6. Apa yang Harus Kulakukan Sekarang?

1638 Kata
“A-aku sudah menyuruhmu untuk tidak ma-marah, bukan?” “Aku tidak akan marah jika kamu tidak mengatakan hal yang menyebalkan.” Asia menggeleng. “Itu jelas tidak menyebalkan, aku hanya memberimu saran. Bagaimana kamu bisa lepas dariku jika kamu tidak mengikuti saranku?” Eugene menghela napas lelah. “Begini Asia, apa yang kamu katakan itu tidak bisa kulakukan. Menelepon polisi? Apa itu? Aku sama sekali tidak mengerti.” “Menelepon polisi, itu….” Asia terlihat berpikir, dia harus menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya pada Eugene, hingga tidak ada kesalahpahaman di antara mereka. “Menelepon polisi itu maksudnya… berbicara dengan seorang polisi dengan perantara ponsel.” “Aku masih tidak mengerti dan asal kamu tahu di sini tidak ada ponsel.” “Apa kamu tidak membawa ponsel ke sini?” “Bukan tidak membawa, aku tidak memilikinya dan apa itu ponsel?!” Pengakuan Eugene membuat Asia menatap pria itu takjub sekaligus ngeri. “Aku baru tahu di zaman ini ada orang yang tidak memiliki ponsel.” “Aku bahkan baru tahu jika ada gadis bangsawan yang berkata melantur. Pendidikan sekeras apa yang diberikan keluargamu hingga membuat kamu menjadi gila seperti ini?” Eugene tersenyum mengejek. “Aku bukan dari keluarga bangsawan dan orangtuaku….” Asia tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. “Oke, berarti gadis desa yang gila.” Eugene kembali tersenyum mengejek. “Pantas saja kamu bisa tiba-tiba muncul di tempat sejauh ini.” “Aku pergi mendaki dan itu wajar bukan untuk jauh dari rumah?” “Untuk apa seorang gadis mendaki? Apa kamu ingin mati? Atau kamu adalah b***k yang berusaha kabur.” Mendengar dirinya disebut sebagai b***k, Asia menatap Eugene marah. “Aku bukan b***k!” serunya tak terima. “Dan asal kamu tahu, panggilan itu sangat kasar untuk seorang manusia!” “Oke aku minta maaf.” Eugene tidak ingin berdebat lebih lama lagi. Namun di saat itu, Eugene teringat satu hal. “Ulurkan tanganmu,” perintah Eugene. “Untuk apa?” Setelah dimarahi seperti itu, Asia tentu curiga dengan apa yang diperintahkan oleh Eugene. “Aku ingin memastikan sesuatu,” kata Eugene tidak sabaran. “Kamu tidak akan menyakitikukan?” tanya Asia waspada. “Bukankah sudah kukatakan? Jika aku ingin menyakitimu, aku sudah membiarkanmu mati tadi malam!” Sedikit ragu, Asia pun menyodorkan kedua tangannya. Nadi Asia kemudian diperiksa dan Eugene tampak memejamkan matanya. Alis tebalnya tampak berkerut selama beberapa saat sebelum akhirnya dia membuka matanya dengan perlahan. “Bagaimana bisa aku tidak merasakan mãna dalam dirimu?” tanya Eugene serius. Tadi malam dia juga tidak merasakan mãna dalam diri Asia dan awalnya dia mengira karena Asia tengah berada di titik terendahnya hingga membuat aliran mãnanya tidak terdeteksi olehnya. “Mãna? Apa itu mãna? Sekarang giliran aku yang tak mengerti tentang apa yang kamu ucapkan.” “Energi sihirmu, bagaimana bisa kamu tidak memiliki mãna? Dengan keadaan seperti itu, sangat tidak mungkin bagimu untuk selamat jika kamu bukan seorang yang kuat.” Asia menarik kedua tangannya. “Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Sihir? Apa kamu pikir kita ada di sebuah game yang memiliki penyihir?” Asia tertawa. “Ya memang di dunia ini ada sihir.” Ucapan Eugene sukses membuat Asia terdiam. Dia menoleh ke arah Eugene. Awalnya Asia terlihat serius, sebelum akhirnya dia seketika tertawa. “Aduh, gila. Hey, Eugene, di dunia ini tidak ada yang namanya sihir.” Eugene bangun dari duduknya, dia mengambil sebuah benda yang tertutup kain. Asia tidak sadar jika ada benda itu di dekat tas Eugene. Benda itu tampak besar dan begitu kain itu terbuka, terlihatlah sebuah pedang yang masih terbungkus rapi dalam sarung pedangnya. Asia yang melihat pedang itu seketika ingin pergi dari tempat itu, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. “Ba-bagaimana bisa kamu membawa sebuah pedang? Kamu bisa ditangkap po-polisi.” Eugene tidak menanggapi ucapan Asia, dia kemudian dengan sengaja mengeluarkan benda tajam itu dari sarung pedangnya. Saat itu juga, Asia akhirnya melihat sebuah pedang yang tampak indah dan menakutkan dalam satu waktu. Awalnya pedang itu tampak seperti kristal putih hingga akhirnya pedang itu mengeluarkan sinar kebiruan. “Apa kamu bisa melihat aliran mãnaku pada pedang ini?” tanya Eugene. Asia menutup mulutnya tak percaya sebelum akhirnya dia memicingkan matanya curiga. “Di sana pasti ada tombol rahasia untuk menyalakan cahaya birunya.” Dituduh membuat trik, Eugene pun mengulurkan pedangnya ke arah Asia. “Periksa,” perintahnya. Ragu-ragu, Asia menyentuh pedang itu dan saat tangan Eugene hendak melepaskan pedangnya itu, pedang itu hampir saja jatuh jika tangan Eugene tidak dengan sigap menahannya. “Tanganku lemas,” keluh Asia. Eugene mengambil alih pedangnya lagi dan membiarkan Asia untuk memeriksa tanpa harus membuatnya menggenggam pedang itu. Tangan Asia menyentuh permukaan gagang pedang dan tidak ada tombol apa pun di sana. “Tidak ada bukan?” Asia terdiam, dia tidak bisa berkata-kata. “Apa kamu bisa mengulang apa yang kamu lakukan tadi?” pintanya. Eugene mengeluarkan pedangnya lagi dan memperlihatkan bagaimana mãnanya menyelubungi pedang itu. Pedang yang awalnya hanya dia perlihatkan segera dia tebaskan ke samping kirinya hingga menciptakan jejak cahaya yang mengenai batang pohon dan akhirnya meninggalkan goresan. Asia terdiam tidak bisa berkata-kata. Bola matanya tampak bergetar, dia kaget dengan apa yang baru saja dia saksikan. Tanpa bisa dicegah, tubuh Asia merosot ke tanah. Asia menatap nanar tanah yang ada di depannya. Apa yang Eugene perlihatkan tampak seperti di game-game yang dia mainkan. Dia tidak mungkin tengah dikerjai bukan? Secanggih apa teknologi yang Eugene gunakan hingga dapat mengeluarkan sesuatu dari pedangnya itu? Eugene berjongkok di depan Asia. Dia menatap Asia dengan tatapan yang tajam. “Kenapa sekaget itu?” tanya Eugene dengan suaranya yang rendah dan terdengar datar. “A-apa di sini ada kamera?” tanya Asia. Asia mengangkat pandangannya. Matanya tampak ingin menangis. “Katakan kalau ini semua bohong?” “Tidak ada kamera dan aku bahkan tidak tahu apa itu kamera.” Asia menggeleng, dia meraih bahu Eugene. “Se-sebenarnya ini di mana?” tanya Asia. “Gunung Lacaille.” “Di negara apa?” “Negara? Apalagi itu?” Eugene tampak menahan kekesalannya karena mendengar Asia terus-terusan mengeluarkan kosa kata yang tidak dia mengerti. “Wilayah, anggap saja seperti itu!” ucap Asia tak sabaran. “Ini tidak berada di wilayah tiga kerajaan mana pun.” “Kerajaan?” gumam Asia. “Apa kamu bisa memberitahuku tentang tiga kerajaan itu?” pintanya. “Rigel, Ascella, dan Pollux.” Kedua tangannya yang ada di bahu Eugene perlahan terlepas dan dia kembali terduduk di posisinya. Tiga nama kerajaan itu terdengar sangat asing di telinganya. Walau dia tidak ingat dari mana dia berasal, ataupun nama dari setiap negara diingatannya, tapi Asia sangat yakin jika tiga kerajaan itu tidak ada diingatannya. Asia bangun dari duduknya, dia menatap sekelilingnya lagi. Dia kemudian mendekati pohon sakura yang ada di dekatnya dan menendang pohon itu dan tidak ada pergerakan sama sekali dari pohon itu. Mata Asia bergerak liar dan dia dengan cepat mencoba menggali akar pohon sakura itu. Tanah pohon itu sangat kuat dan hal itu membuat Asia menghentikan gerak tangannya. Kekuatan tanah ini jelas membuktikan jika pohon sakura yang ada di depannya ini tidak ditanam dengan paksa. “Sebenarnya apa yang kamu lakukan!” Eugene sudah hilang kesabaran sekarang. “Jika kamu semakin bertingkah aneh, aku akan meninggalkanmu di sini!” Asia bergeming dia sudah tidak ada tenaga lagi sekarang. Dengan lesu, Asia membiarkan tubuhnya tidur di atas tanah. Eugene hanya bisa menahan napasnya melihat tingkah Asia. Dia sudah berbaik hati mau membantu Asia pulang karena dia sadar jika Asia tidak memiliki mãna dan senjata yang akan dia gunakan untuk melindungi dirinya. Eugene yang melihat Asia seperti itu memilih untuk menjauh. Dia kemudian memperhatikan Asia dari kejauhan. Dia akan membiarkan gadis aneh itu untuk menjernihkan pikirannya. Di tempatnya Asia terdiam. Dia mencoba menelaah tentang apa yang sudah terjadi. Apa yang dia ketahui dengan Eugene ketahui jelas sangat berbeda jauh. Tapi anehnya, Asia sadar jika ada beberapa hal yang ada diingatannya yang hilang. Nama setiap orang dikehidupannya tidak ada. Tidak hanya itu, nama dari setiap negara juga tidak dia ingat. Yang Asia ingat hanya bagaimana hal-hal yang pernah dia jalani dikehidupannya dan bagaimana kehidupan di tempatnya itu berjalan. Eugene menatap gadis tanpa mãna yang sudah sukses membuatnya merasa terusik dengan kehadirannya. Gadis itu sudah menangis selama berjam-jam dan itu membuatnya merasa kesal. Kekesalannya membuat Eugene bangun dari duduknya dan menarik tangan Asia. “Aawww!” pekik Asia karena sebelah tangannya ditarik begitu saja oleh Eugene. Bahkan di detik itu juga Eugene menggendong Asia. “Apa mau mu?!” teriak Asia. Jejak air mata di wajahnya tampak sangat jelas. “Menjernihkan pikiranmu.” Asia memberontak, apalagi saat dia melihat Eugene membawanya ke dekat danau. “Pikiranku sudah jernih!” teriak Asia. “Oh ya?” “Iya! Aku bisa menjelaskan semuanya!” Eugene melirik Asia. “Jangan menguji kesabaranku,” lirih Eugene. Asia melingkari tangannya dileher Eugene agar dia tidak dijatuhkan ke dalam danau karena sekarang Eugene sudah berada di dalam danau. “Ja-jangan lepaskan aku! Aku takut!” Pegangan Asia pada Eugene begitu kuat. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya di leher Eugene. Eugene bahkan bisa merasakan air mata Asia yang menyentuh kulitnya itu. Suara isak tangis Asia terdengar semakin lama semakin keras. Mendengar Asia yang menangis, Eugene kebingungan. Harus bagaimana dia sekarang? Dia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. “A-aku ta-takut.” “Aku tidak akan membunuhmu,” balas Eugene dengan sedikit menahan geraman. Dia sudah lelah mengatakan pada Asia jika dia tidak akan membunuh gadis itu? Asia menjauhkan wajahnya dari tubuh Eugene. Dia mendongak menatap Eugene. Matanya yang meninggalkan jejak-jejak air mata itu membuat Eugene yang melihatnya terdiam. “Eugene… a-apa yang ha-harus kulakukan se-sekarang?” tanya Asia. “A-aku ta-takut.” Kembali air mata Asia mengalir dari mata hitamnya. Eugene yang melihat Asia kembali menangis segera membawa kepala Asia mendekati tubuhnya lagi. Dia menahan kepala itu di dadanya. “Tenangkan dirimu dulu,” katanya datar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN