Chapter 4: Sebuah Isu Besar

2476 Kata
This picture that you and I will paint, it will become a dazzling star and fall on us. |For You - BTOB| . . MASIH tersisa dua jam sebelum latihan dimulai. Nada memutuskan untuk mengajak sepeda kayuhnya berkeliling kampus sebanyak dua kali. Tubuhnya sudah cukup melakukan pemanasan. Di sebuah kursi kosong di depan danau, dia memarkirkan sepedanya dan duduk mengamati burung-burung yang beterbangan. Saat kepalanya menengadah, pipinya terasa dingin. Nada tersentak kaget saat melihat seorang laki-laki yang tak pernah dilihatnya—atau sebenarnya mungkin pernah—menempelkan kaleng botol minuman dingin ke pipinya. “Sori, kaget, ya?” Nada melemparkan tatapan tajam sebelum berdiri dan mengambil sepedanya. Laki-laki itu menahan. Wajahnya tersenyum manis, tapi hal itu tak terlalu mempengaruhi Nada. “Sori, siapa?” Wah, bener-bener, deh, pikir laki-laki tersebut. Dia mengulurkan tangannya. “Grizzly. Yang kemarin makan kepiting rebus bareng. Inget?” Nada mengangkat sebelah alisnya. Ah, ternyata si pengganggu itu. Gadis itu menangkap lemparan kaleng minuman dari laki-laki itu. “Nggak ada racun,” kata Grizzly sambil duduk. Yah, siapa tahu. Lagipula curiga sudah menjadi kebiasaan Nada. Butuh beberapa saat baginya untuk menduduki tempat di samping Grizzly. Dia hanya tak terbiasa. Nada mengamati lagi laki-laki itu dengan teliti. Sepertinya memang bukan Grizzly. Postur tubuhnya tak sama seperti yang dia lihat malam itu. Grizzly tak berbahaya, mungkin. “Aku bawa bekal. Tadi buat di kamar. Mau coba?” Grizzly tak berhenti menawarkan apa saja yang dia bawa. “Ini sandwich isi telur dadar.” Lumayan, pikir Nada. Untuk ukuran seorang laki-laki semacam Grizzly yang sekilas tampak tak bisa melakukan hal apa pun dengan benar, sandwich buatannya sangat rapi. Atau jangan-jangan dia mengklaim sandwich minimarket itu buatannya? “Ini makanan favoritku waktu kecil. Ayahku yang sering buatin, terus ngajarin aku.” Dia bercerita, seolah-olah mendengar isi pikiran Nada beberapa saat tadi. “Kalo kamu?” “Apa?” “Makanan favoritmu?” Apa ini semacam tren modus terbaru? Bertanya tentang makanan favorit. “Mi instan.” Mendengar jawaban itu, Grizzly tertawa lepas. “Cinta negeri banget.” Setelah menghabiskan sandwich, yang mana Nada harus akui bahwa buatan Grizzly memang enak, laki-laki itu menawarkan diri untuk menuntun sepeda milik Nada. Gadis itu tak menolak. Setidaknya dia tahu sedikit tentang Grizzly kalau-kalau laki-laki itu berniat membawa kabur sepedanya. “Oh, lupa. Kamu fakultas apa, ya? Jurusan?” Apa ini? Mengapa dia terus bertanya? Apa dia sebenarnya bagian dari agen mata-mata yang menculik anak tak berdosa? Atau dia bagian dari laki-laki yang dia lihat malam itu? Grizzly mendengus dalam hati. Gadis di sampingnya benar-benar tak bisa mengontrol ekspresinya yang penuh rasa curiga. “Enggak jadi, lupakan. Kapan-kapan aja jawabnya. Mau dateng ke tanding taekwondo minggu depan? Kamu tahu gedung olahraga, kan? Di situ.” Grizzly akhirnya mengubah topik. “Aku mau tanding.” Nada masih diam. Dalam otaknya sedang menganalisis motif apalagi yang tersembunyi dari laki-laki di depannya. Dia tak akan semudah itu termakan perangkap. “Itu pun kalau kamu nggak ada jadwal nge-bully sana-sini,” lanjutnya terkekeh. “Liat aja nanti.” Akhirnya! Grizzly melambaikan tangan saat Nada akhirnya memasuki asrama perempuan. Laki-laki itu tersenyum singkat sambil melanjutkan lari paginya. *** Latihan hari ini berlangsung dengan cepat. Nada membuka lokernya dan menemukan setumpuk pakaian yang telah dia pakai sebelumnya. Akibat padatnya jadwal, Nada sampai lupa belum mencucinya. Gadis itu mendecak sebal. Kemudian saat mengambil semua pakaian itu, matanya tak sengaja melihat seorang gadis cupu yang dia temui di atap saat itu. “Hei!” seru Nada sinis. Gadis cupu itu berhenti sambil kebingungan. Dilihatnya sekeliling dan menyadari bahwa dirinya sendirian. “Sa-saya?” “Ya siapa lagi?” sahut Nada. “Sini.” Gadis cupu itu menurut. Hatinya kembali bergetar, takut dengan apa yang akan Nada perbuat pada dirinya. “Cuciin semua baju ini sampai bersih. Awas kalau masih kotor!” Nada memindahkan tumpukan baju dari tangannya ke tangan gadis cupu itu. “I-iya, Kak. Na-nanti saya setrikain juga.” “Bagus.” Nada tersenyum puas. Dia menepuk pundak gadis cupu itu tiga kali dan berjalan pergi. Usai kepergian Nada, gadis cupu yang sebenarnya bernama Fira itu mengentakkan kakinya dengan sangat kesal. Bahkan dia mencengkeram pakaian kotor milik Nada seolah-olah akan membakarnya. “Dasar iblis! Aku doakan kamu segera dapat karmanya!” Fira pun pergi ke penatu dengan cepat, tanpa menyadari jaket kesayangan Nada terjatuh dari genggamannya. Sore itu sebenarnya Fira harus menyelesaikan tugas kuliahnya, tapi cucian Nada terlalu banyak sehingga dia terjebak di penatu. Sambil menunggu pakaian itu selesai dicuci, Fira berpikir keras bagaimana menyelesaikan tugasnya sebelum deadline jam delapan malam nanti. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi teman-teman sekelasnya. Namun, sayang … tak ada yang mau membantu. Karena Fira sudah dikenal sebagai sasaran empuk perundungan Nada, semua orang jadi ikut menjauhinya lantaran tak ingin berurusan dengan Nada. Fira tertawa dengan air mata yang mengempul. Dia adalah anak yang baik. Dibesarkan penuh kasih sayang oleh kedua orangtuanya. Bahkan di padatnya jadwal kuliah, dia masih sering menyempatkan diri untuk membantu ibunya mengantar makanan ke pembeli. Gadis itu selalu berusaha membangun kehidupannya dengan baik. Tapi mengapa Semesta harus merusak kehidupan Fira dengan menjadi b***k Nada? Harapannya memiliki kehidupan perkuliahan dengan normal telah pupus. Hanya sekadar keluar dari asrama saja dia harus was was dengan kehadiran Nada. Untuk makan di kantin saja dia harus menunggu sepi agar tak bertemu Nada dan kawan-kawannya, akibatnya dia hanya bisa mendapatkan makanan sisa yang sudah mendingin. Tak pernah dibayangkannya betapa sedih kedua orangtuanya jika tahu kondisi Fira saat ini. Mesin cuci berdenting, tanda pakaian sudah selesai dicuci dan siap ke tahap pengeringan steam. Fira mengetuk-ngetuk jarinya di atas mesin cuci, berharap proses steam drying ini berlangsung dengan cepat. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Sial! Tinggal satu jam lagi kesempatannya menyelesaikan tugas. Mana dia belum menyetrika semua baju ini lagi. Sekitar 15 menit kemudian, baju benar-benar selesai dikeringkan. Fira buru-buru menyetrika semua baju itu dengan baik, kemudian dibungkus dengan plastik pelindung. Tinggal tiga puluh menit lagi! Fira berlari memasuki asrama sambil terhuyung-huyung membawa baju-baju Nada. Mereka berdua sudah membuat janji untuk bertemu di tangga darurat. Sampai di sana, ternyata Nada juga membawa Bella dan Krista. Fira meneguk salivanya. “I-ini, Kak. Sudah saya siapin dengan baik. Se-sekarang saya sudah boleh pulang, kan?” Nada menggeleng pelan sambil tersenyum. “Kata siapa? Biar aku cek dulu satu per satu.” Fira menggigit bibir bawahnya, khawatir setengah mati kalau sampai telat menyelesaikan tugas. “Tunggu deh!” Wajah Nada mengeras tatkala dia menyadari ada satu bajunya yang hilang. “Jaket kesayangku mana?” “Ja-jaket? Saya nggak lihat ada jaket tadi, Kak….,” balas Fira ketakutan. Nada membanting baju-bajunya ke lantai, lalu menjambak rambut Fira hingga gadis itu mengerang. “Itu jaket kesayanganku! Kamu ke manain?!” “Jaket dari Italia itu?” tanya Bella. “Wah, anak cupu ini tau aja kalau itu jaket mahal.” “Pasti dijual, kan?” sahut Krista memprovokasi kemarahan Nada. Fira berusaha melepaskan cengkeraman tangan Nada di rambutnya sambil memohon-mohon. “Sa-saya beneran nggak lihat jaket itu, Kak. Tadi nggak ada sama saya.” “Bohong!” bentak Nada. “Jelas-jelas aku lihat jaket itu ada di tumpukan baju-baju yang lainnya. Kamu apain, hah?!” Nada semakin menguatkan cengkeramannya di rambut Fira sampai gadis itu oleng ke belakang. Fira masih berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh Nada menjauh. “Kamu ke manain jaketku?! Kenapa kamu hilangin?!” tanya Nada sekali lagi dengan wajah yang memerah. “Balikin!” “Sa-saya nggak tahu, Kak! Saya nggak tahu!” Tanpa sadar, Fira mendorong d**a Nada dengan keras. Nada terkejut dan melepaskan cengkeramannya di rambut Fira. Dia terbatuk-batuk sambil menyentuh dadanya yang sakit dan kemudian … BRUK! Nada membulatkan mata saat melihat Fira jatuh dari tangga hingga terguling-guling sampai lantai dasar. Fira tak sadar dirinya ada di ujung tangga saat memilih untuk mendorong Nada menjauh. Akibatnya dia justru mencelakai dirinya sendiri. “A … astaga!” Bella langsung turun dan mencoba membangunkan Fira yang tak sadarkan diri. “Ah…!” Krista langsung menjerit saat melihat kepala Fira mengeluarkan banyak darah. Melihat itu, Nada menyentuh kedua tangannya sendiri yang gemetaran. Dengan pelan, dia menuruni tangga, berjalan mendekat ke arah Fira. “Gimana ini?” Bella panik dan menatap Nada. “Telepon ambulans!” Dengan tangan gemetar, Nada mencoba menghubungi 119. “Ha-halo? Ambulans? A-ada yang terluka….” Tak lama kemudian, Fira berhasil dilarikan ke rumah sakit. Kini Nada, Bella, dan Krista berada di ruang konseling Institut Seni Van Gogh. Nada berhasil mengatasi ketakutan sesaatnya, dan kini siap membenarkan tindakannya. “Jaket saya dicuri, Pak!” tegas Nada sekali lagi. “Jadi saya berhak dong marah ke Fira.” “Kenapa harus menjambak rambut Fira?” tanya pengawas sambil memperlihatkan CCTV yang ada di tangga darurat. “Namanya juga orang marah, apalagi marahnya ke pencuri barang kesayangan. Jadi wajar dong, Pak,” sahut Krista tak terima. “Lagian dari CCTV ini juga kelihatan bukan Nada yang mendorong Fira. Dia sendiri yang heboh sampai mencelakai dirinya sendiri. Nih lihat, Pak,” Bella mendekat ke monitor CCTV dan menunjukkan bagian Fira mendorong d**a Nada, “dia nyerang Nada juga. Dia sendiri yang ngarahin ke pinggir tangga.” Sebelum pengawas itu membalas perkataannya, pintu ruangan konseling diketuk. Mereka semua terkejut dengan kehadiran Jaksa Fatistan, ayah Nada. Bahkan anaknya sendiri tak menyangka ayahnya akan datang seperti ini. “Maaf, saya Ayah dari Nada Sweizerika. Saya baru saja mendapat kabar mengenai insiden mahasiswi bernama Fira.” Pengawas itu langsung mempersilakan jaksa terhormat itu untuk duduk. “Tunggu di luar ya, Nak,” kata Jaksa Fatistan kepada Nada sambil tersenyum. Nada mendecih dalam hati dan berjalan keluar ruangan bersama Bella dan Krista. Bisa-bisanya Ayah datang ke sini, padahal aku nggak butuh bantuannya, gadis itu menggeram dalam hati. “Wah, Papa kamu keren banget, Nad.” Krista terkagum-kagum. “Pasti masalah ini akan teratasi dengan baik,” tambah Bella. Nada tersenyum simpul, dasar cewek-cewek bermuka dua. Ting! Sebuah SMS masuk ke ponsel Nada. Dari Ayahnya.   [Semua masalah sudah selesai. Papa sudah memberi kompensasi besar kepada keluarga Fira dan mereka juga setuju untuk tidak membesarkan masalah ini. Kembali ke kamar dan beristirahatlah.]   Nada sudah tak terkejut lagi. Berkat status ayahnya yang luar biasa, dia jadi bisa dengan mudah keluar dari permasalahan. Seperti lima tahun yang lalu. “Anu, Nad,” Bella mengusap pundak Nada dengan pelan, “ini cuma misalnya … apakah Ayahmu bisa—“ “Aku capek,” potong Nada tiba-tiba. “Aku boleh duluan ke kamar ya.” “O-oh iya … kamu pasti capek. Nanti kami nyusul,” balas Bella dengan canggung. Nada berdiri dan meninggalkan kedua temannya di sana. Dasar munafik! Tanpa perlu mendengar semuanya, Nada sudah tahu apa yang diinginkan Bella. Tentu saja meminta ayahnya untuk membebaskan ayah Bella dari penjara. Dih, memangnya siapa mereka bisa sembarangan minta pertolongan Nada. Sudahlah. Nada semakin pusing saja memikirkan hal itu. Sekarang gadis itu harus segera mencari jaketnya yang hilang. Kalau gadis cupu pembawa masalah itu berkata tidak mencurinya, berarti jaket itu terjatuh di suatu tempat. Nada harus menemukannya, karena jaket itu adalah jaket keberuntungannya. Dia mengobrak-abrik lokernya, kemudian berjalan menyusuri lorong yang remang-remang, bahkan sampai memeriksa ruang latihannya. Sayangnya, jaket itu benar-benar menghilang. Nada sudah hampir putus asa. Kakinya pegal, tapi dia harus menemukannya! “Gara-gara si anak kampret itu jaketku jadi hilang kan!” gerutunya sambil mencari di semak-semak sekitar gedung fakultasnya. “Nyari apa, Nad?” “Ya Tuhan!” Nada terkejut dan mundur tiba-tiba. “Ash, Grizzly!” Laki-laki itu tersenyum ceria. “Kamu inget namaku.” “Aku nggak sepikun itu.” “Tapi kamu orang yang nggak mau repot-repot inget nama orang yang nggak dekat sama kamu,” ujar Grizzly. Nada mendecih. “Sok tahu.” Grizzly terkekeh. “Lagi nyari apa? Biar aku bantu.” “Jaket warna merah, ada namaku.” Nada kembali fokus ke semak-semak. Saat Grizzly hendak menbantu, dia tak sengaja melihat kaki kiri Nada sedikit lecet. Jalannya pun pincang. Sekarang gadis itu hanya memakai pakaian yang tipis di saat langit malam sedang mendung-mendungnya. “Nad, aku ke sana bentar ya.” Grizzly langsung melesat pergi meninggalkan Nada yang kebingungan. Dih, gitu katanya mau bantu, ternyata malah kabur duluan, gumam Nada sebal. Tak seperti yang dipikirkan oleh Nada, Grizzly malah kembali ke kamarnya dan membuka laci Leo tanpa izin. “Heh, lokermu sebelah sana!” kata Leo setengah kaget saat teman sekamarnya tiba-tiba masuk dan mengotak-atik laci meja belajarnya. “Kamu kemarin masih ada sisa plester luka, kan? Bekas tanding silat waktu itu. Sekarang di mana? Aku butuh,” balas Grizzly buru-buru. “Ya ada di loker. Cari aja.” Leo kembali fokus ke ponselnya. “Siapa yang luka?” “Nada.” “Oh….” Leo masih fokus pada permainan di ponselnya, tapi beberapa detik kemudian dia membulatkan matanya. “Nada?! Miss Three Seconds?!” “Ya.” “Kok bisa?” Leo mematikan ponselnya dan mendekat pada Grizzly. “Oh, apa gara-gara kejadian tadi sore?” Grizzly mengerutkan alisnya. “Kejadian tadi sore apa?” “Loh, kamu nggak tahu? Infonya udah beredar di grup obrolan.” Leo membuka ponselnya dan memperlihatkan topik obrolan yang sedang panas. “I-ini….” Grizzly terkejut. Leo mengangguk. “Iya, cewek yang dirundung Nada kali ini sampai jatuh dari tangga. Udah dibawa ke rumah sakit.” Grizzly langsung merebut ponsel Leo dan membaca seluruh komentar mahasiswa Institut Seni Van Gogh. “Kali ini emang keterlaluan sih. Tapi aku juga denger ada pihak yang bilang kalau Nada juga korban. Coba deh kamu tanya ke dia langsung.” Grizzly tak menjawab perkataan Leo. Setelah mendapatkan plester luka itu, dia mengambil jaket tebalnya dan langsung keluar kamar. Sepanjang perjalanannya menuju Nada, pikiran Grizzly dipenuhi dengan kasus sore tadi. Saat itu dia sedang sibuk berlatih taekwondo untuk waktu yang sedikit lama, sehingga sulit baginya untuk memeriksa grup obrolan. Melihat info itu sudah beredar di situs sekolah—begitu juga dengan komentar jahat yang menyerang Nada—membuat hatinya risau. Kamu masih belum berubah ya, desah Grizzly dalam hati. “Nad!” panggil Grizzly sembari berjalan mendekat. “Sini, deh.” Nada menurut saat bahunya dirangkul Grizzly untuk duduk di trotoar. Perlahan laki-laki itu melepas sepatu kiri Nada dan memperlihatkan luka lecet di sana. Nada terkejut. “Kaki penari mana boleh luka?” kata Grizzly. “Aku nggak sadar udah jalan selama itu buat cari jaketku,” balas Nada pelan. Grizzly membuka plester luka dan menempelkannya di kaki kiri Nada. Setelah itu dia memakaikan kembali sepatunya, serta melampirkan jaket tebal membungkus tubuh gadis itu. “Kamu duduk aja di sini, biar aku yang cari jaketnya. Nih makan, aku bawa bubur hangat.” “Kamu mau cari di mana? Semua tempat udah aku cari.” “Ada satu tempat yang belum kamu cari.” Grizzly mengusap rambut Nada dan melesat pergi. Sepeninggalan laki-laki itu, Nada menatap bubur hangat di tangannya. Baik banget, apa motifnya kali ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN