Look forward to this melody you liked. The voice that will flow out of the radio.
|It's Okay - BTOB|
.
.
Seperti yang dijanjikan oleh instruktur dua hari yang lalu.
Setelah mencetak pengumuman, instruktur menempelnya di mading lobi gedung teater. Banyak yang mengumpul di sana, sampai-sampai lobi terasa sesak. Nada tak tertarik. Sudah cukup baginya untuk mengikuti kompetisi, ia hanya ingin bersantai dan mendalami teknik menarinya. Biarkan suatu saat saja, jika keinginan itu muncul kembali.
“Aku sudah daftarin namamu ke instruktur barusan,” kata Krista tiba-tiba.
Nada melotot, tampak mengerikan. “Kenapa!”
Dia terkejut dengan respons Nada. Ia pikir temannya itu akan berterima kasih. “Ya, aku pikir kamu pasti ikutan, Nad. Yang santai, dong,” kata Krista lirih.
“Kan, aku bilang mau istirahat dulu, Kris!” Nada berlari mengejar instruktur itu untuk membatalkan keikutsertaannya. Tapi tak semudah itu oleh Bella.
“Percuma. Mau Krista yang daftarin atau bukan, instruktur udah rencana daftarin kamu. Harusnya seneng, dong,” kata Bella tak melepaskan tarikan di jaket Nada.
Krista menyahut, “Iya, jangan sia-siain bakat, dong. Aku aja mau ikut, tapi nggak percaya diri.”
“Terus, karena nggak percaya diri, jadi ngorbanin aku?”
Intonasinya benar-benar menyebalkan. Bella melepas tarikan di jaketnya, kemudian menyilangkan tangannya di depan d**a. “Kok, mikirnya gitu? Harus segitu marahnya, ya, hanya karena didaftarin kompetisi?”
“Seharusnya kalian minta persetujuanku, dulu, dong. Jangan seenaknya sendiri!” Dia hampir berteriak.
“Nad, sadar, dong. Responsmu berlebihan, deh.” Krista menyentuh pundak Nada dan langsung ditepisnya kasar.
Karena perdebatan itu, beberapa orang di lobi menatap mereka. Nada sepertinya benar-benar marah hingga ia tak bisa berpikir jernih. Ini bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Benarkah begitu? Karena bagi Nada, ini benar-benar sesuatu yang patut diperdebatkan. Ini menyangkut keselamatannya.
“Batalin, nggak?!”
Bella menghela napas, terheran-heran dengan sikap Nada yang semakin hari semakin aneh. “Nggak bisa, Nad. Kan, aku udah bilang, instruktur sendiri yang dari awal punya rencana daftarin kamu.”
“Tapi kalian yang bikin rencana itu terlaksana!”
Sebelum Nada benar-benar emosi, Krista menarik tangan Bella. “Terserah kamu, deh.” Mereka pergi meninggalkannya.
Instruktur Anna adalah pelatih yang baik. Tidak seperti kebanyakan film yang menggambarkan sosok pelatih yang kejam, menakutkan, dan tak punya hati. Dia berbeda. Walaupun Nada datang dengan kondisi tak baik, Instruktur Anna tetap tenang dan memberinya kopi hangat dari vending machine. Setelah gadis itu tenang, barulah Instruktur Anna berbicara.
“Apa yang sebenarnya kamu takutkan?” Instruktur menghela napas. Tak merasa mendapat jawaban, ia menambahkan, “Itu hanyalah kompetisi. Nggak ada yang perlu dipusingkan.”
Nada menggeleng pelan. “Bukan itu masalahnya, Instruktur.”
“Terus?”
“Saya… nggak bisa jelaskan sekarang. Saya cuma mau nama saya dibatalkan. Itu saja.” Gadis itu memohon.
Instruktur Anna menaruh tangannya di atas meja. “Kamu tahu kenapa banyak dari mereka memilih kuliah di sini? Karena tempat ini menjanjikan sebuah masa depan. Itu sebabnya ujian masuk di sini sangat ketat. Nggak semua orang bisa terdaftar sebagai mahasiswa Institut Seni Van Gogh. Sangat disayangkan kalo kamu pasif untuk mengikuti berbagai kompetisi. Kamu paham maksud saya?”
Sangat paham. Namun, titik permasalahannya bukan di situ. Ini jauh lebih rumit. Suatu hal yang tak bisa sembarangan ia ungkapkan pada orang lain. Sebuah ketakutan yang mendalam. Tak semua orang akan bisa memahaminya. Tak satu pun.
Nada menyentuh kedua tangan Instruktur dan terus mencoba memohon. “Kali ini aja. Tolong bantu saya.”
Ada satu hal yang dilupakan Nada, Intruktur Anna adalah pelatih yang tegas. Ia memiliki tujuan jelas yang benar-benar terorganisasi demi masa depan anak-anaknya. Baginya, apa yang Nada lakukan saat ini sangatlah tidak profesional.
“Setidaknya beri saya alasannya kenapa kamu bersikeras tidak mengikuti kompetisi ini,” kata Instruktur.
Gadis itu kembali diam. Air matanya hampir mengepul. Kemudian, Instruktur kembali berbicara.
“Kamu tidak bisa memberikan saya alasan, begitu pula saya tidak ada alasan untuk membatalkan keikutsertaanmu.” Instruktur berdiri. Ia menatap ponselnya sebentar. “Latihan dimulai jam tujuh malam di gedung teater. Jangan sampai terlambat.”
Tak ada gunanya. Percuma. Nada menjatuhkan kepalanya di atas meja. Ia harus segera memikirkan cara lain.
***
Nada memutuskan untuk pulang ke rumah.
Pikirannya sesak lantaran instruktur yang enggan mencabut pendaftarannya. Karena itulah dia butuh hiburan, salah satunya adalah makan masakan ibunya. Kalau boleh jujur, untuk pulang ke rumah saja Nada sempat ragu. Dia tak ingin bertemu Pak Tua Licik Berdasi itu.
Karena beliau juga yang menyebabkan Nada mendaftar di Institut Seni Van Gogh, karena selain akreditasinya luar biasa bagusnya, hanya kampus itu yang menyediakan asrama untuk seluruh mahasiswanya. Dengan begitu Nada tak harus tinggal seatap dengan ayahnya.
Bukannya Nada tak menyayangi ayah kandungnya sendiri, dia hanya muak mengikuti pola pikir ayahnya. Dan itu semua meledak sejak kejadian lima tahun yang lalu. Nada sudah tak kuat lagi.
Namun hanya hari ini ... hari ini saja Nada akan mengalahkan prinsipnya dan pulang ke rumah walau sebentar untuk memakan masakan ibunya.
“Sayang,” peluk ibunya saat Nada memasuki ruang keluarga. “Akhirnya pulang juga kamu, Nak. Gimana latihannya?”
“Biasa aja,” jawab Nada singkat.
“Katanya bakal ada kompetisi lagi ya? Kamu ikut kan, Nak?” tanya ibunya dengan antusias. Beliau menarik helaian rambut Nada ke belakang telinga. “Kita ngobrol sambil makan ya.”
Sebelum Nada melangkah lagi, dia bertanya pelan, “Papa di mana?”
“Biasalah, lembur di kejaksaan. Kayaknya hari ini bakal ketiduran lagi di sana,” jawab ibu dengan lesu.
Bagus deh, batin Nada puas.
Duduk di meja makan, ternyata semua masakan ibunya sudah tertata rapi. Sangat menggiurkan sampai Nada melupakan permasalah rumit di kepalanya. Ibu mengambilkan empat centong nasi untuk anaknya, ditambah dengan udang sambal, tumis kangkung, ayam goreng, dan semangkuk soto yang hangat.
“Makasih, Ma,” kata Nada mulai melahap makanannya.
“Seneng banget lihat anak Mama pulang ke rumah, udah lama banget loh kamu nggak berkunjung,” ibu menatap Nada dengan raut sedih, “tadinya semua makanan ini mau Mama antar ke asrama.”
“Nggak usah. Nanti malah dimakan Bella sama Krista.”
Ibu tertawa. “Kabar mereka gimana? Masih berteman baik, kan?”
Nada mengangguk dan menjawab lirih, “Masih dalam lingkaran setan yang sama.”
“Apa, Nak?” tanya ibunya karena tak mendengar dengan jelas.
“Enggak, Ma.” Tak sadar dia sudah melahap habis makanan di piringnya. Saat ibunya hendak mengambilkan makanan lagi, Nada menolak. “Udah kenyang, Ma.”
Ibunya mengangguk dan memanggil salah seorang asisten rumah tangga. “Tolong siapin bathup-nya ya buat Nada.”
“Baik, Bu.”
“Mama abis beli bodywash yang waktu itu kita lihat di Milan. Pas Mama cobain, kulit rasanya kayak baru lahir. Enak banget,” kata ibu sambil tertawa kecil. “Nanti kamu berendam pake itu ya. Dijamin pasti segar kembali.”
“Iya, Ma,” jawab Nada singkat.
“Omong-omong, gimana kompetisinya?”
Baru saja Nada bisa melepaskan pikirannya dari masalah kompetisi sialan itu, tapi ibunya justru mengungkitnya lagi. Gadis itu kembali lesu.
“Aku udah daftar, didaftarin Instruktur.”
Ibunya semakin antusias, terlihat dari kedua matanya yang semakin melebar. “Terus, terus, kamu mau bawain tarian apa kali ini?”
Belum kepikiran. Mana bisa kepikiran di saat Nada sendiri justru memikirkan caranya agar batal ikut kompetisi itu. “Nanti aku liat lagi, Ma.”
Ibunya mengangguk. Kemudian menyentuh kedua tangan anaknya. “Kamu pasti bisa. Buat apa khawatir kalau selama ini selalu menang di tiap kompetisi? Tuh piala kamu udah segudang sendiri. Mama buatin pameran, mau nggak?”
Mending dibakar aja semuanya, gerutu Nada dalam hati.
“Nggak, Ma. Aku ke kamar dulu ya.” Nada langsung berdiri dan beranjak pergi ke kamarnya.
Sampai di sana, dia meminta asisten rumah tangga untuk mematikan CCTV khusus kamarnya saja. Setelah dipastikan mati, dia juga mengunci pintu dan menutup gorden jendela. Saat ini Nada ingin kamarnya steril hanya untuk dirinya sendiri.
Begitu aman, Nada berjalan ke sudut kamar dan mengetuk-ngetukkan kakinya beberapa kali di lantai.
“Masih di sana,” kata Nada lirih. “Aman.”
Perasaan lega menyelimuti hatinya. Dia berharap tak ada seorang pun yang tahu rahasia besarnya. Gadis itu harus menjaga kunci dari hidup dan matinya.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Dia seharusnya sudah bergegas kembali ke kampus. Tapi pikirannya kembali berkecamuk. Setiap kali membicarakan kampus, dia jadi teringat permasalahannya dengan instruktur.
Bagaimana caranya bisa kabur?
Pelan-pelan Nada mencelupkann kakinya ke air hangat di bathup. Setelah beradaptasi, dia menceburkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Rasa hangat yang menjalar membuat dirinya sedikit tenang, seperti dipijit.
Sungguh hidup yang melelahkan, keluh gadis itu.
Selagi mencampurkan bodywash dari Milan itu ke air di bathup, Nada kembali mencari jalan keluar untuk permasalahannya.
Dia tak tahu bagaimana caranya menjelaskan alasan sebenarnya pada instruktur mengapa dia tak mau mengekspos dirinya ke publik. Begitu Nada berkata yang sesungguhnya, maka dia yakin seratus persen akan timbul masalah lebih rumit lagi.
Sejak lima tahun yang lalu, Nada tak lagi merasa aman begitu mengikuti berbagai kompetisi menari ataupun hal-hal yang membuatnya harus terlihat jelas di depan publik. Hatinya selalu gundah, diikuti dengan degup jantung yang tak karuan, dan rasa was was yang berlebihan. Walau begitu, Nada sangat pandai menyembunyikannya dari kedua orangtuanya.
Tak ada yang tahu bahwa Nada mengidap kecemasan yang berlebihan. Kata berlebihan sebenarnya tak pantas untuk mendeskripsikan level kecemasan Nada saat ini. Tentu saja orang akan merasa cemas—sangat-sangat cemas—saat tahu dirinya menjadi target pembunuhan, yang mana gadis itu sendiri tak tahu siapa yang mengejarnya.
Orang lain tentu akan berpikir sebaiknya Nada melapor ke polisi atau mengadu pada ayahnya untuk mendapatkan perlindungan. Tapi yang benar saja. Pikiran seperti itu sudah sering mendiami otaknya, tapi bagaimana cara melakukannya di saat Nada sedang dipantau dalam diam?
Orang yang mengejarnya ... dia sungguh gila! Apa pun kegiatan Nada, apa pun yang gadis itu lakukan, orang itu selalu tahu. Dia selalu mengetahuinya!
Begitulah pesan-pesan teror itu terus menghantui kehidupan Nada sejak lima tahun yang lalu.
Obat penenang yang diberikan dokter hanya mampu bekerja secara efektif untuk beberapa saat saja, tapi kemudian Nada kembali cemas. Tak terhitung berapa banyak ponsel, nomor telepon yang dibakarnya hanya untuk lepas dari pesan-pesan teror itu. Tapi itu semua sia-sia.
Orang itu selalu bisa menjangkaunya.
Nada menghela napas panjang. Dipijatnya kepala yang mendadak pusing.
Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?
Gadis itu tahu sejauh apa pun dia berlari, sehebat apa pun dia bersembunyi, hanya ada satu cara untuk bisa lepas dari semua ini ... bunuh diri.