7. Ingatan

1819 Kata
Setelah memastikan kantung yang berisi raspberry penuh, Eugene pun bergegas kembali ke tempat di mana dia meninggalkan Asia. Hari sudah semakin sore dan Asia menangis dalam waktu yang cukup lama dan sekarang Asia tengah tertidur karena kelelahan. Sampai di tempat di mana dia meninggalkan Asia, Eugene melihat Asia yang berada di pinggir danau. Gadis itu sudah bangun dari tidurnya ternyata. Dengan langkah kaki yang cepat, Eugene menghampiri Asia. “Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan membuat gaunmu basah untuk ketiga kalinya.” Asia mendongak menatap Eugene. “Jika aku mencoba untuk tenggelam sekali lagi, apa mungkin aku bisa kembali ke tempatku?” tanya dengan suara yang getir. “Kamu sudah mencobanya tadi siang bukan?” Eugene tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Asia, ke tempat mana yang sebenarnya Asia inginkan? Berpindah tempat dengan waktu yang cepat, itu jelas tidak bisa dilakukan. “Tapi kamu menolongku, seharusnya kamu tidak menolongku bukan?” “Aku menolongmu karena kamu bisa mati jika kubiarkan begitu saja.” “Tapi siapa tahu dengan begitu aku bisa pulang,” lirih Asia. Eugene menundukkan tubuhnya dan menggenggam pergelangan tangan Asia. Dia menarik tangan Asia hingga memaksa Asia untuk bangun. “Kamu mau apa?” tanya Asia bingung karena dipaksa untuk bangun. “Jika kamu ingin tenggelam, kenapa kamu harus menungguku? Seharusnya kamu melakukannya di saat aku pergi mencarikanmu makan.” Eugene tersenyum sinis. “Kamu tidak melakukannya karena kamu sendiri sadar jika kamu akan mati jika tenggelam bukan?” Mata Asia bergetar, dia terlihat sendu. Dengan takut-takut dia mengangguk. “A-aku ingin pulang,” lirihnya. Asia menarik tangannya dari tangan Eugene. “A-aku tidak punya siapa-siapa di sini. Ke mana aku harus pergi? Apa aku bisa bertahan hidup di tempat yang aku sendiri tidak tahu?” “Apa kamu yakin tidak mengenal keluargamu?” Asia mengangguk. “Asal kerajaanmu sekalipun?” “Di sini bukan tempatku. Aku tidak berasal dari kerajaan manapun.” “Mungkin kamu akan mengingatnya jika kita keluar dari gunung Lacaille.” Eugene masih tampak ragu mendengar penuturan Asia. “Kamu tidak akan meninggalkanku bukan?” tanya Asia memastikan. Eugene terdiam, meninggalkan seorang gadis yang tidak memiliki mãna jelas berbahaya. Dia kemudian menyodorkan raspberry yang sudah dia dapatkan. “Kamu sudah tahu jawabannya dan lebih baik kamu makan ini untuk mengganjal perutmu.” Asia menerima beri yang diberikan Eugene. “Apa kamu tidak akan memakannya juga?” tanya Asia. “Tidak, aku akan mencari ikan untuk makan malam kita.” Asia mengangguk mengerti. “Semangat,” katanya dengan senyum kecil yang dia paksakan untuk tersungging. “Jangan mengatakan hal yang menjijikan seperti itu,” ucap Eugene sambil membuka sepatu yang dia kenakan. “Akukan hanya mengatakan semangat, apa yang salah dengan hal itu?” tanya Asia. “Aku tidak suka.” Eugene berbalik meninggalkan Asia, tapi sebelum dia benar-benar menjauh dari Asia, Eugene mengatakan, “Jika kamu ingin diselamatkan olehku, lebih baik ikuti apa yang kuucapkan.” Sudah diancam seperti ini, Asia memilih untuk diam. Setidaknya dia punya Eugene yang akan membantunya untuk pergi ke tempat yang lebih aman, dan tidak menutup kemungkinan jika Eugene juga akan membantunya mencari solusi agar dia bisa pulang dan berkumpul lagi dengan keluarga yang Asia sendiri tidak ingat nama dan wajahnya itu. Asia menatap Eugene yang perlahan memasuki danau. Eugene kemudian terlihat menyelam dan menghilang. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari di mana Eugene akan muncul, tapi Eugene tidak kunjung terlihat ke permukaan. Tidak kunjung melihat Eugene muncul, Asia memilih untuk menunduk menatap tanah di depannya. Setiap melihat danau, Asia jadi teringat tentang apa yang sudah dia lalui sebelum sadar di sini. Rasa sakit akibat mengetahui orang yang dicintainya menikah dengan orang lain dan rasa sakit akibat tenggelam di danau. Dua hal itu yang paling Asia ingat dan masih bisa dia rasakan sakitnya. Keduanya membuat dadanya terasa sesak. “Kamu bisa duduk diam juga.” Suara itu sukses membuat Asia terlonjak kaget. Dia menoleh ke belakangnya dan mendapati Eugene yang datang dengan dua ekor ikan dan kayu bakar. Asia mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Eugene muncul di belakangnya? “Bukankah kamu tadi di sana?” tunjuk Asia pada arah danau di depannya. “Jika ikan ada di depan sana, tentu aku akan muncul dari arah depan.” Eugene melempar begitu saja kayu bakar yang dia dapatkan. Asia dengan sigap membantu Eugene untuk membenarkan posisi kayu bakar. Asia kemudian melihat batu yang Eugene pakai untuk menciptakan api. Asia pun mencoba untuk menggunakannya, tapi api yang dia harapkan muncul tidak kunjung muncul. “Lepas itu!” perintah Eugene. Asia langsung melepaskan itu. Dia melirik Eugene yang sekarang duduk di depannya. “Jangan melakukan sesuatu yang akan membuatku kesal.” “Aku hanya ingin membantumu menyalakan api.” Pipi Asia mengembung karena kesal. “Apa menurutmu itu salah?” tanyanya mencoba untuk menahan kekesalannya. “Ya caramu menyalakan api itu membuatku kesal.” Eugene meletakkan ikan tangkapannya itu. Dia pun mengambil alih batu api itu dan menyala dengan sekali gesekkan. Begitu mudah dan Asia hanya bisa melongo melihatnya. “Anak yang berusia 5 tahun pun bisa melakukan ini,” tambah Eugene datar. Asia merengut, dia merasa terhina oleh apa yang Eugene katakan. Diakan tidak berasal dari tempat antah berantah ini. Di tempatnya bahkan lebih canggih karena ada alat yang namanya korek api yang bisa menyalakan api hanya dengan sekali jentik. “Aku akan mengganti celanaku, perhatikan itu.” Eugene mengambil tasnya. “Perhatikan ikan itu!” teriak Eugene keras. “Iya!” Asia beranjak dan duduk di mana Eugene tadi duduk. Dia kemudian membalikkan ikan itu dengan kesal. Tak lama kemudian Eugene datang dan mendorong Asia yang duduk di tempatnya berada. Asia menatap Eugene dengan kesal. “Apa kamu tidak bisa menyuruhku untuk minggir saja?” Asia menepuk tangannya yang kotor. Dia mencoba untuk sabar dengan semua perlakuan kasar yang Eugene berikan. “Kamu terlalu lama.” Asia menatap tangannya yang masih tampak kotor. Dia hanya melirik Eugene sekilas sebelum dia akhirnya bangun dari keterdudukannya dan pergi menjauhi Eugene. Eugene yang melihat itu seketika terlihat panik. Saat itu juga Eugene bangun dari tempat duduknya dan mengejar Asia. Tangan kecil Asia ditariknya begitu saja hingga membuat tubuh Asia tersentak ke belakang dan membentur tubuh Eugene. “Jangan mencoba untuk melakukan hal gila!” seru Eugene keras. “Apa!” teriak Asia. Detik itu juga Eugene membalikkan tubuh Asia hingga mereka bertatapan satu sama lain. Terlihat rahang Eugene mengeras. “Jika kamu ingin bunuh diri, jangan di dekatku,” kata Eugene dengan suara yang rendah. Matanya berkilat tajam. “Siapa yang ingin bunuh diri?” Asia memundurkan tubuhnya agar tangan Eugene yang ada di bahunya terlepas, namun hal itu sia-sia karena cengkeraman Eugene terlalu kuat. Asia kemudian memperlihatkan tangannya. “ Bagaimana bisa aku makan jika kedua tanganku kotor!” Kedua tangan Eugene yang ada di bahu Asia terlepas. Asia mendengus geli melihat Eugene yang tampaknya malu. Asia berbalik dan bergumam, “Ini kotor juga karena kamu.” Tiba di pinggir danau, Asia mencuci tangannya. Dia bisa merasakan jika Eugene tengah menatapnya dengan lekat. Saat Asia berbalik, dia mendapati Eugene memunggunginya. Ternyata hanya perasaannya saja jika Eugene tengah menatapnya. Asia kembali lagi ke tempatnya semula, dia menatap Eugene yang tampak fokus pada ikan yang tengah dibakarnya. Tidak ada suara yang Eugene keluarkan saat itu, yang terdengar di antara mereka hanyalah suara-suara alam. “Hey, Eugene,” panggil Asia. “Hmmm?” “Apa kamu seorang prajurit kerajaan?” tanya Asia penasaran. “Kenapa kamu berpikir aku seorang prajurit?” Tatapan matanya terlihat meremehkan. “Karena kamu membawa pedang.” “Membawa senjata ke alam liar itu harus dilakukan oleh semua orang. Bahkan yang aneh itu kamu, tidak membawa apa-apa sampai sejauh ini.” Walau terdengar ketus dan tidak bersahabat, entah kenapa Asia tidak merasa kesal, karena apa yang dikatakan Eugene adalah informasi. “Jadi, apa yang kamu lakukan di sini?” “Apa yang kulakukan itu tidak penting. Yang menjadi permasalahan di sini, apa kamu tidak mengingat tentang hal yang mungkin saja menjadi petunjuk agar aku bisa membawamu pulang.” “Aku tenggelam dan saat aku terbangun, aku sudah berada di tempat ini.” “Benar-benar tenggelam atau kamu memang sengaja dibuang ke sini?” Asia menggeleng. “Tidak, aku ingat betul jika aku pergi ke gunung dengan teman-temanku dan aku melihat orang yang kucintai melamar kekasihnya dan….” Ucapan Asia terhenti karena Eugene tertawa. “Apa menurutmu itu lucu?” tanya Asia. “Sekarang aku mengerti kenapa kamu bisa sampai ke sini.” “Apa?!” Asia terlihat semangat, siapa tahu dia bisa mengetahui cara dia kembali pulang lagi. “Kamu mencoba bunuh diri karena merasa patah hati. Berharap mati, tapi kamu malah ditemukan olehku.” Eugene memperlihatkan seringainya yang malah membuat dirinya terlihat menawan. “Itu alasan paling logis sekarang,” tambah Eugene. Penjelasan Eugene membuat Asia dengan refleks menampar Eugene hingga membuat Eugene terdiam dan memegangi pipinya. Asia yang panik buru-buru menyentuh pipi Eugene namun dengan cepat Eugene menepis tangan Asia. “A-aku ti-tidak sengaja, sumpah!”katanya panik. “Aku refleks.” Tatapan penuh emosi terlihat jelas dari sorot mata Eugene. Kedua tangannya bahkan terkepal dengan erat di sisi tubuhnya. Sesaat setelah dia memejamkan matanya, Eugene kemudian berucap, “Kali ini aku memaafkanmu.” Asia mundur lagi dan menunduk. Dia melirik Eugene takut-takut. Dia harus menjelaskan semuanya agar Eugene percaya padanya. Dengan suaranya yang bergetar, Asia pun berucap, “Aku tidak berniat bunuh diri karena patah hati. Aku terjatuh ke danau karena melihat batu bercahaya.” “Sebuah batu bercahaya, itu tentu sudah biasa.” “Ini pertama kalinya aku melihat batu yang bercahaya seperti itu dan saat batu itu sudah ada di tanganku, sesuatu seakan menarikku ke dalam danau dan aku tenggelam.” “Hmmm.” “Saat aku tenggelam, aku melihat bunga edelweiss jatuh seperti hujan dan setelah itu aku tiba-tiba sudah ada di tempat ini.” “Tempat ini, kamu mengatakannya seakan tidak berasal dari dunia ini.” Asia menjentikan jarinya. “Aku memang berasal dari dunia lain!” “Tidak ada yang berbeda Asia, kamu bahkan tahu jika bahasa yang kita gunakan sama” Eugene menghela napas lelah. “Tapi, banyak hal yang kusebut dan kamu malah tidak mengerti tentang hal itu dan pedangmu tadi, aku tidak pernah melihat hal seperti itu.” “Masalah bahasa, mungkin aku yang tidak tahu banyak hal karena aku bukan seorang bangsawan. Biar ini jelas, coba sebutkan nama temanmu, aku bisa saja menemukan dua temanmu itu,” kata Eugene. “Tunggu.” Asia terlihat berpikir. Dia mencoba mengingat nama yang mungkin bisa dia ingat, tapi tidak ada yang dia dapatkan. Dengan lirih Asia berucap, “Aku tidak ingat nama mereka.” Eugene menutup wajahnya. “Jadi yang kamu ingat hanya namamu saja ‘Asia’ dan beberapa kosa kata aneh saja?” Eugene menggelengkan kepalanya tidak habis pikir tentang apa yang terjadi. “Ya, bisa dikatakan tidak ada nama seseorang di kepalaku selain namaku Asia. Aku tidak tahu aku berasal dari mana, tapi aku ingat bagaimana kehidupanku yang dulu berjalan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN