Chapter 5: Satu Langkah Mendekat

1375 Kata
Nada sudah terlalu lelah untuk mengeksekusi motif kebaikan Grizzly padanya, karena hari ini terlalu banyak kejadian yang menguras tenaganya. Jadilah gadis itu menyantap lahap bubur itu selagi masih hangat. Hingga suapan terakhir, Grizzly datang dengan jaket Nada di tangannya. “Tada! Ketemu!” Grizzly berseru girang dengan napas ngos-ngosan. Nada langsung berdiri, ikutan senang. “Wah! Ketemu di mana?” “Ada di lost and found.” Ah! Benar juga! Kenapa Nada nggak kepikiran untuk ke sana ya? Saat Nada hendak meraih jaketnya dari genggaman Grizzly, laki-laki itu segera menjauhkan jaketnya dari jangkauan gadis itu. “Eits, ada imbalannya dong.” “Tapi itu kan jaketku.” “Tapi aku kan yang nemuin.” “Nggak ikhlas banget.” “Give and take, pernah denger kan?” Nada memutar bola matanya. “Udah kuduga ada motifnya. Jadi kamu mau apa?” Grizzly menjawab dengan ringan, “Jadi teman kamu.” “Ngomong apa sih.” Nada berjalan melewati Grizzly begitu saja. Laki-laki itu segera menyusul. “Kalau gitu, dinner! Satu kali aja.” Grizzly langsung berpindah tempat menghadang jalannya Nada. “Tapi kamu yang traktir ya,” kata Nada. “Oke, deal!” Grizzly melayangkan kepalan tangannya ke udara, tanda bahwa dia sangat senang. “Kamu mau makan apa?” “Dinner sekarang?” tanya Nada bingung. “Iyalah, kapan lagi? Toh, kamu juga belum makan.” Nada menimang-nimang sejenak. “Daripada dinner, gimana kalo clubbing?” Grizzly melotot. “Clu-clubbing?” “Iya!” ulang Nada dengan antusias. “Hari ini berat banget, aku butuh refreshing.” “Tapi besok kamu ada latihan, kan?” “Ah, gampang kalo itu. Jadi gimana? Mau nggak?” Grizzly menggaruk tengkuknya, sedikit khawatir. Tapi kalau itu yang diinginkan Nada—mengingat kejadian tadi sore—Grizzly jadi tak bisa menolak. “Oke deh, boleh. Kita ke parkiran ya, mobilku di sana.” ***   Nada menggila. Grizzly sampai tak mampu mengimbangi langkah kakinya begitu mereka tiba di kelab. Astaga, nih cewek bersemangat banget sih, batin Grizzly. Berbeda dengan Nada yang mengunjungi kelab untuk melepas penat, Grizzly justru tambah pusing. Pasalnya, Coach akan mengadakan kyorugi—pertandingan dua pemain—selama satu hari penuh. Kalau malam ini dia mabuk, bisa-bisa dia akan digilas oleh Coach. “Nad … Nad….” Grizzly berusaha meraih lengan Nada di tengah-tengah kerumunan orang. “Aish, cepet banget sih hilangnya!” Laki-laki itu kehilangan jejak Nada secepat kilat. Dia pun berusaha menepis orang-orang untuk mencari gadis itu. Setelah sekian lama, akhirnya Grizzly melihat Nada sedang asyik menari di dekat podium dengan segelas cosmopolitan di tangannya. “Nad!” panggil Grizzly mendekat. “Kita ke sof—eeeh!” Nada langsung merangkul pundak Grizzly yang menyebabkan laki-laki itu terhuyung-huyung. “Enjoy the niiight!” seru Nada setengah mabuk. “Ouch … cowok kepiting ini ngapain di sini? Hehe.” “Kepiting apaan?” Grizzly berusaha melepaskan diri dari lengan Nada. “Seharusnya nggak kubawa kamu ke sini.” “Aduh.” Nada menyentuh perutnya. “Belum makan udah minum alkohol aja gimana nggak sakit perut.” Laki-laki itu akhirnya memaksa Nada untuk pindah ke sofa. Setelah mendudukkannya, Grizzly memasangkan jaketnya yang sudah dilepas oleh Nada beberapa saat lalu untuk kembali membungkus tubuh gadis itu. “Hari ini pasti berat banget sampai kamu sepengin itu untuk cepet mabuk,” gumam Grizzly. Nada menghela napas panjang. “Pak Tua itu berulah lagi.” Grizzly mengerutkan dahi. “Pak Tua siapa?” “Itu tuh, yang sok berkuasa.” Nada terkekeh lagi sambil menyeruput cosmopolitan-nya. “Hanya karena berdasi, jadi bisa seenaknya.” Grizzly sebenarnya masih tak paham dengan siapa yang dimaksud oleh Nada. “Oh gitu, terus apa yang dia lakuin?” “Biasalah, salah jadi bener, bener jadi salah, hehe,” jawab Nada. “Akhirnya aku yang jadi target pem … bunuhan.” DEG! Grizzly terdiam. Apa maksudnya itu? Target pembunuhan apa? Mimik wajah Grizzly menjadi serius, dia menatap gadis yang semakin mabuk di sampingnya. “Apa maksudmu? Siapa yang mau bunuh kamu?” Nada terdiam sambil menatap mata Grizzly untuk waktu yang lama. Kemudian seulas senyum tipis muncul di wajahnya, kemudian berubah menjadi tawa penuh kejailan. “Tapi bohong! Hahaha…!” Sial! Lagi-lagi gadis itu mempermainkannya. “Kita pulang.” Grizzly langsung berdiri dengan hati setengah dongkol. Nada mengerucutkan bibirnya dengan lucu, kemudian menggeleng-geleng. “Pulang. Ayo.” “Nggak mau!” “Pulang!” “Nggak!” Nada segera berdiri dan buru-buru lari meninggalkan Grizzly. “Heh, mau ke mana?! Haish….” Grizzly langsung mengejar Nada yang lagi-lagi ditelan kerumunan orang. Ponselnya tiba-tiba berdenting. Tanda pesan masuk. [Di mana? Asrama udah mau tutup.] Dari Leo. Grizzly langsung melihat jam tangannya. Ternyata sudah hampir jam sepuluh malam. Perjalanan dari kelab ke kampus lumayan lama, belum lagi saat ini Nada melarikan diri. Ya Tuhan. Laki-laki itu memasukkan ponselnya ke saku celana dan berlari mencari Nada. Dia bahkan mendatangi sofa per sofa, siapa tahu Nada bersembunyi di sana. Tapi setelah semuanya ditelusuri, Nada masih tak kelihatan juga. Ke mana dia? Grizzly mencoba menelepon ponsel Nada. Sempat terhubung tapi tak diangkat. Gadis itu benar-benar hebat dalam menarik orang-orang di sekitarnya untuk ikut terlibat masalah dengannya. Dia kemudian melewati toilet laki-laki dan mendengar suara berisik dari sana. Karena penasaran, Grizzly pun masuk dan menemukan Nada yang sedang dihadang oleh tiga laki-laki. “Berani-beraninya masuk toilet cowok. Mau main ya?” goda salah satu laki-laki itu. “Ming … gir.” Nada berusaha menepis tangan laki-laki itu yang menempel di pundaknya. Laki-laki yang satunya sudah menempelkan badannya di punggung Nada, kemudian perlahan kedua lengannya melingkar di pinggang gadis itu. “Malam ini kita dapat santapan enak nih,” kata mereka. “Iya, santapannya mau digiling dulu atau dibakar dulu?” Mereka bertiga serentak menoleh ke arah Grizzly yang baru saja menyahuti perkataan mereka. “Kayaknya ditonjok dulu aja deh, ya.” Tanpa ba-bi-bu lagi, Grizzly langsung melayangkan pukulannya ke wajah mereka bertiga. Gerakannya mulus sekali, sampai-sampai Grizzly tak merasakan sakit sedikit pun. “Haish, Coach bakal ngamuk banget kalo sampe tahu kekuatanku dipake buat nonjokkin orang,” tawa Grizzly. “Kurang ajar!” Mereka bertiga langsung menyerang Grizzly dengan ganas, tapi lagi-lagi Grizzly dengan mudah membanting mereka ke lantai. “Apa sih? Kalau mau baku hantam lakuin yang bener dong,” kata Grizzly meremehkan. Karena mereka bertiga sedang di bawah pengaruh alkohol, akhirnya tak lagi memedulikan harga diri dan justru main keroyokan dengan Grizzly. Salah satu dari mereka berusaha menonjok perut Grizzly, tapi dengan sigap langsung ditepis olehnya. Grizzly memukul kepala laki-laki itu yang langsung membuatnya roboh. Begitu pula dengan kedua laki-laki yang tersisa. Karena sudah tak punya banyak waktu, Grizzly melayangkan tendangannya sekali dan langsung menghantam kedua laki-laki itu. “Masih pengin main sih, tapi udah malem. Saatnya bobok. Dah!” Grizzly tertawa sambil menarik lengan Nada keluar dari toilet itu. Kali ini Nada tak menolak. Cekalan tangan Grizzly di pergelangan tangannya terlalu kuat, sehingga gadis itu pun bisa merasakan amarah yang tersirat dari laki-laki ini. “Aku nggak akan minta maaf,” kata Nada tiba-tiba saat mereka berdua sudah kembali ke mobil. Grizzly memasangkan sabuk pengaman. “Iya, tau.” Mengharapkan seorang Nada Sweizerika untuk meminta maaf sama saja seperti memindahkan langit ke bawah kaki. Mustahil. Konyol. Nggak akan pernah terjadi. Maka dari itu Grizzly tak sedikit pun berpikir gadis di sebelahnya ini akan minta maaf setelah menyebabkan banyak kekacauan hari ini. Mobil pun melaju kencang menembus gelapnya malam. Sampai di luar asrama, tak satu pun pintu yang masih terbuka. Semua telah terkunci. Mereka berdua terlambat 45 menit. Luar biasa. Berkat Nada. Grizzly menatap Nada yang memasang raut santai. “Kamu gimana? Mau ikut aku manjat dinding? Ada Leo yang sudah siapin bala bantuan.” “Aku masih agak pusing. Kunci mobilmu mana?” “Kunci mobil?” Grizzly kebingungan. “Kamu mau semalaman di mobilku?” “Iya.” Grizzly masih enggan memberikan kunci mobilnya. “Tapi bahaya, Nad, sendirian di sana.” Nada terdiam. Itu benar juga. Kalau dia sendirian di sana dalam keadaan pemulihan dari mabuk, bisa-bisa mengundang kesempatan sosok itu untuk mencelakainya. Enggak! Dia harus tetap waspada! “Kalau gitu kamu temenin aku,” perintah Nada sambil berjalan kembali ke mobil Grizzly. Laki-laki itu malah melongo. “Oh my God….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN