak memiliki mãna mengatakan dirinya bisa bertahan hidup di hutan belantara.” Eugene mengambil batu di dekatnya dan melemparnya jauh ke tengah danau. “Entah aku harus percaya atau tidak.” “Apa menurutmu aku berbahaya?” tanya Asia. “Seseorang yang tidak memiliki mãna, bagaimana bisa berbahaya?” tidak hanya karena Asia tidak mempunyai mãna, Eugene juga tahu jika Asia tidak membawa senjata yang mungkin saja Asia gunakan untuk membunuhnya. “Jadi, semua orang di dunia ini memiliki mãna? Bagaimana caramu memeriksa mãna?” “Kemarikan tanganmu.” Asia memberikan tangannya dan saat jemari Eugene menyentuh kulit tangannya, sensasi dingin itu terasa menjalar hingga ke sekujur tubuhnya. Jempol Eugene sekarang tepat di nadi Asia. “Mãna bisa dirasakan dari aliran nadi.” Saat Eugene mengatakan itu, Asia mengangkat pandangannya dan menatap Eugene. “Bagaimana rasanya mãna yang ada di dalam tubuh?” Eugene mengangkat pandangannya dan dia bertatapan dengan “Kamu ingin merasakannya?” Asia mengangguk. “Iya jika bisa.” Genggaman Eugene terlepas, sekarang giliran Eugene yang menyodorkan tangannya ke arah Asia. “Letakkan tanganmu di sini,” tunjuk Eugene pada tempat di mana nadinya berada. “Aku tahu di mana letak nadi. Apa kamu kira aku sebodoh itu?” Asia meletakkan jarinya tepat di atas nadi Eugene. Ada sensasi aneh saat dia menyentuh tangan yang berwarna tan itu. “Apa kamu merasakannya?” Asia menggeleng. “Aku hanya bisa merasakan nadimu yang berdenyut.” “Tekan sedikit lebih kuat,” perintahnya. Asia pun mengikuti perintah Eugene. Setelah itu, Eugene kembali menambahkan, “Jika sudah, akan ada sesuatu yang terasa mengalir setelahnya.” “Aku tidak merasakan apa-apa.” “Tidak memiliki mãna dan tidak bisa merasakan mãna.” Eugene tersenyum meremehkan. “Kamu pasti sangat dijaga sekali oleh keluargamu hingga tidak pernah ada orang yang tahu jika ada seorang selemah dirimu.” Asia menghempaskan tangan Eugene dengan kasar. “Tolong jaga perasaanku. Aku tidak suka mendengarnya.” Eugene memiringkan kepalanya. “Jadi kamu mau aku berkata hal yang penuh kebohongan?” Sontak saja Asia menggeleng. “Tidak, bukan seperti itu maksudku.” “Aku berbicara jujur, Asia. Jadi, terimalah kejujuran itu.” Eugene bangun dari duduknya. Dia menyodorkan tangannya ke arah Asia. “Bangun, kita harus bersiap-siap untuk pergi dari tempat ini.” “Bagaimana kita pergi?” tanya Asia. “Ada perahu dari batang pohon yang kugunakan untuk sampai di sini, jadi kita hanya perlu menaikinya.” Sisa bermalam mereka dengan cepat Eugene bersihkan. Dia tidak boleh meninggalkan jejak sedikit pun di tempat ini. Jubah miliknya yang dipakai jadi selimut oleh Asia segera dibersihkannya. Eugene melirik Asia dari atas hingga bawah. Dia terhenti di kaki Asia yang tidak menggunakan apa pun. “Apa kamu tidak ingin meminjamkan sepatumu untukku gunakan?” Pertanyaan Asia itu membuat Eugene seketika menahan napasnya dan menatap Asia dengan malas. Tadi dia berniat untuk meminjamkan sepatunya pada Asia, tapi karena Asia yang memintanya, entah kenapa jadi terdengar menyebalkan. “Apa kamu tidak kasihan pada kedua kakiku?” Asia menggerakkan jari kakinya. Eugene menghela napas kasar dan dia dengan kesal melepas sepatunya. “Pakai,” perintahnya. “Terima kasih.” Asia mengambil sepatu itu dan segera memakainya. Asia mengikatnya dengan kuat agar sepatu Eugene yang besar tidak terlepas dari kakinya. “Kamu terlihat menyedihkan,” komentar Eugene. “Ya, keadaanku memang tengah menyedihkan bukan? Aku tidak mengingat siapapun kecuali hal-hal yang kamu bilang tidak berguna.” Eugene hanya tersenyum tipis sebelum dia berjalan mendahului Asia. Asia mengikuti Eugene dari belakang. Mata Asia menatap punggung Eugene yang membawa tas dan di pinggangnya terdapat pedang yang kemarin dia sembunyikan. Melihat Eugene yang seperti ini membuat Asia sadar jika kehidupan yang dia ingat berbeda dengan Eugene. Sebuah batang pohon yang besar yang memiliki lubang di tengah-tengahnya di keluarkan dari tempat persembunyian. Asia menatap takjub perahu buatan itu. “Kamu membuat ini?” tanya Asia. “Lalu siapa lagi?” Eugene mendorong perahu itu sedikit mendekati danau. Dia kemudian menoleh ke arah Asia. “Ayo masuk.” “Tapikan perahunya belum berada di atas air.” Decakan kesal keluar dari mulut Eugene. “Cerewet, masuk saja!” perintahnya. “Iya-iya.” Asia kemudian masuk ke dalam perahu itu dan duduk menghadap Eugene yang bersiap untuk mendorong masuk perahu itu ke dalam danau. Di saat Eugene mendorong perahu itu, Asia melihat dayung yang ada di dalam perahu itu dan dia pun mengambilnya. “Jangan menyentuh apa pun.” Eugene memperingati dan hal itu membuat Asia kembali melepaskan dayung itu. Setelah masuk ke dalam danau, Eugene pun masuk ke dalam perahu. “Aku merasa tidak enak hati jika hanya kamu yang mendayungnya.” “Hmmm….” Eugene hanya bergumam dan terus mendayung, dia harus bisa keluar dari tempat ini secepat mungkin. Mereka harus secepatnya keluar dari hutan Lacaille karena hutan Lacaille penuh dengan monster yang berbahaya. Jika mereka pergi berlawanan dari tempat mereka sekarang, akan lebih banyak monster yang menunggu. Semakin jauh dari pulau yang terbentuk akibat gunung vulkanik yang ada di tengah-tengah danau, Asia bisa melihat bagaimana bentuk keseluruhan dari pulau itu yang ternyata tidak begitu besar. “Sebenarnya apa yang kamu lakukan di pulau itu? Tidak mungkin karena pulau itu indah bukan?” “Apa yang kulakukan di pulau itu, tidak perlu kamu tahu apa alasannya. Kamu cukup tahu jika aku cukup baik untuk menolongmu.” “Cukup baik? Menurutku, kamu malah sangat baik. Yah, terlepas dari sikapmu yang terkadang kasar.” “Seperti itu kamu anggap kasar?” “Jangan marah karena hal itu, yang terpenting kamu itu baik di mataku.” Eugene mendengus, dia sangat yakin jika Asia adalah putri dari salah satu bangsawan yang tidak pernah memperlihatkan jika hidup ini sangat kejam. Hampir setengah jam Eugene mendayung dan selama itu Asia hanya diam dengan dagu yang dia letakkan di atas dengkulnya. Dia memandangi Eugene yang tampak serius memandangi sekitarnya sambil mendayung. “Kita hampir sampai,” ucap Eugene. Asia menoleh ke belakang dan melihat daratan sudah berada sangat dekat dengan tempat mereka. “Waah, ak….” “Auurghhhh!” Baru saja Asia ingin mengagumi daratan yang penuh dengan rumput hijau di saat telinganya mendengar suara geraman yang sangat besar dan membuat burung-burung beterbangan. Asia buru-buru kembali ke posisinya. Matanya menatap Eugene dengan tegang. “Su-suara apa itu? Apa itu singa?” tanyanya. “Singa? Hewan lemah itu?” “Lemah? Singakan raja hutan.” “Tapi di sini tidak, Asia.” Karena penasaran, Asia kembali menoleh ke belakang dan mendapati hewan yang seperti kupu-kupu tapi sangat besar. Kupu-kupu besar itu tengah beterbangan mengejar seekor rusa yang tampak pincang dan saat itu juga kupu-kupu itu mengerubungi rusa itu. Tak berapa lama kemudian kupu-kupu itu pergi dan rusa yang tadi pincang tidak terlihat lagi. Asia kembali menatap Eugene dengan horor. “A-apa itu?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN